Always Loving U

Always Loving U
Jadwal Merah



“Enak apaan? Dipijit Dirga tuh capenya nggak ilang yang ada makin cape.”


“Awalnya mijit, ujung-ujungnya dinaikin lagi. Cape lagi lah gue jadinya.” Ucap Kara dengan entengnya.


“Uwow dinaikin kemana tuh?” Selvia jadi tergelak sendiri sementara Dirga sudah memutar bola matanya, jengah sekali dengan bibir istrinya yang tak bisa di rem.


“Yang, kalo ngomong disaring dikit lah. Jangan segala hal diomongin sama orang lain. Privasi, sayang. Privasi!” tegas Dirga.


“Ya ampun sayang, Dila sama Selvia kan sahabat aku udah kayak keluarga sendiri. Bukan orang lain.”


“Tapi kan Yang.”


“Tapi apa?”


“Nggak apa, Sayang.” Dirga tak meneruskan nasihatnya, bisa-bisa Kara bakal ngambek. Istrinya kan tipe-tipe tak mau kalah, jadi jika ingin menang dan bisa menasehati gadis ngeyel itu kita mesti mengalah lebih dulu, tunggu mood nya baik atau setidaknya tidak menegurnya di depan umum. Meskipun sampai detik ini Dirga masih bingung sosok orang lain bagi istrinya itu yang seperti apa? Apakah mesti orang yang sama sekali tak ia kenal? Kadang lucu, semua hal dibicarakan tanpa saringan.


“Ngomong-ngomong enak nggak Ra dinaikin sama Dirga?” ledek Selvia.


“Ya en-“ lama-lama tak sabar, Dirga membungkam bibir Kara.


“Kita pulang sekarang!” lanjutnya, bisa gawat kalau tak dihentikan. Bisa-bisa sampai gaya perang di kasur pun akan dibahas.


“Nggak asik banget sih Ga, udah ngajak pulang aja. Ntar lah makanan bini lo aja belum abis tuh.” Larang Selvia.


“Biarin aja, Sel. Kali Dirga udah pengen naik sekarang.” Timpal Dila sambil cengengesan.


“Kalian berdua bener-bener yah! Mancing-mancing mulu.” Kesal Dirga, “pulang aja, ayo Yang!” lanjutnya menarik tangan Kara.


“Emang kamu udah pengen naik sekarang, Yang? Ntar malem aja lah.” Ucap Kara.


“Hayo naik apaan?” ucap lelaki yang merangkul bahu Kara dari belakang, Tama.


Ck! Dirga berdecak keras dan langsung menepis tangan Tama dari bahu istirnya, “nggak udah pegang-pegang!”


“Buset dah pelit amat.” Balas Tama yang sudah duduk di kursi yang sebelumnya di duduki Kara, tanpa sungkan ia mengambil kentang goreng yang ada di meja mereka dan memakannya dengan santai.


“Tamarin! Kok lo ada disini sih? Bukannya lagi liburan di Jogja?” Kara yang sudah beranjak hendak duduk di samping Tama namun buru-buru di tahan oleh Dirga.


“Soak gue di Jogja, makannya pulang lebih cepet. Padahal tadinya pengen nambah dua hari lagi sampe libur sekolah abis.”


“Lah terus kenapa jadi pulang duluan? Lo ketemu-“


“Ketemu Sasa maksud lo?” sela Tama sebelum Kara selesai berucap.


“Iya, si Micin.” Kara mengangguk, “bentar ah Yang, naik nya ntar malem aja.” Lanjutnya pada Dirga yang sedari tadi menyikut lengannya pelan.


“Dah sana lo balik aja, Ra. Males gue ngomong kalo ada laki lo. Liat tuh bawaannya ngajak ribut mulu dia.” Jawab Tama seraya melirik Dirga.


“Sumpah nih yah, Ga. Adek lo yang nyusulin gue. Lo tuh harusnya makasih sama gue karena selama di Jogja gue nih bukannya liburan malah jadi supir pribadi adek lo. Mana supir plus-plus lagi, kagak dibayar malah suruh ngebayarin jajanan dia yan seabgreg-bagreg.”


“Masih aja melototin gue, Ga. Pulang gih kalian berdua pada main kuda-kudaan sana.” Lanjutnya.


“Set dah kuda-kudaan, Sel.” Ceteluk Dila, “dah lah di sini gue paling nggak berpengalaman.”


“Tapi gue tuh nggak punya kuda loh, Tam.” Ucap Kara.


“Serah lo deh, Ra. Balik-balik sana!” usir Tama.


“Yuk pulang, Yang. Jangan lama-lama disini otak kamu bisa tercemar. Kalian tuh yah vul gar bener omongannya.” Ucap Dirga.


Dirga mengambil barang-barang belanjaan Kara dan memasukannya ke bagasi. Sepanjang perjalanan, Kara hanya diam. Dia sibuk sendiri dengan ponselnya.


“Sayang...” panggil Dirga.


“Yang, ngambek?” ulangnya.


“Yang, aku disini loh. Kamu mainan HP terus!”


“Maaf kalo gitu.”


