
“Karam, kita tidur sekarang yuk! Paling bentar lagi Kara juga nyampe. Jangan terlalu khawatir, dia kan sama Dirga dijamin aman selamat sampe rumah.” Ucap Jesi yang sudah berulang kali menguap. Tiga puluh menit sudah mereka tiba di rumah dan suaminya itu masih mondar-mandir di ruang tamu sementara dirinya sudah ngantuk berat karena seharian sibuk bersama Miya mempersiapkan pesta ulang tahun Kara.
“Justru karena bareng Dirga, khawatirnya jadi double!”
“Biasanya juga sampe rumah tanpa kurang apa pun, Karam. Toh ada Ridwan tuh yang masi melek, suruh dia aja nunggu Kara pulang.” Ucap Jesi. “Ridwan, kamu jangan tidur dulu kalo Kakak belum pulang.” Lanjutnya pada putra bungsu yang masih asik dengan ponselnya. Tanpa menjawab Ridwan hanya mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
“Ayo Karam, aku udah ngantuk banget ini.”
“Tidur duluan aja yah. Aku nunggu Kara sampe rumah, takut aneh-aneh itu anak.”
“Nggak akan aneh-aneh Karam, sama Dirga aman lah. Selama ini juga mereka nggak pernah ane-aneh.”
“Aku percaya sama Dirga nggak akan aneh-aneh, tapi Kara? Nggak jamin deh. Kayak nggak tau anak kita itu over aktif banget kalo sama Dirga. Dulu aman karena Dirga nya cuek, lah sekarang? Dirga nya aja sama-sama suka nempel. Gimana kalo mereka sampe kebablasan?” Rama sampai menjambak rambutnya sendiri.
“Nah tuh akhirnya nyampe juga mereka.” Rama langsung keluar begitu melihat mobil Dirga berhenti di depan gerbang rumahnya.
“Karam terlalu khawatir, aku nunggu di sini aja lah.” Ucap Jesi saat melihat suaminya keluar rumah, dia benar-benar sudah ngantuk berat.
Rama menunggu cukup lama di teras tapi belum tampak tanda-tanda Kara dan Dirga akan keluar dari mobil. Pikiran-pikiran negatif mulai memenuhi otaknya, kaca mobil Dirga yang tak tembus pandang membuatnya makin penasaran akan apa yang mereka lakukan di dalam sana.
Tok...tok...tok... Rama mengetuk berulang kali kaca mobil Dirga.
“Kalian ngapain? Kenapa lama banget keluarnya?” todongnya saat Dirga membuka pintu.
“Nggak ngapa-ngapain, Pi. Pas nyampe Kara nya ketiduran, aku jadi nggak tega mau ngebangunin. Jadi niatnya aku mau nunggu sampe Kara bangun aja.” Kilah Dirga dengan alasan yang menurutnya cukup masuk akal.
Rama langsung melihat ke dalam hanya ada putrinya yang menatapnya dengan cemberut, tak terlihat sama sekali tanda-tanda orang yang baru saja bangun. Mata putrinya itu malah terlihat tak ngantuk sama sekali.
“Papi nih kayak nggak pernah muda deh, ganggu aja. Heran Kara tuh!”
“Turun kamu. Kalo mau tidur di rumah! Jangan di mobil orang.” Kara turun dengan malas dan berdiri di samping Dirga. Keduanya bersandar di samping mobil dengan Rama yang berdiri di depannya dengan tatapan tajam pada keduanya secara bergantian.
“Papi apaan sih ngeliatinnya gitu amat? Berasa jadi tersangka tau Kara tuh.” Keluh Kara.
“Jujur sama papi, kalian ngapain di dalam mobil lama banget?”
“Nggak ngapa-ngapain, Pi. Papi nih curigaan banget kayak yang nggak pernah muda aja.” Jawab Kara.
“Justru karena papi pernah muda makanya papi bisa kayak gini sama kalian.” Ucap Rama. “Kalian ini masih sekolah, papi nggak mau sampe terjadi hal yang tidak diinginkan.” Lanjutnya.
“Aku janji Pi nggak akan bertidak di luar batas. Aku cinta sama Kara, Pi. Aku nggak akan ngerusak Kara. Apalagi sampe terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.” Jawab Dirga lirih.
“Papi percaya sama kamu, Ga. Tapi Kara nya ini yang susah dibilangin, nempel mulu. Kamunya juga sekarang sama aja kayak Kara, udah nggak cuek kayak dulu. Sekuat-kuatnya laki-laki kalo ditempelin terus pertahanannya bisa lemah juga.” Jelas Rama.
