
Dua minggu berada di luar negeri, Anabelle dan Alvaro pun akhirnya kembali negara In. Tasya yang selama ini merasa kesepian karena Anabelle pergi liburan pun kini bersorak senang. Dengan Anabelle pulang, ia tak akan kesepian lagi. Ia punya teman tidur, punya teman cerita, dan bisa sarapan bersama, melakukan aktivitas bersama dan berangkat pulang kerja bersama.
Anabelle pun juga tak kalah senangnya bisa bertemu dengan Tasya. Selama ini ia sangat merindukan sahabatnya itu. Anabelle dan Tasya hanya sesekali aja nelfon dan vidio call. Namun kini mereka sudah bertatap muka dan bisa mengobrol secara langsung.
Alvaro gak bisa menemani Anabelle terlalu lama, karena Alvaro punya pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja. Namun Anabelle pun tak mempermasalahkannya, ia malah mengucapkan terima kasih karena berkat Alvaro, ia sudah sepenuhnya melupakan kesedihannya itu.
Kini hanya tinggal Tasya dan Anabelle saja. Tasya mengajak Anabelle untuk pergi keluar, pergi jalan-jalan ke Mall, pergi ke taman hiburan dan pergi untuk kulineran alias makan-makan. Seharian itu, Anabelle dan Tasya tertawa bahagia menikmati kebersamaan mereka.
Hingga malam harinya, sebelum tidur. Tasya dan Anabelle pun bercerita. Awalnya Anabelle yang bercerita tentang liburannya selama di luar negeri bersama Alvaro, lalu Tasya pun juga menceritakan hubungan dirinya dengan Bagas.
"An, beberapa hari yang lalu. Mas Bagas melamar aku," ungkapnya. Mendengar hal itu membuat Anabelle cukup terkejut.
"Terus, kamu nerima dia kan?" tanyanya dengan sangat antusias.
"Entahlah, aku bingung." jawabnya lesu.
"Bingung kenapa?" tanya Anabelle yang tidak mengerti, kenapa Tasya masih bingung. Padahal ia tinggal bilang Iya saja.
"Aku sebenarnya sudah di jodohkan."
"What?"
"Di jodohkan sama siapa?"
"Sama anak dari sahabat Papa aku."
"Waduh, terus gimana?"
"Nah itulah, aku bingung harus pilih siapa. Di satu sisi, aku sudah nyaman dan mulai menyukai Mas Bagas. Dan berharap bisa menikah dengannya. Tapi di sisi lain, aku gak bisa menolak permintan orang tua aku. Aku bingung, An." Tasya menunjukkan wajah sedihnya membuat Anabelle tak tega.
"Kamu ikuti aja kata hati kamu, Sya," balas Anabelle tak tega.
"Kalau mengikuti kata hati aku, jujur aku ingin memilih Mas Bagas, An. Aku sudah tau dia seperti apa orangnya, dia sabar dan juga penuh perhatian. Aku percaya, aku pasti akan bahagia jika hidup dengannya," sahut Tasya.
"Kalau gitu, kamu bisa pilih Mas Bagas." ucapnya.
"Enggak semudah itu, An. Papaku itu orangnya keras kepala, dan jika sudah kemauannya sulit untuk di bantah. Jangankan aku, Mamaku sendiri pun bahkan tidak bisa merubah keputusan Papa aku."
"Terus gimana nasib kamu sama Mas Bagas?" tanyanya ikut sedih.
"Entahlah, aku pun juga bingung harus gimana sekarang. Aku juga belum menjawab lamaran Mas Bagas. Aku masih butuh waktu untuk menjelaskan semuanya." ujar Tasya.
"Sebenarnya aku pun juga bingung, Sya," ungkap Anabelle. Membuat Tasya mengernyitkan dahi.
"Bingung kenapa?" tanya Tasya sambil menatap sahabatnya.
"Saat di luar negeri, Mas Al mengungkapkan peraasannya dan mengajak aku menikah," ujarnya membuat Tasya kaget namun beberapa detik kemudian, ia merasa senang.
"Bagus, dong. Terus kenapa kamu sedih gitu?" tanya Tasya tak mengerti dengan jalan fikiran Anabelle.
"Jujur, aku bingung sama perasaan aku sendiri, Sya. Di satu sisi, aku emang mulai mencintai Mas Al. Tapi jauh di lubuk hati aku yang paling dalam, aku juga masih mencintai Mas Gavin. Aku gak mau jika menikah dengan Mas Al, namun separuh hati aku masih untuk mantan suamiku. Aku gak mau seperti Mas Gavin, sudah punya pasangan tapi masih menjalani hubungan dengan orang lain. Aku gak mau itu terjadi. Aku ingin hatiku sepenuhnya buat Mas Al, baru setelah itu aku siap untuk menikah dengannya." sahut Anabelle.
"Aku gak ingin menikah jika hanya punya separuh hati, karena itu tidak baik untuk ke depannya. Aku harus bisa melupakan Mas Gavin seutuhnya dan mencintai Mas Al sepenuhnya. Sehingga saat aku menikah dengan Mas Al pun, hidup aku tenang karena hanya fokus mencintai satu orang saja." imbuh Anabelle.
"Ya, aku mengerti apa yang kamu rasakan. Kalau gitu, kamu bisa memulai semuanya dengan pelan-pelan, tidak perlu terburu-buru. Toh kamu baru saja lepas dari pernikahan dengan mantan suamimu. Jadi kamu bisa pacaran dulu atau pendekatan dulu. Nikmati aja prosesnya. Jika hati kamu sudah mantap, baru kamu bisa ngomong ke Mas Al, kalau kamu sudah siap untu menjalani rumah tangga dengannya," tutur Tasya dan Anabelle pun mengangguk setuju.
Mereka terus mengobrol santai hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Tasya pun mengajak Anabelle untuk tidur, karena besok hari Senin dan mereka harus berankat kerja.