Always Loving U

Always Loving U
Makan siang



Di dalam kamar, Kara masih setia memeluk Dirdiran. Gadis yang masih mengenakan seragam putih abu dengan rambut yang dibiarkan terurai itu hanya berjalan mondar-mandir, bersusah payah menahan kakinya supaya tak berjalan keluar balkon, tempat favoritnya untuk melihat Dirgantara dari kejauhan.


Kara meniup poninya berulang kali, menahan kebiasaan yang sudah rutin ia lakukan ternyata sangat susah. Jari jemarinya juga rasanya sudah gatal ingin mengirim pesan pada Dirga, pasalnya selama ini dia selalu rutin mengirim pesan meskipun isinya nggak jelas yang tentu jarang dibalas oleh Dirga.


“Hm ngapain yah supaya nggak kepikiran Dirga terus?” ucapnya yang masih terus mondar-mandir tak jelas.


“Makan aja kali yah? Laper juga dari tadi belum makan.” Dia meletakan Dirdiran dengan pelan ke ranjang kemudian menghampiri lemari untuk mengambil baju ganti.


Selesai mengganti seragam dengan baju santai, gadis itu keluar kamar dan menuju dapur. Namun sayang sampai di tempat itu tak ada siapa-siapa, makanan pun tak ada. Hanya ada roti tawar dan aneka selai. Kara melangkahkan kakinya keluar, dua bocah yang dua jam lalu ia lihat sedang sibuk di halaman rumah sudah tak ada, menyisakan dua ikat kayu bakar yang diikat dengan lumayan rapi.


“Pasti pada di rumah Dirga nih.” Tebaknya, mengingat Ridwan yang sebelumnya mengatakan jika mami Jesi ada di rumah calon besannya.


“Ya udah deh kesana aja dari pada di rumah sendirian.” Ucapanya seraya melangkah ke luar.


Tiba di rumah Dirga seperti biasa tanpa salam gadis itu langsung masuk dan mencari keberadaan sang mami.


“Mi, lapar...” ucapnya begitu tiba di dapur. Mami Jesi dan calon mertuanya itu sedang sibuk entah memasak apa di belakang sana, yang jelas aroma dari masakannya membuat cacing-cacing di perut Kara meronta-ronta minta makan.


“Kebetulan kamu kesini. Duduk sini sayang!” Mommy Miya menghampiri Kara dan membawa gadis itu supaya duduk di meja makan.


“Mommy sama mami kamu lagi coba-coba bikin menu baru nih buat di restoran. Nanti kamu cobain yah.” Lanjutnya ramah.


“Siap, mom. Dari wanginya enak banget nih kayaknya.” Puji Kara.


“Kamu sih makanan apa yang nggak enak, Ra? Apa pun kamu makan.” Sela mami Jesi dari belakang sana.


“Kata mami, aku nggak boleh pilih-pilih makanan? ya udah semua aku makan. Kata papi juga kan kita harus pandai bersyukur makan apa aja yang ada karena di luar sana banyak orang yang bahkan untuk makan saja masih kesulitan.” Balas Kara.


“Kaleng tumben omongannya bener.” Ucap gadis yang entah dari mana asalnya tiba-tiba sudah nongol di ruang makan bersama Ridwan.


“Iya dia bener omongannya, kalo cuma ngulang kata-kata papi atau mami.” Sambung Ridwan.


“Hahaha setuju, Rid. Kemarin aja masakan kak Dirga yang nggak enak aja dibilang enak banget. Kan nggak bener yah? Merasa tertipu gue nih.” Timpal Sasa.


“Mom, masih lama nggak sih? Sasa udah laper ini.” Gadis itu menghampiri mommy Miya dan memastikan apakah makanannya sudah hampir selesai.


“Udah mau selesai. Ini menu spesial kolaborasi resep mommy sama maminya Kara. Pasti enak deh. Sasa panggil kak Dirga saja sana, kita makan siang yang kesorean bareng-bareng.” Pinta mommy Miya.


“Hm Kaleng aja deh yang manggil Kak Dirga, mom.” Ucap Sasa. Dia kemudian dengan santai duduk manis di samping Ridwan.


“Kaleng, panggil kakak gih.” Ucapnya saat tak mendapati Kara beranjak dari duduknya.


“Males ah, Sa. Lo aja sana.” Tolak Kara, ia memainkan ponselnya supaya terlihat sibuk.


“Tumbenan. Ya udah biar Sasa panggilin kakak bentar.” Mengalah, Sasa beranjak meninggalkan ruang makan.


Sudah satu frekuensi dengan Lengkara, gadis itu langsung menerobos masuk ke kamar kakaknya yang terbuka. Celingak celinguk ke sekitar kamar mencari keberadaan Dirga.


“Kak, disuruh makan siang sama mommy!” teriaknya.


Sasa beralih menggedor pintu kamar mandi, “kakak di dalam? Buruan keluar kita makan siang.”


Dirga yang sedang mondar-mandir di balkon jadi terganggu dan terpaksa masuk ke dalam kamar, “apaan sih Sa? Siang-siang berisik di kamar orang!”


