
Sesampai di Jakarta, Gavin langsung mengantarkan Vero ke apartemennya, lalu ia pun langsung pulang ke rumahnya, ia sengaja tak mampir dulu karena ia tau, Vero capek dan butuh istirahat, apalagi sebentar lagi ia harus berangkat lagi untuk syuting. Jadi, Gavin gak akan menganggu waktu istirahat Vero.
Saaat Gavin sampai di depan rumahnya, betapa kagetnya dia saat melihat ada Anabelle di sana. Entah apa yang di lakukan oleh Anabelle, hingga ia duduk santai di depan rumah, tanpa mau masuk.
Gavin segera memarkirkan mobilnya begitu saja, lalu menghampiri Anabelle.
"Bagaimana liburannya, asyik?" sindir Anabelle.
"An, aku bisa jelasin semuanya," ucap Gavin.
"Jadi orang jangan munafik, kamu memukul Mas Al, gara-gara lihat aku makan bareng dia, bagaimana dengan perasaanku saat ini lihat kamu liburan bersama wanita lain. Ingat, mulai sekarang, jangan pernah sekalipun kamu mengatur hidup aku, bahkan jika pun aku menjalani hubungan dengan pria manapun, jangan pernah sekalipun kamu memukul dia lagi, atau aku gak akan segan-segan menghancurkanmu. Aku gak menggugat cerai kamu, karena aku punya alasan yang kuat. Jadi, tunggulah kehancuran kamu dan lihat bagaimana aku bangkit dan kamu akan hidup dalam penyesalan."
"Bell?" Gavin gak menyangka jika Anabelle akan berkata demikian.
"Kamu tau, penyesalan terbesarku apa, yaitu mengenalmu dan menikah denganmu. Tapi tak apa, aku anggap ini sebagai proses pendewasaan aku, mungkin dengan cara ini, aku bisa lebih hati-hati lagi dalam memilih pendamping, agar aku tak sampai menemukan laki-laki bejat seperti kamu untuk kedua kalinya. Aku pergi." Dan setelah itu, Anabelle memasang kaca hitamgnya dan segera pergi dari sana. Ia mengendarai mobilnya sendiri menuju kantor. Ia menyempatkan datang ke sini, setelah ia diberitahu Vero, jika mereka dalam perjalanan pulang dan akan segera tiba. Itulah kenapa, Anabelle ada di rumah itu, ia ingin memperingati Gavin agar tak lagi sembarangan memukul siapa saja yang dekat dengannya, bahkan jika ia dekat dengan lawan jenis sekalipun.
Setelah kepergian Anabelle, Gavin langsung marah, ia menerjang kursi yang di duduki Anabelle tadi hingga patah. Ia tak memperdulikanya, ia hanya ingin melampiaskan emosinnya karena ia benci melihat Anabelle, yang berkata dingin padanya. Ia bisa merasakan, jika Anabelle tak lagi mencintainya, melainkan hanya ada rasa benci di sudut matanya, tak ada lagi mata teduh yang menatapnya dengan hangat, yang ada tatapan dingin yang mematikan.
Gavin masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya, di kamar, lagi dan lagi ia menghancurkan apa saja hingga kamar itu yang tadinya rapi jadi seperti kapal pecah, semua barang berserakan di mana-mana. Ia gak iklas, jika sampai Anabelle sampai menjalani hubungan dengan orang lain seperti dirinya yang menjalani hubungan dengan Vero. Ia gak iklas Anabelle dekat dengan laki-laki manapupn karen baginya, ANabelle adalah miliknya dan sampai kapanpun akan jadi miliknya. Ia gak akan membiarkan Anabelle lepas begitu saja, ia akan mempertahankan apa yang jadi miliknya dan tak akan membiarkan siapapun merebut Anabelle darinya.
Gavin berteriak kesal, ia sudah lelah setelah menyetir berjam-jam, dan sampai rumah, ia masih di buat marah oleh kata-kata Anabelle, ia benci, benci dengan suasana hati yang seperti ini.
