
“Kenapa gue mesti ijin sama lo, Ga? Papi sama mami aja nggak ngelarang gue kok.” Kara tak mau kalah, meski hatinya sudah ketar-ketir tak karuan tapi ia memberanikan diri balas menatap Dirga.
“Ya karena lo tuh...”
“Karena gue tuh apa? adek lo, kayak micin gitu?” Sela Kara.
“Gue nggak pernah punya abang, Ga. Gue anak pertama.” Tegasnya kemudian berlalu meninggalkan Dirga.
Dengan langkah membelakangi Dirga, hatinya benar-benar ketar ketir tak karuan meski kedua sahabatnya memberikan acungan jempol. Selvia dan Dia langsung merangkul Kara begitu tiba di depan mereka.
“Keren banget, Ra. Ini baru bestiee gue.” Puji Selvia.
“Gue nggak nyangka Ra, lo bisa kayak gitu sama Dirga. Biasanya selalu nemplok mulu, eh sekarang bisa juga cuek. Berasa mimpi deh liatnya.” Sambung Dila.
“Aw aw sakit Selpot!” Keluh Dila begitu Selvia mencubit lengannya.
Gadis dengan style paling dewasa sekaligus yang mengaku sudah khatam soal percintaan itu terbahak, “supaya lo sadar kalo sekarang lagi nggak mimpi. Di bawah bimbingan gue, pasti si bucin akut ini bisa sembuh.”
Selvia kian mengeratkan rangkulannya pada Kara “gue jamin Ra, kalo lo nurut sama gue dan lakuin semua yang gue ajarin, My Dirgantara lo itu bakal mati-matian ngejar lo.”
“Gitu yah?” ucap Kara lirih. Tak bisa dipungkiri meski sudah melakukan semua yang diajarkan Selvia, tetap saja hatinya gundah gulana. Bagaimana jika Dirga benar-benar marah dan balas menjauh darinya? Ditempel terus aja selalu masa bodoh dan cuek sedang sekarang harus dijauhi. Bagaimana kalo dia dan Dirga kian menjauh. Ah entahlah.
“Kenapa mendadak melehoy kayak gitu, Ra?” tanya Selvia, perubahan ekspresi wajah sahabatnya itu jelas terlihat. “Jangan bilang kalo lo lagi mikirin Dirga lagi?” tebaknya kemudian.
Kara hanya meniup poninya dengan hembusan nafas kasar kemudian berdecak lirih.
“Nggak usah over thinking deh, Ra. Percaya sama gue oke?” Selvia berusaha meyakinkan bestiee nya yang mudah oleng itu.
“Gue tau ini nggak mudah, Ra. Apalagi lo nya udah sebucin itu sama Dirga. Tapi Dirga emang harus diginiin, dicuekin biar sadar. Kalo lo tempel terus dia nggak bakal sadar-sadar sama perasaannya. Lo tuh harus manasin dia, sepanas mungkin. Kalo bisa sampe meledak sekalian.”
“Tau ih! Jangan oleng dong, Ra. Barusan udah keren banget, udah setengah jalan tinggal lanjut dikit lagi deh.” Sambung Dila.
“Kalo Dirga makin jauh gimana? Kalian mau tanggung jawab?” Kara menatap kedua sahabatnya bergantian.
“Nggak bakal, Ra. Gue jamin!” balas Selvia penuh keyakinan.
“Tuh udah dijamin sama Selpot. Sekarang kita ke lapang basket aja yuk! Liat yang bening-bening.” Ajak Dila.
Mereka bertiga pergi ke lapang basket menuruti keinginan Dila. Semenjak kedatangan Tama, lapang basket jadi selalu ramai. Meski sebelumnya selalu ada yang bermain di sana entah sekedar iseng atau mengisi jam-jam kosong tapi tak pernah seramai sekarang, jarang sekali yang menonton. Tapi kali i ni, keramaian yang biasanya terjadi di kantin berpindah ke lapang basket, siswi-siswi berkumpul di sana sambil berteriak histeris pada sosok siswa baru yang penuh pesona, Pratama Arhan.
Dila selalu jadi yang paling heboh diantara mereka bertiga. Dila selalu berteriak setiap Tama berhasil mencetak angka. Selvia tampak biasa saja, gadis itu memang tak tertarik dengan lawas jenis yang seusia secara pacarnya saja mahasiswa jadi melihat siswa sekeren apa pun bagi Selvia biasa saja. sedangkan Lengkara? Jangan ditanya, hanya raganya yang ada di lapang basket tapi jiwanya menerawang jauh menerka-nerka apa yang sedang dilakukan Dirga.
