
“Mana mereka berdua? Kenapa jam segini masih belum turun?” Rama melihat jam di tangan kirinya, sudah pukul tujuh tiga puluh tapi Kara dan Dirga masih belum bergabung di meja makan.
“Hari libur Pi, si santen pasti males-malesan.” Jawab Ridwan yang masih memainkan ponselnya mesti sarapannya sudah di depan mata.
“Ya biarin aja sih, Karam. Mereka pasti lagi nikmatin hari libur, males-malesan dikit nggak apa-apa. Kasihan kan abis ujian kemaren. Lagian sensi banget dari semalem nanyain Kara mulu, kenapa sih?” Jesi meletakan kopi yang ia buat untuk Rama. Ia jadi ikut kesal karena suaminya terus uring-uringan tidak jelas sejak tadi malam.
“Mau nyuruh mereka ke rumah sakit. Harus diperiksa!”
“Dirga? Dia bilang nggak apa-apa. Paling masuk angin kebanyakan gadang belajar itu anak. Kayak Kara waktu itu.” Jelas Jesi.
“Tapi, Jas-“
“Udah Karam sarapan aja, nih aku ambilin. Katanya mau ke kantor lembur sama Karak kan? Sarapan aja nggak usah mikir jauh-jauh menantu kita nggak apa-apa, nggak punya penyakit yang aneh-aneh kok, anak kita nggak akan jadi janda tenang aja.” Cerocos Jesi.
“Bukan itu maksud aku-“ huh sudahlah Rama hanya bisa menghela nafas dalam kalo istrinya sudah kumat nyerocos percuma, dia jadi maha benar dan tak terbantahkan. Rama memilih mengambil sendok dan menghabiskan sarapannya.
“Nanti suruh mereka ke rumah sakit!” pinta Rama sebelum berangkat ke kantor.
Sementara itu yang jadi bahan obrolan masih berada di kamar meski cahaya matahari sudah menerobos masuk dan membuat kamar yang semula temaram karena lampu yang dimatikan jadi terang benderang. Kara masih meringkuk di pelukan Dirga dengan tubuh polos yang hanya tertutup selimut. Karena malam tadi Dirga muntah-muntah lagi, lelaki itu tak mau kehilangan jatahnya dan mengubah jadwal main jadi subuh.
“Hei jangan bobo lagi sayang, sekarang udah siang. Bangun yuk!” Dirga mengecup kedua kelopak mata Kara, tangan yang semula mengelus perut Kara beralih mencubit kedua pipi Kara supaya membuka mata.
Tanpa membuka mata, Kara menjauhkan tangan Dirga dari pipinya. “elus perut Yang jangan pindah-pindah!”
“Masih pagi Yang, tumben minta elus perut pagi-pagi? Kan kamu belum makan, nggak kekenyangan.”
“Nggak tau pengen dielus aja, nyaman.”
“Udahan lah kita bangun. Kalo perut kamu dielus-elus terus malah keenakan, ntar malah tidur lagi.” Dirga bangun lebih dulu dan pergi ke kamar mandi.
“Yang!” Kara melemparkan bantal dengan kesal karena keinginannya tak terpenuhi.
“Nggak kena yee...” Ledek Dirga, dia balas mengambil bantal itu dan melemparkannya pelan. Tepat mengenai wajah Kara yang cemberut. Gadis itu langsung berbalik meringkuk ke arah lain.
“Nyebelin!” Dirga masih bisa mendengar ucapan lirih Kara.
“Ngambek? Maaf Cuma becanda.” Alih-alih masuk ke kamar mandi, Dirga jadi kembali duduk di ranjang dan mengusap perut Kara dari belakang. “pengen di elus-elus kan perutnya?”
“Liat sini.” Dirga menarik Kara hingga kini ia terlentang dengan wajah yang masih cemberut.
“Nih bonus di sun deh.” Ledek Dirga seraya mencium beberapa kali perut datar Kara, “udah yah jangan ngambek. Aku mandi dulu, abis itu kita ke rumah kakek.”
Hanya diperlakukan seperti itu Kara jadi senyum-senyum sendiri, ia reflek ikut mengelus perutnya kemudian beguling-guling di ranjang karena senang.
Siang harinya mereka pergi ke rumah kakek Dirga, tak ketinggalan si micin juga ikut bersama mereka. Disana mereka di sambut oleh Kakek Bayu dan nenek Mira, Sasa sangat senang karena mendapat banyak oleh-oleh.
“Makasih, Nek.”
“Sama-sama sayang.” Mira memeluk Kara dengan erat, “nenek seneng banget kalian beneran sampe nikah. Padahal dulu Dirga selalu bilang nggak mau nikah sama kamu.”
