
Malam ini si adik belum bisa bertamu ke rumah baru karena pemilik rumah lagi ngambek. Saat Dirga kembali ke kamar setelah membantu Ridwan, istrinya sudah tidur sambil memeluk bantal.
"Sayang, pulang yuk! Seminggu ini kan jatah tidur di rumah aku." Dirga menepuk pelan bahu istrinya.
Kara tak bergerak sama sekali membuat Dirga kembali mengguncang bahunya pelan. "Sayang, aku tau kamu tuh belum bobo. Yuk pulang dulu, apa mau di gendong nih?" Ledeknya.
"Nggak mau! Lagi ngambek!"
"Lah? Ngambek kenapa?"
"Pikir aja sendiri!" Ketus Kara yang justru menarik selimut hingga menutup kepalanya. "Bisa-bisanya diem aja pas Papi nggak percaya omongan aku. Malah bohong nonton drama segala. Katanya nggak boleh bohong, eh yang jadi suami malah nyontohin bohong. Suami macam apa itu huh!"
"Ya ampun jadi gara-gara itu." Dirga menarik selimut yang dikenakan Kara hingga wajah cemberut gadis itu terlihat.
"Kadang bohong di saat-saat tertentu itu perlu, Yang. Demi kebaikan tentunya." Dirga ikut merebahkan diri dan menatap lekat-lekat wajah ngambek Kara.
"Nih yah dengerin aku, Yang. Nggak kebayang kalo Papi tadi sampe percaya, bisa-bisa kita disuruh pisah rumah lagi. Mau pisah rumah lagi hm?"
Kara menggeleng, "nggak mau. Ntar nggak bisa sayang-sayangan lagi." Kara dari mode ngambek langsung mode manja meluk-meluk takut dipisahin.
"Sayang-sayangan yang mana nih? Versi kamu apa aku?" Ledek Dirga. "Versi aku aja deh yah Yang. Komplit plus plus." Lanjutnya.
"Mesum ih!"
"Mesum-mesum gini aja kamu bucinin."
"Itu kan dulu pas belum tau kalo Dirgantara itu mesum."
"Lah kamu malah lebih mesum, Yang. Dari awal minta sayang-sayangan mulu."
"Ih tapi kan beda, Ga." Kara memukul asal Dirga sekenanya.
"Iya iya ampun sayang. Yuk bobo di rumah aku aja, mumpung mommy sama daddy belum pulang. Bisa sayang-sayangan sampe pagi. Kalo disini takut ketahuan Papi, kamu kan teriaknya suka nggak ke kontrol."
"Nggak mau ah, bobo sini aja. Udah terlanjur posisi enak nih."
"Ya udah kita gas disini aja kalo gitu!"
"Dirga ih nak-" ocehan Kara tak terdengar lagi setelah Dirga menyatukan bibir mereka.
Karena bukan di rumahnya, jam lima pagi Dirga membangunkan Kara.
"Bangun, sayang."
"Masih ngantuk, Ga. Makin pegel aja ini badan."
"Ntar aku pijitin supaya pegel-pegelnya ilang deh. Sekarang mandi dulu."
"Nggak mau dipijit sama kamu lah, suka gra pa gre pe kemana-mana."
"Tapi suka kan?" Tanya Dirga. Kara hanya tersipu sambil menunduk malu.
"Cie sayangnya aku.. malu yah..." Ledeknya.
"Tau ah! Mau mandi." Kara beranjak dengan membawa serta selimut untuk menutup tubuh polosnya.
Kini Kara dan Dirga sudah tengah berada di parkiran salah satu mall, mereka masih di dalam mobil menunggu kedatangan Dila dan Selvia. Dirga dengan sayangnya terus menggenggam tangan kanan Kara, sesekali ia menciumnya.
"Sayang, tuh Selvia udah datang. Samperin yuk!" Ajak Kara.
"Lama banget sih lo berdua. Nyasar apa gimana? Gue udah dua puluh menit nunggu sampe lumutan nih." Protes Kara bahkan saat Dila dan Selvia belum turun dari mobil.
"Ya sorry, Ra. Biasalah Selvot kayak nggak tau aja." Balas Dila yang baru keluar sambil mengenakan tasnya.
"Nyenggol kang cilok tadi gue. Jadi biasalah urus-urus dulu." Sambung Selvia.
"Tapi mobil lo nggak apa-apa kan?" Kara melihat kondisi mobil sahabatnya. "Lecet dikit doang." Lanjutnya.
"Gila lo yah, yang ditanyain mobil bukan supirnya!"
"Lah kan kalo lo udah jelas masih idup." Ucap Kara, "cilok gimana kabarnya? Kasihan kalo mereka sampe glundung glundung ke jalan. Nggak bisa di makan." Lanjutnya.
"Udah lah nggak dibahas lagi. Udah pro gue soal tabrak menabrak." Selvia tergelak sendiri mengingat jajaran kang jajan pinggir jalan yang gerobaknya menjadi korban.
"Jalan yuk cuci mata, bentar lagi sekolah masuk. Masa libur udah mau abis kita belum jalan sekalipun." Selvia merangkul kedua sahabatnya.
"Hari ini Kara milik kita-kita, lo ngikutin doang Ga. Dilarang protes!" Lanjutnya pada Dirga.
"Sayang..." Ucap Kara lirih.
"Udah jalan aja sana. Aku tunggu di food court langganan kita."
"Beneran nggak apa-apa?"
"Iya nggak apa-apa." Balas Dirga.
"Kalo gitu pengen apa ntar aku beliin?"
