Always Loving U

Always Loving U
Menyerah



“Gue mau pulang Sel!” balas Kara sambil terisak.


“Terus Tama gimana? Ntar dia nyariin kalo kesini kita nggak ada?” tanya Selvia.


“Sel...” untuk mengucapkan nama sahabatnya pun Kara sudah tak mampu. Rasanya begitu sesak hanya untuk berbicara saja sulit.


Selvia dan Dila jadi saling tatap bingung, ini kali pertama melihat Kara menangis. Selama hampir tiga tahun bersahabat belum pernah gadis itu menangis, dia selalu tersenyum ceria seolah hidupnya tanpa beban, meski kadang ada masalah dengan Dirga pun paling mentok hanya sampai cemberut dan tak banyak bicara dan itu pun biasanya tak bertahan lama. Tapi kini? Lihat, air mata benar-benar sudah membasahi wajah imut itu. Menangis tanpa suara, hanya isakan kecil yang terdengar dari bibir itu. Namun Dila dan Selvia bisa merasakan bagaimana sesak yang dialami Lengkara.


“Oke.. oke kita pulang sekarang.” Ucap Selvia.


“Gue ambil mobil dulu!” lanjutnya yang buru-buru berlari ke parkiran, bodo amat dengan janji jalannya dengan kak Septian. Sementara Dila memapah Kara yang terus terisak.


“Udah... udah, Ra. Cowok kayak Dirga jangan ditangisin.” Ucap Dila menenangkan, dia menyeka air mata Kara dengan telapak tangannya.


Selvia dengan begitu sigap membukakan pintu untuk Kara, “kalian berdua duduk di belakang aja.” Ucapnya seraya merangkul Kara supaya masuk terlebih dulu.


“Udah jangan nangis terus.” Selvi menepuk bahu Kara berulang.


“Dil, pakein seat belt nya.” Ucapnya begitu menutup pintu, dia kemudian memutari mobil dan duduk di balik kemudi.


“Kita jalan-jalan dulu aja yah biar lo lebih lega.” Ajak Selvia sebelum melajukan mobilnya.


Tanpa suara Kara hanya menggelengkan kepala dan memeluk erat Dila di belakang sana.


“Oke-oke kita langsung pulang. Tapi jangan nangis terus kayak gitu, Ra. Ntar mami Jesi khawatir, dikira lo kenapa-kenapa.”


“Iya, Ra. Udah yang jangan nangis lagi. Si Dirga emang nggak tau diri banget.” Sambung Dila.


Sepanjang jalan seolah tak mendengar kedua sahabatnya yang memberi masukan supaya ia lebih tenang, Kara justru menangis semakin menjadi-jadi.


“Ini tuh gara-gara lo, Sel. Coba gue nggak ngikutin saran dari lo, pasti nggak akan kayak gini jadinya. Dirga bukannya deket sama gue malah makin jauh.”


“Lah kok jadi nyalahin gue sih, Ra?” Selvia jadi sedikit menengok ke belakang dan kehilangan fokusnya.


“Emang dasar si Dirga nya aja yang keterlaluan. Udah jangan nangis lagi, masih banyak cowok diluar sana yang lebih dari Dirga. Ntar gue kenalin sama temen Kak Septian dah.” Lanjutnya.


“Dirga jahat! Gue benci.” Teriaknya dari belakang sana sambil menangis. Dila sampai setengah terlonjak karena kaget.


“Gue benci. Benci banget... dia jahat sama gue Sel...” tangisnya makin pecah setiap kali meningat bagaimana calon suaminya memasangkan seat belt pada Deva.


“Udah-udah jangan nangis terus yah. Nanti kita balas si Dirga. Lo bisa dapat cowok yang lebih dari dia.” Selvia lagi-lagi menengok ke belakang. Hatinya ikut sakit melihat Kara sampai menangis segitunya untuk orang yang tak pernah menganggapnya lebih dari adik.


“Sel, lo liat dep..” belum selesai Dila bicara mobil yang dikemudikan Selvia sudah menyenggol pengendara motor yang hendak belok tanpa memberi riting, Selvia yang panik menginjak rem sekaligus hingga dirinya terbentur setir sedang Kara dan Dira juga menubruk sandaran kursi di depan mereka.


“Kalian nggak apa-apa?” panik Selvia sambil mengusap keningnya yang sakit.


“I am oke, Sel. Udah biasa.” Balas Dila yan juga mengusap keningnya. Urusan kecelakaan seperti ini sudah sering mereka alami. “gue kan udah bilang lo fokus ke depan aja.” Lanjutnya.


“Ra, are you oke?”


“Sakit, Sel.. sakit banget...” jawabnya sambil menangis. Bukan memegangi kening seperti Dila dan Selvia, Kara justru mengusap dadanya yang terasa sesak.


Belum selesai mengurusi Kara, kaca di sebelah Selvia sudah di ketuk dengan kasar oleh ibu-ibu dengan wajah garang yang terpampang nyata.


“Mam pus, Sel. Emak-emak, bisa ribet ini urusannya.” Ucap Dila.


“Udah lo urus Kara aja. Biar ini emak-emak gue yang ngadepin, lagian salah dia juga belok nggak ngasih riting.” Balas Selvia. Dia menghela nafas panjang dan menghebuskannya dengan pelan untuk memenangkan diri.


“Iya-iya sabar ini saya mau keluar kok.” ucap Selvia. Seperti biasa setiap terjadi insiden seperti ini selalu auto dikerumuni masa.


“Masih bocah ternyata. Bawa mobil tuh yang bener dong! Saya jatuh jatuh nih. Liat tuh motor saya jadi nyusruk begitu. Belum lagi temen yang saya boceng tuh sakit kakinya.” Ibu-ibu dengar make up cetar itu begitu ngegas pol bicaranya. Ini sih pertanda bakal ribet, batin Selvia.


