Always Loving U

Always Loving U
Mohon Nikahkan



Mendengar kegaduhan di sekitarnya membuat Dirga kehilangan fokus. Sedari tadi dia berusaha mencoba mengucapan ijab kabul dalam hati, berharap saat pelaksanaan nanti tak sampai salah ucap apalagi sampai harus mengulang. Ada yang bilang kalo sudah salah sekali dan harus mengulang biasanya mental yang kena, berujung pada pengulangan kesalahan yang sama.


Dirga menengok ke belakang, ada Kara yang sibuk mencoba meraih alas kaki dan calon mertuanya yang ikut repot di samping calon istrinya yang masih terus ngeoceh-ngoceh melayani ledekan Om nya. Dirga tau betul, Kara dan Om nya memang sebelas dua belas tak ada yang mau kalah. Semakin Kara kesal maka semakin bahagia si Om durjana itu. Kadang Dirga tak habis pikir kok bisa adik calon mertuanya yang anggun dan super soleha itu punya suami sengklek seperti Om nya Kara. Sudah dapat dipastikan hidup wanita berhijab itu pasti super berwarna karena harus mengurus suami sengklek ditambah dua putra mereka yang sifatnya full menurun dari si ayah. Untung saja dua putra Raka tak ikut hadir pada pagi ini, kalo ada mereka dijamin adu mulut tak akan selesai sampe besok juga. Ayah dan anak itu sama-sama suka meledek Kara.


Dirga kira beranjaknya Rama dari duduknya tadi bisa membuat adu mulut Kara dan Om nya berhenti, ternyata salah. Calon mertuanya itu justru ikut-ikutan terbawa emosi.


“Kenapa Papi malah ikutan oleng sih!” mau tak mau Dirga jadi ikut berdiri dan menghampiri mereka.


“Pi, yang sabar dong.” Ucap Dirga. “Biar aku aja yang bantu Kara.” lanjutnya.


“Ya, kamu urus lah. Bisa-bisa papi darah tinggi dan kalian gagal nikah.”


“Pi, jangan sampe gagal dong.” Protes Kara. “Kalo sampe gagal gara-gara Om Karak nih!” lanjutnya dengan tatapan kesal pada si Om yang hanya membalasnya dengan senyum meledek.


“Udah jangan ngoceh-ngoceh terus, mau nikah nggak sih? Pala gue udah mulai pusing nih.” Ucap Dirga.


“Jadi lah. Gue juga pusing ini kepala kleyengan.” Balas Kara.


“Ya udah kalo gitu cepetan duduk, jangan ngoceh-ngoceh terus. Nggak malu apa diliatin orang?”


“Iya ini juga mau. Jangan galak-galak dong.” Balas Kara yang langsung duduk di kursi yang sudah di siapkan, disusul oleh Dirga yang duduk di sampingnya.


“Ya udah buruan di gass pak penghulu! Jangan lama-lama, calon suami Kara udah nggak sabar pengen sah.” Ucap Kara dengan entengnya.


Rama yang duduk di samping penghulu hanya bisa menghela nafas panjang, sementara Dirga menatap Kara dengan jengah. Kenapa calon istrinya ini lain dari yang lain? Sudah berulang kali ia melihat orang menikah, dari mulai sanak saudara hingga teman bisnis orang tuanya. Tapi tak ada pengantin yang seperti calon istrinya. Rata-rata pengantin wanita begitu anggun dan hanya berbicara saat diminta oleh petugas KUA, lah calon istrinya malah terus bicara non stop.


“Heh santen sachetan, kamu diem dulu bentar. Sampe sah aja, atau mau itu bibir Om lakban?” ucap Raka yang duduk di samping meja. Pria sengklek itu memang akan menjadi saksi untuk pernikahan keponakannya.


“Ngeselin ih dasar tukang misting.” Balas Kara.


“Papi lo tuh yang tukang misting.” Timpal Raka.


“Ini sudah bisa dimulai belum?” setelah sekian lama akhirnya petugas KUA kehilangan kesabaran karena terus menerus menyaksikan adu mulut Om dan ponakan.


