
Siang itu cafe milik mommy Miya mayoritas dipenuhi oleh konsumen putih abu, siapa lagi kalo bukan teman-teman sekolah Kara yang tadi menyaksikan momen uwuw. Selvia dan Dila benar-benar sudah mengatur semuanya hingga ke tempat duduk pun tak luput dari perhatian mereka.
“Bebas pesen apa aja. Nggak usah sungkan-sungkan, yang punya cafe mommy nya ketos kita.” Ucap Selvia yang tentu disambut dengan begitu antusias.
Dirga dan Kara yang datang terakhir sedikit terkejut menyaksikan kondisi cafe yang sudah seperti di booking oleh anak putih abu. Bahkan panggung live musik yang biasa diisi oleh band cafe saja diambil alih oleh anak-anak.
“Rame banget. Udah kayak acara ulang tahun aja. Kita gabung ke meja Selpot aja yuk!” ajak Kara.
“Sana. Gue ke mau ke meja Arif aja.” Jawab Dirga.
“Nggak mau jauh-jauh.” Kara cemberut dan tak melepaskan pegangannya di lengan Dirga.
“Nggak jauh, sayang. Kan masih satu tempat. Lo disana gue disana.” Dirga menunjuk meja Selvia kemudian berganti menunjuk meja Arif dan teman-temannya yang langsung balas melambaikan tangan padanya. “masih keliatan. Nggak apa-apa yah?” Dirga mengelus puncak kepala Kara.
“Lo mah nggak pengen deket sama gue terus yah, Ga? gue jadi ragu nih yang tadi di kantin tuh beneran nggak sih?” Kara masih terus cemberut.
“Ya ampun bukan gitu sayang.”Dirga mencubit gemas pipi Kara. Mesti dipanggil sayang terus supaya nggak cemberut.
“Terus apa?”
“Nggak enak sama yang lain kalo lagi kumpul-kumpul gini kita berduaan terus. Harus menghargai tamu dong, kita kan disini sebagai tuan rumah. Jadi lo temenin yang cewek-cewek, cowoknya biar bareng gue. Toh paling cuma beberapa jam aja, nanti kan pulangnya juga bareng lagi. Ntar gue main ke rumah lo juga.” Jelas Dirga. “udah sana ke meja Selvia gih. Liat tuh si Dila udah manggil-manggil.” Lanjutnya seraya melihat ke meja Selvia, benar saja Dila sudah melambaikan tangannya berulang kali.
Pada Akhirnya Kara menurut dan gabung bersama Dila dan Selvia serta teman-teman sekelasnya. Gadis itu terlihat tergelak menanggapi obrolan teman-temannya. Banyak diantara mereka yang tak menyangka jika Dirga bisa semanis itu pada Kara. Mereka pikir selama ini cinta Kara bertepuk sebelah tangan, tapi nyatanya Dirga memiliki caranya sendiri dalam mencintai Kara.
“Jangan diliatin terus Dirga nya nggak bakal ilang kok, Ra.”
“Syirik aja, kalian nggak punya ayang sih.” Balas Kara. Sama halnya dengan Kara di sisi lain Dirga juga beberapa kali melihat kearahnya.
Setelah satu jam berlalu akhirnya acara PJ itu berakhir bersamaan dengan deretan gelas dan piring kosong yang memenuhi meja mereka.
“Thanks PJ nya yah. Kita do’ain kalian langgeng terus.” Ucap perwakilan mereka yang kemudian berangsur meninggalkan cafe satu persatu.
“Gue juga mau balik yah, Ra. Makasih PJ nya. Gue bungkus es kopi nya satu buat kak Septian nih.” Ucap Selvia.
“Gue juga take away kentang goreng, cheese cake sama es cokelat buat di rumah nih. Buat mama gue, Ra.” sambung Dila.
“Buat mama apa buat lo sendiri, Dil? Perasaan mama lo nggak suka es cokelat deh.” Ledek Kara.
Dila hanya tertawa dan berlalu pergi, “pokoknya makasih Ra.” ucapnya dengan melambaikan tangan.
Dirga melangkah menuju meja kasir, Kara mengikutinya dari belakang.
“Berapa semuanya, mba?”
“Nggak dibayar sama ibu aja, mas? Kata ibu kalo mas Dirga sama neng Kara yang makan nggak usah bayar.” Ucap kasir yang sudah mengenal Kara dan Dirga. Terlebih Kara yang sering makan gratis dengan kedua temannya.
“Gesek aja.” Dirga menyerahkan kartu debitnya.
“Tapi mas, kata ibu...”
“Gesek aja mba. Ntar mba disangka korupsi, masa saya sama Kara makan sampe abis dua belas juta. Udah gesek aja, nggak usah laporan apa-apa sama mommy.” Ucap Dirga.
“Siap, mas.” Balas Kasir.
Setelah membayar keduanya meninggalkan cafe untuk pulang. Perjalan dari cafe ke rumah tak memakan waktu lama. Hanya sekitar dua puluh menit mereka sudah memasuki komplek perumahan tempat mereka tinggal.
“Miciiiin...” teriak Kara pada gadis yang berjalan seorang diri sambil menenteng kantong kresek besar. “Ga, stop!” ucapnya, tapi Dirga terus melajukan motornya karena tanggung sudah hampir sampai.
Sasa sedikit berlari menghampiri Kara yang baru saja turun dari motor, “Kaleng kok bisa bareng sama Kak Dirga? Tumben. Bukannya lagi marahan?”
“Gue nggak pernah marah sama kakak lo, cin. Ya kan, sayang?” ucap Kara.
