
Alvaro masuk ke dalam buat menemui Gavin, tadi mereka makan siang bersama di kantor bersama Gavin dan Tasya juga. Hanya saja setelah makan siang, Alvaro mengajak Anabelle kleuar sebentar buat cari udara segar dan baru kembali stengah jam kemudian.
Di saat Alvaro tengah menemui Gavin yang lagi sibuk sibuknya kerja, berbeda dengan Anabelle yang kini mengajak Varo ke taman untuk ngomong santai di sana. Taman yang berada di samping kantornya. Taman kecil yang hanya berukuran empat kali sebelas meter. Memanjang ke belakang.
"Ada apa?" tanya Anabelle.
Vero yang di tanya seperti itu, langsung bersimpuh di kaki Anabelle, membuat Anabelle terkejut.
"Anabell, aku minta maaf. Aku minta maaf karena aku sudah merebut Mas Gaavin darimu. Aku minta maaf, karena sudah membuat rumah tangga kamu jadi berantakan. Aku minta maaf karena hadir dalam kehidupan suami kamu. Aku minta maaf, karena tanpa sadar, aku menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kamu dan Mas Gavin. Aku menyesal, aku menyesal karena aku dengan mudahnya mempercayai ucapannya, aku menyesal karena aku tidak mencari tau dulu siapa Mas Gavin. Aku menyesal, aku sangat sangat menyesal hiks hiks." Vero menangi sambil bersimpuh di kaki Anabelle.
"Aku sudah maafin kamu, lagian ini bukan salah kamu seratus persen. Wajar jika kamu mempercayai ucapan Mas Gavin, karena dia emang pandai bersilat lidah, dia begitu pandai berbohong. Wajar, kamu tertipu dengan ucapan manisnya. Sudahah, sini duduk di samping aku. Jangan seperti ini, jika sampai ada yang tau, ini bisa menjadi berita besar. Sini duduk di samping aku," ucap Anabelle sambil menuntun Vero duduk di kursi yang ada di sampingnya.
"Aku malu sama kamu, aku malu karena aku kemaren kemarennya terang terangan mengajak suamimu ke Villa. Andai aku tau, aku tak akan melakukkan hal bodoh seperti itu."
"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Lagian aku tak mencintai Mas Gavin lagi. Aku bahkan tak merasa cemburu saat kamu jalan dengannya. Aku malah biasa aja, mungkin rasa cintaku ke Mas Gavin benar benar habis tak tersisa, hingga aku pun tak merasakan apa apa lagi."
"Tapi tetap aja aku malu banget sama kamu."
"Aku tau, tapi dari awal aku deketin kamu, sebenarnya aku pengen tau kamu orangnya seperti apa. Kenapa kamu bisa membuat suamiku jatuh cinta. Apa kelebihan kamu ketimbang aku, dan ketika aku kenal sama kamu, dekat sama kamu. Aku tau banyak hal tentang semua kelebihan yang kamu miliki. Dan aku rasa wajar jika Mas Gavin mudah jatuh cinta sama kamu, karena kamu itu baik, cantik, ramah, tulus dan kamu sangat berbeda dari wanita kebanyakan. Kamu punya aura sendiri, kamu selalu bersinar di antara yang lain. Kamu tidak sombong bahkan saat kamu berada di puncak karir seperti sekarang. Kamu tetap rendah hati dan enak di ajak ngobrol. Aku bahkan betah lama lam di samping kamu." ucap Anabelle mmembuat Vero cemberut.
"Seharusnya kamu itu caci maki aku, nampar aku, bukan malah muji aku," ujarnya membuat Anabelle terkekeh.
"Buat apa aku nampar dan caci maki kamu, aku malah senang kamu hadir dalam rumah tangga aku. Setidaknya aku bisa tau karakter suamiku seperti apa, ternyata dia suami yang tak pantas untuk aku pertahankan. Aku bersyukur bisa tau sifat dia yang asli, setidaknya aku gak akan lama lama hidup satu atap dengannya."
"Ck, aku jadi bahan percobaan nih?"
"Enggak juga. Anggap aja ini pelajaran buat kamu ke depannya agar lebih hati hati lagi dan tak sikap sembrono. Karena di luar sana banyak laki-laki yang hanya modus, modal dusta. Bilannya single, eh ternyata sudah punya istri, bahkan ada yang sampai punya buntut banyak. Maksud aku punya anak banyak. Ada yang bilang belum menikah, eh gak taunya, istri sudah punya tiga. Ada yang bilang jomblo abadi, gak taunya, sudah nikah berkali kali. Hhhh ... kita sebagai kaum hawa harus hati hati biar gak ketipu berulang kali."
"Iya, kamu benar. TApi kenapa saat aku cek KTP Mas Gavin, KTP nya masih single."
"Itu karena aku dan Mas Gavin gak sempat aja mau memperbaharui status di KTP. Mas Gavin selalu aja beralasan sibuk dan sibuk. Akhirnya aku malah lupa dan sampai sekarang punyaku juga masih status single."
