Always Loving U

Always Loving U
Diluar harapan



Gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai pada siswi kian menggema saat permainan basket itu berakhir. Bukan pertandingan antar kelas seperti layaknya pekan olahraga dan seni yang biasa diadakan untuk mengisi waktu luang selama jeda penilaian sekolah hingga pembagian laporan hasil belajar, hanya permainan basket asal yang bahkan cukup menggunakan satu ring saja karena hanya beberapa siswa yang bermain tapi penontonnya setara dengan porseni.


Saat Tama berjalan ke pinggir lapangan semua siswi langsung mengerumuninya. Ada yang memberi handuk kecil untuk mengelap keringat, air mineral sampai jajanan kantin tak luput mereka bawa. Definisi fans dadakan pokoknya, secara Pratama Arhan bagi mereka paket komplit. Ganteng, ramah, dan nggak pelit senyum. Senyumnya bikin meleleh banget sumpah, soal kecerdasan sih belum tau karena kegiatan belajar mengajar belum dimulai tapi namanya juga cewek-cewek masa kini yang penting ganteng aja dulu, urusan pinter nggak nya belakangan.


“Kak, air minumnya.” Seorang siswi memberikan botol air mineral.


“Jangan diterima kak, kali aja ada peletnya.” Timpal siswi lain.


“Mana ada? Masih segel woy!” si pemberi air tak terima.


“Mending anduk aja deh, kak. Nih buat lap keringet. Spesial buat kakak ini anduk udah gue cuci pake donydony yang wanginya tahan lama.”


“Camilan aja deh kak, pasti laper kan abis lari-lari?” satu kantong kresek putih berisi jajanan di sodorkan pada Tama.


Tama memang definisi idaman kaum hawa, nggak ada dingin-dinginnya. Dia tersenyum ramah dan mengambil menerima semua pemberian para fans dadakan.


“Makasih yah.” Ucapnya yang langsung membuka botol air mineral dan meneguknya sedikit. Lanjut dia juga mengelap wajah hingga leher yang basah karena keringat dengan handuk yang baru saja ia terima, bahkan jajanan di kantong kresek pun tak lupa ia buka salah satu dan memakannya sedikit demi menghargai si pemberi.


“Makasih buat semuanya. Gue kesana dulu yah.” Pamitnya dengan senyum penuh pesona seperti biasa.


Para siswi mengangguk kompak, mereka sampai tak bisa berkata-kata sibuk menikmati pemandangan menyejukan di depan mata. Saat Tama mulai menjauh barulah mereka heboh sendiri di tempatnya.


“Sumpah idaman banget.”


“Senyumnya bikin melehoy woy.”


“Besok-besok mau masak buat kak Tama ah.”


Tama tersenyum pada Kara yang berdiri di pojok lapang dengan kedua sahabatnya. Diantara siswa perempuan hanya mereka yang tak ikut berkerumun heboh saat Tama selesai bermain basket.


“Hai, Ra! Makasih udah nonton.”


“Sama gue nggak makasih nih? Yang ngajak kesini kan gue.” Sambung Dila.


“Iya iya deh makasih yah Hera Dila Nurfadillah.” Balas Tama menyebut nama lengkap gadis itu.


“Ya ampun ternyata hapal sama nama gue.” Dila sedikit tersipu.


“All about Lengkara, gue hapal.” Ucap Tama.


“Habis ini rencananya mau ngapain, Ra?” lanjutnya.


“Nggak tau. Gue nggak ada rencana apa-apa. Paling mau pulang aja, rebahan sambil nonton Drama Korea kayaknya seru.”


“Dari pada rebahan gimana kalo temenin gue keliling Bandung?” ajak Tama.


“Hm gimana yah...” Kara menautkan jari-jarinya bingung. Sebenarnya tak masalah menemani Tama, tapi bagaimana jika karena dirinya jalan dengan Tama malah membuat Dirga makin kesal?


“Mau banget!” seru Selvia saat Kara masih hanyut dalam pertimbangannya.


“Lo mau kan, Ra? Dari pada lo rebahan mulu menatap jodoh yang tak bisa digapai mending kita jalan sama Tama. Dia emang nggak mirip sama oppa oppa di drakor sih tapi mirip artis Thailand, anggap aja lagi jalan sama Alexander Jongcheveevat.” Lanjutnya.


Dipuji seperti itu Tama tentu langsung memamerkan senyum penuh pesonannya.


“Udah jalan aja. Nggak apa-apa. percaya sama gue.” Selvia menepuk bahu Kara.


“Ya udah iya gue mau.” Ucap Kara.