Sedangkan Anabelle, ia menikmati menyetirnya menuju kantor, bahkan ia juga memutar lagu untuk menemani dirinya selama menyetir. Rasanya ia sudah sangat puas, karena berhasil membuat Gavin marah, ia yang seharusnya dalam hati bahagia sehabis liburan, kini perasaannya pasti kacau balau. Percuma liburan, jika pada akhirnya hatinya lagi lagi berantakan dan dia hanya bisa melampiaskan emosinya dengan menghancurkan barang-barang.
Sesampai kantor, Anabelle langsung memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam untuk bekerja.
Sedangkan Vero, dia yang baru saja tidur lima belas menit, tiba-tiba di bangunkan oleh Farhan yang tiba-tiba menelfonnya.
"Ada apa?" jawab VEro malas, wajahnya masih sangat mengantuk, ia lelah dan ingin segera tidur, agar badannya bisa segar lagi.
"Kamu di mana?" tanyanya.
"Apartemen," jawanya sekenanya.
"Oh aku fikir masih ada di puncak. Sudah pulang dari tadi?"
"Iya. Udah dulu ya, aku ngantuk banget, mau tidur bentar, sebelum nanti berangkt syuting," ujar Vero yang ingin menutup panggilannya, namun suara Farhan langsung menghentikannya.
"Ver, aku cuma mau bilang kalau Gavin sudah menikah," tuturnya memberitahu.
"Mas, jangan bohong," ucap Vero tak suka. Ia masih menyangka jika dirinya kini tengah di prank.
"Aku gak bohong, Ver. Temenku ada yang kenal dengan Gavin, dan dia bilang Gavin itu sudah menikah," ujarnya berusaha meyakinkan Vero. Bagaimanapun Farham diam-diam menyukai Vero, hanya saja Vero cuma menganggap dirinya sebagai manajer dan seorang kakak saja, tidak lebih. Untuk itulah, Farhan gak pernah mengungkapkan perasaannya dan memilih diam atau dia akan kehilangan Vero untuk selamanya.
"Aku sudah lihat KTP nya dan dia masih single, lagian jika dia sudah menikah, gak mungkin dia sebebas itu. Dan jika dia sudah menikah, emang kapan nikahnya dan kenapa gak di siarkan, dia bukan orang biasa, Mas Farhan. Dia seorang pengusaha muda yang selalu di sorot jika kemana-mana. Mustahil dia menikah namun tak ada yang tahu. Paling tidak, pernikahan dia pasti akan terendus oleh wartawan jika memang itu benar adanya. Aku juga sudah melihat Hpnya diam-diam dan tak ada yang mencurigakan, aku juga akan segera di ajak main ke rumahnya yang selama ini ia tempati, jika memang dia sudah menikah, pasti dia akan terlihat gugup, nyatanya dia biasa aja, dan memang seperti tak menutupi apapun dariku," balas Vero panjang lebar, hilang sudah rasa kantuknya gara-gara bahas ginian. Ia gak terima jika ada yang bilang Gavin itu sudah menikah, karena secara tidak langsung itu menandakan dirinya itu pelakor, perebut laki orang dan dia gak mau itu terjadi.
"Sudahlah, Mas. Aku capek setelah habis perjalanan jauh, tolong beri aku waktu istirahat, aku gak mau bahas omong kosong seperti ini."
"Aku gak omong kosong, Ver."
"Kalau emang bener, mana buktinya?" tantang Vero.
"Aku emang gak punya bukti, tapi aku percaya jika Gavin itu sudah menikah karena temenku yang denger sendiri jika Gavin itu sudah beristri. Hanya saja sekarang mereka itu pisah rumah karena Gavin ketahuan selingkuh. Dan selingkuhannya itu kamu," sahut Farhan.
"Astaga, Mas Farhan kalau mau ngarang cerita, jangan nakutin gitu dong. Aku gak akan pacaran dengan laki-laki yang beristri, aku yakin jika Mas Gavin itu masih single dan belum menikah."
"Kamu itu sudah di bodoh-bodohi Ver sama dia, sadar Ver."
