Always Loving U

Always Loving U
Tanpa Ijin



“Tinggal bilang lope-lope Lengkara, jadian, lamaran, nikah deh. Masa gitu doang kakak nggak bisa?”


Dirga berjalan menghampiri adiknya yang membeo dengan begitu renyah, “Bocil kayak lo nggak usah sotoy!” satu sentilan mendarat di kening Sasa hingga gadis itu cemberut dan menatap kesal padanya.


“Lah KDRT Kak Dirga nih!” tak mau kalah Sasa menginjak kaki kakaknya.


“Dibilangin bukannya langsung praktek malah ngamuk.” Lanjutnya yang melengos ke dapur untuk mengambil camilan.


“Nggak usah so ngajarin deh, lo sama gue aja lahirnya duluan gue!” cibir Dirga yang ternyata mengikutinya ke dapur.


“Lahir boleh duluan kak Dirga tapi soal lope-lope Sasa lebih tau.”


“So tau tapi jomblo.” Ejek Dirga.


“Sasa nggak jomblo kali, Kak. Cuma belum nemu yang pas aja. Kalo Sasa mau nih yah, dari zaman SD aja yang mau jadi pacar Sasa banyak. Huh kalo disuruh baris kayaknya halaman rumah kita nggak cukup deh.” Gadis yang sedang menuang jus jambu itu berucap dengan bangganya.


“Kemaren aja nih yah pas MPLS masa ketua OSIS nya nembak Sasa, Kak. Katanya Sasa manis, rame juga ngomong mulu.”


Dirga yang sedang meneguk jus jeruk auto tersedak mendengar celotehan adiknya, dia buru-buru meletakan gelasnya dan mengelap bibirnya dengan lengan kaos yang ia kenakan.


“Lo bilang apa barusan? Pasti itu ketos sekolah lo pandangannya blur sampe ngatain lo manis.”


“Emang aslinya Sasa manis kok. Pokoknya nanti Sasa mau cari cowok sebanyak-banyaknya.”


“Mau jadi playgirl lo? Nggak usah macem-macem, sekolah yang bener. Kalo lo deket sama cowok selain Ridwan mesti lapor sama gue.”


“Males ah, Kak Dirga nggak asik.” Sasa berlalu meninggalkan lelaki jangkung yang menghela nafas panjang di belakang sana.


“Punya adek dua nggak ada yang waras. Lengkara sama Sasa bener-bener bikin gue kesel terus!” batin Dirga.


“Wah udah hampir selesai aja, Kaleng? Cepet banget.” Puji Sasa begitu masuk kamar, calon kakak iparnya itu sedang memasukan barang-barang ke dalam ransel. Dari mulai baju yang di gulung-gulung hingga benda lain yang diatur sedemikian rupa hingga ransel itu mampu menampung semua barang bawaan Sasa.


“Tadi sama Sasa setengahnya aja nggak masuk loh.” Sasa ikut memberikan peralatan sholat yang sengaja di taruh paling atas, kata Kara supaya mudah diambil.


“Tadi pasti Sasa ngelipetnya kurang rapi, makanya nggak masuk semua.” Balas Kara.


“Si Sasa boro-boro ngelipet baju sampe rapi, ngelipet selimut tiap pagi aja dia nggak bisa.” Dirga nyelonong masuk dengan santainya dan duduk di ranjang Sasa, tepat di sebelah Kara yang sedang menutup ransel.


“Apaan sih Kak Dirga main nyambung aja. Ngapain juga Kakak ke kamar Sasa? Biasanya juga jarang kesini.”


“Gue mastiin aja, kali aja lo butuh bantuan. Ya nggak, Ra?” ucap Dirga.


“Udah selesai semua, gue balik yah Cin?” pamit Kara tanpa menoleh sedikit pun pada Dirga.


“Buset masih cuek aja ini bocah.” Batin Dirga yang ucapannya sama sekali tak ditanggapi Kara sedari tadi.


“Nggak makan camilan dulu, Kaleng? Ini udah Sasa bawain loh.” Sasa menunjuk nampan penuh makanan ringan dan jus jambu yang ia bawa.


“Lain kali aja, Cin. Udah sore, bentar lagi papi pulang. Gue balik dulu deh.” Pamit Kara.


“Tumben buru-buru pulang, biasanya aja di suruh pulang susah. Main aja dulu toh rumah lo cuma di depan. Deket.” Ucap Dirga.


“Kara!”


“Lengkara!” panggil Dirga saat gadis itu beranjak pergi tanpa berkomentar.


“Jangan teriak-teriak di kamar Sasa, Kak. Berisik tau! Tinggal kejar aja terus peluk dari belakang pasti semua masalah kelar deh. Liat Kaleng sama kak Dirga tuh childish banget, bikin Sasa pusing.”


“Ngomong sama lo nggak ada abisnya!” ketus Dirga kemudian meninggalkan kamar adiknya.


Keluar dari rumah Dirga senyum kecil di bibir Kara sedikit terlihat, dia sedikit tenang karena tenyata apa yang dikatakan Selvia benar. Dirga yang biasanya mengacuhkannya tiap ke rumah jadi berbalik mau menyapanya terlebih dulu bahkan sampai bela-belain masuk ke kamar Sasa.