“Gitu aja terus, bikin kesel terus minta maaf. Aku kan masih pengen ngumpul-ngumpul sama mereka.” Ucap Kara dengan cemberut.


“Lain kali ngumpul lagi deh. Dua hari lagi juga tiap hari kamu ketemu Dila sama Selvia. Tadi ada Tama”


“Iya ada Tama terus kamu nggak suka kan?” sela Kara. “salah Tama tuh apa sih, Yang? Dia kan udah nggak pernah gangguin aku.”


“Iya nggak gangguin kamu tapi pindah haluan ke Sasa.”


“Tapi kan Sasa nya juga suka. Tau sendiri kan Sasa yang ngejar-ngejar. Tama juga baik kok, buktinya dia selalu mau-mau aja dipalakin Sasa. Suruh nganter kesana kemari, ya walaupun sambil ngedumel sih.” Kara tertawa sendiri mengingat adik iparnya yang selalu bercerita dengan memutar balikan fakta.


“Pokoknya aku tetep nggak setuju kalo Sasa sama Tama. Dia banyak ceweknya! Lo tau sendiri kan tiap pulang sekolah siapa aja yang nebeng dia layanin.”


“Terus satu lagi yah, Yang. Kamu tuh kalo ngomong jangan asal ceplos. Meskipun Selvia sama Dila itu sahabat yang udah kamu anggap kayak keluarga sendiri tetep aja ada beberapa hal yang nggak perlu dibicarakan. Terutama urusan ranjang kita, mami sama papi juga nggak boleh tau. Pokoknya urusan yang satu itu nggak boleh dibahas sama siapa pun.” Ucap Dirga perlahan.


“Gitu yah?”


“Iya, Sayang.” Jawab Dirga.


“Padahal tadinya aku mau bagi-bagi pengalaman aja, Yang. Biar mereka bisa belajar gitu, Jadi kalo mereka udah nikah nanti nggak blank. Kan kata guru kita juga, kita tuh harus saling berbagi ilmu dan pengalaman. Yang udah paham dan bisa boleh share ilmunya ke temen-temen yang belum bisa.”


“Ya tapi nggak gitu konsepnya kalo urusan ranjang, Sayang. Pokoknya urusan ranjang rahasia kita berdua. Mereka tuh nggak perlu diajarin juga ntar bisa sendiri, alamiah. Kayak kamu yang sekarang mulai Pro mainnya. Ntar cobain di atas yah!”


Mendengar itu Kara jadi menunduk dan menahan senyum, wajahnya seketika bersemu merah.


“Kenapa mendadak diem gitu? Jangan bilang kalo kamu lagi ngebayang-“


“Apaan sih, Yang. Nggak kok.” Elak Kara.


“Terus kenapa?”


“Malu.” Jawab Kara lirih.


Dirga mencubit pipi Kara, “giliran bahas kayak ginian sama suami sendiri malu, tapi sama temen-temen kagak malu.”


“Iya besok-besok nggak akan di bahas lagi. Malu.” Jawab Kara.


“Good.” Dirga mengelus sayang puncak kepala Kara.


Seminggu berlalu, kini mereka sudah kembali ke sekolah. Serangkaian jadwal padat di semester dua sudah tersusun rapi. Dari mulai penilaian tengah semester, uji kompetensi keahlian, ujian sekolah tulis hingga ujian praktek. Waktu belajar bagi kelas 12 di semester dua bahkan hanya empat bulan, itu pun termasuk ujian. Sungguh waktu yang tak terasa akan cepat berlalu.


Saat pulang sekolah pun siswa-siswi kelas 12 tak langsung bubar, mereka menerima pelajaran tambahan hingga sore. Terutama untuk pelajaran kejuruan yang akan diujikan saat uji kompetensi keahlian nanti. Meski jadwal pada merayap dan harus belajar ekstra tapi Kara dan Dirga punya jadwal tersendiri setiap malam.


“Sayang, udahan belajarnya. Jadwal main.” Dirga menutup buku pelajaran Kara.


“Siap.” Kara buru-buru menyusul Dirga ke ranjang dan memeluk manja suaminya.


“Sayang...”


“Hm?”


“Besok udah tanggal satu kan?” tanya Dirga.


“Iya, sayang. Emang kenapa?” Kara mulai nakal melepas kancing piama Dirga.


“Bentar-bentar!” Dirga beranjak duduk dan bersandar di kepala ranjang, “Biasanya kan akhir bulan jadwal merah, Yang. Terakhir kamu dapet tanggal 30 kan? Biasanya kan tiap dapet selalu maju dua hari. Harusnya tanggal 28 kemaren kamu udah dapet, Yang.” Dirga menghitung seksama dengan jari-jarinya, sejak dulu ia memang hapal betul jadwal merah Kara, mengingat gadis itu yang selalu mengeluh sakit perut tiap datang bulan.


“Sayang gimana kalo?” belum selesai bicara keduanya hanya bisa saling tatap dalam diam.


“Nggak mungkin lah, Yang. Kan kamu selalu pake helm.” Ucap Kara.


“Yang waktu main pertama aku nggak pake, Ra. Lupa, kan helm nya aku taro di kamar kamu. Kita main kan di rumah aku.”