
“Dirga mana?” Tanya daddy Ardi yang baru saja duduk di meja makan.
Mommy Miya seperti biasa menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya, owner restoran khas Jogja yang sudah membuka cabang dimana-mana itu terlihat sibuk dengan wajan dan teman-temannya di belakang sana.
“Masih di kamar kayaknya. Belum kelihatan dari tadi.” Jawab Miya seraya meletakan kopi untuk suaminya.
“Bentar mommy panggil anak daddy yang super nggak peka itu.” lanjutnya.
“Anak kamu juga kali mom.” Balas Ardi.
“Tapi kayak daddy nya, nggak peka.”
“Iya kayak aku setianya. Tapi emosiannya kayak mommy nya, gampang banget marah.”
“Setia dari mana? Kemarin Kara bilang dia jalan sama cewek lain.”
“Tuh kan mommy mulai ngegas, udah emosi aja. Namanya juga anak-anak wajar kalo ada ribut-ribut, proses pendewasaan diri. Anak kita kayak gitu juga pasti ada alasannya, emang selama ini mommy pernah liat anak kita deket sama perempuan selain Kara?”
Mommy Miya terpaku sebentar kemudian mengangguk, “Ya nggak pernah sih. Tapi tetep aja kemaren dia jalan sama cewek lain kata Kara.”
“Pokoknya mommy masih kesel sama Dirga. Bentar mommy panggil dulu anaknya.”
“Katanya kesel?”
“Ya kesel-kesel juga anak sendiri, Dad. Mana ganteng lagi.” Balas Miya seraya pergi menuju kamar putranya.
“Kakak sarapan dulu. Tumben kamu...” mommy Miya tak melanjutkan kalimatnya begitu melihat putranya yang masih terlelap dengan seragam pramuka hari kemarin.
“Ya ampun ini bocah nggak mandi? Mana pintu balkon nggak di tutup juga.” Mommy Miya beranjak mendekati putranya dan menepuk pelan bahu lelaki yang masih terlelap meski waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi. “Kakak bangun... Dirga...”
“Dirga bangun! Jangan mentang-mentang hari libur kamu mau bangun siang. Mana nggak mandi dari kemarin.”
Sudah berulang kali Miya menepuk bahu putranya tapi Dirga tetap tak terganggu, justru menggenggam erat jemari mommy nya dengan kedua tangan.
“Gue kangen, Ra. Gue minta maaf deh, jangan ngambek yah.”
Mommy Miya segera menarik tangannya, “sampe kebawa mimpi segala tapi nggak mau ngaku.” Ucap mommy Miya seraya menggelengkan kepala. “perasaan dulu jaman mommy muda nggak gini-gini amat. Sifat kamu ini nurun siapa sih, nak? Punya mommy sama daddy yang super peka tapi kok kamu nggak pekaan banget. Mana nggak peka sama perasaan sendiri lagi.”
“Dirga bangun!!” Mommy Miya menepuk pipi putranya.
“Ampun susah bener dah dibanguninnya, tumben. Biasanya aja selalu bangun pagi-pagi meskipun libur sekolah.
Ditepuk pelan tak bangun-bangu akhirnya mommy Miya mencubit pipi Dirga.
“Sakit, Ra. Gue kan udah minta maaf.” Ucap Dirga setengah sadar dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.
“Mommy?”
“Iya ini mommy, kamu kira siapa? Lengkara?” ejek mommy Miya, “Ketar ketir kan kamu perjodohan dibatalkan? Katanya bebas? Nyatanya? Liat diri kamu, acak kadul nggak jelas. Mandi terus makan, mommy tunggu di bawah.”
“Apaan sih mom.. aku masih ngantuk, mau tidur aja. Pusing kepala aku, semalaman nggak tidur.”
Mommy Miya hanya menggelengkan kepala melihat sikap putranya yang berubah drastis.
“Nggak tidur semalaman?” Mommy Miya sampai ragu ini benar-benar Dirga atau bukan, selama ini hidupnya selalu teratur dan nyaris sempurna dengan semuanya jadwal hariannya.
Mommy Miya menyelimuti putranya, “kalo udah kayak gini kasihan juga kamu, nak.”
“Mana Dirga nya? Kok nggak ikut?” tanya daddy Ardi begitu ia tiba di meja makan.
“Masih tidur. Semaleman nggak tidur katanya, mana masih pake seragam yang kemaren. Nggak mandi itu anak.” Balas mommy Miya.
Sampai jam sembilan siang Dirga masih belum menampakan diri sementara Kara sedang membantu maminya mengurus tanaman. Semenjak bisnis kastus mini dengan adik iparnya, Jesi memang jadi ikut-ikutan mengurus tanaman, katanya sih obat gabut karena sudah terlalu sultan.
“Mi, ini yang kecil-kecil Kara mandiin boleh yah? Biar cepet gede.” Teriak gadis yang sudah menyiram deretan kaktus mini tanpa menunggu jawaban mami nya.
