Anabelle - Love and Regret

Anabelle - Love and Regret
Anak Durhaka



Sehabis makan siang, Anabelle memilih untuk pulang karena ia sedikit pusing. Ia pulang dengan naik taxi online. Awalnya Tasya ingin mengantarkan Anabelle pulang, namun Anabelle bilang dia  ingin pulang sendiri dan akhirnya Tasya pun tak jadi mengantarkan Anabelle. Karena ia juga nanti ada rapat jam setengah dua siang dengan para pemegang saham. Alvaro juga gak bisa hadir karena hari ini ia sibuk di hotel miliknya, terlebih ia juga tengah fokus membangun hotel baru di kota B. Membuat Alvaro harus pergi ke sana untuk melihat secara langsung lahan yang akan segera dibangun cabang hotel miliknya itu.


Jadi Tasya hanya akan ditemani oleh Bagas selaku pemegang saham terbesar nomer tiga setelah Anabelle dan Alvaro. Sedangkan Tasya hanya pemegang saham nomer empat. Selebihnya beberapa orang yang juga membeli saham di perusaaan evta.


Aplikasi Evta sudah menempuh hampir sepuluh juta pengguna, kemaren benar-benar sangat meledak sekali, bahkan sampai detik ini. Dan kemungkinan besar, Aplikasi Evta juga mulai menaruh beberapa iklan kecil, untuk mendapatkan keuntungan dari iklan. Dan juga Aplikasi Evta akan bekerja sama dengan beberapa perusahaan sehingga pendapatan yang akan mereka dapatkan pun semakin banyak. Dan keuntungan yang akan mereka dapatkan pun pasti akan semakin banyak setiap bulannya.


Anabelle yang sampai rumah pun langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kepalanya bener-bener sakit sekali, ia bahkan tak menghiraukan notifikasi hpnya yang sedari tadi berbunyi. Bahkan saat ada panggilan masuk pun, Anabelle juga tak menghiraukannya. Ia memilih untuk mematikan Hpnya dan tidur.


Jam setengah empat, Anabelle bangun. Ia segera mandi agar tubuhnya segar, rasa sakit di kepalanya juga sudah mulai berkurang, tak sesakit tadi.


Sehabis mandi dan selesai berpakaian, ia menghidupkan hpnya dan banyak pesan yang masuk. Anabelle pun segera membalasnya, satu persatu.


Tasya


"Anabelle, kamu sudah sampai rumah. Aku khawatir sama kamu?"


"Kok, nomernya gak aktiv? Kamu gak papakan?"


"Aku pulang aja apa gimana? Aku khawatir banget soalnya?"


"Tolong segera jawab pesanku. Jangan bikin aku khawatir kayak gini. Please."


Membaca pesan itu, Anabelle pun segera membalasnya.


"Aku sudah sampai rumah dari tadi. Maaf baru bales, tadi sampai rumah aku langsung mandi dan menon aktivkan hpku. Ini aku baru bangun, tapi udah seger karena habis mandi barusan. Jangan khawatirin aku, aku gak papa."


Enggak lama kemudian, Tasya pun membalas pesannya lagi.


"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya. Dari tadi aku khawatir banget. Aku akan pulang jam lima, mungkin sampai rumah jam setengah enam. Kamu nitip apa?"


"Nasi lalapan, ayamnya pilih yang bakar pedaas madu. Terus sambalnya banyakin, sayurnya juga banyakin. Jangan lupa beli kerupuk, biar makin mantap. Jusnya, Jus apel aja deh. Oh ya, jangan lupa beli terang bulan ya isi coklat kacang. Udah itu aja."


"Okay.."


Dan setelah itu, Anabelle pun beralih ke pesan Mamanya.


"Lagi apa, Bel? Lama gak ada kabar, kalau bukan Mama yang nelfon atau chat duluan, pasti kamu gak chat. Dasar anak durhaka. Cepet bales pesan Mama. Atau Mama susul kamu ke Jakarta jika kamu terus mengabaikan Mamamu ini."


Membaca itu, Anabelle hanya senyam senyum sendiri. Ia pun segera membalasnya.


"Baru bangun tidur, nih. Mama kebiasaan deh, manggilnya, Bel. Sudah aku bilang, panggil Ana. Jangan Bel, kesannya kayak Bell depan rumah. Kabar aku baik. Kabar Mama gimana? Maaf, Aku suka lupa buat chat dan von Mama duluan. Kalau Mama mau nyusul aku ke Jakarta. Aku malah seneng banget, aku akan menungu kedatangan Mama di sini."


Tak lama kemdian, Mamanya pun menelfon. Anabelle segera mengangkatnya.


"Heh, kenapa baru di balas pesan Mama?" tanyanya dengan suara tinggi, membuat Anabelle harus sedikit menjauhkan hpnya dari telingannya, atau dia akan tuli karena suara Mamanya yang menggelegar itu.


"Maaf, Ma. Tadi aku ketiduran."


"Emang gak kerja?"


"Aku kerja tapi pulang siang tadi."


"Kenapa?"


"Pusing."


"Kamu sakit?"


