Always Loving U

Always Loving U
Mode Singa



Dirga dan Deva baru saja keluar dari sebuah rumah. Keduanya berpamitan dengan sopan pada wanita paruh baya yang menerima kedatangan mereka dengan sangat baik. Bu Dini memang meminta batuan keduanya untuk membujuk Sinta, adik kelas yang harusnya kini duduk di bangku kelas sebelas. Tapi sejak awal masuk tahun ajaran baru gadis itu belum pernah datang ke sekolah. Setelah di telusuri ternyata mogok sekolah karena ibunya yang berstatus janda akibat bercerai dengan ayahnya akan segera menikah.


Sinta bukan anak yang mudah bergaul seperti yang lain, dia cenderung menghabiskan waktunya sendiri dan tak peduli dengan lingkungan sekitar. Sang ibu bilang dulu anak gadisnya tak seperti itu, dulu Sinta gadis yang ceria dan selalu tersenyum bahkan teman-temannya banyak. Namun setelah tau sang ayah mengkhianati ibunya dan memilih berpisah membuat hidup gadis itu cukup banyak berubah. Dia mulai pilih-pilih teman, tak mau berteman terlalu dekat dengan lawan jenis. Alasannya tentu saja karena takut tersakiti seperti ibunya, ditambah lagi dia diselingkuhi pacarnya tepat saat keadaan keluarganya carut marut.


Ayahnya pernah berkata meskipun mereka berpisah tapi Sinta tetap putrinya dan akan tetap selalu memberi perhatian namun nyatanya seiring waktu ayahnya benar-benar tak memperhatikannya dan sibuk dengan keluarga barunya. Kini sang ibu justru mengatakan akan menikah lagi, membuat Sinta lebih ketakutan. Takut jika ibu yang menjadi sandaran satu-satunya baginya saat ini juga kelak akan meninggalkannya dan sibuk dengan keluarga baru. Memiliki saudara tiri, Sinta belum siap akan hal itu.


Dibujuk baik-baik oleh ibunya tak memberi efek apapun, gadis itu justru kian menunjukan penolakan dengan tak berangkat sekolah dan mengurung diri di kamar. Tak cukup sampai disana bu Dini dan Bu Irma juga sudah berusaha membujuknya namun hasilnya nihil, hingga akhirnya mereka meminta batuan Deva dan Dirga untuk membujuk Sinta supaya kembali sekolah.


“Kami permisi pamit pulang dulu tante.” Ucap Dirga.


“Iya, Nak. Terima kasih sudah mau repot-repot kesini.”


“Tidak repot sama sekali tante, kan Sinta juga siswa sekolah kami, teman kami. Setiap siswa yang satu sekolah dengan kami adalah keluarga, sudah sepatutnya keluarga saling membantu saat salah satu anggota keluarganya terpuruk.” Ucap Deva.


“Benar tante. Tante tidak perlu sungkan, lain kali saya pasti ke sini lagi buat bujuk Sinta sampai mau sekolah lagi.” Imbuh Dirga.


Wanita paruh baya di depannya tersenyum kagum pada Dirga dan Deva, “kalian benar-benar anak baik. Selain tampan dan cantik, kalian juga cerdas. Orang tua kalian pasti bangga sama kalian.”


“Coba kalo kamu belum punya pacar, tante bakal datengin deh rumah kamu terus minta kamu jadi menantu tante.” Imbuhnya yang mengira jika mereka berdua memiliki hubungan spesial.


“Wah jangan tante, saya sudah punya calon istri.” Balas Dirga sedikit tergelak.


“Yang ganteng, baik sama pinter emang cepet lakunya. Ya udah ini ada sedikit camilan buat kalian. Di terima yah kebetulan calon suami tante yang bawa kemaren.” Ucapnya seraya menyodorkan dua paper bag.


Dirga dan Deva menerimanya, “makasih tante.” Ucapnya mereka kompak kemudian berlalu menuju mobil.


“Lo duduk di belakang, Dev!” ucap Dirga saat Deva hendak membuka pintu depan.


“Kenapa emang? Kan tadi juga gue duduk di depan. Kalo gue duduk di belakang ntar kalo jadi kayak supir gue deh.” Kelakar Deva.


“Nggak apa-apa, ini tempat duduk dia. Lo belakang aja.” Dirga membuka pintu belakang kemudian berlalu begitu saja tanpa menunggu Deva masuk.


Dirga sudah duduk di kursi kemudi, paper bag pemerian ibu Sinta ia letakan pada kursi di sampingnya.


“Mau naik nggak , Dev? Atau gue tinggal aja?” ucapnya saat mendapati Deva masih berdiri di samping mobilnya.


“Iya ini gue mau masuk.” Balas Deva, dia duduk di belakang sambil mengamati Dirga yang sedang mengemudikan moibl dari spion atas. Aneh sekali pikirnya, tadi saja pas berangkat begitu manis pakein selt belt segala. Sekarang malah kembali jadi Dirga yang biasanya, hanya bicara seperlunya saja.


“Ga, temenin gue nyari buku pelajaran dulu gimana? Gue belum beli buku matematika nih. Tokonya kelewatan kok nanti.”


“Iya nanti gue turunin lo di toko buku , Dev.”


“Oke, sekalian aja lo beli buku yang belum lo punya. Kebetulan gue member disana, lumayan ada diskonnya.” Balas Deva yang mengira Dirga akan menemaninya ke toko buku. Terlalu senang ia sampai merubah posisi duduknya sedikit maju, hingga kepalanya menyembul di samping kursi Dirga.