“Ya ampun papi nggak percaya banget sama Kara. Dirga sama Kara tuh nggak aneh-aneh, Pi. Tadi tuh Cuma ciuman itu pun belum apa-apa, baru nempel bibir doang eh papi udah main getok pintu aja.”
Seketika Dirga langsung menoleh pada Kara dengan wajah paniknya. “Ra!!”
“Keceplosan, Ga.” Kara membungkam mulutnya dengan kedua tangan. Keduanya hanya bisa diam dan menunduk kompak, untuk melihat ke arah Rama saat ini baik Kara maupun Dirga tak memiliki keberanian sama sekali.
“Kalian!!” bentak Rama. Dia mencoba menenangkan diri dengan menghirup udara dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan. Baru saja di ceramahi panjang lebar sebagai upaya pencegahan eh meraka malah sudah praktek duluan.
“Nggak, Pi. Belum banyak. Baru tiga kali, itu juga yang dua cuma kening.” Ucap Kara gugup. Baru sekarang ia melihat papi nya begitu marah. Padahal menurutnya itu sama sekali tak kelewatan, masih wajar lah. “Yang barusan cium bibir juga beneran deh Pi belum apa-apa, cuma baru nempel doang.” Lanjutnya dengan jujur.
Ck! Dirga berdecak lirih sambil melirik Kara.
“Dirga, kamu panggil daddy sama mommy mu. Papi tunggu di rumah.” Ucap Rama seraya berlalu meninggalkan keduanya.
Dirga hanya disuruh untuk memanggil kedua orang tuanya tapi nyatanya si adik juga ikut datang ke rumah Kara, alesannya takut kalo di rumah sendirian. Padahal aslinya kepo karena sudah jam sebelas sebelas malam para orang tua malah mau rapat dadakan.
Di ruang tamu kedua keluarga besar berkumpul. Kara dan Dirga hanya diam mendengarkan pembicaraan kedua orang tua mereka. Sasa yang duduk diantara Dirga dan Kara hanya meledek keduanya yang sedang diceramahi panjang lebar.
“Makanya jangan suka berduaan, kalo berduaan tuh suka banyak setan yang ikut gabung. Jadi gitu kan pada sosor menyosor akhirnya.” ucap Sasa.
“Sasa, kamu diem dulu yah sayang.” Ucap Miya.
“Tau nih nyambung aja. Sekalian bilangin nih mom si Sasa, kecentilan banget sama cowok!” timpal Dirga.
“Kakak, kamu juga diem! Disini kamu yang bikin masalah. Jangan coba-coba mengalihkan pembahasan.” Ujar Miya.
“Sudahlah, sekarang sudah hampir larut malam jadi mari kita akhiri pembahasan ini. Aku selalu orang Dirga menerima apa pun keputusan yang menurut Bang Rama terbaik untuk anak-anak kita. Meskipun menurut aku apa yang dilakukan Dirga dan Kara masih dalam batas wajar, tapi tak ada salahnya mencegah sebelum mereka bertindak terlalu jauh.” Ujar Ardi.
“Bukannya daddy nggak percaya sama kamu, Ga. Daddy tau betul kalo kamu paham batasan, tapi jika daddy ada di posisi ayahnya Kara, daddy juga akan melakukan hal yang sama.” Lanjutnya pada Dirga.
“Jadi silahkan pilih mau nikah atau salah satu diantara kalian pindah sekolah?” tanya Rama langsung pada intinya.
“Nikah!” jawab Kara cepat. “Ya kan, Ga? Kita nikah aja. Kara nggak keberatan pake banget, Pi.” Lanjutnya.
Rama menghela nafas panjang, dia sudah menduga jika putrinya pasti akan memilih itu. Lain halnya dengan Dirga yang masih tampak berfikir. “Dirga, kamu bagaimana?”
“Dirga pasti setuju sama pilihan Kara, Pi.” Sela Kara.
“Papi tanya Dirga, Kara. Bukan kamu!”
“Apa nggak ada pilihan lain, Pi?” tanya Dirga lirih.
Menikah? Tentu belum terlintas sama sekali diotaknya saat ini. Target untuk menikahi Lengkara tentu sudah ada dalam prioritas hidupnya, tapi bukan sekarang. Masih banyak yang ingin ia capai dari mulai mimpi, cita-cita dan harapan untuk membanggakan kedua orang tuanya. Pindah sekolah ia pun tak ingin melakukannya mengingat ada Tama yang satu kelas dengan Kara, dia tak ingin kena tikung.
“Kamu mau pindah sekolah?” tanya Rama dan Dirga hanya diam. Otaknya bekerja keras berusaha menemukan jalan keluar dari dua pilihan yang ditawarkan oleh calon mertuanya.
.
.
.
Tim nikah apa tim pindah sekolah nih??
Aku sih tim pindah sekolah aja deh🤭