"Mas Farhan yang sadar, bukan aku. Jika emang dia sudah menikah, seharusnya istrinya itu komplen saat waktunya Mas Gavin kadang lebih banyak buat aku, kadang nginep di apartemen aku, kadang ngajak aku liburan. Bukan malah santai-santai aja dan seakan tak terjadi apa-apa."
"Tapi gimana istrinya mau komplen, lah mereka aja sekarang bertegkar karena kehadiran kamu di rumah tangga mereka."
"Jadi Mas Farhan mau bilang akulah perusak rumah tangga Mas Gavin dengan istrinya, gitu?" ucap Vero kesal, ia bahkan tanpa sadar menggunakan nada tinggi.
"Iya."
"Tega banget sih ngomong gitu sama aku?" tanya Vero dengan air mata yang mengalir, ia bahkan sudah berganti posisi duduk. Padaha tadinya ia mengangkat telfon sambil tiduran karena matanya yang masih menahan rasa ngantuk, tapi sekarang, tak ada lagi rasa kantuk, selain rasa kesal atas tuduhan managernya itu.
"Bukan tega, tapi aku ngomong secara fakta. Lebih baik kamu putusin Gavin, sebelum kabar ini sampai terendus di wartawan. Aku gak mau apa yang sudah kamu gapai susah payah, hancur begitu saja."
"Aku gak mau mutusin Mas Gavin gitu aja, jika belum ada bukti yang kuat. Karena bisa jadi temen Mas farhan itu cuma ngompor ngomporin aja, cuma asal ngomong aja, dan bisa jadi itu cuma fitnahan belaka. Kita gak bisa mempercayainya begitu saja, jika belum ada bukti yang kuat," ujarnya.
"Dia gak asal ngomong, Ver."
"Kalau gitu mana buktinya."
"Aku akan mencarikan bukti buat kamu dan aku harap, saat bukti itu sudah ada, kamu harus mutusin dia saat itu juga."
"Ya, aku janji. Aku akan mutusin Mas Gavin jika memang dia adalah pria beristri. Tapi jika Mas Farhan ternyata salah, Mas Farhan harus minta maaf. Karena Mas Farhan sudah menuduh Mas Gavin sembarangan."
"Okay, aku gak takut. Karena aku gak salah dan info yang aku dapatkan itu benar adanya," ujar Farhan yang merasa yakin seratus persen.
"Okay, aku tunggu bukti itu." Dan setelah itu, Vero pun memutuskan panggilannya secara sepihak. Ia terlanjur kesal dengan apa yang di ucapkan oleh Fahran, ia gak menyangka jika Farhan akan setega itu padanya.
Vero melemparkan hpnya gitu aja di atas kasur, jadi gak akan sampai rusak. Lalu Vero memukul bantal berkali kali untuk melampiaskan emosinya.
"Kenapa sih Mas Farhan itu, tiba-tiba nuduh aku gitu. Dia bilang Mas Gavin sudah menikah, lalu bilang mereka pisah rumah gara-gara Mas Gavin ketahuan berkhianat, dan parahnya itu semua gara-gara aku. Apa benar, aku yang menjadi perusak rumah tangg Mas Gavin? Apa benar, jika aku sudah menjadi pelakor dalam rumah tangga Mas Gavin? Apa benar, jika akulah yang menjadi penderitaan wanita lain? Apakah itu artinya aku selama ini bahagia di atas penderitaan wanita lain? Aaa .. kenapa jadi ribet seperti ini. Aku gak percaya jika Mas Gavin sudah menikah, lagian dia jgua gak makai cincin pernikahan ataupun cincin pertunangan, KTP single, di Hp dia juga tak ada yang mencurigakan, dan lagi, setiap aku nelfon gak ada suara wanita lain, lalu bagaimana mungkin Mas Gavin tiba tiba punya istri, kapan dia menikah. Sedangkan aku setahun lebih pacaran, tapi aku bahkan gak mengendus bau bau pengkhianatan, perselingkuhan atau apapun." Vero hanya bisa bermonolog sendiri.