Always Loving U

Always Loving U
Asik, besok nikah.



“Kalian jangan ikut panik. Dirga nggak apa-apa.” ucap Miya saat Rama dan Jesi ikut menghampiri Dirga yang ambruk dan Kara yang nangis kejer di sampingnya. “Sayang, bawa anak kita ke kamarnya. Sasa ajak Kara ke kemar kamu, ganti bajunya” Lanjutnya pada Ardi dan putrinya.


“Nggak mau Mom. Kara mau sama Dirga.” tolak Kara. “Nanti kalo Dirga kenapa-kenapa gimana?”


“Ayo Kaleng! Ganti baju dulu. Kak Dirga nggak apa-apa kok, ntar juga hidup lagi.” Ucap Sasa.


“Sekata-kata lo, Cin! Calon laki gue belum mati kali.” Sewot Kara.


“Iya maksud Sasa ntar Kak Dirga juga sadar. Udah yuk ganti baju dulu, nanti boleh nyamperin Kak Dirga lagi."


Kara berdiri di belakang Sasa yang sedang memilah baju untuknya.


“Baju tidur yang ini aja nggak apa-apa, Kaleng?” Sasa memberikan setelan piama tidur berwana kuning dengan gambar chimy chimy yang lucu.


“Asal nggak telanjang aja lah, no problem.” Kara segera mengenakan baju yang diberikan Sasa tanpa banyak komentar. Pikirannya saat ini hanya ingin cepat-cepat menemui Dirga.


“Nggak usah buru-buru juga pakenya, Kaleng. Percaya deh sama Sasa, Kak Dirga nggak apa-apa.”


“Nggak apa-apa gimana? Lo nggak tau aja tadi tuh wajahnya dingin banget. Tangannya juga gemeteran.” Kara membuang handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut secara asal.


“Kaleng mau kemana? Sini dulu Sasa keringin rambutnya, nanti Kaleng malah ikutan sakit.” Sasa menarik Kara yang hendak keluar dan memaksanya supaya duduk di depan meja rias. Tangan terampilnya mengambil hair dryer dan mengerikan rambut Kara.


“Kata Mommy kalo abis ujan-ujanan tuh harus mandi dulu biar nggak sakit. Kaleng malah ganti baju doang.”


“Gue nggak apa-apa, Cin. Awas lah biarin gue ketemu Kakak lo!”


“Diem dulu. Kak Dirga nggak apa-apa, Kaleng. Mungkin sekarang juga udah sadar. Kak Dirga emang gitu, nggak kuat kena dingin kelamaan. Dulu juga pernah kejadian kayak gini, makanya mommy tetep tenang soalnya udah pengalaman. Ditambah lagi Kakak belum makan sejak nganterin kita jalan-jalan siang tadi. Sorenya juga nggak makan malah ngurung diri di kamar sejak Kaleng marah-marah.”


“Semua gara-gara gue yah, Cin. Kakak lo jadi sakit.” Ucap Kara lirih. Dirinya kian merasa bersalah karena bahagia saat Dirga membawanya hujan-hujanan padahal lelaki itu tau betul dirinya tak bisa kedinginan. “Gue mau ketemu Dirga sekarang!”


“Tapi Kaleng rambutnya belum kering itu.” pasrah akhirnya Sasa mengikuti Kara ke kamar kakaknya yang bersebelahan dengan kamarnya.


Semua orang ada di kamar Dirga. Lelaki itu terbaring lemah dengan selimut tebal yang menutup tubuhnya. Di tepi ranjang ada sang mommy yang mengopresnya dengan air hangat.


“Dirga...” panggil Kara lirih seraya mendekat ke ranjang, melihat itu Miya segera berdiri dan membiarkan calon mantunya duduk di samping Dirga.


“Hei... Jangan nangis gitu. Gue nggak apa-apa.” ucap Dirga, ingin sekali tangannya menyeka air mata di wajah Kara tapi tubuhnya terasa lemas tak berdaya.


“Tapi gara-gara gue, lo jadi kayak gini.”


“Bukan salah lo, Ra. Udah jangan nangis terus, gue nggak apa-apa.”