“Maaf yah bu, tapi tadi ibu beloknya dadakan. Udah gitu nggak ngasih riting juga. Jadi kan saya nggak tau kalo ibu mau belok.”


“Masih kecil nggak usah nyalahin orang tua yah. Jelas-jelas kamu yang nabrak.” Solot emak-emak itu.


“Terus ibu maunya gimana?” ucap Selvia langsung to the point, paling pol minta ganti rugi.


“Lima juta.” Balas si emak-emak.


Karena perdebatan mereka yang tak kunjung usai, orang-orang yang sedari tadi menonton jadi memanggil polisi lalu lintas yang berjaga di pos lampu merah. Karena tak ada yang mau mengalah alhasil mereka di boyong ke kantor polisi terdekat.


“Ini kenapa malah jadi ke kantor polisi segala sih, Sel?”tanya Dila.


“Ribet itu emak-emak, Dil. Minta lima juta, yang bener aja. Yang salah kan dia.” Jawab Selvia.


“Terus gimana urusannya ini? Mana Kara mewek mulu nih.”


“Ra, telpon papi lo dong. Nanti kita pasti ditanyain wali, gue nggak mungkin nelpon bokap. Bisa disita ini mobil.” Ujar Selvia.


“Gue benci dia, Sel..” jawab Kara tak nyambung. Kini gadis itu sudah tak lagi menangis, tinggal sesegukan saja karena terlalu lama nangis.


“Hih masih aja urusan Dirga.” Gumam Selvia, “ambil aja HP nya Dil, telpon om Rama.” Pinta Selvia.


Ketiganya sudah duduk di kantor polisi, berhadapan dengan dua emak-emak yang masih saja menatap sinis pada Selvia.


“Papi...” Kara langsung beranjak dari duduknya dan memeluk Rama saat pria itu masuk.


“Papi dia jahat... Kara benci...” air matanya kembali meleleh di pelukan papinya.


“Siapa yang berani jahatin putri papi hm? Udah jangan nangis lagi, papi di sini.” Rama mengusap sayang kepala putrinya. Meskipun belum tau duduk permasalahan yang sebenarnya.


“Udah jangan nangis gitu, santan sachetan kesayangan Om Karak jadi nggak gurih kalo nangis kayak gitu.” Bukan hanya sang papi yang datang, tapi Om nya pun ikut serta.


“Kasih tau siapa yang jahat sama kamu? Nanti Om hukum dia, kalo perlu Om kirim ke mars biar nggak nyakitin kamu lagi.”


“Halah ngapa malah makin kejer nangisnya?” Raka jadi bingung sendiri.


“Om...” panggil Selvia, membuat Rama dan Raka menoleh kompak.


“Om Rama.” Ucap Selvia.


Rama melonggarkan pelukan putrinya, “sama Om Raka dulu yah.” Ucapnya lirih kemudian menghampiri Selvia. Gadis itu menjelaskan semuanya secara singkat. Rama melirik putrinya yang terisak di pelukan Raka sekilas.


“Urusan kecelakaannya biar Om Raka yang urus yah. Om mau bawa Kara pulang sekarang.” Ucap Rama dan Selvia mengangguk setuju.


Rama menghampiri putrinya “Ayo pulang, udah jangan nangis terus.”


“Ka, tolong yah urus masalah anak-anak.” Pintanya pada Raka.


“Siap kakak ipar.” Balas Raka, “udah pulang sana, jangan nangis terus. Nanti Om sama tante main deh ke rumah kamu.” Raka mencubit kedua pipi Lengkara hingga gadis itu terpaksa tersenyum palsu.


Tiba di rumah Kara berjalan lunglai. Matanya sembab dengan wajah lesu tak berdaya.


“Eh Kara udah pulang?” tanya mami Jesi yang baru saja keluar dari dapur bersama dengan mommy Miya. Keduanya seperti biasa sedang masak bersama untuk mengirim makanan ke sekolah Sasa dan Ridwan nanti malam.


“Bilang sama mami kamu kenapa? Kenapa sampe sembab gini? Kamu abis nangis? Abis kena bully?” tanya mami Jesi yang panik melihat putrinya yang begitu kacau.


“Iya sayang bilang sama mommy juga, siapa yang bikin kamu kayak gini? Temen sekolah kamu? Biar nanti mommy bilang ke Dirga supaya ngasih pelajaran ke mereka.” Sambung mommy Miya yang mengira calon menantunya kena bully atau dikerjai oleh temannya.


Mendengar nama Dirga di sebut membuat Kara kembali menangis.


“Eh kok malah nangis...” Mami Jesi memeluk erat putrinya sementara mommy Miya ikut mengusap sayang punggung gadis berambut panjang itu.


“Kara benci sama Dirga, mi. Dirga jahat...”


Jesi dan Miya saling tatap bingung. Kini ibu dari Lengkara itu menatap penuh tanya pada suaminya yang bersandar di dinding, pria yang masih tampan di usianya yang tak lagi muda itu hanya menghela napas panjang.


“Dirga jahat gimana? Biar nanti mommy hukum dia.” Ucap mommy Miya.


Kara melepas pelukan mami Jesi dan berbalik menatap mommy Miya.


“Pokoknya Kara benci sama Dirga, Mom. Dirga jahat!”


Kini ia beralih menatap maminya. “Mi, maafin Kara. Tolong batalin perjodohan Kara sama Dirga. Kara cape, Mi. Kara kira selama ini Dirga juga cinta sama Kara tapi nyatanya nggak, dia malah jalan sama cewek lain. Kara cape, Mi. Kara nyerah.”