“Bisa, Pak.” Jawab Rama. “Kalian berdua diem!” tegasnya pada Raka dan Kara yang langsung bungkam seketika.


“Baik, berhubung tadi dokumen-dokumen sudah di periksa ulang dan dipastikan kebenarannya maka kita bisa memulai acaranya sekarang juga.” Ucap penghulu yang kemudian membuka acara dengan pembukaan kemudian memberikan sedikit khotbah nikah, di lanjut dengan permintaan permohonan dinikahkan dari calon pengantin wanita pada walinya.


“Silahkan sekarang Neng Lengkara bisa minta dinikahkan pada Pak Rama.” Ucap Penghulu.


“Iya lah. Giliran di suruh ngomong malah diem.” Jawab Raka.


“Ya kan Kara takut salah.” Kara tak terima. “Langsung ngomong sekarang nih Pak?” tanyanya pada penghulu.


“Oke deh siap.” Ucap Kara saat mendapat anggukan dari penghulu.


“Papi buruan nikahin Kara sama Dirga sekarang!” Penghulu yang sudah bersiap menuntun permintaan supaya dinikahkan mendadak shock mendengar gadis itu meminta dinikahkan dengan bahasanya sendiri sementara pengantin lain biasanya mengulang kalimat yang diucapkan penghulu.


Ck! Raka yang duduk di dekat Kara berdecak lirih melihat kelakuan ponakannya. Andai bukan acara sakral sudah Raka getok itu pala si santen sachetan.


“Nggak kayak gitu, santen! Lo dengerin ucapan penghulunya terus lo ulangin deh. Asal jeplak aja lo!”


“Lah mana Kara tau, Om. Salah pak penghulunya juga nggak bilang.” Jawab Kara. “Ya udah ulang deh Pak.”


Akhirnya Kara mengulang permintaannya dan mengikuti kata-kata yang diucapkan penghulu.


“Papi dan Mami kesayangannya Kara...” Ya dasar si santen, kata-kata penghulu di tambah-tambahin sedikit sepaya pas. Katanya nggak adil kalo Cuma minta ke papi nya aja, mami juga harus disebut dong.


“Hari ini, Kara mohon pada Papi sama Mami untuk merestui dan menikahkan Kara dengan laki-laki pilihan Kara yang paling ganteng dan paling pinter se SMK Persada, My Dirgantara. Eh Dirgantara Rahardian maksudnya.” Ralatnya cepat.


“Kara haturkan terimakasih atas segala bimbingna dan kasih sayang yang telah papi dan mami yang telah papi dan mami berikan pada Kara sejak saat dalam kandungan sampai saat ini.”


“Kara juga mohon maaf atas segala kesalahan yang telah Kara perbuat baik yangdisengaja maupun yang tidak disengaja.”


“Kara jadi sedih... Kara sering nakal, ngelawan mami sama papi. Maafin Kara...” si cengeng manja itu jadi mewek dan tersedu-sedu. Entahlah, disaat seperti ini rangkaian kenakalannya tiba-tiba bermunculan. Dari mulai datang ke sekolah terlambat, selalu membantah setiap kali di nasehati mami dan papi, diam-diam nyuri kiss kiss padahal jelas-jelas dilarang papinya, dan banyak lainnya. Dirga yang duduk di sampingnya menepuk pelan punggung Kara.


“Kara mohon keikhlasan ridho dan keikhlasan papi untuk menikahkan Kara dengan Dirga.” Lanjutnya dengan suara yang sudah tak jelas.


Sama halnya dengan Kara, Rama bahkan terlihat menggigit bibirnya menahan tangis meski mata yang biasanya memberikan sorot tegas itu sudah terlihat berkaca-kaca mendengar ucapan putri kesayanganya. Mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir putrinya seperti membentangkan jarak diantara mereka, memberitahu jika sebentar lagi putri kesayangannya itu akan menjadi milik orang lain.


.


.


.


yang udah nikah pasti tau rasanya, momen ini tuh luar biasa banget. Lanjut besok sahnya yah. jangan lupa like komen dan kasih vote nya dong buat Kaleng saka Dirga.