“Nggak apa gimana? Lo jadi kayak gini semua gara-gara gue. Kenapa nggak bilang sih kalo lo nggak bisa kedinginan? Mana pake baju basah lama banget, ujan-ujanan pula! Kenapa nggak bilang coba? Kan kita bisa nunggu hujannya reda tadi.”


“Karena lo suka hujan-hujanan, Ra. Gue cuma nurutin apa yang lo pengen, hujan-hujanan bareng gue kan?”


“Ya tapi nggak gini juga. Kalo lo mati gimana? Gue jadi janda dong, mana belum nikah.” Ucap Kara.


“Pokoknya jangan kayak gini lagi, mulai sekarang gue nggak suka hujan. Dia bikin lo jadi sakit.” Lanjutnya seraya memeluk Dirga.


Dirga terkekeh mendengarnya, “kenapa jadi nyalahin hujan sih... dasar!”


“Mana ada janda sebelum menikah, Ra. Lo tuh suka ngarang!”


“Pokoknya jangan sakit lagi, Ga.” ucap Kara seraya menatap wajah Dirga. tangannya masih setia mendekap tubuh lelaki yang terbaring lemah itu, tak peduli papinya sudah berdehem berulang kali sejak tadi.


Sama hal nya dengan Dirga, dia juga menikmati pelukan Kara. Apalagi bisa melihat wajah menggemaskan itu tepat di depan wajahnya, benar-benar membuatnya lupa jika di sekitar mereka masih ada orang lain. “Iya. Maaf lo malah liat gue yang lemah kayak gini.”


“Nggak apa-apa. Ntar gue kasih vitamin biar cepet sembuh. Kata Selvia vitamin ini manjur banget buat nyembuhin pasangan yang lagi sakit.” Kara sudah ancang-ancang untuk mencium bibir Dirga.


“Kara!” sentak Rama saat anak gadisnya mendekatkan bibirnya pada Dirga. Tangan pria itu langsung menjewer telinga putrinya hingga berdiri.


“Ya ampun lupa ada papi.” Ucap Kara lirih.


“Ini pi..pi.. aku nggak aneh-aneh yah Pi. Aku cuma diem, Kara yang mulai.” Ucap Dirga gugup “Papi lihat sendiri kan aku lagi nggak berdaya Pi.” Lanjutnya menyelamatkan diri.


“Iya kamu lagi nggak berdaya, kalo lagi sehat pasti langsung ikut berpartisipasi aktif!” kesal Rama.


“Papi nggak asik banget dah. Kayak nggak pernah muda.” Keluh Kara.


“Iya nih papi Rama nggak asik. Vidio Sasa jadi gagal deh, padahal tangan Sasa udah pegel nih dari tadi pegang HP. Kirain bakal sampe kiss kiss gitu mau Sasa abadiin, soalnya yang tadi pagi di rumah Kaleng ketinggalan Sasa nya, pas datang mereka udah selesai.” Celoteh Sasa.


“Keceplosan Sasa. Maaf...”


“Dah lah papi nyerah.” Rama memijit keningnya yang mendadak pusing. Punya anak perempuan kelakuannya bikin istighfar terus. “Kalian berdua pilih nikah kan? Ya udah besok pagi langsung nikah aja. Pusing, lama-lama papi bisa darah tinggi mikirin kalian berdua.”


“Seriusan besok pagi kita di nikahin, Pi?” tanya Kara.


“Iya. Dari pada kalian berdua nambah dosa terus.” Jawab Rama.


“Asik. Yes, besok nikah!” sorak Kara.


“Kamu nggak keberatan kalo anak kita nikah besok kan, Di?” tanya Rama pada Ardi.


“Nggak masalah, Bang. Asal sesuai sama yang pernah kita bahas sebelumnya, mengingat mereka masih sekolah.” Jawab Ardi.


“Iya, aku juga setuju sama hal itu.” balas Rama.


“Kalian berdua dengerin papi, terutama Kara. Nikah itu bukan main-main, rumah tangga adalah proses belajar seumur hidup yang nggak ada tamatnya. Papi harap pilihan menikahkan kalian berdua adalah yang terbaik.”


“Dirga, kamu tau betul Kara sangat kekanakan. Papi harap meskipun kamu masih muda tapi bisa membimbing Kara jadi lebih baik. Setidaknya kamu bisa lebih mengalah dan bersabar menghadapi dia. Belajarlah untuk jadi lebih dewasa bersama-sama.”


