Anabelle - Love and Regret

Anabelle - Love and Regret
Menemui Verly



Setelah Tasya pergi, Anabelle hanya sendirian di rumah, ia bahkan berangkan dan pulang kerja sendiri. Biasanya jika ada Tasya, perjalanan mereka tidak pernah sepi, namun kali ini, hanya ada suara musik yang terdengar. Sebenarnya Anabelle ingin di antar jemput oleh Alvaro, namun ia sadar, jika saat ini posisi mereka bukan sepasang kekasih, melainkan hanya baru pendekatan saja. Jadi, Anabelle sungkan untuk meminta Alvaro melakukan hal itu.


Namun sesibuk-sibuknya Alvaro, ia berusaha untuk datang ke kantor Perusahaan Evta setiap hari, walaupun datangnya jam sembilan pagi, kadang juga jam satu siang sehabis makan. Namun setidaknya, sesibuk-sibuknya dia, masih mau menyempatkan waktu untuk datang walaupun sebentar dan itu sudah membua Anabelle senang.


Hari ini, Anabelle pulang dari kantor jam setengah empat sore, tiba-tiba ia kefikiran tentang cerita Tasya yang mengatakan jika Velly jualan nasi di pinggir jalan. Ia pun mulai berjalan ke arah tempat dimana Velly jualan, hanya saja lebih tepatnya di mana, Anabelle belum tau. HIngga akhirnya ia menemukan ada warung yang cukup ramai, entah kenapa Anabelle tertarik buat mencobanya karena biasanya yang rame itu adalah yang paling enak.


Anabelle meminggirkan mobilnya dan memarkirkan mobilnya tepat di pinggir jalan, karena di sana gak ada tempat parkir mobil, bahkan untuk sepeda motor juga di taruh sembarangan di sepanjang jalan. Jadi mau gak mau, Anabelle pun melakukan hal yang sama. Namun ia memastikan tidak sampai menghalangi jalan seseorang.


Saat Anabelle turun, ia harus ikut antri, masih ada delapan orang yang belum di layani. Sambil nunggu antrian tiba, ia memainkan hpnya dan membalas pesan dari Alvaro hingga gak sadar antriannya sudah tiba, namun tiba-tiba seseorang memanggil namanya.


"Loh Anabelle, kamu ngapain di sini?" tanya Verly kaget saat melihat orang yang akan ia layani adalah orang yang ia kenal.


Mendengar suara Verly, Anabelle menoleh dan terkejut. Ia emang mencari Verly sedari tadi namun tidak menemukannya hingga ia berhenti di sebuah warung karena rame dan ingin mencobanya. Namun siapa sangka jika ternyata warung ini milik Verly.


"Verly?" ucapnya kaget, membuat Verly tersenyum ramah pada Anabelle.


"Kamu yang jualan?" tanyanya dan Verly pun menganggukkan kepalanya.


"Iya, aku gak nyangka kita akan bertemu di sini," ujar Verly tersenyum, walaupun dalam hati ia merasa heran kenapa Anabelle berada di jalan ini.


"Tadi aku lihat ada warung rame, biasanya kalau rame itu enak. Makanya aku turun dan ingin mencobanya, namun aku benar-benar gak nyangka, jika yang punya warung rame itu kamu," balas Anabelle.


"Alhamdulillah, sejak buka pertama kali, sudah ada yang beli. Kamu mau pesan apa?" tanyanya.


"Aku pesen ..... " Anabelle melihat menu di banner yang terpasang di sana.


"Nasi lalapan, ikannya pakai bebek bakar ya."


"Baiklah, minumannya?"


"Es teh aja deh."


"Okay."


Verly pun langsung mengambil piring yang terbuat dari kayu yang atasnya sudah di kasih kertas minyak berwarna coklat yang sudah di  gunting berbentuk lingkaran. Lalu ia mengisinya dengan nasi, sambal, irisan timun tiga biji, gubis putih yang masih mentah, lalapan terong yang di goreng setengah matang, kemangi mentah yang sudah di cuci bersih, irisan tomat dua biji dan dada bebek yang berukuran besar. Sengaja Verly memberikan yang paling besar, karena Anabelle adalah orang yang ia kenal. Lalu Verly pun memberikan es teh lengkap dengn nasi yang sudah ia sajikan barusan.