"Enggak, kok. Cuma pusing aja, tapi sudah baikan ini, sudah gak pusing lagi."


"Syukurlah, kalau masih pusing, mending ke dokter aja takut kenapa napa."


"Iya, Ma."


"Kamu kenapa sih jarang telfon Mama, selalu aja Mama yang chat duluan dan nelfon duluan. Kalau gak gitu, bisa kering Mama kalau nunggu dirimu yang chat daa nelfon duluan. Kamu gak sayang sama Mama?" tanyanya beruntun.


"Sayanglah, Ma. Mana ada aku gak sayang," jawabnya.


"Terus kenapa jarang hubungin Mama. Papa sampai nanya loh, ada apa sama kamu. Kok sulit banget rasanya buat kamu ngubungin Mama atau Papa duluan. Kamu gak kasihan sama Papa, tiap hari kadang sering lihat hpnya, berharap kamu von Papa. Jangan gitulah jadi anak. Kamu bisa kayak gitu kan karena Mama dan Papa. Papa yang kerja banting tulang siang malam, biar kamu hidup enak, biar kamu bisa tumbuh tanpa kekurangan. Setelah kamu sukses di sana, kamu bahkan seperti ingin menjauh saja dari Mama dan Papa."


Mendengar hal itu, membuat Anabelle merasa bersalah.


"Maafin aku, Ma. Mulai hari ini aku gak akan absen lagi buat kirim pesan sama Mama dan Papa. Dan sesekali aku juga akang menghubungi kalian."


"Bener ya?"


"Iya, Ma."


"Janji?"


"Janji, gak percayaan banget sama aku."


"Habisnya kamu itu suka ingkar janji, dulu juga ngomong gitu. Tapi cuma seminggu aja rutin kirim kabar, setelahnya hilang, dan sulit di hubungi."


"Maaf."


"Gimana hubungan kamu sama suami kamu?"


"Ya kek gitu."


"Kek gitu gimana?"


"Aku masih pisah rumah sama Gavin."


"Kamu gak mau maafin dia?"


"Enggaklah, males aku."


"Kalau gitu, gugat cerai aja. Jangan di gantung kek gini.  Kamu dosa loh, pisah rumah gitu, mending cerai aja, biar gak nambah nambah dosa."


"Aku pasti akan gugat cerai Gavin, Ma. Tapi gak sekarang, aku masih butuh waktu yang tepat."


"Butuh waktu yang tepat itu kapan? Mama juga ingin segera gendong cucu. Kalau kamu emang sudah ada niatan kek gitu, mending segera cerai aja, lalu nikah lagi ma yang lain, terus buatin Mama dan Papa cucu. Biar gak kesepian di sini."


"Sabar, Ma. Aku pasti akan kasih Mama cucu yang banyak, nanti sebagian Mama yang urus, biar gak kesepian di sana."


"Beneran ya?"


"Iya, Ma."


"Sabar, jika sudah waktunya, pasti akan di kasih."


"Terus perusahan kamu gimana?"


"Alhamdulillah berjalan lancar, Ma."


"Syukurlah, Mama pakai jasa Vero, bagus loh. Iklannya keren."


"Iya, Ma. Dia jadi brand ambasador di Perusahaan Evta selama satu tahun ke depan."


"Oh, gitu. Enak dah. Semoga aplikasi kamu semakin jaya ya."


"Aamiin, Ma."


"Kamu gak ngubungin mertua kamu?"


"Enggak, Ma. Lagian Mama dan Papa aja, jarang aku hubungin, hampir gak pernah malah. Apalagi mertua aku."


"Kamu itu jadi orang jangan terlalu cuek loh. Enggak baik."


"Entahlah, aku malas. Kapan-kapan aja aku hubungi Mama mertua aku."


"Kamu sudah makan?"


"Pagi dan siangnya sih udah, malamnya, belum. Kan masih sore."


"Oh. Ya sudah, Mama udahin dulu ya. Mau mandi soalnya."


"Iya, Ma."


Dan setelah itu, panggilan pun terputus.


Setelah itu, Anabelle membuka pesan dari Alvaro.


"Lagi apa? Katanya Tasya, kamu pusing ya, makanya pulang duluan? Jangan sakit ya, aku gak ada di samping kamu soalnya, jadi aku gak bisa rawat kamu. Aku pulang lusa. Kamu mau di bawakan oleh oleh apa?"


"Aku baru selesai telfonan sama Mama. Maaf baru bales, soalnya tadi pulang kerja langsung tidur. Aku gak sakit kok, tadi cuma pusing aja. Habis tidur dan mandi, sudah seger lagi. Bawain aku apa aja, apapun yang Mas Al beli, aku pasti suka," balasnya.


Namun hanya centang dua, tapi gak langsung di baca, mungkin Alvaro lagi sibuk.


Lalu ia beralih ke nomer Vero.


"An, tadi pacar aku minta nomer kamu. Terus sama aku di kasih, soalnya katanya dia mau kerja sama dengan perusahaan kamu. Enggak papa kan?" tanyanya


Mendengar hal itu, Anabelle pun hanya bisa menghela nafas. Ngapain Gavin bilang mau kerja sama, emang nyambung perusaaan dia sama perusahaan Anabelle. Alasannya sungguh gak masuk di akal.


