Always Loving U

Always Loving U
From the past until now



“Dimakan Kara sayang, nanti keburu dingin.” Dirga mengaduk bakso milik Kara. “Apa mau gue suapin hm?” tawarnya.


Kara mulai mendongakkan wajahnya, di sekitar mereka banyak siswa yang masih memperhatikan dirinya dan Dirga. Malu, Kara kembali menunduk saat teman-temannya mulai meledeknya dengan berteriak cie...cie... tak berkesudahan sambil mengarahkan camera pada dirinya. Bisa Kara jamin mereka pasti mengabadikan momen ini bahkan mungkin kini vidionya sudah menyebar luar di kalangan anak Persada.


“Aaaa” Dirga dengan santainya menyuapkan bakso kecil ke bibir Kara.


“Buka mulutnya gue suapin nih... pake ekstra cinta pasti lebih enak.” Lanjutnya.


Kara tak membuka bibirnya malah menjauhkan sendok itu dari hadapannya. “Malu, Ga.” Ucapnya lirih.


“Tumben malu? Biasanya juga malu-maluin.” Balas Dirga seraya memasukan bakso ke dalam mulutnya. Yang diajak bicara sontak cemberut, baru juga ada manis-manisnya eh udah mulai pait lagi.


“Jangan cemberut gitu sayangnya Dirgantara.” Ucap Dirga, tangan kanannya meletakan sendok dan beralih mengelus sayang puncak kepala Kara.


“Wahai warga Persada dimohon membubarkan diri sekarang juga, karena calon istri ketua OSIS katanya malu kalo makan diliatin sama kalian.”Dirga berdiri dan membubarkan siswa yang berkerumun di mejanya. Kara jadi semakin malu akan sikap Dirga yang berlebihan.


“Habisin baksonya mereka udah bubar kok.”


“Lain kali jangan kayak gini lagi, malu.” Ucap Kara.


Setelah menghabiskan makanannya Dirga tak membiarkan Kara kembali ke kelasnya sendiri, meskipun ada Dila dan Selvia yang membersamainya. Dia terus mengikuti Kara, bahkan saat Kara ke toilet saja diantar dan dengan setia menunggu di depan. “Udah? Yuk gue anterin ke kelas lo dulu.”


“Nggak usah,Ga. Gue bisa sendiri kok, lagian ada Dila sama Selvia.”


“Nggak apa-apa udah gue anterin aja, nganterin calon istri sampe kelas kan nggak dosa. Sekalian biar tuh cowok tau kalo kita udah balikan. Biar nggak deket-deket sama kesayangan gue lagi.” Ucap Dirga.


Dila dan Selvia yang mengikuti mereka dari belakang hanya geleng-geleng kepala sambil mencibir.


“Ck! Lemes bestiee... punya pacar nggak satu sekolahan. Payah, nggak bisa ayang ayangan.” Ucap Selvia.


“Apalagi gue bestiee.... lemes pake banget! Soalnya nggak punya ayang.” Sambung Dila sambil terbahak, menertawakan dirinya sendiri. “cabut yuk Sel! Kalo perlu kita beli tiket ke mars aja, gimana? Soalnya dunia Cuma milik Kara sama Dirga, yang lain nggak tau tuh dianggap ngontrak atau mahluk tak kasat mata.” Imbuhnya.


Di depan sana Dirga jadi tertawa mendengar ocehan kedua sahabat calon istrinya. “jangan dengerin mereka. Mereka tuh cuma iri sama kita. Nggak pada punya ayang.”


“Semangat belajarnya yah sayangnya gue. Nanti pulang sekolah kita jalan, kemana pun yang lo mau.” Ucap Dirga.


“Dirga!”


“Iya sayang.” Jawabnya.


“Kamu ngeledek ibu apa gimana Dirga? Ibu perhatikan dari tadi kamu hanya senyam senyum nggak jelas!” sentak bu Dini, “sekalinya ngejawab malah bilang sayang?” Bu Dini menjewer telinga Dirga, sekelas berakhir gaduh karena insiden itu. Sejak kembali dari toilet tadi bukannya semakin fokus Dirga justru terlihat aneh. Senyam senyum tak jelas dan mengacak-ngacak rambut teman sebangkunya.