“Iya, Pi.” Jawab Dirga.


“Papi tanya sekali lagi. Kamu yakin akan menikahi Kara? Diusia kalian yang masih sangat muda bahkan belum lulus sekolah. Mungkin Kara akan banyak merepotkan kamu di masa depan, dia manja, egois dan tak mau kalah. Kamu bisa mundur sekarang jika tak yakin.”


“Ih Papi jangan jelek jelekin Kara dong!” Protes Kara dengan bibir manyunnya.


“Sayang, kamu diem dulu.” Sela Jesi.


“Tapi Mi...” Kara terpaksa bungkam saat Jesi meletakan jari telunjuknya di bibir. “Iya iya Kara diem.”


“Dirga, kamu belum jawab!” ucap Rama.


“Aku yakin, Pi.” Jawab Dirga.


Rama menghampiri calon menantunya dan menepuk pundak berselimut tebal itu. “Titip anak papi, jaga dia baik-baik. Cepet sembuh biar besok ijab kabulnya lancar.”


“Tenang aja, Pi. Besok ijab kabulnya pasti lancar. Di sekolah udah belajar soal ijab kabul kok. ya kan, Ga?” ucap Kara. “Nanti Kara ajarin Dirga buat ijab kabul deh. Sa, lo googling gih teks ijab kabulnya.” Lanjutnya pada Sasa.


Rama hanya memutar bola matanya jengah dan pergi meninggalkan kamar.


“Pi, Dirga tadi di tanya yang serius-serius kok papi nggak nanya sama Kara?” teriaknya.


Rama menoleh menatap putrinya, “buat apa papi nanya kamu, orang jawaban kamu udah ketebak. Ngebet banget pengen nikah! Awas aja kalo udah dinikahin dikit-dikit minta cerai!”


“Nggak bakal, Pi. Kara sama Dirga udah lope lope forever banget.” Jawab Kara.


“Terserah kamu lah. Papi sama mami tunggu di bawah, jangan lama-lama disini udah malem.” Ucap Rama.


“Siap, Pi. Kara cuma mau nyuapin Dirga aja. Kasihan ayang nya Kara belum makan dari siang.” Jawab Kara.


“Ya udah kalo Kara yang mau nyuapin, mommy sama daddy juga ke bawah aja. Sasa juga ayo! Jangan ganggu mereka.” Ajak Miya.


“Iya sana keluar. Ganggu aja!” usir Kara.


“Dasar! mentang-mentang udah mau nikah aja berani ngusir Sasa.” Balas Sasa. “Daddy tungguin!” teriak Sasa seraya menyusul Ardi yang keluar paling akhir.


“Daddy, Kak Dirga sama Kaleng beneran nikah besok?”


“Iya, sayang. Kenapa emang?” Ardi mengusak gemas rambut putri bungsunya.


“Enak yah mereka nikah padahal belum lulus sekolah. Kalo Sasa punya pacar terus sampe kiss kiss bakal dinikahin juga nggak, Dad?” tanya Sasa.


“Kalo Sasa berani kiss kiss, daddy bakal hapus Sasa dari kartu kelurga. Biar Sasa jadi gembel!” ancam Ardi.


“Ih daddy kok gitu? Nggak adil banget! Masa Sasa di suruh jadi gembel. Sasa juga pingin nikah Dad.” Rengeknya.


Ardi mencubit gemas kedua pipi putrinya. “kamu ini dasar bocah! Liat yang mau nikah pengen nikah. Liat orang pacaran pengen pacaran. Liat orang ganteng langsung bilang cinta. Heran deh daddy punya anak cewek gini amat. Perasaan dulu pas mommy kamu ngidam semua yang di minta udah di turutin, kenapa anaknya malah jadi gampang pengen ini itu.”


“Nih daddy kasih uang buat jajan besok. Nggak usah ikut-ikutan pengen nikah segala!” Ardi memberikan uang pecahan seratus ribu pada Sasa kemudian buru-buru pergi sebelum putrinya nyerocos makin jauh. Kadang Ardi berfikir kenapa putrinya bisa secerewet itu padahal dia dan Miya bukan tipe orang yang suka nyerocos tak jelas.