Anabelle - Love and Regret

Anabelle - Love and Regret
Vero Memerika Hpnya Gavin



Malam harinya, seperti biasa jika mereka bersama, mereka akan tidur bareng. Tapi mereka tidak melakukan hal lebih selain cuma tidur sambil pelukan, bahkan mereka juga menyempatkan mengobrol sampai jam sebelas malam. Jam masih menunjukkan pukul dua dini hari, Vero bangun karena ingin buang air kecil.


Setelah buang air kecil, dan cuci muka. Ia tak merasa ngantuk lagi, ia pergi ke dapur untuk mengambil segelas air dan meminumnya. Lalu ia kembali ke kamar dan melihat Gavin yang masih tertidur sangat nyenyak. Vero naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Gavin, ia melihat Gavin yang sangat tampan, ia bersyukur mempunyai pacar tampan, mapan, perhatian, pengertian, sabar dan selalu ada untuknya. Entah kebaikan apa yang ia miliki dulu, sampai dia di pertemukan dengan laki-laki sebaik dan seperfect Gavin.


Vero terus memperhatikan Gavin yang tengah tertidur sangat nyenyak, sesekali ia mencium Gavin, dari Pipi, Kening, Hidung, Mata, dan terakhir di Bibir. Andai Gavin bangun, ia pasti malu kalau ketahuan, untungnya Gavin kalau tidur seperti orang mati, mungkin jika rumahnya kemalingan pun, dia gak akan sadar, tau tau barangnya sudah banyak yang hilang.


Saat Vero menatap ke meja, ia melihat Hp Gavin yang tergeletak begitu saja, ia mengambil Hp itu untuk melihat isinya. Sayangnya harus menggunakan pin, Vero mencoba menggunakan ulang tahun Gavin, namun gak bisa, ulang tahunnya sendiri pun gak bisa. Entah pakai pin apa, saat ia membalikkan hpnya, ia baru sadar, di sana ada lingkran kecil di mana kunci hp bisa di buka dengan jari telunjuk.


Vero pun mengambil tangan Gavin dan mengarahkan jari telunjuknya ke lingkaran kecil itu dan benar saja, kunci layar langsung terbuka. Melihat hal itu, Vero pun tersenyum senang.


Vero akhirnya menaruh bantal di belakangnya, agar ia bisa bersender dengan nyaman. Lalu ia mulai membuka pesannya, tak ada yang aneh, kecuali chat darinya dan dari rekan kerjanya. Ia juga mengecek nomer kontak, semuanya juga sama, tak ada yang mencurigakan, bahkan nomernya pun di kasih nama, My Love.


"Kenapa Mas Gavin so sweet banget sih, sampai namaku aja di kasih nama My Love?" tanya Vero dalam hati.


Lalu ia beralih ke galeri, dan hanya berisi puluhan fotonya yang di ambil dari instagram miliknya. Bahkan ada foto yang mereka ambil saat liburan berdua. Tak ada satu pun foto cewek yang terpampang di sana. Bukankah itu artinya Gavin emang belum punya istri atau pacar selain dirinya. Begitulah isi fikiran Vero.


Vero juga melihat akunnya yang lain Ig, Fb, Tele dan twitter, namun hasilnya juga sama, tak ada yang mencurigakan. Akhirnya Vero keluar dari sana setelah merasa puas, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima belas menit, emang kalau sudah main HP itu gak kerasa banget.


Vero menaruh hpnya di atas meja, dan setelah itu, ia pun mengambil bantal di belakangnya dan cukup menggunakan satu bantal aja, karena jika ketinggian, bisa-bisa lehernya akan terasa sakit saat bangun.


Sebelum ia memejamkan mata, ia menyempatkan diri mencium kening Gavin. "I love you." bisiknya.


Lalu setelah itu, ia pun tidur sambil memeluk Gavin. Rasanya sangat nyaman sekali, tidur dalam pelukan orang yang di cintai.


Jam setengah enam pagi, Gavin bangun lalu melihat Vero yang tengah memeluknya, Gavin pun tersenyum, lalu ia memindahkan pelan pelan tangan dan kaki Vero yang bertumpu di atas tubuhnya. Lalu ia mencium pipi  Vero sekilas sebelum akhirnya ia bangun dan pergi ke kamar mandi sekalian mandi biar segaar.


Dua puluh menit kemudian, Gavin keluar dari kamar mandi, sebenarnya sudah selesai dari tadi, tapi karena perutnya mendadak mules, jadi ia menyelesaikan urusannya lebih dulu, sebelum akhirnya ia keluar dan melihat Vero yang masih tertelap. Gavin tidak membangunkan Vero, biarlah ia tidur lebih lama lagi, ia tak tega jika harus membangunkannya karena jika Vero sudah kerja, untuk bisa tidur nyenyak tentu tidaklah mudah. Terlebih di tengah padat-padatnya jadwal yang Vero miliki.


Gavin mengambil baju dari lemari, baju yang ia bawa saat pertama kali ke sini, sengaja gak bawa pulang lagi agar saat Gavin mau ke Villa ini, tak perlu bawa baju lagi. Cukup bawa diri aja, tak lupa hp ama dompet, karena itu sangat penting sekali.


Setelah memakai baju, sisiran, tak lupa ia memakai jam tangan yang ia lingkarkan di lengan kirinya. TErakhir ia memakai parfum di bajunya sehingga harum dan bikin orang betah berada di dekatnya.


Setelah ia duduk di samping tempat tidur dan melihat wajah Vero yang tertidur pulas. Gavin hanya tersenyum melihatnya, ia lalu mengambil Hp dan melihat pesan, siapa tau ada yang penting. Namun betapa kagetnya dia saat melihat ada jejak di sana yang belum sempat di keluarkan semua oleh Vero.


