Anabelle - Love and Regret

Anabelle - Love and Regret
Vero menyindir Bagas



Jam tiga sore, Vero datang bersama Verly dan juga Farhan. Mereka langsung di arahkan ke tempat meeting sebelum proses pengambilan foto dan vidio. Di ruang meeting juga sudah di sediakan minuman dan beberapa makanan ringan agar ngobrolnya tidak ngantuk karena ada camilan yang bisa di makan.


Tak lama kemudian, Anabel datang bersama Tasya. Di sana Anabelle memperkenalkan Tasya kepada mereka bertiga. Tasya yang mudah akrab dengan orang lain, langsung merasa nyaman dan nyambung saat di ajak mengobrol.


Vero pun juga mampu mengimbangi apa yang menjadi topik pembahasan di ruang meeting itu, walaupun acara belum di mulai, namun Tasya sudah menjelaskan garis besarnya. Farhan pun selaku menager mendengarkan dengan seksama. Bahkan Tasya seakan tak mau rugi, ia menjelaskan apa saja yang harus di lakukan oleh Vero ke depannya selama kontrak itu berlangsung. Vero pun menganggukkan kepala pertanda mengerti, sedangkan Farhan selaku manager mencatat point point pentingnya, agar tak lupa. Bagaimana pun ia yang harus mengingatkan Vero tentang apa yang harus di lakukan dan mengatur jadwal juga agar pekerjaannya tidak saling bertabrakan.


Lima belas menit kemudian, Alvaro datang bersama Bagas. Melihat kedatangan Bagas, mereka cukup tercengan, tak menyangka jika Bagas yang di maksud oleh Anabelle adalah Bagas, mantan asisten Gavin. Tentu Vero, Verly dna Farhan tau siapa Bagas. Karena Vero juga merupakan brand ambasador di perusahaan Gavin dan selama ini Bagas lah yang menangani semua kontrak mereka. Jadi wajar jika mereka terkejut dengan kedatangan Bagas di ruang meeting ini.


"Mas Bagas," ucap Vero tercengan.


"Selamat sore Mbak Vero, Mbak Verly dan Mas Farhan. Maaf kami terlambat datangnya," ucap Bagas sopan. Lalu ia duduk di samping Tasya sedangkan Alvaro duduk di samping Anabelle.


"Enggak papa, santai aja," jawab Farhan, karena Vero hanya diam aja sedari tadi, mungkin ia masih terkejut dengan kemunculan Bagas di ruangan itu.


"Aku gak nyangka Mas Bagas kerja di sini," ucap Vero setelah cukup dengan rasa terkejutnya.


"Ya, awalnya setelah berhenti, saya pulang kampung dan ingin buka usaha sendiri. Namun saya di tawari bisnis ini, tentu saya tidak menolak, terlebih saya sudah kenal dengan Anabelle. Jadi saya, memilih untuk bekerja dengannya," jawab Bagas tanpa ada rasa ragu dan takut.


"Tapi kenapa Mas Bagas berhenti kerja dengan Mas Gavin, padahal kalian kan sangat akrab dan Mas Bagas juga sudah lama bekerja di bawah naungan perusahaan Mas Gavin?" tanya Vero yang merasa kepo. Ia sadar, tidak boleh menanyakan hal ini di ruang rapat, mengingat ia ke sini untuk membahas masalah pekerjaan, bukan masalah pribadi. Namun Vero gak bisa diam dengan rasa penasarannya yang cukup tinggi.


"Suatu saat Mbak Vero pasti akan mengerti kenapa saya memilih untuk berhenti. Untuk saat ini saya tidak bisa menceritakan alasan jelasnya seperti apa. Akan tetapi saya yakin, cepat atau lambat Mbak Vero akan tau sesuatu yang cukup mengejutkan. Dan saat Mbak Vero mengetahui sesuatu, maka saya yakin Mbak Vero pasti memahami kenapa saya memilih bekerja kepada Anabelle dari pada Gavin," ucap Bagas yang menyebut nama Gavin tanpa embel embel Pak atau Tuan.


"Apakah kamu mengetahui sesuatu tentang keburukan Mas Gavin sampai kamu memilih untuk pergi meninggalkannya, bahkan kamu gak datang saat Mas Gavin terkena musibah?" tanyanya.


"Vero, sudah cukup. Kita di sini bukan untuk bahas masalah pribadi. Dan setiap orang juga punya hak untuk memutuskan bertahan atau meninggalkan, kita sebagai orang luar, tidak boleh ikut campur begitu saja," ucap Farhan menengahi karena suasana semakin tak kondusif. Ia juga kurang suka atas sikap Vero yang tak bisa mengerti tempat dan situasi.


"Mbak Vero kenal sama Pak Gavin?" tanya Alvaro sambil menatap ke arah Anabelle dan Veronica secara bergantian.


"ya, saya kenal. Dia teman akrab saya," jawabnya tanpa mengatakan yang sesungguhnya, bagaimanapun tentang hubungannya dan Gaavin, belum ada yang boleh tau, itu masih menjadi rahasia mereka.


