
Gavin akhirnya memilih pulang karena percuma juga mencari tau keberadaan Anabelle kalau nyatanya semua orang bungkam dan memilih untuk tidak memberitahu dirinya. Anabelle sendiri seperti emang sengaja bersembunyi darinya, sehingga sulit membuat dirinya tau, dia tinggal dimana saat ini.
Gavin pulang dengan wajah cemberut, sepanjang jalan Gavin memilih untuk diam, Pak Arman pun juga memilih diam dan tidak mau buka suara, kecuali Gavin yang mengajak dirinya ngomong duluan.
"Isi bensin dulu ya," ucap Gavin karena memang sudah dua hari, tidak mengisi bensin.
"Iya, Tuan," jawab Pak Arman. Dalam hati, ia berfikir dari mana majikannya itu tau, jika bensinya sudah sisa sedikit, apa mungkin karena ini mobilnya jadi ia bisa merasakan jika saat ini mobilnya hampir sekarat dan butuh minum. Entahlah, Pak Arman segera mengantri untuk mengisi bensin. Ia ada di urutan ketiga.
Setelah menunggu sekitar beberapa menit, barulah ia memajukan mobilnya dan segera turun dari mobil. Tak lupa, Gavin memberikan uang buat Pak Arman untuk bayar uang bensinya.
Gavin memilih tetap duduk diam di mobil dan melihat foto dirinya dan Anabelle. Sesungguhnya ia merindukan Anabelle yang dulu, Anabelle yang manja padanya, perhatian padanya, dan selalu mengandalkan dirinya. Dulu wajah Anabelle selalu ceria, dan selalu menyambut dirinya yang pulang kerja dengan senyuman hangatnya.
Tapi sekarang, setiap kali ia menghampiri Anabelle, ia selalu menampakkan wajah datarnya, bahkant tak jarang, Anabelle memaki dirinya dan berkata sinis.
"Anabelle tak bisakah kita seperti dulu? Bukankah kamu janji akan terus mendampingi aku apapun yang terjadi? Kenapa kamu ingkar janji, Anabelle? Tak taukah jika aku kangen dirimu," gumam Gavin sambil mengusap layar yang menampilkan foto Anabelle.
"Kenapa semua orang meninggalkan aku Anabelle, Mamaku, Papaku, kamu dan juga Bagas. Padahal kalian berempat adalah orang penting dalam hidup aku, tapi kenapa kalian meninggalkan aku dengan begitu mudahnya. Seakan-akan aku ini emang pantas untuk kalian lupakan, apakah aku emang gak begitu berharga buat kalian?" tanyanya lagi sambil menitikkan air mata, namun ia menghapus air matanya agar tak diketahui Pak Arman. Ia malu jika sampai terlihat lemah apalagi sampai menangis di hadapan orang lain.
Pak Arman kembali ke mobil dan mulai menghidupkan mobilnya dan melanjutkan perjalannya menuju rumah.
Sesampai di rumah, Gavin segera masuk ke dalam kamarnya dan berendam di bathtub, untuk menyegarkan kepalanya yang terasa berat karena memikirkan masalahnya.
Masalah perusahaan bisa ia tangani dengan mudah, walaupun awalnya cukup kesulitan karena tak ada Bagas di sampingnya, namun lambat laun ia bisa mengimbanginya dan bisa membuat perusahaan kembali jaya walaupun sebelumnya sedikit terpuruk bahkan hampir gulung tikar, namun kini sudah mulai normal lagi dan karyawan pun mulai bekerja seperti dulu lagi. Namun sampai detik ini, Gavin masih belum mencari asisten pribadi lagi karena ia masih belum menemukan seseorang yang seperti Bagas yang bisa mengimbangi dirinya, jujur, di siplin, bertanggung jawab, dan bisa menghandle masalah di perusahaan.
Gavin tau, menghandle perusahaan bukan tugas asisten pribadinya, namun jika bisa mendapatkan lebih seperti Bagas, kenapa enggak. Gavin yakin, dari banyaknya umat manusia, pasti ia akan menemuikan orang seperti Bagas bahkan mungkin lebih dari dia. Yang penting ia cukup sabar dan tidak terburu-buru.