Gavin pun mengeluarkannya satu persatu, lalu melihat pesan masuk, namun ada hanya ada satu pesan masuk dari sekertarisnya dan ia pun segera membalasnya.


"Hueft untung saja, semuanya sudah aku amankan, coba kalau aku teledor sedikit saja, bisa berabe," gumam Gavin dalam hati. Punya rahasia itu emang gak mudah, harus pintar-pintar menyembunyikan sesuatu atau jika enggak, akan panjang urusannya dan belibet tentunya.


"Mas, sudah bangun?" tanya Vero yang sudah buka mata, dan mulai duduk. Gavin  menoleh ke arah Vero yang terlihat cantik dan imut walaupun baru bangun tidur.


"Iya, Sayang. Kamu nyenyak banget tidurnya?"


"Ia, Mas. Ngantuk banget aku, tadi pagi aku bangun jam dua karena pengen buang air kecil, terus gak bisa tidur lagi. Jadi aku main Hp kamu, gak papakan?" tanyanya.


"Enggak papa, Sayang. Santai aja, kamu tidur jam berapa setelah itu?"


"Jam tiga lewat."


"Oh, ya sudah mandi dulu sana. Aku tungguin di sini, kayaknya Bibi juga sudah selesai masak tuh."


"Iya, Mas."


Gavin melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi lewat lima menit. Padahal kemaren janjinya mau pulang jam enam pagi, tapi malah molor, dan entah ini pulang jam berapa, meningat jam tujuh aja, Vero baru keluar dari kamar mandi.


"Maaf ya, Mas. Lama," ucap Vero yang hanya memakai handuk sehingga memperlihatkan betisnya yang putih bersih, lengan dadanya yang juga sangat mempesona. Hanya saja, dua gunung kembarnya tidak terlihat full, hanya sedikit, namun mampu membuat membuat yang di bawah terasa sesak.


"Yank, aku nunggu di luar ya," ujar Gavin yang gak bisa lama-lama di kamar itu, atau dirinya akan khilaf dan membuat Vero kehilangan kehormatannya hari ini.


"Iya, Mas. Aku bentar kok," sahutnya. Gavin hanya mengiyakan saja, bentarnya cewek itu minimal setengah jam dan Gavin pun hanya bisa memakluminya saja, maklum kaum hawa, emang butuh waktu lebih lama dari pada kaum adam.


Gavin pergi keluar dan melihat Pak Darto yang lagi duduk santai setelah menyapu halaman dan menyiram tanaman, mungkin ia lelah. Gavin pun duduk di samping Pak Darto dan mengajak Pak Darto mengobrol santai.


Pak Darto berbeda dengan istrinya-Bi Suami, jika Bi sumi pemalu berbeda dengan Pak Darto yang pandai berbaur dengan siapa aja.


Diam-diam sambil mengobrol santai, Pak Darto mengirim pesan kepada istrinya, dan benar saja, gak lama kemudian, Bi Sumi datang membawakan dua gelas kopi hangat dan pisang goreng yang masih panas. Kebetulan Bi Sumi tengah bikin pisang goreng buat majikannya itu. Sedangkan nasi dan lauk pauk sudah matang dari jam enam pagi.


Untuk air panasnya juga ada di taruh di termos kecil, jadi gak perlu memanaskan air lagi untuk buat kopi.


"Wah, Bibi. Makasih ya, Bi. Paling enak kalau pagi-pagi gini minum kopi sambil di temani gorengan yang masih hangat, apalagi dengan udara yang cukup dingin ini," ujar Gavin senang.


"Sama-sama, Tuan," balasnya dan pergi dari sana.


"Maafin istri saya ya, Tuan. Dia cukup pemalu, dari masih remaja sampai sekarang, rasa malunya gak berkuang sama sekali," ucap Pak Darto tak enak hati.


"Enggak papa, santai aja, saya ngerti kok, Pak," tuturnya santai. Ia juga tak memperdulikan bagaimana sikap Bi Sumi, lagian setiap orang punya sifat beda beda, ada yang terbuka ada yang tertutup. Tak semua orang pandai dalam hal berbicara.


Setelah panjang lebar mengobrol, Vero datang.


"Mas, ayo sarapan dulu, terus berangkat ini sudah siang," ajak Vero.


"Iya, Yank. Pak, saya mau sarapan dulu, atau mau gabung?" tawarnya.


"Enggak, Tuan. Saya masih mau menikmati suanasa di sini dulu sambil makan gorengan,"


"Kalau gitu saya ke dalam dulu ya, Pak."


"Iya, Tuan."


Setelah itu, Gavin menghabiskan kopinya lalu pergi dari sana. Gavin dan Vero jalan beriringan menuju ruang makan. Nasi nya masih hangat, hanya saja lauk pauknya sudah dingin, mungkin karena kelamaan. Tapi gak papa, masih sangat layak di makan.


Di meja itu juga ada pisang goreng yang masih hangat, lumayan bisa buat pencuci mulut nanti, pasti mantap.


Vero mengambilkan nasi dan lauk pauk buat Gavin, sudah seperti seorang istri yang tengah melayani suami.


"Terima kasih," ucap Gavin.


"Sama-sama."


Lalu mereka pun makan berdua, sambil mengobrol santai. Selesai makan, mereka masih menikmati pisang goreng itu sambil minum teh hangat, benar-benar mantap banget. Untungnya tadi Vero mengambilkan nasi dan lauk pauknya sedikit, jadi masih ada sisa untuk tempat pisang goreng sehingga perutnya tak sampai sesak karena kekenyangan.


Setelah puas, barulah mereka bersiap-siap dan pamit kepada Bibi Sumi dan Pak Darto. Dan jam delapan pas, mereka pun memutuskan pulang.