"Ah, begitu." Alvaro melirik ke arah Anabelle, sedangkan Anabelle hanya diam, ia sadar jika Alvaro pasti sudah tau bahwa selingkuhan suaminya itu adalah Veronia, wanita yang ada di hadapannya sekarang.


Sedangkan Vero memilih diam, ia masih kecewa karena Bagas bekerja di tempat lain dari pada bertahan dengan pacarnya itu. Ia tau, walaupun Gavin gak mengeluh, namun ia tau betul, Gavin kadang kelelahan mengurus semuanya sendirian. Apalagi saat ia tau, Bagas juga tak bisa datang di saat Gavin lagi terpuruk.


Anabelle hanya diam mendengar nama suaminya di sebut dan jadi perbincangan, andai Vero tau jika dirinya adalah istrinya, akankah ia maish kecewa karena Bagas memilih dirinya dari pada suaminya. Tasya pun juga memilih diam, merasa kasihan pada Vero yang tak tau apa apa di sini.


"Baiklah kita fokus sama pekerjaan lagi. Dan untuk masalah pribadi, kita bisa bahas lagi di lain waktu, atau saat meeting ini selesai," ucap Alvaro agar suasana kembali tenang dan mulai fokus sama pekerjaan lagi.


Mereka mengangguk setuju.


Alvaro menggunakan jasa anak IT, agar tidak terlalu banyak pengeluaran. Untungnya di antara mereka banyak yang berbakar dalam mengambil foto dan vidio lalu mengeditnya sedemikian rupa.


Sambil menunggu Vero selesai pemotretan, Anabelle duduk santai bersama yang lainnya.


Jam enam sore, pemotretan pun selesai, tak perlu banyak mengulang karena memang Vero sudah ahlinya, sudah pro. Sehingga tak sampai sejam semuanya sudah selesai.


Mereka beristirahat sejenak, sebagian ada yang sholat, sebagian memilih untuk memainkan hp. Selesai sholat maghrib, mereka melanjutkan mengobrol. Diam-diam Alvaro memesan makanan dari restoran mahal di kota itu, sehingga tanpa mereka sadari, jam tujuh makanan itu datang dan akhirnya mereka makan malam di ruang meeting itu.


Selesai makan, barulah Vero, asisten dan managernya itu memutuskan pulang. Anabelle mengantarkan mereka sampai depan.


"Makasih ya, Ver. Foto dan vidio kamu sangat bagus, besok akan segera aku kirim setelah selesai di edit," ucap Anabelle tulus.


"Sama-sama, aku senang jika kamu puas dengan hasilnya. Dan aku minta maaf karena tadi di ruang meeting, aku sempat membahas masala pribadi," ujar Vero menyesali perbuatannya karena tidak terlalu profesional, menyampurkan masalah pribadi ke dalam pekerjaannya.


"Enggak papa, santai aja. Aku mengerti, ada kalanya seseorang punya masalah yang harus di selesaikan," balas Anabelle. Mendengar hal itu, Vero merasa lega. Ia bersyukur karena Anabelle mengerti dirinya, jika orang lain, entah apa yang akan terjadi.


Setelah memastikan mereka pergi, Anabelle kembali ke ruang meeting dan di sana Alvaro menatapnya dengan marah.


"Kenapa gak bilang kalau selingkuhan suamimu itu Vero?" tanya Alvaro kesal.


"Maaf," jawab Anabelle.


"Kamu tau, aku seperti orang bodoh tadi yang gak tau apa apa," ucapnya yang masih kesal.


"Aku minta maaf, jangan marah lagi ya." Anabelle menghampiri Alvaro dan memegang tangan Alvaro dengan lembut.


"Maaf aku sudah gak jujur sama kamu, aku menyesal," ujarnya dengan mata yang sudah memendung, menahan air mata agar tidak jatuh. Sungguh, ia gak suka jika Alvaro menatap marah padanya, entah kenapa hatinya sangat sakit sekali.


Melihat Anabelle yang seperti ingin menangis, Alvari pun jadi tak tega.


"Iya sudah, tapi lain kali jangan di ulangi lagi ya, jangan bikin teka teki lagi dan jangan bikin aku terkejut dan seperti orang bodoh," tuturnya dan Anabelle pun menganggukkan kepala.


"Sebenarnya aku kasihan sama Vero tadi, dia sangat membela Gavin, wajah sih dia membela Gavin, karena Gavin itu pacarnya. Hanya saja, yang ia bela itu orang yang salah, andai Vero tau, gak mungkin Vero sampai ngebella Gavin segitunya," ucap Tasya yang tak suka karena tadi Vero seperti menyalahkan Bagas, padahal di sini dialah yang gak tau apa-apa.


"Sudahlah, jangan di bahas lagi. Toh Vero melakukan itu karena memang dia lagi buta, belum tau fakta yang sebenarnya. Jika tau, tak mungkin ia bicar seperti itu," ujar Bagas dan Alvaro pun setuju akan hal itu.


Akhirnya mereka mengoborl santai sampai jam delapan malam, barulah mereka pulang ke rumah masing masing. Anabelle pulang bersama dengan Tasya karena memang mereka tinggal satu atap, sedangkan Bagas pulang ke apartemennya dan Alvaro pulang ke kediamannya.