Anabelle - Love and Regret

Anabelle - Love and Regret
PUTUS



Vero mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, sedangkan Farhan dan Verly sengaja gak menyusul karena mereka ingin memberikan Vero kesempatan buat menyelesaikan masalahnya sendiri. Bagaimanapun saat ini Vero pasti tengah emosi, jadi dia butuh waktu sendiri untuk menyelesaikan masalahnya dengan Gavin, pacar yang sudah membohonginya setahun lebih.


Sepanjang jalan, Vero menangis, tak menyangka jika kisah hidupnya seperti ini. Ia menangisi kebodohannya karena sudah di permainkan oleh Gavin, ia juga menangisi kebodohannya, yang tanpa sadar sudah menyakiti wanita lain. Andai ia sadar lebih awal, ia tak akan mungkin menerima Gavin jadi kekasihnya dan mungkin ia bisa menyelematkan pernikahan Gavin dan Anabelle.


Ia jadi keingat saat dirinya bertemu dengan Anabelle dan Tasya di resto, sesaat di mana ia dan Gavin akan berangkat ke Villa.


"Oh, Tuhan. Pasti hati Anabelle sakit sekali, melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain? Tapi kenapa Anabelle terlihat biasa aja? Pantas aja muka Mas Gavin terlihat pucat, ia pasti takut, takut jika Anabelle akan jujur padaku, tentang status dirinya yang merupakah istri sah dari Pada Masa Gavin," gumam Vero dalam hati.


Tiba-tiba Vero keingat dengan percakapannya dengan Anabelle dan Tasya.


"Suami Ana selingkuh," ucap Tasya kala itu.


"Iya Anabelle sudah cukup lama menikah, tapi memang pernikahannya tertutup karena Anabelle bukan type orang yang suka berada dalam keramaian, ia juga gak mau misal orang-orang mengetahui status dia sebagai istri dari pengusaha kaya raya. Ia lebih nyaman dengan statusnya sebagai ibu rumah tangga tanpa ada embel-embel lain. Tapi sayangnya, suaminya selingkuh." Tasya menjelaskan


"Selingkuhannya sangat cantik dan juga terkenal, dia baik dan juga sangat ramah," jawab Anabelle.


"Awalnya enggak, tapi sekarang sudah kenal akrab," sahut Anabelle.


"Karena kekasih suamiku tidak tau, jika dia pacaran sama pria beristri. Suamiku mungkin mengatakan dia single hingga wanita itu mempercayainya begitu saja tanpa mencari lebih jauh lagi. Namanya cinta, pasti wanita itu akan dengan sangat mudah mempercayainya. Jika pun aku ingin marah, maka orang yang akan mendapatkan amarahku cukup suamiku saja, bukan kekasihnya. Karena jika wanita itu tau, siapa pacarnya dan apa statusnya, aku yakin, dia pasti akan memilih pergi dari pada mempertahankan hubungannya dan membuat wanita lainnya menderita."


"Kamu sangat baik, An. Aku bahkan tak pernah menemukan wanita sebaik kamu. Andai aku jadi posisimu, mungkin aku akan meradang dan akan memukul mereka berdua karena sudah menyakitiku. Tapi kamu memilih untuk diam."


"Ya, aku memilih untuk diam dan pergi dari rumah itu untuk menenangkan hatiku."


Vero terhenyak saat percakapan itu seperti kaset yang terekam jelas di fikirannya.  Seharusnya ia sadar, saat Anabelle mengatakan selingkuhannya sangat cantik dan terkenal. Apalagi Anabelle juga mengatakan bahwa awalnya mereka gak kenal, tapi sekarang sudah lumayan akrab.


"Bahkan aku juga bilang akan memukul mereka berdua, jika aku ada di posisi Anabelle. Namun siapa sangka, jika ternyata selingkuhannya itu aku sendiri. Bukankah artinya aku harus menghukum diriku yang sudah tega melukai Anabelle? Aku bahkan tanpa sadar menyakitinya secara terang-terangan. Bermesraan di depan Anabelle. Padahal tak seharusnya aku melakukan hal itu. Huh, kenapa aku begitu bodoh. Benar kata Anabelle, gara-gara cinta aku mudah mempercayainya." Vero memukul mukul kemudinya untuk menghilangkan rasa sakit di dadanya, rasanya begitu sesak setelah tau semua yang terjadi.


Tiba-tiba Hp Vero berbunyi, ada pesan dari Farhan.


"Jika Gavin gak ada di kantornya, datanglah ke rumah ini. INi rumah Gavin ma Anabelle."


Membaca pesan itu, Vero hanya berdengus kesal. Ia benci kenyataan  ini, kenyataan bahwa dirinyalah adalah orang ketiga, kenyataan bahwa dirinya adalah pelakor, kenyataan bahwa dirinya adalah perusak rumah tangga orang, kenyataan bahwa dirinya hanyalah selingkuhan. Bukan perioritas.


