
Satu bulan telah berlalu, Gavin tak lagi datang ke perusahaan Anabelle untuk mencari Anabelle seperti biasanya. Mungkin Gavin malu untuk bertemu dengan Anabelle setelah insiden terakhir terjadi. Anabelle pun juga tak peduli dengan Gavin, ia saat ini tengah menikmati kebersamaannya dengan sahabatnya, Tasya. Yah, Tasya dan Bagas sudah pulang dua Minggu lalu. Jadi, Anabelle pun tak lagi merasa kesepian, karena hampir dua puluh empat jam waktunya bersama Tasya. Karena mereka satu ruangan dan juga tinggal dalam satu rumah. Sedangkan Bagas dia di ruangah sebelah bertepatan dengan ruangan Alvaro. Walaupun Alvaro jarang datang, ataupun jika datang hanya untuk bertemu Anabelle, tetap saja Alvaro punya ruangan sendiri di gedung ini.
Tasya dan Bagas sendiri juga masih belum menjalani hubungan, padahal Anabelle sudah berharap dapat kabar dari sahabatnya itu, tapi nyatanya, baik Tasya maupun Bagas, belum ada yang mengutarakan perasaannya, mereka masih lempeng-lempeng aja, diam di tempat dan tak ada kemajuan sekali.
Namun walaupun mereka tak menjalin hubungan, Tasya dan Bagas cukup akrab mungkin karena selama ini mereka kemana mana selalu berdua.
"Tasya," panggil Anabelle sambil melihat Tasya yang sedari tadi fokus menatap layar laptopnya. Seharusnya Tasya gabung sama anak-anak IT, namun Anabelle gak mau jika berbeda ruangan dengan Tasya. Alhasil Tasya mengalah dan memilih satu ruangan dengan sahabatnya itu, namun beberapa kali ia harus pergi ke ruangan lain untuk mengontrol pekerjaan anak-anak bagian IT.
"Apa?" jawabnya tanpa melihat ke arah Anabelle.
"Nanti sore, Vero mau ke sini bareng asisten dan managernya," ucap Anabelle memberitahu.
"Oh, Vero yang jadi brang ambasador kita itu?" tanyanya membuat Anabelle cemberut.
"Kamu sadar gak sih, aku nyebut siapa?" tanyanya kesal.
"Vero kan, artis yang tengah naik daun itu?" tanya balik Tasya sambil melihat ke arah Anabelle yang sudah masam.
"Ya, kamu masih ingat kan ceritaku dulu, siapa Vero?"
"Selingkuhan suamimu, bukan?"
"Yups. Kamu tau gak, kenapa aku mengambil dia buat jadi brand ambasador kita?"
"Karena kamu ingin dekat dengan dia tentunya, benar gak?"
"ya, aku ingin tau reaksi Gavin saat tau aku kenal sama Vero bahkan berteman akrab dengannya."
"Mungkin dia akan sok berat."
"Ya dia pasti akan ketar ketir juga, karena sampai detik ini, Vero belum tau jika pacar kesayangannya itu sudah punya istri. Selama ini Vero sudah ditipu mentah-mentah oleh Gavin. Dan lagi, jika sampai Vero tau, pasti dia akan membenci Gavin karena sudah menipunya sekian lama. Belu lagi jika perselingkuhan mereka terendus di media sosial, pasti sejagat raya akan hemboh. Seorang pengusaha muda selingkuh dnegan artis yang tengah naik daun. Mereka akan jadi perbincangan hangat dan akan jadi sorotan terus menerus. Bagaimanapun gosip panaas tentu akan menjadi pundi-pundi uang buat mereka pencari berita. Namun aku gak mau, jika sampai nama Vero jelek, bagaimanapun dia itu sangat baik sekali. Aku beberapa kali bertemu dengannya, namun aku sudah merasa cukup dekat, dia sangat ramah dan rasanya aku gak tega, jika sampai pada akhirnya Vero tau, kenyataan yang ada. Pasti dia akan merasa sakit sekali," ucapnya mengutarakan perasaan.
"Itu sudah jadi resisonya, An. Siapa yang suruh dia mudah percaya dengan laki-laki. Sekarang mah wanita gitu, mudah meleleh kalau di gombalin sama para kaum adam. Apalagi jika kaum adamnya itu goodlucking dan goodrekening, pasti klepek-klepek dan langsung luluh gitu aja, tanpa mau mencari tau semuanya."
"Hmmm, tapi tetap saja aku kasihan padanya."
"Sudahlah, jangan mengurus orang lain, nasib kamu itu jauh lebih buruk dari pada nasib Vero. Dia cuma dijadikan selingkuhan, lah kamu di slingkuhi saat status kamu dan Gavin sudah menikahh, itu pasti jauh lebih menyakitkan tentunya. Kita lihat aja ke depannya bagaimana. Aku juga penasaran, ingin tau apa yang akan di lakukan oleh Gavin, saat rahasianya terbongkar di depan Vero."
"Iya juga sih, rasa sakit yang akan di rasakan Vero nantinya, pasti gak akan sesakit aku dulu."
"Emang sekarang sudah gak sakit?"
"Enggak, mungkin karena rasa cinta aku ke Gavin sudah hilang seiring berjalannya waktu."
"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya."
Saat mereka mengobrol, Bagas masuk ke ruangan mereka.
"Lagi bahas Vero," jawab Tasya.
"Kenapa?" tanya Bagas mengerutkan dahi.
