Anabelle - Love and Regret

Anabelle - Love and Regret
Saling Membuntuti



Gavin bangun tidur jam dua, ia ketiduran setelah capek mengamuk. Ia melihat kamarnya yang berantakan, ia hanya bisa menghela nafas. Gak mau membuat Bibi Ani susah karena ulahnya, jadi ia membereskan sendiri kamarnya, baru setelah selesai ia pergi mandi.


Gavin meredamkan tubuhnya di bathtub, dengan air dingin. Ia masih sedikit emosi jika ingat dengan apa yang di ucapkan oleh Anabelle tadi, ia masih menggeram kesal, bahkan tanpa sadar ia mengepalkan tangannya karena takut, takut jika Anabelle perlahan jatuh cinta sama orang lain dan dirinya akan kehilangan Anabelle untuk selamanya. Ia akan gigit jari melihat kemesraan Anabelle dengan pria lain, ia akan menangis sedangkan Anabelle akan tertawa bahagia. Enggak, itu gak boleh terjadi, sebisa mungkin. Gavin akan berusaha untuk bisa membawa Anabelle kembali ke dalam pelukannya.


Gavin segera menyelesaikan ritual mandinya, dan mengeringkan tubuhnya dengan menggosok gosokkan handuk kering ke seluruh tubuhnya, baru setelah itu, Gavin memakai mandi warna hitam dan celana pendek warna navy. Tak lupa jam tangan ia pakai, untuk menambah ketampanannya.


Ia tak menyisir rambutnya, ia biarkan rambutnya berantakan, karena semakin berantakan, Gaavin terlihat semakin memukau. Gavin mengambil parfum dari merk ternama dan menyemprotkan di beberapa bagian. Baru setelah itu, ia mengambil dompet dan hpnya untuk pergi dari sana.


Pak Rahman masih ia liburkan, dan baru besok masuk kerja lagi.


Jadi hari ini, Gavin menyetir sendiri memakai mobil yang biasa, agar tidak terlalu mencolok.


Gavin pergi ke kantor Anabelle, dan tanpa sepengetahuan dia, diam-diam seseorang tengah membuntutuinya. Siapakah dia, apakah dia adalah orang suruhan Vero, atau orang suruhan Farhan. Tapi siapapun itu, yang jelas dia tengah mencari sesuatu yang akan mengungkapkan kebenaran tentang status Gavin saat ini.


Sesampai di kantor Anabelle, Gavin gak bisa langsung keluar gitu aja, percuma juga jika dia keluar, toh pada akhirnya dia gak akan di izinkan masuk. Jadi, ia memilih untuk berdiri di depan kantor Anabelle saja. Tatapannya terus tertuju ke pintu utama, ia tak ingin terlewat, jangan sampai, ia melihat ke arah lain, Anabelle keluar dari sana.


Jam empat, Anabelle baru keluar bersama dengan Tasya. Sedangkan Bagas berjalan di belakang mereka.


"Vero, kali ini aku gak bisa balek bareng kamu, gak papakan? Soalnya Bagas mau ngajak aku dinner, sekalian jalan-jalan dulu," ucap Tasya malu-malu.


Melihat hal itu, Anabelle hanya terkekeh.


"Iya santai aja, kamu pegang kunci sendiri kan, takutnya nanti aku ketiduran, soalnya capek banget hari ini," ujar Anabelle.


"Iya, aku bawa kok di tas. Santai aja, kamu jangan lupa makan dulu sebelum tidur."


"Siap, aku cuma ngajak di jalan-jalan aja sama makan, nanti aku anter dia balik."


"Okay, kalau gitu, aku duluan ya, have fun buat kalian berdua," ucap Anabelle lalu masuk ke mobilnya dan pergi dari sana.


Setelah kepergian Anabelle, Bagas langsung membukakan pintu buat Tasya, Tasya pun langsung masuk ke dalam. "Terima kasih," ujar Tasya dengan pipi merah, Bagas menganggukkan kepalanya, lalu ia menutup pintunya kembali dan ia memutari mobilnya.


Bagas duduk di belakang kemudian sambil menatap Tasya yang tengah memasang sabuk pengaman.


"Sudah?" tanyanya.


"Sudah," jawab Tasya. Karena gugup, ia sampai beberapa kai salah pakai sabuk pengaman, padahal kan sangat simple sekali.


"Okay." Bagas pun mulai mengemudikan mobilnya secara perlahan, walaupun belum ada ikatan pacaran di antara mereka, namun beberapa bulan terakhir ini mereka saling dekat dan saling menyukai satu sama lain.


Bagas dan Tasya, juga gak buru-buru untuk menjalani hubungan pacaran, mereka masih ingin menikmati Pendekatan mereka lebih dulu yang rasanya jauh lebih mendebarkan. Dan tak jarang, kadang mereka seringkali malu malu kucing.


Jika Bagas dan Tasya tengah asyik menikmati waktu mereka berdua, berbeda dengan Anabelle yang merasa dirinya tengah di ikuti. Anabelle menoleh ke belakang dan benar saja ada mobil suaminya di belakang.


"Sia lan, dia ternyata ngikutin aku dari tadi," gumam Anabelle kesal. Di saat dirinya lelah dan ingin segera samapi rumah untuk istirahat, tapi suaminya itu malah diam-diam membuntutinya. Namun Anabelle gak akan biarkan itu terjadi, ia segera mengemudi dengan cepat, dan menyalip beberapa mobil di hadapannya, ia bahkan menerobos lampu merah, tak peduli jika ada polisi. Seperti balapan, Gavin juga mengejar di belakangnya, sayangnya, ia harus kehilangan jejak saat lampu merah. Ia gak bisa menerobos karena terhalang orang-orang yang dari jalur kanan. Harus nunggu beberapa menit agar ia bisa mengejar istrinya lagi. Sayangnya ia tak tau, istrinya pergi ke arah mana. Lagi lagi ia merasa gagal. Sedangkan orang yang membuntuti  Gavin pun terus ada di belakangnya.


Anabelle merasa bersyukur setelah melihat tidak ada mobil sang suami di belakangnya, ia segera belok kanan mengambil jalan pintas agar segera sampai rumahnya.