"Oh gitu."
"Kamu sudah mendatangi Gavin ke rumahnya?"
"Iya aku sudah datang ke rumah Gavin, ternyta di sana masih terpajang foto kamu di dinding banyak lagi."
"Benarkah? Aku gak tau, sudah lama aku gak kesana. Oh pernah sekali pas dia pulang dari Villa beberapa hari yang lalu, tapi aku gak masuk, cuma nunggu dia di luar rumah."
"Kamu mendatangi Mas Gavin, ada apa?"
"Aku cuma ngancem dia aja, agar dia gak menyakiti laki-laki yang tengah dekat denganku."
"Emang dia suka nyakitin laki-laki yang dekat denganmu?"
"Iya, Mas Al pernah di tonjok ma dia, gara gara dia lihat aku makan bareng Mas Al di resto. Padahal waktu itu aku makan bareng Mas Farhan, manajer kamu. Hanya saja Mas Farhan pulang lebih dulu, jadi aku cuma berdua sama Mas Al. Eh tiba tiba Mas Gavin datang, main tonjok aja. Dia lihat aku berdua ma cowok aja, dia cemburunya pek gitu, lah gimana dengan aku, yang dulu ngelihat dia kencan ma kamu. Emang dia itu sudah gak waras, cuma mikir perasaannya aja." ucap Anabelle yang entah kenapa tiba-tiba merasa kesal.
"Maafin aku ya, dulu kamu pasti sakit hati banget saat tau suami kamu kencang bareng aku?"
"Yalah, kalau awal awal mah sakit banget, makanya aku milih pergi aja dari sana buat nenangin diri. Kalau sekarang, kamu tidur bareng dia pun, aku gak ada masalah. Sudah mati rasa soalnya."
"Tapi akunya yang gak sudi buat tidur bareng dia. Untungnya aku belum memberikan kehormatan aku buat dia, jadi aku gak terlalu nyesek banget."
"Benarkah? Aku fikir kamu dan Mas Gavin sudah melakukannya."
"Belum. Aku hanya tidur biasa dengannya."
"Oh gitu syukurlah."
"Aku juga sudah putus sama Mas Gavin."
"Kenapa?"
"Kok tanya kenapa? Jelas karena dia sudah membohongi aku, kan? Dia sudah membuat aku kayak orang bodoh. Bilang cinta, tapi apaan, ternyata dia sudah punya istri. Mana ada cinta tapi kayak gitu, suka bohong."
"Aku yakin dia emang cinta sama kamu, hanya saja saat ini hatinya tengah tercabang. Mereka ingin memiliki kita berdua, tapi maaf aja, aku milih mundur. Laki laki setia di luar sana masih banyak, aku gak mau mengorbankan hidup aku demi laki laki plin plan seperti dia."
"Sama, aku juga ogah nerusin hubungan yang dari awal aja sudah merupakan kesalahan. Aku juga yakin, aku pasti dapat laki-laki yang tulus sayang sama aku, yang cinta sama aku dan mau nerima semua kekurangan aku."
"Emang kamu punya kekurangan?" tanya Anabelle.
"Lah? Kamu fikir aku malaikat yang tak punya kekurangan. Aku ini cuma manusia biasa, di mana aku pasti punya banyak kekurangan, sayangnya kamu belum tau kekurangan aku itu apa,"
"Emang kekurangan kamu apa?" tanya Anabelle.
"Ya, banyaklah, gak bisa di sebutkan satu persatu." jawabnya membuat Anabelle hanya geleng-geleng kepala.
"Kamu gak syuting hari ini?" tanyanya.
"Seharusnya aku ada syuting jam satu, tapi gimana aku mau berangkat syuting coba, kalau fikiran aku kacau gini. Aku bahkan merasa ini seperti mimpi buruk bagiku."
"Dulu aku juga mikirnya gitu, itu cuma mimpi buruk. Tapi sayangnya itu fakta yang menyakitkan yang harus aku terima. Eh by the way, kenapa kamu gak menerima Mas Farhan aja jadi pacar kamu."
"Kok kamu tiba-tiba bahas Mas Farhan?" tanya Vero. Mereka sudah mengobrol santai, seakan lupa dengan masalahnya.
"Karena aku lihat dia seperti menyukaimu."
"Masak sih?"
"Iya, mungkin kamu gak merasa. Tapi aku yang merasakan waktu rapat beberapa waktu lalu. Aku sering lihat Mas Farhan curi curi pandang sama kamu."
"Kamu gak percaya sama aku. Aku yakin seratus persen, dia itu suka sama kamu."
"Sudahlah, jangan bahas cinta cintaan. Aku lagi gak mood. Kamu sekarang banyak kerjaan?"
"Enggak juga, aku nyantai hari ini, jadi aku bisa menemani kamu ngobrol santai."
"Hmmm ... kalau kamu sibuk, gak papa kalau kamu mau masuk."
"Enggak kok, atau kamu mau masuk ke dalam juga kan, di dalam ada Tasya loh."