Sesampai di kantor Gavin, Vero menanyakan ke resepsionis, dan benar saja Gavin hari ini gak masuk kerja. Akhirnya Vero masuk ke dalam mobil lagi dan menuju ke rumah Gavin.


Untungnya rumahnya tak jauh dari sini, jadi setengah jam sudah sampai. Vero tak peduli jika ia ada syuting jam satu, karena jikapun ia tetap nekat datang, hasilnya pasti gak akan bagus, karena saat ini fikirannya lagi kacau balau.


Farhan yang tau jika Vero gak akan ke lokasi syuting hari ini langsung mengirim pesan ke produsernya, dan mengatakan jika hari ini Vero ada masalah dan tidak bisa datang. Namun di usahkan besok Vero akan datang tepat waktu.


Sedangkan Vero, ia sudah sampai di rumah Gaavin. Ia menatap rumah Gavin yang cukup mewah, namun terasa sepi. Mungkin karena Anabelle tak lagi tinggal di sini.


Vero segera turun dari mobilnya, ia melihat di sekelilingnya, ada mobil Gavin yang terparkir di samping rumah. Setelah memastikan ini benar rumah Gavin, Vero langsung berjalan menuju pintu utama dan memencel bel yang ada di samping pintu.


Enggak lama kemudian, seorang paruh baya, datang membukakan pintu.


"Cari siapa, Non?" tanya Bibi Ani.


"Apa benar ini rumah Gavin?" tanya Vero sopan.


Bibi Ani menatap Vero sejenak, sebelum akhirnya ia mengiyakan.


"Iya," jawab Bibi Ani.


"Gavinnya ada?" tanyanya, tanpa ada embel-embel Mas lagi.


"Ada Non di kamar, cuma dari tadi kemaren gak keluaran," ujarnya memberitahu.


"Boleh saya masuk, saya temennya Gavin," ucap Vero.


"Bo ... boleh, Non," sahutnya gugup.


Bibi Ani membukakan pintu lebar-lebar, lalu setelah itu mempersilahkan Vero masuk. Baru masuk aja, Vero sudah di suguhkan dengan foto Anabelle dan Gavin yang ada di dinding.


Melihat foto itu, Vero hanya bisa menelan ludah. Sakit, hatinya sakit, melihat kemesraan di foto itu.


"Itu foto Gavin sama istrinya?" tanyanya pura pura tak tau.


"Ah ya, itu foto istri Tuan Gavin. Bentar saya buatkan minuman dulu," ujarnya.


"Enggak perlu repot-repot, Bi. Saya ke sini mau ketemu Gavin, jika boleh tau kamar Gavin mana ya?" tanyanya.


"Di sana, Non. Pintu utama," ucapnya.


Vero menganggukkan kepala.


"Tapi saya takut Tuan marah, Non," balasnya.


"Enggak papa, biar nanti saya yang jelaskan," ucapnya meyakinkan.


"Baiklah, kalau gitu Bibi ke dapur dulu." Bibi Ani memberikan kepercayaan buat Vero, karena setelah ia melihat seksama, Bibi Ani tau, itu Vero yang sering tampil di tivi.


Setelah Bibi pergi, Vero berjalan menuju pintu, di pintu utama ada tulisan, "Gavin Love Anabelle forever."


Lagi, hatinya berdenyut sakit. Andai ia gak hadir di pernikahan mereka, mungkin saat ini Anabelle masih di rumah ini, dan rumah tangganya masih baik-baik aja. Seharusnya, Vero mencari tau lebih awal tentang status Gavin, bukan malah seperti ini.  Ia tau, setelah semuanya berantakan.


Setelah rumah tangga Anabelle dan Gavin tak bisa bisa di selamatkan lagi.


Vero mengetuk pintu, namun tak ada sahutan. Vero terus mengetuk pintu hingga akhirnya pintu terbuka.


"Ada apa, Bi?" tanyanya dengan mata tertutup. Ia merasa ngantuk setelah dari kemaren, ia gak bisa tidur.


"Gavin," panggilnya tanpa pakai Mas lagi.


"Ve ... vero, Sayang," ucap Gavin kaget. Bahkan rasa kantuknya pun langsung hilang seketika.


PLAK ... PLAK ... PLAK ... PLAK ....


Vero menampar Gavin sampai bolak balik, bahkan tangan Vero sampai kebas sendiri rasanya.


Sedangkan Gavin, jangan di tanya lagi, pipinya terasa panas dan perih.


"Aku gak tau kamu sebrengsek itu. Kamu bilang kamu single, nyatanya apa? Kamu sudah nikah. Kamu bilang kamu mencintai aku dan aku wanita satu satunya di hati kamu, nyatanya apa, kamu punya Anabellle selain aku. Kenapa Gav, kenapa kamu nyakitin aku sampai kayak gini, salahku apa? Aku mencintai kamu dengan tulus, tapi kenapa ini balasan kamu? Kamu jadikan aku wanita bodoh, mencintai laki-laki yang telah beristri. Kamu mikir gak sih, aku kamu jadikan pelakor. Gara-gara kamu, aku rasanya gak punya muka buat ketemu Anabelle. Aku malu, aku malu karena sudah bermesraan sama suaminya di hadapannya. Aku malu, Gav," ucap Vero menangis membuat Gavin merasa bersalah. Ia ingin memeluk Vero, namun vero menepisnya dengan kasar.