Setelah hampir sejam berendam, Gavin segera memakai handuk untuk mengeringkan tubuhnya lalu lanjut mengambil baju sendiri dalam lemari dan memakainya. Kalau dulu, Anabelle masih tinggal satu atap dengannya, air hangat di siapkan, baju di siapkan, makan di siapkan. Walaupun ada Bibi Ani, tapi Anabelle tak pernah sampai mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Ia sangat berperan aktiv untuk menyenangi hatinya dan selalu membuat dirinya nyaman berada di dekatnya.
Dirinya aja yang bodoh, sudah di kasih sempurna sama Tuhan, masih jatuh cinta lagi sama wanita lain. Tapi mau bagaimana lagi, Gavin pun juga tak bisa mengelak dari rasa ini, karena cinta datang tanpa bisa di cegah dan ia juga tak tau bagaimana car mengusir rasa cinta itu dari dalam dirinya.
Setelah memakai baju, Gavin pergi ke ruang kerjanya dan menyelesaikan pekerjaannya yang masih menumpuk itu, hingga jam sembilan malam. Hpnya berbunyi.
Ada panggilan vidio dari Vero.
"Malam, Sayang," sapa Gavin tersenyum manis. Walaupun saat ini fikirannya lagi kacau, tapi ia gak mau jika Vero sampai mengetahuinya, jadi ia akan pura-pura bahagia agar Vero tak tanya ini dan itu, karena ia terlalu untuk menjelaskannya panjang lebar.
"Malam, Mas. Lagi apa?" tanyanya.
"Kerja." Gavin mengarahkan kamerannya ke komputer yang masih menyala dengan berkas yang menumpuk di atas mejanya.
"Aku ganggu?" tanya Vero hati-hati. Gavin mengarahkan kamerannya ke dirinya lagi.
"Enggak kok. Kamu lagi apa?"
"Baiklah, kamu bawa Verly?"
"Enggaklah, kita kencan berdua aja. Lagian Verly juga besok mau pulang ke rumahnya, kangen keluarganya katanya."
"Oh gitu, syukurlah. Mau pergi kemana, jangan di tempat umum ya, aku takut ketahuan."
"Okey, gimana kalau ke Villa aja?"
"Villa mana?"
"Bandung."
"Oh, okay aku mau."
"Sip, besok kamu jemput aku ya di apartemen jam tujuh."
"Iya, Sayang."
"Kamu jangan malem-malem tidurnya, biar besok bisa bangun pagi."
"Iya."
"Besok sarapan pagi di jalan aja ya, biar so sweet, kita makan di Resto ML aja, katanya ada menu baru di sana yang bikin menggunggah selera. Aku pengen nyoba dari kemaren, tapi belum sempat ke sana."
"Baiklah besok kita sarapan pagi di sana," balas Gavin yang selalu aja menuruti keinginan kekasihnya itu. Jika sudah vidio call dengan Vero, Gavin akan melupakan sedikit kesedihannya itu. Karena baginya, Vero seperti malaikat yang mampu menghilangkan rasa gundahnya, rasa sakitnya dan rasa capeknya.
Sedangkan di tempat beda, setelah Anabelle dan Tasya selesai sholat isya dan makan malam, mereka duduk santai di ruang keluarga sambil nonton tivi dan makan buah.
"An, besok kita ke Resto ML yuk, kita makan di sana," ucap Tasya tiba-tiba.
"Tumben mau sarapan pagi di sana, emang ada acara apa?" tanya balik Anabelle.
"Emang sarapan pagi di resto, harus punya acara dulu, kan gak An. Aku bosen aja makan di rumah, pengen ganti suasana aja, sekalian jalan-jalan. Gimana? Mau gak? Mumpung hari Minggu, kantor libur. Kita bisa bangun pagi dan menikmati waktu kita semaksimal mungkin, dari pada cuma rebahan muli di kamar, bosen. Besok juga jalanan pasti sepi, gak seramai biasanya, kan hari Libur, anak-anak pada libur sekolah, begitupun mereka yang bekerja, pada libur dan mungkin lagi menikmati waktunya bersama dengan keluarganya. Mau ya, please," pinta Tasya memohon.
"Di sana juga ada menu baru loh, aku penasaran, ingin nyoba," rayu Tasya.
Melihat raut wajah Tasya yang mengiba, Anabelle tak kuasa menolaknya, akhirnya ia pun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, besok kita ke sana," ucap Anabelle membuat Tasya kegirangan hingga tanpa sadar memeluk Anabelle.