
Dirga mengetuk pintu ruang kerja mertuanya kemudian masuk setelah terdengar jawaban dari dalam sana. Dirga mematung di depan pintu sampai sang papi mempersilahkannya untuk duduk. Mau langsung duduk rasanya tak sopan, apalagi melihat ada mami mertuanya juga di sana. Entah apa yang bicarakan kedua mertuanya itu, yang jelas Papi Rama terlihat frustasi. Seperti biasa pria yang tetap terlihat menawan diusia tak lagi muda itu menghela nafas panjang, sudah bisa dipastikan dirinya berada di bawah tekanan mami Jesi.
“Duduk, Ga.”
“Iya, Pi.” Balas Dirga.
“Karam, mau aku buatin kopi?” tawar Jesi.
“Nggak usah, sayang. Kamu tunggu di kamar aja.”
“Dirga mungkin mau Mami bikinin kopi?” tawarnya lagi, kali ini pada menantunya.
“Nggak Mi, makasih. Aku nggak ngopi.” Balas Dirga.
“Oh gitu, bagus deh. Lagian kopi nggak bagus buat kesehatan. Mending susu aja, Ga. Biasanya pada suka yang langsung dari sumbernya loh. Papi aja tiap sebelum sama bangun tidur selalu rutin, makanya awet muda.”
“Ya ampun, Jas Jus! Kamu tuh ngomong apa sih? Sana ke kamar aja.” Usir Rama, tak habis pikir istrinya itu kadang kumat suka ngomong nggak pake saringan.
“Jangan didengerin, Ga. Mami suka ngaco!” lanjutnya pada Dirga.
“Biasa aja kali, Karam. Orang mantu kita juga udah dewasa, pasti udah nyobain juga kan yang langsung dari sumbernya? Nggak mungkin belum, kan? Udah nikah lima bulan kok.”
“Iya iya aku ke kamar nih. Jangan lama-lama, udah ngantuk.” Jesi berlalu meninggalkan ruang kerja setelah suaminya mengeluarkan tatapan tajam penuh intimidasi.
Dirga hanya bisa membantin, jangankan merasakan yang langsung dari sumbernya,menyentuhnya pun ia tak pernah. Mami Jesi benar-benar berpikir terlalu jauh.
“Jangan dianggap serius, mami kalo ngomong suka asal ceplos.” Ucap Rama.
“Iya, Pi.”
“Istri kamu yang tukang ngambek udah tidur?” tanya Rama.
“Belum, Pi. Kara nungguin, biasa minta di temenin sampe dia tidur. Terus sama yang barusan dibilang Mami, aku nggak pernah ngelakuin Pi. Asli selama ini aku cuma ngelus wajah Kara samape dia tidur, paling mentok juga cium kening. Dia suka ngambek kalo nggak diturutin. Papi pasti tau kan dari CCTV kamar Kara.” jelas Dirga jujur, kecuali adegan kiss kiss yang sedikit kebablasan sebelum penilaian akhir semester.
“Papi cuma nanya Kara udah tidur apa belum, Ga.” Rama tersenyum mengejek. “soal kalian ngapain di kamar itu bukan urusan Papi. Sama soal CCTV itu nggak pernah ada, Papi cuma nakut-nakutin Kara aja karena beberapa kali kalian kepergok mencurigakan.” Jelasnya.
“Bukan urusan Papi tapi hmpir tiap malem kalo gue di kamar Kara suka diem-diem ngamatin. Dasar mertua posesif.” Batin Dirga.
“Iya, Pi. Maaf, tapi aku sama Kara bener-bener nggak ngelakuin apa-apa.” Ucap Dirga.
“Iya, Papi tau. Papi percaya sama kamu. Papi bangga kamu nggak menyia-nyiakan kepercayaan yang Papi kasih selama ini, tidak berbuat lebih meskipun banyak kesempatan. Satu lagi yang Papi suka, kamu bisa bikin Kara lambat laun berubah. Meskipun tak banyak tapi anak itu sudah sedikit dewasa sekarang. Soal kebiasaan belajar yang kamu bangun pun Papi acungi jempol, hebat.” Puji Rama.
“Anak manja Papi yang susah diatur bisa nurut banget sama kamu. Papi nyuruh Kara belajar dari dulu susah banget, meskipun sudah diiming-imingi oleh segala sesuatu tetap saja dia hanya belajar sesekali sebagai formalitas agar bisa dapat barang yang Papi janjikan. Kebiasaan buruknya yang paling melekat adalah main sogok, mungkin efek dari Papi yang selalu menjanjikan hadiah sama dia makanya dia suka nyogok orang supaya nurutin apa yang dia mau.” Rama sedikit menggelengkan kepala mengingat kebiasaan buruk putrinya.
“Iya, Pi. Terakhir dia juga ngajak nyogok wali kelas, tapi nggak aku turutin.”
“Nah iya bagus itu.” Rama mengangguk setuju.
“Sebagai gantinya aku bilang ke Kara kalo aku bakal minta papi buat ngijinin kami tinggal bersama kalo sampe dia gagal masuk tiga besar. Dan nyatanya Kara emang gagal, tapi dia udah berusaha keras, Pi. Jadi...” Jelas Dirga lirih.
“Jadi apa?”