“Tidak, bu. Maaf sepertinya saya sedang tidak konsen.” Ucap Dirga kikuk, ia jadi bingung sendiri dan reflek menggaruk rambutnya yang sama sekali tak gatal.


“Sekali lagi kamu ulangi, ibu keluarin kamu dari kelas.” tegas bu Dini.


“Iya, bu. Maaf.” Ucap Dirga. “Lo juga, Rif! Kenapa nggak ngasih tau gue kalo bu Dini manggil?” sewotnya pada Arif, teman sebangkunya.


Arif hanya tertawa, “Abis lo lucu, Ga. Senyam senyum sendiri sambil ngelus-ngelus tangan sama rambut gue. Jangan bilang kalo lo suka sama gue.” Ledeknya.


“Gila! Nggak waras lo. Gue masih normal!” sewotnya.


“Dirga!” panggil bu Dini dari depan sana “masih ribut aja, kamu ibu keluarin. Keluar sekarang!”


“Tapi bu...”


“Keluar!!”


Dirga beranjak dari duduknya dan keluar dari kelas. Dia berdiri di depan kelas, bersandar di dinding sambil membuka ponselnya. “Malu-maluin! Seumur-umur baru kali ini gue dikeluarin dari kelas. Gara-gara ini otak kejauhan mikirin Kara.”gumamnya.


“Gila! Gila banget sumpah. Kok bisa gue jadi kebawa halu kayak tuh bocah. Mesti bener-bener gue susulin itu bocah ntar dah.” Lanjutnya.


Saat jam istirahat tiba Dirga pergi ke kantin, tak seperti yang ada dalam bayangannya, dimana ia datang lebih dulu dan memesankan makanan untuk Kara, ternyata gadis itu justru sudah datang lebih dulu. Kara tak hanya bersama dengan Dila dan Selvia, dibangku itu ada Tama yang duduk tepat di samping Kara.


“Gue denger-denger lo dikuarin dari kelas, Ga?” tanya Dila, si yang paling update terkait berita all about SMK Persada. Lebih tepatnya bukan berita sih tapi gosip yang paling fresh, karena gadis itu tergabung dalam aneka grup ghibah. Banyak yang jadi korban ghibah tentunya,tak hanya siswa tapi guru killer dan menyebalkan sering mereka bahas di grup unfaedah yang konon fungsinya untuk mencurahkan unek-unek yang tak mungkin dikatakan kepada orangnya secara langsung.


“Sensi bener tetangga lo, Ra.” Sambung Selvia.


“Kenapa sampe dikeluarin?” tanya Kara, “bukannya itu jam nya bu Dini yah? Pembina OSIS kan? Bisa-bisanya sampe dikeluarin.” Cerocosnya.


“Nggak apa-apa, Ra. Cuma otak gue aja lagi nggak singkron, nggak fokus bawaannya mikirin seseorang terus.” Jawab Dirga. “Lo bisa jauhan dikit nggak sih duduknya! Risih gue liat lo deket-deket Kara.” Lanjutnya pada Tama.


“Suka-suka gue dong, dia aja nggak keberatan.” Balas Tama.


“Mikirin siapa sih sampe di keluarin?” tanya Kara.


“Mikirin gue yah, Ga?” sambung Deva CS yang duduk di sebelah meja mereka. Dia menghampiri Dirga dan berdiri di samping meja. “Pulang sekolah jadi kan? Kali ini harus berhasil.” Lanjutnya.


“Gue usahain.” Balas Dirga seraya mengangguk.


Deva tersenyum senang pada Kara yang menanggapinya dengan datar. Gadis itu kemudian berlalu meninggalkan kantin dengan kedua temannya. “kalo gitu kita duluan, ntar pulangnya gue tunggu di parkiran oke.”


“Boba halalin nya, Ga.” Kara mendorong satu cup besar minuman ke hadapan Dirga.


“Ra, tunggu!” Dirga ikut beranjak dan menghalangi Kara yang hendak pergi, “ada yang perlu gue omongin ke lo.”


