
Pulang dari rumah Kara, Dirga langsung mencari surat undangan dari bu Irma. Jika bukan karena diingatkan oleh Kara, ia tentu sudah lupa perihal surat undangan itu. Maklumlah baru kali ini dia memperoleh surat spesial itu.
Saat mengambil surat dari tasnya, Dirga menyadari ada sesuatu yang kurang di kamarnya namun ia mengabaikan hal itu dan memilih memberikan surat terlebih dulu.
Dirga menghampiri mommy dan daddy nya yang sedang bersantai di ruang keluarga. Biasanya ada Sasa juga, tapi malam ini gadis cerewet itu tak terlihat. Mungkin sibuk dengan drama on going, pikir Dirga.
“Mom, undangan rapat besok jam sepuluh.” Sesuai kesepakatannya dengan Kara, ia mengatakan jika itu undangan rapat wali murid.
“Rapat apa? bukannya rapat awal tahun ajaran udah yah minggu lalu?” tanya Miya.
“Aku kurang tau, Mom. Besok Mommy berangkat aja bareng Mami nya Kara.”
Mommy Miya menghela nafas dalam, ia bahkan tak jadi membuka surat undangan itu dan meletakkannya di meja. “Iya. Biasanya Mommy juga berangkat bareng Jesi kalo ada rapat d sekolah kalian. Tapi sekarang rasanya nggak enak kalo bareng Jesi. Anak Mommy ngeselin sih, udah bikin Kara nangis. Mommy kan jadi gimana gitu kalo ketemu Jesi.”
“Mom, aku sama Kara...”
“Udah nggak usah dilanjutin lagi!” sela Mommy Miya. “Mommy emang pengen banget Kara jadi mantu Mommy. Tapi kalo kamu nya nggak suka ya udah, nggak apa-apa. Nggak usah dibahas lagi, Mommy tau kok dijodoh-jodohin itu nggak enak.”
“Mom...”
“Udah, Ga. kamu ke kamar aja sana.” Sela Daddy Ardi. “Mommy kamu masih sedih perjodohan kalian batal. Tenang aja lambat laun semua bakal balik kaya dulu lagi.”
“Ya udah, aku ke kamar dulu.” Ucap Dirga.
“Ya, jangan lupa kunci pintu balkonnya. Takut ada maling masuk kayak di rumah Kara.”
“Siap, Dad.” Dirga hanya menahan senyum mendengarnya, tak tau saja Daddy nya jika maling di rumah Kara adalah putranya sendiri.
Tiba di kamar, Dirga mencari barang-barang Kara yang dikembalikan beberapa hari lalu. Pasalnya gadis itu meminta barang-barangnya di kembalikan lagi padanya, apalagi sweater pink nya mau dipake besok pagi ke sekolah.
“Oke ready semua tinggal kasihin ke Kara besok.” Ucapnya setelah meletakan paper bag berisi sweater tepat di samping tas sekolahnya.
Belum naik ke atas ranjang untuk mengistirahatkan diri, Dirga merasa ranjangnya begitu kosong. “anak gue ilang!” ucapnya setelah menyadari Dirdiran, si pink boneka jumbo itu tak ada di sana. Padahal tadi sebelum ke rumah Kara boneka itu masih ada di ranjang bahkan ia selimuti supaya tak kedinginan. “bisa ngambek Kara kalo tau Dirdiran ilang, mana besok harus dibalikin lagi.”
Dirga meninggalkan kamarnya, tujuan kini tentu kamar seseorang yang begitu menginginkan boneka yang sama seperti milik Kara.
“Sa, lo liat boneka gue nggak?” ucapnya begitu masuk ke kamar adiknya.
“Ngapain sih kak masuk kamar Sasa segala? Boneka apaan? Emang kakak punya boneka? Sasa nggak tau.” Jawab gadis yang sedang asik menatap layar ponsel sambil bersandar pada boneka jumbo warna pink.
CK! Dirga berdecak pelan dan menghampiri adiknya. “Nggak tau-nggak tau! Ini apa nih?” Dirga menarik Dirdiran.
“Punya Sasa!”
“Tapi kata Kaleng boleh buat Sasa, Kak! Lagian Kakak sama Kaleng kan udah baikan, anggap aja ini hadiah buat Sasa.”
“Justru karena gue udah baikan makanya ini boneka mau dibalikin ke Kara. Udah ah jangan ribet! Besok gue beliin boneka apa pun yang lo mau.” Balas Dirga tak terbantahkan. “Udah lo tidur gih. Jangan maen HP mulu udah malem, besok sekolah!” lanjutnya sebelum meninggalkan kamar Sasa.
Setelah mengamankan Dirdiran, Dirga memutuskan untuk menelpon Kara sebelum tidur. Gadis itu justru merubah panggilan menjadi vidio call. Lama keduanya berbicara hingga lewat tengah malam dan tertidur tanpa mengakhiri panggilan.
Pagi harinya Dirga nyaris kesiangan jika bukan karena Sasa yang membangunkannya untuk sarapan.
“Dirga kamu nggak sarapan dulu?” teriak mommy Miya saat putranya nyelonong pergi tanpa berpamitan. Belum terlalu siang sebenernya, namun karena tugasnya yang mengharuskan ia hadir lebih dulu dari siswa lain membuat Dirga harus berangkat lebih awal.
“Sarapan di sekolah aja, Mom. Aku berangkat dulu.” Ucap Dirga yang menyempatkan ke ruang makan untuk menyalami kedua orang tuanya.
“Jangan lupa rapat nanti, Mom.” Ucapnya mengingatkan.
“Ya ampun hampir kelupaan.” Dirga memutar balik motornya setelah berlalu meninggalkan rumah, “jemput Kara dulu.”
“Gue kira mau ditinggalin loh.” Ucap Kara lirih saat Dirga kembali di depan gerbangnya. Saat hendak menuju rumah Dirga tadi Kara melihat calon suaminya itu memacu motornya begitu cepat tanpa melihat ke arahnya sedikit pun, padahal dia sudah melambaikan tangan sambil tersenyum semanis mungkin.
“Sorry, Ra. Hampir lupa jemput calon istri, udah mau telat soalnya.” Jawab Dirga.
“Kebiasaan sering ninggalin sih.” Ucap Kara.
“Iya, maaf. Mulai sekarang kan nggak bakal ditinggal lagi. “ balas Dirga.
Sampai sekolah Dirga seperti biasa melakukan tugasnya membantu bu Irma. Kara juga tak langsung pergi ke kelas, dia memilih duduk di depan pos satpam karena Dirga yang tak memberi izin. Katanya sih supaya tetep bisa melihat Kara, alhasil keduanya hanya saling melempar pandangan dan balas tersenyum beberapa kali, membuat bu Irma hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap keduanya.
Setelah bel berbunyi tak ada pilihan lain, mau tak mau Dirga harus membiarkan Kara pergi ke kelasnya. “Jangan deket-deket dia, gue nggak ngasih izin.” Ucapnya saat Kara berpamitan ke kelas lebih dulu.
"Deket-deket sama siapa?" tanya Kara.
"Jangan pura-pura nggak tau!" Dirga mencubit gemas kedua pipi Kara membuat beberapa siswa di sekitar mereka berteriak melihat interaksi keduanya. Menggemaskan.
"Dirga, Kara!! sekolah tempatnya belajar, bukan pacaran! Bubar kalian." sentak bu Irma yang membuat Kara seketika kabur menuju kelasnya.
.
.
.
dua part nih.. komen next sama like dulu sebelum lanjut!!