"Kamu bisa makan di sana, itu  masih ada kursi dan meja kosong," ucapnya memberitahu sambil menunjuk kursi yang kosong, karena yang lain sudha full. Untungnya kebanyakan yang beli di sini itu minta di bungkus untuk di bawa pulang. Kalau makan di sini semua, mungkin kursinya gak akan muat dan kebanyakan dari mereka, akan makan sambil berdiri atau duduk di bawah yang sedikit kotor.


Setelah menaruh makanannya, lalu ia pergi ke tempat pencucian air, ia menghidupkan kran dan mencuci kedua tanganya, karena ia tak mungkin makan tanpa cuci tangan lebih dulu.


Setelah cuci tangan, barulah ia makan dengan sangat lahap. Verly yang tak sengaja melihatnya pun tersenyum melihat Anabelle yang mau makan di pinggir jalan, padahal Anabelle adalah orang kaya, pemilik Perusahaan Evta yang kini tengah booming. Namun ia tak malu makan makanan dengan harga murah yang di jual di pinggir jalan. Anabelle malah terlihat sangat lahap dan seakan sangat menikmati makanannya.


Setelah selesai makan, Anabelle mau bayar, namun Verly menolaknya. Katanya hari ini, Verly yang ingin mentraktir Anabelle. Namun Anabelle yang tidak enak hati, tetap memaksa buat bayar, akhirnay Very pun mengatakan dua puluh ribu sama es tehnya.


Mendengar hal itu, Anabelle tercengang.


"Kamu yakin cuma dua puluh ribu? Tadi porsinya banyak loh," ujar Anabelle masih syok.


"Tapi memang harganya segitu. Kamu lihat deh di sana ada harganya, nasi putih lima ribu. Bebek sepuluh ribu, lalapannya dua ribu lima ratus, sambal itu bonus dan es tehnya dua ribu lima ratus." Verly menunjuk banner satunya lagi yang ada di depan jalan, dan saat Anabelle melihatnya, ia mengangguk anggukkan kepalanya.


Ia masih merasa kaget dan sok karena ada makanan semurah itu.


"Kamu gak rugi, kan? Apa kamu sedang bersedekah dengan jualan?" tanya Anabelle membuat Verly tersenyum.


"Itu keuntungan aku sudah lumayan. Memang rata-rata yang jualan di pinggir jalan harganya segitu bahkan nasi bungkusan aja ada yang tujuh ribu, di dalamnya ada nasi, ikan, sayur dan sambal. Cuma porsinya lebih kecil," jawabnya memberitahu. Anabelle pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ini." Anabelle memberikan uang sebesar seratus ribu, karena ia gak ada uang pas.


Verly mengambilnya dan menaruhnya di laci, lalu ia mengambil uang kembalian sebesar delapan puluh ribu dan memberikannya ke Anabelle.


"Makasih ya sudah mau makan di sini," ucap Verly ramah.


"Sama-sama, kayaknya aku akan langganan deh di sini, cuma ya gak tiap hari juga sih. Kalau pas kebetulan lewat aja. Soalnya selain harganya murce, rasanya pun gak kalah sama resto bintang lima. Kamu emang bakat banget buat maasak. Rasanya benar-benar enak banget. Semoga kelak kamu bisa buka resto ya dan punya banyak cabang di mana-mana."


"Aamiiin. Terima kasih doanya."


"Okay, aku pulang dulu ya."


"IYa, hati-hati."


Dan setelah itu, Anabelle pun pergi dari sana. Ia ingin menanyakan tentang Vero namun melihat antrian masih panjang, ia tak mungkin mengajak Verly ngobrol di saat waktu yang tidak tepat seperti ini. Akhirnya ia memilih pulang, setidaknya ia tau jika Verly jualan di sini. Jadi ia gak perlu  pusing keliling untuk mencari warung milik Verly.