“Sip deh.” Balas Tama.


Keempatnya berjalan keluar dari lapang basket. Kara, Selvia dan Dila berjalan lebih dulu sedang Tama mengikuti dari belakang.


“Dirga... Dirga... ada Dirga, Ra!” Selvia menunjuk lelaki yang berdiri cukup jauh dari mereka.


Kara mengikuti jari arah jari telunjuk Selvia, benar saja My Dirgantara nya sedang menatapanya dengan kesal. Kara menghela nafas panjang dan menghembuskannya pelan.


“Tuh kan, Sel... Dia pasti marah deh.” Ucap Kara lirih.


“Bagus kalo dia marah, biar itu anak cepet sadar sama perasaannya. Lo jangan lemah, panasin terus. Kalo perlu lo ajak jalan Tama di depan dia biar meledak terus ngakuin perasaannya.” Bisik Selvia.


“Jangan sampe oleng!” ucap Selvia lirih seraya menepuk bahu Kara saat melihat Dirga berjalan menghampiri mereka.


“Udah mau pulang, Ra? Bareng gue yah.” Ucap Dirga. Meski ada yang harus ia kerjakan tapi Kara juga harus diamankan, jangan sampai dia pergi dengan lelaki yang berdiri di belakangnya.


Seketika hari Kara sudah berbunga-bunga mendengar Dirga mengajaknya, secara biasanya dia duluan yang ngajak.


“Nggak bisa, Ga. Kara mau jalan sama gue.” Sela Tama yang sudah menggeser Dila dan berdiri di samping Kara.


“Ra, please... jangan bikin gue kesel. Gue udah cape lo ngeselin terus dari kemaren. Gue nggak nerima alasan apa pun pokoknya sekarang lo balik sama gue. Papi ngelarang lo jalan sama orang sembarangan, apalagi orang yang nggak lo kenal dengan baik kayak dia.”


“Ya makanya gue mau jalan sama Kara, Ga. Biar dia bisa ngenal gue lebih jauh. Gimana mau kenal kalo jalan bareng aja nggak dibolehin. Aneh dah banget kakak lo, Ra!” cibir Tama yang sontak membuat Selvia dan Dila saling tatap mendengar Tama menyebut Dirga sebagai kakak dari Kara.


“Gue nggak ngomong sama lo.” Tegas Dirga. “kita pulang sekarang.” Dirga menarik lengan Kara.


Kara melepaskan tangan Dirga. “Gue mau nemenin Tama dulu, keliling Bandung. Ntar pulangnya bisa dianterin Tama kok. Ya kan, Tam?”


“Pasti tuan putri. Gue anterin kemana pun.” Balas Tama. “Kalo gitu gue ambil tas bentar ke kelas yah.” Lanjutnya seraya berjalan melewati Dirga. “Tenang bang, adek lo aman sama gue.” Lanjutnya seraya menepuk bahu Dirga.


“Ra, lo bener-bener udah nggak ngedengerin gue yah? Susah banget diatur!” kesal Dirga.


“Kenapa gue mesti ngedengerin lo, Ga? Siapa-siapa juga bukan. Nanti gue bilang ke papi kalo mau main dulu. Lo nggak usah khawatir, nikmatin aja ketenangan lo.” Balas Kara dengan berat hati, bibirnya berucap begitu lancar meski hatinya campur aduk tak karuan apalagi saat melihat Deva berjalan ke arah mereka dan gadis yang tak ia sukai itu benar-benar berhenti di samping Dirga.


“Ya udah kalo lo nggak bisa dibilangin. Terserah! Lo bebas sana mau jalan sama siapa pun gue nggak peduli. Gue juga sibuk!” balas Dirga dengan ketusnya.


“Lo udah siap? Yuk kita jalan sekarang!” Dirga menggandeng tangan Deva dan menarik gadis itu supaya mengikutinya.


“Eh!!” Deva sedikit terkejut namun sedetik kemudian ia langsung tersenyum penuh kemenangan pada Kara.


Melihat Dirga yang berjalan bersama Deva membuat air mata Kara reflek keluar. My Future husband nya itu dengan sigap membukakan pintu dan memasang sabuk pengaman untuk Deva. Kaca mobil yang sengaja diturunkan membuat Kara bisa melihat jelas bagaiman Dirga memasang sabuk pengaman untuk Deva, sementara dirinya yang dijodohkan sejak kecil saja belum pernah di perlakukan seperti itu.


“Kara...” panggil Selvia lirih. Sementara Dila sudah merangkul Kara sejak tadi.


“Gue mau pulang, Sel!” balas Kara sambil terisak.