“Apaan sih Nek, nggak usah dibahas lagi lah.” Timpal Dirga.
Berbeda dengan Kara yang sibuk bercengkrama dengan nenek Dirga, Sasa justu mengecek isi paper bag Kara karena lebih besar dari miliknya.
“Kakek, nenek curang nih. Masa isi oleh-olehnya banyakan punya Kaleng sih?” protes Sasa, ia melirik satu paper bag lagi yang seukuran miliknya di meja, “itu satu lagi buat Sasa aja lah.”
“Nggak boleh, itu buat cucu kakek sayang. Kamu kan udah di kasih.” Kakek Bayu mencubit gemas pipi Sasa yang digembungkan karena kesal. “Punya Kara lebih banyak karena dia kan berdua sama Kak Dirga. Sama aja pembagiannya, apa mau ditimbang?” ledeknya.
“Cucu kakek yang mana lagi? Kak Retha? Kak Sakha? Katanya mereka udah pada kesini kemaren. Oh Sasa tau pasti buat calon suami Sasa kan? Biar Sasa bawain sekalian Kek, tau aja Kakek nih kalo Sasa mau ke rumah Bang Tama ntar.”
“Bukan, Sasa.” Jawab Kakek. “Nah tuh calon cucu menantu kakek datang.” Kakek Bayu menunjuk Deva yang berjalan dibelakang asisten rumah tangga.
“Duduk sini sayang.” Kakek Dirga menepuk sofa di sampingnya. Sasa yang berada di dekat Kakek langsung beranjak nyempil diantara Nenek dan Kara.
“Kaleng, bukannya dia yang bikin kisruh di sekolah?” Kara hanya menjawab dengan anggukan, Sasa jadi menatap kesal pada Deva. Akhirnya ia bisa melihat langsung sosok perempuan kegatelan yang selalu mengusik kakak iparnya, dan sialnya kenapa si gatel ternyata cantik juga.
“Maafin Deva Kek...” Lama Deva mengobrol dengan kakek, gadis itu berulang kali minta maaf karena sudah menganggu hubungan Kara dan Dirga. Ia pun ikhlas kalo tak menjadi menantu kakek, karena bantuan yang ia terima dari kakek selama ini sudah lebih dari cukup. Deva merasa tak tau diri jika masih berharap jadi menantu keluarga itu. Bahkan untuk datang ke rumah ini pun ia merasa tak pantas, namun demi rasa hormatnya pada kakek ia memberanikan diri untuk datang.
“Deva juga minta maaf sama Kara, Dirga juga. Harusnya dari awal aku nggak serakah ingin memiliki Dirga walaupun kakek bilang akan menjadikan aku cucu menantu kakek karena aku tau Dirga cuma cinta sama Kara. aku janji setelah pengumuman kelulusan akan menghilang dari hadapan kalian semua. Terimakasih untuk semuanya, maaf udah bikin kakek kecewa.”
Nenek Mira mengambil tisu dan menghapus air mata Deva. Kara yang sekaran mudah baper pun ikut-ikutan jadi mewek melihat Deva yang begitu rapuh siang ini.
“Kenapa jadi pada nangis gini cucu-cucu kakek?” Bayu ikut mengusap kepala Deva. Ia tau betul betapa rapuhnya gadis itu.
“Kamu mau menghilang kemana? Kakek tidak ikhlas kalo kehilangan calon cucu menantu seperti kamu.”
“Tapi Dirga udah nikah, Kek. Aku nggak mau jadi perusak kebagian mereka. Kara yang terbaik buat Dirga Kek.”
“Sabun... ternyata lo aslinya baik. Gue terharu, tapi gue nggak mau dimadu!” ucap Kara.
“Hei kalo ngomong sembarangan. Siapa juga yang mau nikah lagi.” Dirga jadi menoyor kening Kara.
“Ya kali aja setelah tau dia baik kamu jadi nggak tega terus mau nikahin dia juga, kayak yang difilm-film.” Dirga jadi mengernyit heran, istrinya jadi super baperan dan mudah menangis.
“Kek aku ke kamar dulu deh.” Dirga jadi tak enak hati karena semuanya malah fokus ke Kara yang nangis-nangis.
“Cape yah gara-gara kita main pagi?” Dirga meninggalkan Kara di kamar. Istrinya itu terlelap setelah di elus-elus perutnya, tak habis pikir juga kenapa Kara jadi sering tidur siang padahal sebelumnya tak pernah. Dirga mengusap perut Kara sekali lagi dan mengecupnya, entahlah dia tiba-tiba ingin melakukannya. “bobo nyenyak yah.” Ucapnya sebelum pergi.