“Buku pelajaran gue buat semester ini emang belum lengkap tapi gue belinya lain kali aja, Dev. Gue cuma nganterin lo doang terus lanjut pulang.” Ucap Dirga.


“Soal yang tadi di sekolah, sorry yah. Tadi lagi emosi, gue rasa lo juga ngerti kan. Diantara kita cuma sebatas teman. Sebatas kerja sama ketua OSIS dan sekretaris.”


“Udah sampe. Turun gih! Soal Sinta kita bahas lain kali di sekolah.”


“Iya. Makasih, Ga.” Deva turun dari mobil dengan cemberut. Setelah mobil Dirga tak terlihat dia memberhentikan taksi dan meninggalkan toko buku tanpa masuk sedetik pun. Membeli buku? Tentu hanya alasan supaya bisa lebih dekat dengan Dirga. Ia kira Dirga benar-benar mulai memberi kesempatan untuk lebih dekat denganya tapi ternyata tidak, lelaki itu hanya memanfaatkannya untuk membuat Lengkara kesal.


“Liat aja, Ga! Kalo gue nggak bisa milikin lo, Kara juga nggak layak.” Batin Deva.


Dirga melirik paper bag berisi bapia cokelat pemberian ibu Sinta. Ia ingat betul tetangga depan rumahnya itu sangat menyukai makanan khas Jogja dengan rasa cokelat itu. Mommy nya sampai tak pernah absen membawakan makanan itu setiap kali ke Jogja.


“Maaf... maaf gue salah udah bikin lo nangis, Ra.” Ucap Dirga lirih. Dia masih belum menyadari kenapa setiap melihat Kara dekat dengan lelaki selain dirinya selalu sukses membuatnya kesal hingga tak bisa mengontrol emosi dan berakhir membuat gadis itu menangis.


Tak ada niat sedikit pun untuk membuat Kara sampai menangis, selama ini dia belum pernah melihat gadis itu menangis separah tadi. Paling mentok Kara hanya menangis karena rebutan jajan atau pernak pernik K-POP dengan Sasa, itu hanya bencanda. Tapi tadi? Serius, melihat Kara menangis membuat dirinya ikut sesak. Tatapan kecewa dan sedih yang mendalam membuatnya benar-benar merasa bersalah.


“Lo jangan ngambek yah, Ra. Gue bawain makanan kesukaan lo nih.” Batinnya.


Sampai di komplek rumahnya Dirga tak memasukan mobilnya ke rumah justru belok ke rumah Kara. Buru-buru dia mengambil paper bag dan masuk dengan santai seperti biasa. Ia sudah mulai ketularan Kara yang tak pakai salam langsung masuk saja, selain karena sedang buru-buru, dirinya juga mengkhawatirkan keadaan gadis itu sekarang.


“Dirga mau kemana kamu?” panggil mami Jesi.


Dirga yang sedang menaiki tangga jadi menengok, tak hanya mami Jesi tenyata di ruang keluarga itu ada papi Rama dan juga mommy nya yang sudah menatapnya dengan kesal.


Dirga memutuskan turun kembali untuk menyapa kedua orang tua Kara.


“Aku bawain makanan kesukaan Kara, Mi. Kebetulan orang tua temen aku dari Jogja terus aku dikasih oleh-olehnya nih.” Dirga menunjukan paper bag yang ia bawa.


“Temen yang mana? Temen cewek?” sela mommy Miya.


Dirga menatap binggung pada mommy nya yang tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba berubah jadi mode singa ngamuk.


“Mba jangan emosi dulu, kita belum tau duduk permasalahan yang sebenernya.” Mami Jesi mencoba menenangkan mommy Miya. Padahal sebelumnya dia juga sama, sedang dalam mode singa dan ingin mencakar calon mantu kurang ajar yang berani membuat putrinya nangis kejer, beruntung ada papi Rama yang bisa menenangkan dua perempuan itu.


“Kamu pulang saja dulu, Kara nya nggak mau ketemu siapa-siapa. Kamarnya aja di kunci.” Ucap mami Jesi.


“Tapi mam...”


“Pulang sebelum panci pink mami melayang ke kepala kamu, Dirga!” Teriak Jesi, sudah ditahan-tahan tetap saja pada akhirnya emosi Jesi meluap.


“Pulang!!” kali ini giliran Miya yang menarik telinga putranya dan membawanya keluar.


“Mom, sebenernya ada apa sih? Kenapa mommy sama mami pada marah sampe kayak gini?” tanya Dirga bergitu tiba di rumahnya.


“Kenapa kamu malah tanya ke mommy? Kan kamu yang bikin semuanya jadi kayak gini!”


“Kamu pasti seneng kan sekarang calon mantu mommy udah mundur dan minta perjodohan kalian dibatalkan."


“Maksud mommy apa?”


“Perjodohan kalian batal. Puas kan kamu!” sentak Miya.


“Ya puas, mom. Puas sekali, akhirnya Dirga bisa lepas dari Kara yang kerjanya bikin ribet.” Balas Dirga. Dia benar-benar lelah, sepanjang jalan mencoba menekan emosinya karena tak tega melihat Kara bersedih eh sampai rumah mommy nya terus menyalahkannya tanpa tau jika Kara yang memulainya lebih dulu.


“Dirga, kamu bener-bener yah! Mommy kecewa sama kamu!” Ucap Miya lirih kemudian berlalu meninggalkan putranya yang masih duduk di sofa ruang tamu.


“Mom... mommy...” Dirga menjambak rambutnya saat mommy nya mengabaikan dirinya begitu saja.


“Arrgh!! Kenapa lo bikin semuanya jadi ribet sih, Ra!”