Sama halnya dengan Lengkara yang sedang memikirkan Dirga, lelaki itu juga sedang bingung dengan pemikirannya sendiri. Kalimat terakhir yang diucapkan Kara benar-benar membuatnya berpikir berulang kali.
Kenapa gue mesti ijin sama lo, Ga? Papi sama mami aja nggak ngelarang gue kok.
Karena gue tuh apa? adek lo, kayak Sasa gitu?
Gue nggak pernah punya abang, Ga. Gue anak pertama.
“Dirga...” panggil Deva lirih yang duduk tepat di sampingnya. Karena Dirga tak bergerak sama sekali akhirnya Deva menyenggol lengan Dirga dengan keras “Dirga!”
“Hah iya apaan?” Dirga sedikit gelagapan.
Deva tak menjawab, dia hanya menunjuk dengan matanya supaya Dirga melihat pada bu Dini yang tampak kesal karena penjelasan panjang lebarnya diabaikan.
“Kamu dengerin ibu ngomong dari tadi tidak?”
“Maaf bu.” Ucap Dirga.
Ini pertama kalinya Dirga merasa mempermalukan dirinya sendiri di depan rekan-rekan sekaligus pembina mereka. Selama ini dia selalu fokus dan menjadi kebanggaan guru, tapi hari ini otaknya benar-benar sedang tak bisa di ajak kerja sama. Sudah berulang kali mencoba memfokuskan diri tapi tetap saja lagi-lagi mentok ke ucapan terakhir Kara sekaligus perubahan sikap gadis itu yang begitu berbeda.
“Kamu ada masalah? Baru kali ini ibu lihat kamu tidak fokus.” Tanya bu Dini.
“Tidak, bu. Maaf tadi memang kurang fokus.”
“Kalo ada masalah kamu bisa konsultasi sama ibu atau bu Irma.” Dirga mengangguk setuju dan mereka melanjutkan rapatnya.
Rapat OSIS itu berlangsung cukup lama, meski pikirannya belum sepenuhnya fokus tapi Dirga berusaha sebaik mungkin. Dia cukup mendengarkan dan meminta Deva mencatat hal-hal penting yang menjadi agenda mereka ke depan.
“Oke, ibu kira sudah jelas agenda kegiatan kita ke depan. Terimakasih untuk kerjasama yang baik dan solid selama ini.” Ucap bu Dini menutup rapat.
“Dirga sama Deva abis ini ikut ibu ke ruang guru. Ada yang mau ibu bicarakan dengan kalian.” Dirga dan Deva mengangguk penuh hormat dan mengikuti bu Dini ke ruang guru.
Perbincangan mereka di ruang guru tak terlalu lama. Kedua siswa itu berulang kali mengangguk mengiyakan setiap ucapan bu Dini. “Jadi gimana kalian tidak keberatan? Ini mungkin akan sedikit merepotkan.”
“Saya tidak keberatan bu, apalagi kalo bareng Dirga.” Jawab Deva.
“Kamu gimana Dirga?” tanya bu Dini.
“Saya juga tidak keberatan bu.” Jawab Dirga.
“Baik kalo begitu kalian bisa mulai hari ini yah.”
“Iya bu.” Jawab Deva dan Dirga kompak. Keduanya kemudian berlalu meninggalkan ruang guru.
“Ga, gue ambil tas dulu yah.” Ucap Deva.
“Iya. Gue tunggu di parkiran aja yah.” Balas Dirga.
Sepanjang jalan ke parkiran pikiran Dirga tak lepas sama sekali pada Kara. Dia mulai merasa ada yang kurang saat gadis itu tak terus-terusan mengganggunya.
“Lo kemana sih, Ra? Udah tiga jam lima puluh menit nggak liat lo.” Batinnya.
Tak lama senyum samar Dirga terlihat saat tak sengaja melihat Kara baru saja keluar dari lapang basket, tapi tak sampai lima detik senyum itu menghilang tak kala melihat Tama yang menyusul Kara, lelaki itu berjalan di belakang Kara dan teman-temannya.
"CK! ngerusak pemandangan aja!" gerutunya.