“Disuruh makan sama mommy. Buruan ah Sasa laper nih.”


“Gue belum lapar. Lo makan duluan aja sana. Bilang ke mommy nanti kakak makan sendiri, nggak apa-apa nggak usah ditungguin.”


“Terserah kakak deh, kalo kakak nggak makan malah alhamdulillah jatah kakak bisa buat Sasa. Soalnya mommy masak menu baru sama mami Jesi, katanya sih mau dijadiin menu di restoran kita. Ya udah lah Sasa mau cepet-cepet turun takut jatah Sasa di makan sama Kaleng.”


“Kebiasaan orang belum selesai ngomong udah main kabur aja.” Gerutu Dirga seraya meninggalkan kamar.


“Kok bisa dia kesini tapi gue nggak liat keluarnya?” gumamnnya lirih “apa gue terlalu fokus ke balkon yah?” Dirga semakin cepat menuruni anak tangga itu .


Ck! Dirga berdecak pelan yang kemudian menyunggingkan senyumnya, melihat gadis yang sejak tadi ia cari-cari di balkon tak kunjung terlihat ternyata justru ada di rumahnya.


“Udah gue duga, lo nggak bisa lama-lama ngambek sama gue.” Batinnya.


Ehm


Dirga berdehem pelan saat menarik kursi di samping Kara dan mendaratkan tubuhnya di sana. orang yang di maksud tetap asik dengan ponselnya, scroll-scroll aplikasi tok tok yang menampilkan deretan beberapa pria menari tak jelas.


Sepanjang makan siang Kara benar-benar menikmati makanannya tanpa memperdulikan Dirga sama sekali meskipun beberapa kali calon suaminya itu menyenggol kakinya di bawah meja.


“Mommy, masakan mommy juara deh. Enak banget.” Kara mengacungkan kedua jempolnya sambil tersenyum pada mommy Miya.


“Masakaan mami juga kali, Ra.” Sambung mami Jesi.


“Iya Kara tau kok. tapi pasti kebanyakan yang kerja mommy Miya deh, Kara tau mami tuh jagonya perkuehan sama kayak nenek.”


“Aw.. aw... “ Kara mengaduh saat kakinya di senggol lebih keras oleh Dirga.


“Kamu kenapa sayang?” tanya mami Jesi.


“Nggak apa-apa, mi. Ini kayaknya ada kucing di bawah meja.” Balas Kara.


“Masa sih? Kayaknya mommy nggak punya kucing deh.” Sambung mommy Miya.


“Perasaan Kara aja kali, mom. Karena makan siangnya udah selesai Kara mau pulang yah. Makasih buat makananya, besok Kara nebeng makan lagi yah mom.” Pamit Kara yang beranjak meninggalkan meja makan.


“Main di sini aja dulu sayang, mami sama adek kamu aja masih di sini.” Cegah mommy Miya.


“Iya, Kara. Disini dulu, bantuin cuci piring dong! Masa selesai makan langsung pulang.” Imbuh mami Jesi.


“Kan ada mami. Udah ah Kara mau pulang.” Kara benar-benar meninggalkan meja makan dan melangkah keluar diikuti oleh Dirga di belakangnya.


“Tumben langsung pulang? Biasanya udah di usir aja nggak pulang-pulang.” Sindir Dirga namun gadis itu terus berjalan tek memperdulikannya.


“Lo masih ngambek sama gue?” Dirga mendahului Kara dan menghadang kepergian gadis itu.


Kara berhenti sejenak dan mendongakkan wajahnya menatap Dirga, “sekarang lo nggak perlu susah-susah ngusir gue lagi. Minggir gue mau pulang!” ucapnya yang kemudian berjalan melewati Dirga.


“Ya udah sana pulang! Pulang sana nggak usah balik-balik kesini lagi. Ribet gue liat lo bolak balik rumah kesini. Pulang sana!” ucap Dirga, biasanya Kara akan langsung berbalik setiap kali Dirga mengusirnya tapi kali ini gadis itu justru berjalan dengan mantap tanpa menoleh sedikit pun, membuat Dirga kesal karena merasa diabaikan.


“Kara!” teriaknya.


“Lengkara!!” ulangnya lagi tapi gadis itu sudah menghilang di balik gerbang.


“Bodo amat lah! gambek aja sana terus lah! malah tenang idup gue kalo lo nggek deket-deket gue. Ribet!” gerutunya seraya masuk ke dalam rumah, saking sibuknya merutuki sikap Lengkara membuat Dirga tak sengaja menabrak Sasa yang hendak ke luar rumah.


“Kak Dirga gimana sih kok Sasa ditabrak.” Protes Sasa sambil mengusap keningnya yang terbentur bahu Dirga “Eh Kaleng mana kak?”


“Mana gue tau! Gue bukan baby sitter nya!” balas Dirga sewot.


“Lah kok ngegas? Sasa kan cuma nanya. Salah Sasa apa coba?”


“Salah lo pake nanya segala. Minggir gue mau ke kamar. Pusing!” sewot Dirga.