“Iya, sayang.” Balas Dirga. “gue balik dulu yah.” Pamitnya pada Kara.
“Oke. Nanti main ke rumah yah?” jawab Kara dan Dirga membalasnya dengan acungan jempol tanpa berbalik.
“Abis ngeborong jajan lo, cin? Banyak banget. Tumbenan.” Kara sudah mengambil alih kresek bawaan Sasa dan melihat isinya. “buset lo beli endog palsu banyak banget, cin?”
“Kaleng...” panggil Sasa.
“Apaan? Gue minta endog palsunya satu yah.” Kara mengambil satu buah kinderjoy dan membukanya.
“Sejak kapan Kaleng sama Kak Dirga jadi sayang-sayangan? Barusan Sasa nggak salah denger kan?”
“Sejak tadi, istirahat kedua. Liat nih...” Kara mengeluarkan ponselnya dari saku dan memperlihatkan vidio di kantin sekolah.
“Ya ampun meleyot Sasa, Kaleng.” Ucap Sasa. “Nggak nyangka Kak Dirga bisa so sweet gitu. Selamat yah Kaleng, Sasa ikut seneng. Seneng banget...” keduanya berpelukan erat di sisi jalan. “Tuh kan Sasa bilang juga apa, Kak Dirga tuh cinta banget sama Kaleng.” Lanjutnya.
“Iya. Gue juga nggak nyangka sumpah, berasa mimpi.” Ucap Kara.
“Sasa juga berasa mimpi hari ini Kaleng. Seneng banget deh, ketemu sama dia tadi. Terus Sasa di jajanin nih banyak.” Sasa menunjuk kantong kresek yang dipegang Kara.
“Siapa?”
“Temennya Kaleng, tapi Sasa lupa namanya siapa yah? Ntar Sasa inget-inget namanya, sekarang Sasa mau pulang dulu. Mau cuci kaki, cuci muka terus bobo siang. Soalnya udah janjian mau ketemu di mimpi.”
Kara tak ambil pusing dengan ucapan Sasa, dia memilih masuk rumah untuk ganti baju terus mau dandan yang cantik soalnya kan nanti Dirga mau main ke rumah.
“Lah tumben malem-malem kakak gue cakep gini? Biasanya pake baju tidur doang terus rambut diiket acak kadul.” Sindir Ridwan yang baru saja masuk ke ruang makan dan melihat penampilan Kara yang berbeda dari biasanya.
“Iya mami juga aneh nih, nggak biasanya Kara rapi jam segini.” Sambung mami Jesi.
Kara tak menggubris ucapan mami dan adiknya, mau dikatain apapun dia tak peduli. Mood nya sedang sangat baik saat ini, dia terus fokus pada benda pipih di tangannya kemudian pergi meninggalkan meja makan dengan senyum yang mengembang.
“Mami sama papi makan duluan aja. Kara mau ke depan sebentar.” Pamitnya.
“Mi, coba liat ke dapan! Katanya sebentar tapi itu belum masuk lagi.” Ucap Rama saat makan malam berakhir.
“Papi aja, mami tanggung lagi cuci piring nih.” Jawab Jesi, “kalo nggak Ridwan aja tuh pi.” Lanjutnya.
“Aku juga lagi tanggung, Mi. Bentar lagi menang nih.” Jawab Ridwan yang kembali asik dengan ponselnya usai makan malam.
“Disuruh malah pada balik nyuruh.” Akhirnya Rama mengalah dan pergi ke depan.
“Kara, kamu nggak mau makan malam?” ucapnya begitu tiba di teras, “Kalian ngapain?” bentak Rama yang melihat wajah putrinya begitu dekat dengan lelaki yang duduk di sampingnya.
Kara yang sedang menempelkan keningnya pada kening Dirga langsung mundur. "bikin kaget aja papi." ucapnya enteng.
"Malem, Pi." sapa Dirga sedikit gugup, ini kali kedua ia kepergok dengan posisi yang tak menguntungkan.
"Malem juga."
"Pi, ini nggak seperti yang Papi kira. Barusan kita nggak ngapa-ngapain, cuma nempel kening doang." ucap Dirga.
"Iya nggak ngapa-ngapain karena keburu ada papi." ucap Rama. Pada akhirnya Kara dan Dirga hanya mendengar nasihat panjang lebar dari Rama. Pria itu benar-benar pusing menghadapi anak pertamanya yang angin-anginan itu. Kemarin bilang Dirga jahat sampai memutuskan perjodohan segala, tapi baru beberapa hari berlalu mereka sudah kembali berdamai.
Tak sampai di sana, malam itu Kara juga mendapat ocehan panjang lebar dari maminya setelah menyerahkan surat undangan wali murid dari bu Irma.
"Sekarang kamu bikin masalah apa lagi, Kara? bukannya udah tobat nggak kesiangan lagi? mami sampe malu bolak balik ruang BK." ucap Jesi.
"Itu undangan rapat wali murid biasa kok, Mi. Bukan karena aku bikin masalah. Mommy Miya juga diundang kok, besok Mami ke sekolahnya barengan aja sama Mommy Miya." balas Kara.
"Beneran?"
"Iya, Mi." jawab Kara.
"Ya sudah kamu boleh kembali ke kamar, besok Mami ke sekolah bareng Mommy nya Dirga." Jesi menghembuskan nafasnya lega. Setidaknya mengetahui orang tua Dirga juga diundang berarti benar-benar undangan rapat wali murid, bukan undangan khusus untuk wali murid yang anaknya bermasalah mengingat mantan calon mantunya yang tak pernah membuat masalah dan selalu berprestasi.