Pagi harinya Kara sudah bersiap dengan seragam sekolahnya dan rencana yang sudah ia susun sedemikian rupa bersama Selvia beserta Dila tentunya. Semalam sampai jam sebelas Selvia memberikan ceramah panjang lebar terkait hal yang boleh dan tidak boleh ia lakukan. Hingga akhirnya Kara bisa dengan mantap menerima saran Selvia untuk lebih cuek lagi pada Dirga.


Kara keluar kamar bertepatan dengan Ridwan yang juga baru saja keluar dari kamarnya dengan ransel besar di punggung.


“Cie yang mau kemah, ntar malem perlu gue kirim makanan nggak?”


“Ck! Apaan sih? Emangnya gue anak TK pake di kirim makanan segala!”


“Ya kali aja. Biar sekalian gue bisa jalan malem gitu nengokin lo yang kemah.”


“Nggak perlu. Gue bukan lo yah, yang kemah semalem doang minta di tengok papi sama mami malem-malem.” Keduanya terus adu mulut sampai tiba di meja makan.


“Loh papi kok belum siap-siap? Nggak kerja, Pi?” tanya Kara yang baru saja duduk di meja makan.


“Papi kamu meriang. Masuk angin itu naik motor kemaren. Semalem pulangnya juga keujanan, jadi meriang.” Jawab mami Jesi yang baru saja meletakan masakannya ke meja makan.


“Itu karena papi naik motornya sendirian sih, coba sama mami pasti nggak meriang deh. Malah uwuw so sweet... apa lagi sambil hujan-hujanan.” Ucap Kara.


“Ngawur kamu. Yang ada mami ikut meriang juga.” Balas Rama.


“Ya nggak lah, Pi. Kara malah pengen hujan-hujanan naik motor bareng Dirga, belum kesampean sampe sekarang. Padahal Kara pengen uwuw-uwuwan loh.”


“Nggak udah ngaco masih pagi. Sarapan terus berangkat sekolah, jangan sampe kesiangan.” Ucap Rama.


“Ridwan, kamu berangkat sama Sasa aja. Dia anterin ayahnya, papi udah bilang ke Ardi. Bawaan kalian banyak.” Lanjutnya.


“Iya, Pi.” Balas Ridwan.


“Ririiiiid... ayo berangkat!” belum selesai mereka sarapan suara cempreng Sasa sudah memenuhi rumahnya. Gadis itu muncul bersama Dirga di belakangnya.


“Supir udah ready nih.” Sasa menunjuk kakaknya. “tolong itu ranselnya dibawain!” selanjutnya Sasa menunjuk ransel Ridwan yang ada di samping kursi.


“Buruan berangkat deh, sarapannya lanjut di mobil aja. Sekolah kita nggak satu arah, takut telat.” Ucap Dirga.


Ridwan, Sasa dan Dirga berpamitan penuh hormat pada Jesi dan Rama sementara Kara masih santai melanjutkan sarapannya.


“Lo berangkat bareng gue, Ra. Papi lagi sakit nggak bisa nganterin lo.” Ucap Dirga.


“Udah berangkat sana rame-rame.” Ucap Rama. Karena si papi sudah memerintah maka Kara tak bisa menolak. Kara menyalami kedua orang tuanya dan keluar menyusul Dirga.


Dirga bersorak dalam hati, akhirnya bisa berangkat bersama Kara. Tak sia-sia dia mengajukan diri untuk mengantar Sasa dan Ridwan, karena selain itu tak ada alasan dirinya untuk mendatangi rumah Kara apalagi mengajaknya berangkat bersama. Huh pokoknya jangan sampe adik kesayangannya itu tersentuh oleh Tama karena Dirga yakin lelaki itu pasti akan terus mendekati Kara.


Tin... tin.. Brio hitam baru saja masuk ke halaman rumah Kara. Tuh kan benar firasat Dirga, baru saja membatin eh itu anak udah nonggol aja.


“Pagi Bang...” sapa Tama begitu turun dari mobil dan menghampiri mereka berempat. Dirga tentu sudah menatap kesal, Sasa matanya berbinar terpesona hingga tak berkedip sama sekali, Ridwan tampak acuh dan masa bodoh sementara Kara tersenyum ramah pada Tama.


“Sorry maksud gue Dirga.” Ralat Tama cepat.


“Ngapain pagi-pagi kesini?” seperti biasa nada bicara Dirga tak pernah ramah pada Tama.


“Jemput Kara. Gue ijin nganterin dia boleh kan?”


“Nggak gue ijinin. Kara berangkat bareng gue!”


“Gue berangkat bareng Tama aja. Yuk!” Kara menggandeng tangan Tama dan mengajak lelaki itu ke mobilnya.


“Pamit yah, bang. Duluan.” Tama tersenyum puas dan melambaikan tangan.


"Lengkara!!" teriak Dirga, "gue nggak ngasih ijin!!" namun gadis itu sudah masuk ke dalam mobil Tama dan hanya melambaikan tangannya, tak peduli tatapan penuh kekesalan yang diarahkan Dirga padanya.