"Pengen kamu aja ntar malem." Dirga mencubit gemas kedua pipi Kara.
"Nakal ih!" Kara jadi tersipu dan memukul pelan dada Dirga.
"Kagak disered nggak bakal selesai satu hari ini malah pamer uwuw uwuw." Tak sabar, Selvia menarik sahabatnya. "Gue pinjem dulu bini lo." Ucapnya pada Dirga.
Dirga mengikuti ketiganya dari kejauhan tapi kemudian berhenti di area food court dan memilih menunggu disana sesuai ucapannya tadi. Sambil menunggu dia memesan beberapa makanan ringan dan memainkan ponselnya untuk mengusir jenuh. Bukan lagi bermain game seperti saat belum menikah, melainkan melihat banyak sekali foto Kara yang ia ambil diam-diam. Bahkan dua jam yang sudah berlalu tak cukup untuk melihat foto itu satu persatu.
"Ternyata beneran lo, gue kira tadi salah liat. Sendirian aja, Ga?" Tanya Deva yang sudah duduk di hadapannya tanpa dipersilahkan.
"Nggak. Gue kesini sama Lengkara, anaknya lagi jalan dulu bareng Selvia."
"Oh." Deva mengangguk. "Gue abis beli buku nih buat persiapan ujian. Gue pengen masuk universitas Persada, lo tau kan masuk ke sana nggak mudah." Deva menunjuk buku yang ia bawa. Ada tiga buku tebal yang ia beli.
"Lo pasti bisa kok kuliah di sana, nilai lo bagus. Pasti dapat beasiswa lagi deh." Jawab Dirga.
"Tapi kemaren nilai gue turun, nggak nyangka Pratama pinter juga. Gue kira dia cuma spesialis tukang gombalin cewek. Bisa-bisanya peringkat tiga umum, ke geser gue jadi ke empat."
"Dirga!" Teriakan Kara membuat keduanya menoleh. Gadis itu berjalan cepat ke arahnya dengan tatapan kesal.
"Sayang, udah selesai jalan-jalannya hm?"
Bugh!! Kara melempar paper bag belanjaan ke pangkuan Dirga. "Pantesan nggak nolak disuruh nunggu, ternyata janjian sama sabun batangan!"
"Siapa yang janjian? Nggak sengaja dia tuh ketemu disini abis beli buku." Jelas Dirga.
"Alesan!" Ketus Kara, "ngapain lo masih disini? Carmuk sama laki gue? Keganjenan banget jadi cewek." Lanjutnya pada Deva.
"Childish. Baru juga jadi pacar udah belagu. Sekarang lo boleh ngaku-ngaku jadi istrinya tapi diakhir tetep aja gue yang jadi istri Dirga. Lo nggak tau aja, kakek Dirga udah kasih restu ke gue." Ucap Deva lalu pergi begitu saja.
"Eh barusan gue ketemu sabun batangan, Ra. Udah nabrak nggak minta maaf, kenapa sih tuh orang? Emosi banget keliatannya." Tanya Dila yang baru tiba bersama Selvia.
"Emosi lah lagi jalan berduaan sama Dirga keganggu gara-gara gue dateng." Ucap Kara seraya menatap kesal suaminya.
"Calon menantu keluarga Rahardian katanya. Calon istrinya Dirgantara." Ucap Kara penuh penekanan. "Mentang-mentang udah merkosa gue sekarang lo ada rencana kawin lagi gitu? Bagus yah!"
"Oh My God, merkosa nggak tuh." Dila dan Selvia menahan tawa melihat keduanya.
"Ya ampun sayang, kamu tuh ngomong apa sih? Suka ngelantur kayak gitu. Istri aku tuh cuma kamu, Lengkara. Nggak ada yang lain dan nggak ada rencana nambah istri juga. Kayak nggak tau Deva aja suka manas-manasin kamu." Ucap Dirga pelan-pelan.
"Tau lah kesel! Bukannya nemenin jalan malah berduaan sama sabun batangan!"
"Lah kan tadi kamu yang nyuruh aku nunggu aja." Kara balas makin cemberut.
"Iya iya udah aku yang salah, sayang. Udah yah jangan ngambek gitu, pasti cape nih makanya gampang emosi. Minum dulu yah?" Dirga menyodorkan gelasnya pada Kara.
"Iya, Ra. Masa gara-gara kayak gitu doang ngambek. Makin bahagia si sabun kalo lo berdua ribut." Sambung Selvia.
"Tuh dengerin kata Selvia." Timpal Dirga.
"Tapi barusan dia bilang kakek udah ngasih restu. Maksudnya apa coba, Ga?"
"Paling ngarang tuh bocah. Udah nggak usah dianggep." Ucap Selvia lagi.
"Iya, sayang. Makan aja nih udah aku pesenin." Timpal Dirga. "Buat lo berdua juga udah gue pesenin, tunggu aja." Lanjutnya pada Dila dan Selvia.
"Cape nggak jalan-jalannya? Sampe hampir tiga jam loh. Belanjaan kami juga banyak banget. Aku pijitin yah biar capenya ilang." Dirga meraih tangan Kara dan memijitnya pelan.
"Enak bener punya laki modelan Dirga, Ra. Perhatian banget sama mau mijitin segala. Gue juga mau yang kayak Dirga lah. Suami idaman banget." Ucap Dila.
"Enak apaan? Dipijitin Dirga tuh capenya nggak ilang yang ada makin cape."
"Awalnya mijit, ujung-ujungnya dinaikin lagi. Cape lagi lah gue jadinya."