“Mami tuh gimana ngurus bunga kok tanahnya sampe kering gini? Pantesan nggak gede-gede, kecil mulu.” Ocehnya seraya terus mengguyur kaktus-kaktus itu hingga airnya luber-luber.
“Dah lah mati semua kaktus mahal aku.” Mami Jesi menghela nafas dalam, “yang penting kamu happy aja dede bayi gemoynya mami.”
Tin.. tin...
suara klakson bertepatan dengan berhentinya sebuah mobil di halaman rumah membuat Kara dan maminya memengok seketika.
“mami kira tante Alya.” Ucap Jesi.
“Tama, Mi. Temen sekelas Kara, murid pindahan.” Ucap Kara.
“Kok nggak bilang mau kesini, Tam?” tanya nya begitu Tama menghampirinya.
“Gue udah chat sama telpon dari kemaren tapi nggak ada jawaban. Dila sama Selvia juga nggak bilang apa-apa jadi gue susulin aja kesini.” Balas Tama.
“Pagi tante..” sapanya pada mami Jesi seraya mengulurkan tangannya guna menyalami wanita yang terkesiap menatapnya.
“Mi...” Kara menyenggol bahu maminya yang terdiam, “Tama mau salaman.” Lanjutnya.
“Ah iya...” Jesi mengulurkan tangannya, Tama langsung menyalaminya penuh hormat.
“Pratama Arhan, Tante.”
“Kenapa, Mi? Tama cakep yah?” tanya Kara sambil tergelak, “terseponah gitu mami, inget udah punya buntut dua mi...” ledeknya.
“Apaan kamu tuh... mami cuma agak gimana gitu... wajahnya kayak yang udah nggak asing buat mami. Mirip siapa gitu yah ...” balas mami Jesi, “Ya udah kalian duduk dulu biar mami bikin minuman buat kalian.”
“Duduk, Tam.” Ucap Kara mempersilahkan.
“Kakak lo mana? Tumben nggak keliatan.” Tanya Tama seraya duduk.
“Kaleeeng...” teriakan Sasa membuat Kara menoleh, rupaya kedua bocah yang menjalani kegiatan pramuka itu sudah pulang dijemput oleh papi Rama.
“Ririd, barang-barang Sasa keluarin juga sekalian yah.” Ucapnya pada Ridwan dan langsung berlari menghampiri Kara.
“Kangen banget Sasa sama Kaleng.” Ucapnya seraya memeluk Kara.
“Kangen Kara apa sama abangnya Kara?” celoteh Tama yang masih mengira gadis itu adalah calon istri Dirga.
“Eh ada bang cogan.” Sasa melepas pelukannya dan menatap Tama.
“Apaan cogan?” tanya Tama.
“Cowok ganteng lah, Bang.” Balas Sasa sambil tertawa.
Tama menggelengkan kepala melihat sikap receh Sasa. “lo tuh nggak usah gombal, udah punya calon laki juga. Bisa-bisanya gombalin cowok lain di rumah calon suami sendiri.”
Sasa tertawa mendengarnya, selama ini kan dia memang selalu bercanda untuk menikah dengan Ridwan guna menggantikan Kara dan Dirga yang selalu ribut.
“haha... Sasa kan calon istri yang nggak dianggap. Bang cogan jomblo nggak? Sama Sasa aja yuk!” jawabnya enteng.
“Astaga ini bocah! Lo kalo ngomong dijaga, ntar si Dirga makin kesel sama gue gara-gara calon istrinya ngegombal kayak gini.”
“Kok Sasa jadi calon istri kak Dirga sih? Kak Dirga itu kakaknya Sasa, bukan calon suami.” Jawab Sasa.
“Ini gimana sih, Ra? kok gue jadi bingung.” Ucap Tama.
“Elah bang Cogan gitu aja bingung. Sini biar Sasa jelasin deh. Sasa ini adiknya Kak Dirga, tetangga depan sana.” Sasa menunjuk rumahnya bertepatan dengan Dirga yang masuk ke halaman rumah Kara.
“Kak Dirga kok pake baju pramuka? Kakak mau pramukaan apa gimana?”
“Kenapa wajahnya kusut gitu? Kakak sakit?” Sasa beranjak berdiri dan meletakan punggung tangannya di kening Dirga.
Kara melihat sekilas ke arah Dirga yang masih mengenakan seragam hari kemarin, acak-acakan dengan wajah lusuh tapi tetap terlihat tampan.
“Kalo itu bocah adiknya Dirga berati calon istri Dirga itu?” Tama menunjuk Sasa kemudian berganti pada Kara.
“Iya, Kara calon istri gue. Ngapain lo jam segini udah di rumah calon istri gue?” ucap Dirga penuh penekanan. "balik sana!" lanjutnya.
.
.
.
Bang malu bang, mending abang yang balik dulu gih. Mandi dulu, dari kemaren abang belum mandi😛😛😛