
“Kenapa mesti di belakang segala sih, Ga? Disini aja lah, biar makin uwuw, biar Deva sadar diri tuh nggak ngeliatin lo terus. Lagian Papi juga udah liat vidio kita yang di kantin nggak apa-apa tuh.” Ucap Kara dengan sambil melirik Deva bersama kedua temannya yang hanya mengangkat gelas di tangan mereka dengan senyum mengejek.
“Nggak apa-apa gimana? Jelas-jelas Papi tuh jadi sering ngawasin kita tau, Ra.”
“Biarin aja biar cepet dinikahin kita.”
“Ya ampun sekolah aja belum lulus, Ra.”
“Ya nggak apa-apa kali, Ga. Itu mamanya Zein juga nikah pas masih sekolah. Lucu malahan masih muda udah punya bocil.” Balas Kara.
“Kaleng sama Kak Dirga ngapain sih? Ini lagi ultah loh malah pada diskusi! Sasa nungguin kue nya nih.” Ucap Sasa yan maju ke depan dan berdiri diantara Kara dan Dirga. “Biar Sasa aja yang potong kue nya lah.” Tanpa menunggu persetujuan Sasa mengambil pisau dan memotong kue ulang tahun Kara.
“Tapi kan gue yang ultah, Cin.” Ucap Kara lirih, padahal dia sudah membayangkan memotong kue dan memberikan suapan kue pertama pada Dirga malah sudah di serobot Sasa.
“Udah nggak apa-apa sama Sasa aja.” Jawab Sasa. “Suapan pertama buat Kaleng Aaa...” Sasa menyuapkan potongan kecil kue pada Kara. “Suapan kedua buat Kak Dirga Aaaa...Pake sendok yang sama biar makin lengket.” Celoteh gadis itu. Meskipun merasa aneh tapi Kara dan Dirga menerima suapan tersebut.
“Sasa sayang banget sama Kaleng, sama Kak Dirga juga. Sasa seneng akhirnya Kaleng sama Kak Dirga bisa sama-sama kayak gini. Di ulang tahun Kaleng yang ke 17 Sasa do’ain Kaleng bahagian selalu, langgeng terus sama Kak Dirga.”
“Aamiin.” Balas Kara tak lupa memeluk gadis yang menjadi calon adik iparnya.
“Btw kadonya mana, Cin?” tanya Kara yang sudah menadahkan tangannya pada Sasa.
Sasa melirik Dirga dan mengambil tangan kanan sang Kakak kemudian menyatukannya dengan tangan Kara. “Spesial sweet seventeen Kaleng, Sasa kasih kakak Dirga. Kakak kesayangan Sasa yang paling cakep. Sasa ikhlas Kak Dirga buat kado ultah Kaleng.”
“Dan karena Kaleng udah Sasa kasih kak Dirga, jangan lupa nanti kasih Sasa ponakan yang lucu-lucu gemoy.” Lanjutnya.
Kara menoyor kening Sasa hingga gadis itu mengusap keningnya. “bilang aja nggak punya kado, pake alesan jadiin Dirga sebagai kado segala.”
“Nggak gitu juga Kaleng! Sekarang Sasa tanya deh, apa yang paling Kaleng inginin selama ini? Kak Dirga kan?” tanya Sasa dan Kara mengangguk.
“Apa ada yang lebih Kaleng inginin selama ini selain jadi istrinya Dirgantara?” Kara menggelengkan kepala.
“Nah maka dari itu Sasa kadoin tuh kak Dirga buat Kaleng. Secara tidak langsung Sasa udah ngewujudin apa yang Kaleng inginin selama ini.” Ucap Sasa bangga.
“Ya tapi kan nggak gitu juga konsepnya, Cin.” Ucap Kara.
Sasa hanya tertawa, “pokoknya gitu lah Kaleng.”
Dirga kembali merangkul bahu Kara dan melihat adiknya sibuk memotong kue untuk orang tua mereka. Kadang Dirga tak habis pikir dengan jalan pikiran Sasa, terlalu absurd. Sasa seperti jalan pikiran gadis yang sedang ia rangkul.
“Sasa mau gabung sama mommy yah kak?” pamitnya seraya membawa beberapa potong kue. “males disini pada bawa pasangan semua, Sasa jomblo.” Keluhnya.