“Jadi biarkan kami tinggal bersama, Pi. Kalo hasil kerja kerasnya selama ini tidak dihargai, kemungkinan dia bakal kehilangan semangat belajarnya lagi, Pi. Lagi pula dari peringkat tiga besar di kelas jadi peringkat lima besar umum itu bukan hal yang mudah. Hanya segelintir orang yang bisa melakukannya. Aku nggak mau lihat Kara sedih Pi, permintaannya nggak muluk-muluk, dia cuma pengen-“ Dirga ragu-ragu menjelaskan keinginan Kara, masa iya dia harus bilang kalo istrinya ingin disayang-sayang sampai pagi? Bisa-bisa dikira yang tidak-tidak oleh mertuanya. Atau dia harus bilang Kara ingin di elus-elus wajahnya dan dipeluk sampai pagi? No, terlalu konyol dan mertuanya pun mungkin tak akan percaya.
“Sudah tak perlu dijelaskan, Papi tau Lengkara itu huh banget anaknya. Dari tadi siang Papi dan Daddy kamu udah membicarakan hal ini matang-matang. Melihat lima bulan terakhir kamu bisa menjaga diri dari Kara yang super aktif dan Kara juga sudah berusaha keras memenuhi syarat yang papi kasih jadi ya sudah kalian boleh tinggal bersama.”
“Iya, tadinya Papi sengaja ngasih tantangan yang Papi pikir nggak mungkin bisa dia penuhi tapi ternyata dia bisa sampe lima besar, meskipun nggak sesuai permintaan tapi seperti yang kamu bilang tadi, itu luar biasa.”
“Tapi satu hal yang harus kamu ingat, Dirga. Kalian masih sekolah, sebagai siswa kamu tentu tau kan hal-hal yang tak boleh dilakukan?” ucap Rama. “Sampai kalian lulus sekolah Kara tidak boleh hamil!” lanjutnya dengan tegas.
“Iya Pi, aku ngerti.”
Dirga masih terjaga meski gadis dipelukannya sudah terlelap dengan memeluknya erat. Sudah dua jam berlalu setelah ia menemui Rama, jarum jam sudah menunjuk angka dua belas. Disatu sisi senang karena esok ketika bangun istrinya akan sangat bahagia karena dipeluk sampai pagi tapi di sisi lain ia juga tersiksa, memeluk Kara membuatnya mendadak merasa panas meski AC kamar itu menyala dengan suhu delapan belas derajat.
“Padahal sekolah baru mulai libur, tapi gue udah dikasih ujian aja.” Ucap Dirga lirih.
Entah jam berapa Dirga baru bisa terlelap, rasanya belum lama tapi sentuhan tangan Kara yang mendarat di pipinya membuatnya terusik. Gadis itu menekan-nekan pipinya dengan jari telunjuk, kadang juga mencubitnya. Tak hanya sampai di sana Kara juga menyusuri bibir Dirga dengan telunjuknya.
“Ini nyata apa halu sih?” Kara menoel-noel pipi suaminya, matanya masih merem melek mengumpulkan nyawa. Pasalnya semalam ia mimpi tidur di pelukan Dirga, nyaman banget.
“Gila, ini mimpi berasa nyata banget. Gue pasti udah error nih saking pengennya liat wajah Dirga pas bangun.” Ucap Kara.
“Ini kalo mimpi please jangan sampe gue buru-buru bangun.” Gumamnya.
“Berisik, Ra. Gue baru aja merem!” ucap Dirga tanpa membuka matanya.
“Ini nyata? Serius? Gue nggak mimpi? Semalam lo tidur di sini, Ga?” Dibilang jangan berisik, Kara justru langsung bangun dan duduk bersila di samping Dirga yang masih berbaring.
“Hm.”
“Nggak dimarahin Papi?”
“Nggak.”
“Berati kita boleh tinggal bareng?”
“Hm iya.” Balas Dirga, ia benar-benar masih mengantuk pagi ini.
“Serius? Ya ampun gue seneng banget.” Kara kembali memeluk erat Dirga, ia bahkan naik di atas tubuh suaminya yang tidur terlentang. “Seneng banget sumpah. Lope lope my Dirgantara.” Kara menciumi seluruh wajah Dirga.
Diperlakukan seperti itu membuat mata ngantuk Dirga mendadak terjaga, dengan wajah ceria Kara masih menciumi wajah Dirga sambil tersenyum senang. Sesekali gadis itu mencubit gemas kedua pipi Dirga.
“Pokoknya hari ini nggak mau keluar kamar. Pengen sayang-sayangan terus. Usap-usap punggung gue, Yang.” ucap Kara seraya meletakan tangan Dirga ke punggungnya.
“Ya ampun lo nggak bisa turun dulu, Ra? Bisa-bisanya lo malah nemplok kayak gini, makin sesiksa gue.” Batin Dirga.
“Sayang, sarapannya udah siap kenapa kamu belum tu... run?” Jesi mendadak terbata saat masuk ke kamar Kara untuk mengajaknya sarapan.
“Sorry, Mami lupa kalo Dirga tidur di sini. Lain kali pintunya dikunci.” Ucap Jesi, “lanjutin aja. Anggap mami nggak pernah kesini. Minum susu pagi-pagi bagus buat kesehatan.” Pungkasnya seraya kembali menutup kamar putrinya dari luar.
.
.
.
Btw kalian rajin minum susu nggak? supaya sehat gitu. Aku samaan kayak Jas Jus susu vanila, favoritos banget tapi yang kotak bukan yang langsung dari sapi nya 😛