
Sementara itu di rumah, Mami Jesi sedang bersiap-siap untuk menghadiri rapat wali murid. Jam dinding menunjuk angka sembilan saat wanita modis itu meninggalkan rumah bersama dengan calon besan yang tak jadi.
“Jes, sebenernya aku masih nggak enak soal hubungan anak kita yang gagal. Aku harap kamu nggak benci sama aku gara-gara Dirga yang udah bikin Kara sedih.”
“Nggak apa-apa, kak. Mungkin bukan jodohnya, meskipun aku pengen banget punya mantu kayak Dirga. Tapi ya sudahlah, kita tetep keluarga kok. Aku udah nganggap Kak Miya sama Kak Ardi kayak kakak aku sendiri sejak dulu. Dirga sama Sasa juga udah kayak anak aku sendiri secara mereka berempat sering main bareng.” balas Jesi.
Sampai di sekolah Miya dan Jesi langsung menuju gedung Aula. Miya merasa sedikit aneh karena jalan menuju aula yang begitu sepi ditambah dengan parkiran tamu yang kosong, padahal biasanya kalo ada rapat tempat parkir selalu penuh dan ada guru yang menyambut mereka sebelum masuk aula. “sepi yah, Jes..”
“Iya, Kak. Apa kita datangnya kepagian yah? Tapi kata Kara jam sepuluh.” Jesi memastikan waktu dengan melihat jam di tangannya, tepat jam sepuluh. “Apa tempatnya bukan di aula yah, kak?”
“Nggak tau, Jes. Aku nggak buka suratnya.” Jawab Miya.
“Sama, aku juga nggak buka suratnya kak. Soalnya aku kira surat undangan dari guru BK, biasalah Kara suka bikin masalah. Kita tanya satpam aja dulu mba.” Ujar Jesi.
Kedua berjalan ke pos satpam. Jesi langsung mengepalkan kedua tangannya begitu mendengar jawaban pak satpam yang mengatakan tak ada acara rapat wali murid hari ini. “Lengkara... Awas yah kamu nanti! Berani bohong sama mami.” Gerutu Jesi.
“Maaf bu dengan walinya siapa? Supaya saya tanyakan pada petugas piket hari ini terkait undangan wali murid.” Tanya Satpam pada Miya.
“Kalo ibu saya sudah tau, bu Jesi kan? walinya Lengkara.” Lanjutnya.
Jesi hanya menahan emosi, huh putrinya ini memang benar-benar biang masalah sampe satpam dan guru-guru saja hampir semua mengenalnya, efek terlalu sering datang ke sekolah. Berbeda dengan Miya yang tetap terlihat tenang.
“Wali murid Dirgantara Rahardian dan Lengkara Ayudhia ditunggu bu Irma di ruang BK.” Ujar satpam setelah menelpon, “mari saya antar bu.” Lanjutnya.
“Nggak perlu pak, makasih. Ruang BK saya udah hafal.” Balas Jesi. “Yuk kak!” lanjutnya mengajak Miya supaya mengikutinya.
“Kayaknya aku mesti siap-siap set loveware lagi nih buat gurunya Kara. Heran punya anak cewek kok bandelnya ngalahin anak cowok.” Jesi terus menggerutu sepanjang jalan menuju ruang BK.
"Yang sabar, Jes. Namanya juga anak-anak." ucap Miya.
"Pokonya Kara tuh nguras emosi banget kak." balas Jesi.
“Yang ini ruangannya nih, Kak.” Jesi mengetuk pintu dengan nama ruangan BK yang menggantung di atasnya.
“Silahkan masuk, bu Jesi dan bu...” ucap Bu Irma setelah membuka pintu dan mempersilahkan kedua wali muridnya untuk duduk.
“Bu Miya. Mommy nya Dirga.” Ucap Jesi memperkenalkan.
“Kebetulan sekali karena ibu Miya dan bu Jesi datang bersama, mengingat ada hal penting terkait Dirga dan Kara yang perlu saya sampaikan.” Ucap bu Irma.
“Ya, bu. Soal datang terlambat sudah teratasi, bahkan beberapa hari terakhir Kara selalu datang tepat waktu dan sempat membantu saya menghukum anak-anak yang terlambat. Pagi tadi juga dia datang lebih awal.” Jelas bu Irma. “sebenarnya kali ini masalahnya bukan ada pada Kara, tapi Dirga.” Lanjutnya.