“Biasanya sama Ririd.” Ucap Kara. “tuh Ririd sendirian.” Kara menunjuk adiknya yang asik dengan ponsel.
“Jadi penasaran sama orang yang dimaksud Micin gue, Ga. Kira-kira siapa yah?”
“Paling juga si Arif. Terakhir dia klepek-klepek sama Arif, tapi sekarang nggak kesini dia.” Jawab Dirga.
“Tapi nggak cuma Arif yang nggak dateng,Ga. Tama juga belum keliatan dari tadi.” Kara mengedarkan pandangannya mencari sosok itu.
“Ngapain nyari dia sih? Kan udah gue bilang kalo gue nggak suka sama itu anak.” ketus Dirga.
“Jangan ngambek ngapa, lagi ultah nih calon istri. Kenapa sih nggak bisa banget damai sama Tama? Dia kan temen kita juga. Lagian gue tuh nyari dia karena tadi gue bilang boleh ngajak mamanya. Masih inget nggak Tama pernah bilang kalo mamanya itu temen mami? Mami pasti seneng banget kalo bisa ketemu temen lamanya.” Jelas Kara.
“Jangan ngambek, gue tuh udah bucin dari lahir sama lo. Dulu lo cuekin aja tetep gue kejar, masa sekarang udah deket gini masih aja dicemburuin. Gue nggak mungkin oleng ke cowok lain, Ga. Udah cinta banget sama lo.” Kara memeluk erat Dirga, lelaki itu pun balas memeluknya ditambah dengan kecupan singkat di kening.
“Gue juga cinta banget sama lo, Ra.” Ucapnya seraya mengusap pipi Kara dan menatap lekat-lekat wajah gadis itu. Melihat wajah Dirga yang sudah begitu dekat namun tak juga menciumnya membuat Kara berinisiatif untuk memulai namun Dirga langsung menjauhkan wajahnya. “hampir aja. Papi tuh!”
“Baru sekarang nih gue kesel sama Papi. Udah kayak CCTV aja.” Keluh Kara. “samperin yuk!” lanjutnya seraya menarik tangan Dirga.
“Tunggu bentar, Ra!” seru Deva dan kedua temannya.
“Selamat ulang tahun. Kado dari gue, lo pasti suka banget.” Deva memberikan kotak ukuran sedang dengan pita pink di atasnya.
“Makasih.” Balas Kara.
“Sama-sama. Gue pamit.” Ucap Deva.
Kara tak jadi menghampiri orang tuanya karena satu persatu teman sekolahnya yang mulai berpamitan. Melihat itu Sasa yang sedari dari bersama kelompok orang tua beranjak ke dekat pintu masuk dan memberikan paper bag berisi tumbler loveware serta kaktus sebagai sovenir perayaan ulang tahun sekaligus hari jadian Kara dan Dirga.
“Udah kayak penerima tamu di acara hajatan nih Sasa, bagi-bagi sovenir. Cape.” Ucapnya begitu menghampiri Kara. “jangan lupa bayarannya yah, Kaleng.” Lanjutnya.
“Gitu aja minta bayaran. Perhitungan banget sih calon adek ipar gue.” Kara mencubit gemas pipi Kara. Sasa tak tinggal diam balas mencubit Kara hingga kedua gadis itu saling cubit di samping meja yang berisi tumpukan kado. Dirga hanya menghela nafas panjang melihatnya, kekanakan tapi dia suka.
“Wah gue telat yah?” seru lelaki yang baru saja masuk bersama seorang wanita di sampingnya.
Sasa yang lebih dulu menoleh ke sumber suara langsung melepaskan cubitannya dan buru-buru merapikan rambut serta bajunya yang sama sekali tak berantakan. “Ya ampun 831 ya gue.” Ucapnya lirih yang langsung berlari menghampiri Tama.
“Abang, Sasa nungguin dari tadi.” Tama hanya menatap jengah gadis yang berdiri di hadapannya. “ini siapa bang? Mamanya yah? Tebak Sasa.
“Iya, cantik. Tante mamanya Tama.” Ucap Raya.
“Halo, Tante. Kenalin, Sasa.” Gadis imut itu mengulurkan tangannya pada Raya “Sasa Raunari Nabillah, calon mantu tante.” Lanjutnya.