"Enggak, hari ini aku malas ketemu siapapun, hatiku kacau banget, aku bahkan bingung mau ngapain. Ingin rasanya liburan ke luar negeri, tapi aku gak bisa kayak kamu yang kalau ada masalah langsung kabur ke luar negeri. Aku punya banyak tanggung jawab yang harus aku lakukan. Atau aku akan kena penalti yang cukup mahal."
"Hmm ... ya sih enaknya jadi artis gitu ya. Seberat apapun masalahnya, kalau sudah di depan kamera, harus pura pura tersenyum, padahal hati tengah menangis."
"Iya, begitulah. Aku ingin menyelesaikan semua kontrak sampai tahun depan. Setelah itu, mungkin aku memutuskan buat berhenti dari dunia entertain."
"Kenapa? Apa karena tabungan kamu sudah banyak? Kamu gak sayang sama karir kamu, jika berhenti, karir kamu lagi bagus bagusnya loh."
"Ya, kalau masalah tabungn sih, Alhamdulillah, di syukuri aja. Aku cuma lelah, aku ingin berhenti sejenak. Capek banget rasanya kalau kerja kadang pergi pagi pulang pagi lagi, rasanya tubuh aku seperti di kuras tenaganya, capek banget."
"Iya juga sih, bahkan kadang malam aja harus syuting ya."
"Iya, mungkin aku ambil job kayak di awal aja, cukup jadi model. Gajinya besar, dan gak terlalu banyak makan tenaga."
"Ya, kalau emang itu yang menurut kamu enak, ya kamu lakuin aja. Kamu lebih tau apa yang buat kamu nyaman. Kalau emang kamu gak terlalu suka, jangan dipaksakan."
"Hmm. Kamu gak mau cerai sama suamimu itu?"
"Awalnya sih aku masih ingin main main, tapi kayaknya harus aku udahin."
"Kenapa?"
"Karena aku menyukai seseorang dan aku ingin hidup bersamanya."
"Siapa? Apakah Mas Al?" tanya Vero dan Anabelle pun menganggukkan malu malu membuat Vero yang melihatnya jadi gemes sendiri.
"Dari awal aku ketemu kamu dan Mas Al, juga aku merasa kalian itu pasangan serasi. Aku yakin, kelak kalian pasti di satukan dalam ikatan yang halal. Aku doakan semoga kamu bahagia dengannya dan semoga Mas Al adalah laki-laki baik dan menjadi suami terakhir kamu, jadi gak perlu gonta ganti lagi hehe," ujar Vero terkekeh.
"Iya, aku pun kalau sudah nemu yang tepat, gak mau ganti lagi. Capek, karena harus memulai semuanya dari awal."
"Dan jangan lupa undang aku jika kamu menikah dengannya."
"Hemm ... aku aja belum cerai sama Mas Gavin, malah bahas nikah. Cerai dulu, nunggu masa iddah, baru tunangan lalu nikah."
"Loh kamu langsung nikah aja?"
Anabelle menggelengkan kepalanya.
"Aku mau tunangan dulu, mau menikmati kebersamaan aku sama Mas Al, sebelum masuk ke jenjang yang lebih serius. Dan kali ini aku mau bikin pesta yang super duper mewah."
"Wow, kenapa?" tanya Vero penasaran.
"Biar semua orang tau, jika Mas Al adalah millikku dan gak ada yang mendekatinya," ujar Anabelle menggebu gebu.
"Dan aku pastikan kamu juga akan jadi milikku seutuhnya My Princess," tutur Alvaro yang baru datang dan langsung mendengar obrolan wanita yang ia sukai itu.
Mendengar suara Alvaro, membuat Anabelle malu.
"Mas Al sejak kapan ada di belakang aku?" tanyanya dengan wajah memerah menahan rasa malu. Sedangkan Vero yang melihatnya jadi gemes sendiri.
"Barusan," ucap Alvao sambil duduk di samping kanan Anablle karena di samping kiri Anabelle ada Veronica.
Kedatangan Alvaro membuat Vero merasa canggung, lagian Vero juga sudah terlalu lama di sini dan menyita waktu Anabelle. Jadi Vero memilih untuk pamit pergi dengan alasan, masih ada yang mau diurus.
Padahal Vero sengaja meninggalkan mereka berdua, agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama tanpa gangguan darinya.
"Aku pulang dulu ya, An."
"Loh kenapa?"
"Aku masih ada banyak kerjaan."
"Oh gitu, iya sudah hati hati ya. Dan jangan sedih lagi, okay."
"Oke, siap bos. Aku pamit ya."
"Iya, kamu sama siapa pulangnya?"
"Sendiri."
"Hati hati nyetirnya."
"Ya. Mas Al, aku pamit pulang," ucap Vero ke Alvaro.
"Iya," jawab Alvaro sambil menganggukkan kepalanya.
Dan setelah itu, Veronica pun pergi dari sana meninggakan Anabelle dan Alvaro yang tengah duduk berdua.