Anabelle pun segera membalas pesan Vero. "Enggak papa tapi lain kali tolong izin dulu ya, Ver. Bagaimanapun ini kan nomer aku pribadi dan gak semua orang oboleh tau."


Pesan terkirim dan hanya centang satu, lalu terakhir ada pesan dari nomer baru. Saat Anabelle  membuka pesan itu, benar saja itu nomer Gavin. Tanpa buang buang waktu, ia pun langsung memblokirnya. Ia gak mau berurusan lagi dengan Gavin.


Setelah semua pesan di balas, ia menaruh hpnya gitu aja dan pergi ke ruang keluarga dan nonton tivi di sana. Film korea yang tayang di RCTI.


Anabelle sangat menikmai film itu, kadang ia tertawa sendiri jika sudah ada adegan lucu. Anabelle benar-benar menikmati waktunya untuk menonton film.


Sedangkan di tempat yang beda, seseorang mengamuk setelah tau nomernya di blokir. Ia kesal karena Anabelle bukan hanya tidak mau membalas pesannya, tapi juga memblokir nomernya.


"Dasar Istri durhaka, bikin susah suami aja," gumamnya kesal.


Padahal Gavin sangat ingin bertemu dengan Anabelle untuk membahas Vero. Gavin keberatakan jika Vero yang jadi brand ambasador di peruashaan milik istrinya itu. Dan ia juga gak suka, Anabelle dekat dengan Vero. Ia takut jika rahasianya cepat atau lambat, akan terbongkar. Untuk itu, ia akan memohon agar Anabelle tak lagi berhubungan dengan Vero. Ia gak mau semuanya menjadi berantakan.


Padahal susah payah ia minta nomernya ke Vero. Awalnya Vero gak mau ngasih karena itu menyangkut privasi orang lain, namun karena Gavin memohon, akhirnya Vero pun tak tega dan memberikan nomer Anabelle tanpa izin lebih dulu.


GAvin sendiri, walaupun Anabelle adalah istrinya. Tapi ia gak punya nomernya karena sejak Anabelle pergi dari rumah, sejak saat itu nomer Anabelle tak lagi bisa di hubungi sehingga Gavin kehilangan kontak dengannya.


Gavin menoleh ke arah sang sopir, ia meminjam Hp Pak Arman, sayangnya panggilanya gak di angkat, padahal masuk.  Melihat hal itu membuat Gavin emosi. Ia pun meminta Pak Arman untuk pergi ke Perusahaan Evta. Sepanjang jalan, Gavin merasa gelisah. Ia gak bisa hidup tenang seperti dulu, ia selalu merasa takut, jika suatu saat Vero akan mengetahui statusnya.. Buat cerai sama Anabelle pun juga gak mungkin karena ia masih mencintainya, yah Gavin mencintai mereka berdua, lalu bagaimana mungkin ia melepaskan mereka begitu saja.


Sesampai di depan Perusahaan Evta, saat Gavin turun dari mobil dan ingin masuk. Dua satpam mencegahnya, bahkan saat Gavin bilang dirinya adalah suami pemilik perusahaan ini, tetap saja tak di izinkan masuk.


"Astaga apalagi ini?" gumamnya dalam hati. Kenapa ingin bertemu Anabelle aja susah.


"Kenapa sih aku di larang, aku itu suaminya atasan kalian loh," ucap Gavin kesal.


"Tetap  saja gak boleh masuk, Pak. Karena Ibu Anabelle sudah mengatakan, jangan mengizinkan orang luar masuk sembarangan."


"Tapi saya bukan orang luar, saya suaminya Anabelle."


"Tapi setau kami, Ibu Ana belum menikah, Pak."


"Itu karena kalian aja yang gak tau. Sudahlah, saya mau masuk dulu."


"Enggak bisa, Pak. Bapak di larang masuk kecuali Bapak punya izin buat masuk."


"Kenapa sih ribet banget buat masuk ke kantor ini." Gavin  sangat frustasi sekali. Ia bahkan sampai menarik rambutnya sangking kesalnya.


"Baiklah, sekarang gini aja. Panggil Anabelle, suruh dia keluar."


"Ibu Anna sudah pulang tadi siang, Pak."


"Kalian jangan bohong." teriaknya yang sudah tak lagi bisa nahan emosi.


"Tapi memang benar, Ibu Anna sudah pulang sehabis makan siang dan sampai sekrang belum juga kembali." jawab satpam itu sopan.


"Kira kira dia kemana?"


"Pulanglah, Pak. Ke rumahnya."


"Kalian tau rumahnya di mana?"


"Enggak tau pak," jawab mereka kompak.


"Huh dasar gak becus." ucapnya sambil pergi dari sana. Percuma juga lama lama di sana kalau gak dapat informasi. Sedangkan kedua satpman itu hanya mengangkat bahunya, seakan gak peduli sama Gavin, yang penting mereka kerja serius dan proffesional dan dapat gaji banyak.