“Dirga? Anak saya kenapa bu? Jujur saya kaget karena undangan hari ini ternyata ke ruang BK bukan rapat wali murid karena Dirga bilang rapat wali murid.” Kali ini Miya yang bersuara dengan raut khawatirnya, pasalnya selama ini Dirga tak pernah membuat masalah apa pun.
“Saya tidak tau harus memulai dari mana dulu. Tapi sebaiknya bu Miya dan bu Jesi melihat vidio ini terlebih dulu. Dirga dan Kara benar-benar meresahkan dan membuat gaduh seisi sekolah.” Ujar bu Irma dengan pelan.
“Vidio apa bu? Anak saya tidak mungkin menonton vidio yang aneh-aneh. Saya tau Kara itu sedikit bandel tapi tontonannya paling pol drama korea dan boy band yang personilnya bening-bening.” Ucap Jesi.
“Tenang dulu bu Jesi. Saya tidak tau tontonan Kara itu seperti apa tapi yang jelas perbuatan mereka tak patut untuk dicontoh. Apalagi Dirga yang notabenenya ketua OSIS.” Bu Irma mengambil ponselnya di meja dan bersiap memperlihatkan vidio lak nat yang membuat jiwa jomblonya meronta-ronta. “saran saya setelah melihat vidio ini baik bu Jesi maupun bu Miya tidak boleh bersikap keras pada Dirga dan Kara. Harus tetap dinasehati dengan lemah lembut supaya mereka tak membangkang.” Lanjutnya seraya meletakan ponselnya di meja dan menekan tombol play.
“Kak Miya...”
“Jes... Alhamdulillah...” Miya memeluk Jesi erat. “Kita jadi besanan, Jes!”
“Bentar-bentar, Kak. Kita putar sekali lagi...” Jesi mereplay vidio tersebut, “ya ampun so sweet calon mantu...” teriaknya.
“Bu Irma tolong hitung jumlah guru SMK Persada, mau saya kasih set loveware semua. Sumpah saya seneng banget liat Kara sama Dirga seperti ini.” Ucap Jesi.
“Ya, saya juga mau ngasih voucher makan siang gratis di restoran punya saya.” Imbuh Miya.
“Ya gimana bu?” tanya bu Irma yang justru di buat bingung oleh sikap kedua wali muridnya. Alih-alih emosi dan malu melihat sikap anaknya, mereka justru mau bagi-bagi hadiah.
"Pokoknya diitung aja bu jangan sampe ada yang terlewat. Nanti khusus bu Irma saya kasih ektra tambahan voucher makan siangnya, ibu bisa ajak suami ibu juga." ucap Miya.
"Iya bu Irma. Saya juga bakal kasih tambahan set loveware nya buat ibu." imbuh Jesi. "ini vidionya tolong di kirim ke saya yah bu." lanjutnya yang masih memutar ulang vidio di ponsel bu Irma.
"Iya bu tolong di kirim ke saya juga yah." timpal Miya, "Saya bener-bener bangga sama Dirga. Ini adalah prestasi terbaik Dirga selama sekolah di SMK Persada." lanjutnya.
Prestasi? bu Irma hanya bisa geleng kepala melihat sikap kedua wali murid itu. Tak ada sedikit pun rasa kesal melihat anak-anak mereka membuat ulah justru terlihat sangat bahagia. Yang lebih gila lagi walinya Dirga, anaknya membuat masalah malah dibilang berprestasi.
"Bu Irma, kami permisi dulu. Banyak yang harus segera kami urus. Jangan lupa vidionya nanti di kirim yah." pamit Jesi. "Yuk, kak! kita harus syukuran di rumah. Ibu-ibu komplek kita undang semua." lanjutnya pada Miya.
"Tunggu sebentar bu Jesi, saya belum selesai." ucap bu Irma tapi Jesi dan Miya hanya menanggapinya dengan tersenyum sambil mengangguk kemudian pergi meninggalkan ruang BK.
"Gila! baru kali ini anak bikin masalah, orang tuanya malah mau gelar syukuran segala." bu Irma hanya bisa menggelengkan kepala.