"Maaf, Ver. Aku melakukan ini karena akku mencintai kamu, aku gak mau kehilangan kamu."


"Kamu gak mau kehilangan aku, tapi kamu juga gak mau lepas dari Anabelle. Maksudmu apa, kamu mau jadi laki laki yang serakah, yang semaunya harus tunduk pada kemauan kamu?" bentaknya.


"Ver, aku bisa jelasin semuanya."


"Jelasin apa? jelasin kalau kamu berhasil nipu aku? Iya!" tantang Vero, bahkan uratnya sampai keluar karena sangking geramnya ke Gavin.


"Bukan gitu."


"Lalu apa? Kamu itu banyak ngelesnya tau gak, laki laki gak punya prinsip. Sudah punya istri, masih saja cari di luar sana! Mulai sekarang aku mau kita PUTUS, dan jangan pernah menghubungi aku lagi." Dan setelah itu, Vero pun segera pergi dari sana.


Gavin mengejarnya dari belakang dan berusaha meraih tangan Vero, tapi selalu di tepis oleh Vero dengan kasar.


"Ver, dengerin aku dulu. Aku gak mau kita putus, aku sayang sama kamu."


PLAK ....


Saat Gavin bilang sayang, Vero langsung membalikkan badannya dan tanpa aba aba, ia lagi lagi menampar Gavin dengan keras.


"SAYANG KAU BILANG, HAH. SAYANG DARI MATAMU ITU. JIKA KAMU SAYANG, KAMU GAK AKAN BOHONGIN AKU, JIKA KAMU SAYANG, KAMU GAK AKAN NYAKITIN AKU KAYAK GINI, JIKA KAMU SAYANG, CERAIKAN ANABELLE SAAT INI JUGA, TALAK DIA DETIK INI JUGA, ITU JIKA KAMU BENERAN SAYANG SAMA AKU," ucap Vero dengan nada tinggi, ia sudah sangat kesal, marah dan kecewa. Hingga rasanya sampai ke ubun-ubun.


Gavin diam, dia gak bisa menceraikan istrinya karena dia juga masih mencintai istrinya.


"Kenapa diam? ENGGAK BERANI KAN KAU," ucap Vero sinis. Tak ada lagi tatapan ramah. Yang ada hanyalah tatapan benci.


"Cowok yang serakah itu, aku yakin, dia akan kehiangan semuanya. Anabelle pasti sudah gak sudi buat balikan sama kamu, apalagi aku. Sorry lah ya, aku emang cinta, tapi maaf, mulai sekarang, aku gak mau lagi cinta sama orang yang salah. Anabelle aja milih pergi apalagi aku, yang cuma statusnya kekasih. Maaf, mulai sekarang, anggap aja kita gak kenal. Aku mah ogah ngbisin waktu ama laki gak setia, suka boong, pendusta, plinplan. Iuh, banyak banget keburukan kamu," ujar Vero membuat Gavin kesal.


"Walaupun aku keburukan, nyatanya kamu cinta kan sama aku," ujar Gavin tak terima sedari tadi di hina terus menerus.


"Cinta? Iya, itu sebelum aku tau kebohongan kamu. Setelah tau, kayaknya aku mikir ulang deh kalau mau cinta sama laki-laki seperti kamu. Tampan, perasaan biasa aja. Kaya, keknya sekarang lebih kaya aku. Terus apa yang harus aku banggakan dari kamu? Hm? Aku bersyukur, Tuhan memberitahu aku secepat mungkin kebusukan kamu. Setidaknya aku tak perlu berlama-lama menghabiskan waktuku bersama laki-laki PECUNDANG seperti kamu." Vero menekan kata PECUNDANG, membuat Gavin emosi dan hampir mengangkat tangannya.


"Kenapa, mau mukul aku? Ya? Pukul aja nih." Vero memberikan pipi kirinya membuat Gavin hanya bisa menggeram kesal, bagaimanapun ia tak mau sampai main fisik, bagaimanapun Vero adalah wanita yang ia cintai.


"Gak berani, kan?" Vero meremehkan Gavin, yang cuma punya mental pengecut.


Vero membuka pintu mobilnya dan segera masuk sebelum Gavin menghalanginya lagi.


"Ver, kamu gak bisa ninggalin aku gitu aja, dan aku gak mau kita putus."


"BODO AMAT. Pokoknya aku dan kamu gak ada  hubungan apa apa lagi, dan mulai sekarang, anggap aja aku orang asing. Aku gak sudi punya pacar pengkhianat."


Dan setelah itu, Vero menghidupkan mobilnya dan pergi dari sana. Sedangkan Gavin, ia menjambat rambutnya sendiri.


"Hancur, sudah. Hancur semuanya," gumam Gavin yang merasa lelah, lelah karena permasalahannya tak kunjung selesai.