"Vero kan lagi jadi brand ambasador di perusahaan ini, nanti sore dia ke sini buat foto dan vidionya," jawabnya.
"Oh." Hanya itu yang di ucapkan oleh Bagas, karena ia bingung mau ngomong apalagi, pasalnya saat ini di depannya ada Anabelle sedangkan yang di bahas adalah Vero, selingkuhan suaminya. Jadi Bagas cari aman aja, takut salah bicara.
"Kok jawabnya gitu?" tanya Tasya tak suka.
"Terus aku harus ngrespon gimana?" tanya balik BAgas.
"Ya apa kek, kamu gak suka Vero jadi brand ambasador kita?" todongnya.
"Suka, cuma ya bingung aja mau ngomong apa, takut salah."
"Ngomong aja kali, gak usah di pendem," balas Tasya sinis, membuat Bagas hanya bisa menghela nafas kasar.
"Aku tuh gak bisa ikut campur masalah orang lain, aku ini cuma orang luar, Tasya. Kecuali jika orang itu minta bantuan aku, atau minta saran dariku, baru aku akan buka suara, itu pun aku harus hati-hati, gak bisa asal ceplas ceplos, karena jika aku sampai salah kaasih saran, aku juga yang akan ikut nanggung dosanya. lagian kita itu orang luar, cuma sebagai penonton saja. Mungkin plaing banter cuma bisa ikut berkomentar, tapi jika ikut masuk ke dalamnya, jelas gak boleh, karena bisa jadi malah kehadiran kita membuat masalah jadi runyam. Lagian aku percaya, Anabelle menjadikan Vero sebagai brand ambasador, juga pasti ada alasannya dan apapun itu, aku akan dukung. Karena aku yakin, Anabelle pasti sudah memikirkan semuanya dampak baik buruknya ke depannya sepreti apa," ucap Bagas lembut sambil menoleh ke arah Tasya dan Anabelle secara bergantian.
"Ya juga sih, tapi apa kamu gak khawatir jika kedekatan Vero dan Anabelle akan menjadi penghancur buat Gavin, sahahat sekaligus mantann atasanmu itu?" tanyanya.
"Gavin bukan lagi menjadi fokus utamaku. Karena dia bukan lagi atasan aku. Jadi bagaimana kehidupannya dia, aku gak akan ikut campur lagi. Aku cukup jadi penonton aja dan melihat bagaimana dia mengatasi masalahnya. Lagian Gavin itu bukan orang bodoh, aku yakin dia pasti bisa melaluinya walaupun gak mudah tentunya, tapi itu sudah jadi resiko dia yang suka main api dalam pernikahan," jawab Bagas dengan bijak.
"Ya Mas Bagas bener juga sih," ucap Tasya yang akhirnya mulai setuju dengan pemikiran Bagas.
Sedangkan Anabelle pun hanya dia aja menjadi pendengar setia. Hingga tak terasa jam makan siang. Seperti biasa, Alvaro datang membawa empat makanan dan minuman.
"Wahh, emang ya kalau Mas Al itu the best banget," puji Tasya senang karena Alvaro membawakan banyak makanan.
Camilan milik Anabelle yang selama ini dibelikan oleh Alvaro pun sudah habis tak tersisa, siapa lagi pelakunnya jika bukan Tasya, si tukang makan.
Selama makanan itu halalan toyyiba, dia pasti akan makan, dan tak akan menyisakan sedikitpun. Anabelle juga tak mempermasalahkan, ia malah senang karena dengan begitu makanan itu tidak hanya terpajan di rak camilan aja, karena Anabelle sendiri walaupun suka nyemil juga, tapi kalau camilannyaa banyak juga pasti ennek dan gak bisa menghabiskan semuanya.
Tasya dan Anabelle pun membantu Alvaro membuka makanann itu, dan menaruhnya di meja yang berbentuk oval. Di sana juga ada empat kursi, cukup buat mereka berempat.
Meja dan kursi itu tentu Alvaro yang beli, dan sengaja taruh di ruangan Anabelle agar bisa mengobrol santai di sini atau buat makan siang bersama seprti ini. Jadi gak perlu makan di luar, terlebih di perusahaan ini belum ada kantinnya. Mungkin jika nanti banyak karyawan, Alvaro akan bikin kantik kecil kecilan sehingga bagi mereka yang gak bawa bekal bisa beli di kantin itu tanpa harus keluar.
Mereka pun makan bersama sambil mengobrol santai, bersenda gurau. Emang paling nikmat jika makan sambil ngobrol seperti ini, mereka bahkan sangat akrab layaknya saudara.
Bagas bersyukur berhenti menjadi asisten pribadi dan tnagan kanan Gavin, karena ia merasa dirinya kurang di hargai di sana, berbeda saat ia bekerja di bawah nauangna Anabelle, walaupun dirinya punya saham di perusahaah Evta, tetap aja Anabelle adalah atasannya, namun Anabelle tak pernah menganggap dirinya itu lebih tinggi, bahkan apapun yang ia lakukan kadang masih mengajak diskusi dirinya dengan yang lain.
Selesai makan, mereka masih mengobrol santai hingga jam satu kurang sepuluh menit, barulah mereka beranjak dari tempat duduknya dan sholat berjamaah di ruangan itu. Alvaro sebagai imamnya, Bagas sebagai makmumnya begitupun dengan Tasya. Sedangkan Anabelle, ia gak ikut karena ia tengah datang bulan.