“Mau ngomong apa? Mau bilang kalo setelah gue batalin perjodohan kita lo bisa dengan mudahnya dapet pengganti gue gitu?” ucap Kara. “Eh lupa sejak awal lo emang nggak pernah nganggap gue. Kayaknya berteman emang nggak cocok buat kita, Ga.” Lanjutnya dengan meninggikan suara. Mau ditahan bagaimana pun dia punya batas, Kara memang tak pernah baik-baik saja jika melihat Dirga dan Deva.


“Dengerin gue, Ra! Jangan pergi dulu.” Ucapnya tak kalah keras hingga atensi penghuni kantin siang itu mengarah pada mereka. Dirga menahan kedua bahu Kara dan menatapnya lekat-lekat.


“Lo jangan kasar sama cewek, Ga!” bentak Tama yang ikut beranjak dan berusaha menyingkirkan tangan Dirga dari bahu Kara.


“Lo jangan ikut campur. Duduk!” balas Dirga. Selvia menarik Tama supaya kembali ke tempatnya, sementara Dila sudah stay dengan ponselnya. Zaman sekarang ada rame-rame dikit wajib didokumentasikan, kali aja FYP.


“Lengkara Ayudhia, tetangga gue, calon istri gue... meskipun lo bilang perjodohan kita batal tapi sejak mami ngenalin lo sebagai future wife gue empat belas tahun yang lalu, sampe detik ini lo tetep calon istri gue.” Ucap Dirga.


“Ck! Gue nggak percaya. Pasti diancam mommy kan makanya ngomong kayak gitu? Takut dikeluarin dari kartu keluarga Rahardian kan?”


“Ra, gue serius! Lo selalu yang paling utama buat gue.”


“Paling utama? Paling utama dari mananya coba? Tiap berangkat sekolah ditinggalin, tiap gue datang di cuekin, tiap waktu marah-marah nggak jelas. Terus terakhir lo jalan sama Deva, pake bukain pintu sama pasang seltbelt segala. Gue mana pernah digituin, Ga? Itu yang namanya paling utama?” Kara jadi meluapkan semua unek-uneknya.


“Please, jangan nangis. Gue sama Deva nggak ada hubungan apa-apa, yang waktu lo liat itu Cuma buat manasin lo aja karena lo deket-deket sama dia.” Dirga melirik Tama sekilas.


“Soal nyuekin lo tiap datang ke rumah gue, itu karena gue suka kalo lo cari-cari perhatian gue. Soal yang ninggalin lo, itu karena gue tau papi pasti bakal nganterin lo. Dan kalo lo telat kan gue jadi bisa lama-lama liat lo dari gerbang. Kerena liat lo nyapu daun mangga sambil misuh-misuh itu menggemaskan.”


“Ra, gue mesti gimana supaya kita bisa kembali kayak dulu hm?” tanyanya seraya menangkup kedua pipi Kara. Gadis itu hanya menatap sendu padanya. “gue nggak bisa kalo lo diemin, gue mau diribetin terus kayak dulu. Gue mau tiap pagi ada gadis berisik yang masuk rumah terus nebeng sarapan sambil cari-cari perhatian. Gue kangen Ra... kangen semua tentang lo.”


Dirga mendekatkan wajahnya pada Kara, menempelnya keningnya di kening gadis itu. Puluhan siswa yang ada di kantin jadi ketar-ketir dan berteriak heboh melihatnya.


“Lengkara Ayudhia, i always loving you from the past until now.”


Teriakan yang didominasi siswa perempuan saat Dirga mengecup kening Kara kian membuat suasana kantin makin heboh.


"Tolong bagi tiket ke mars... nggak kuat bestiee... melenyot liat mereka." teriak salah satu siswi.


Kara menatap bengong pada Dirga, dia benar-benar tak berkedip barang sekali pun.


"Jangan nyuruh gue buat nyubit lo, Ra. Ini bukan mimpi." ucap Dirga seraya membawa Kara dalam pelukannya.


.


.


.


gimana gimana? nggak jadi demo gara-gara di prank kan? wkwkwk😛😛 yang punya akun tik tok boleh dong difollow @netprofit2704 aku share info-info kaleng disana.