Always Loving U

Always Loving U
Double bonus



Hei semua apa kabar? maafkan kemaren nggak up. masuk sekolah setelah libur panjang malah disuruh bersih-bersih kelas dan lingkungan sekolah, alhasil pulang sekolah tepar dan nggak nulis, ditambah jempol aku yang keparud 🥲🥲 ngetik jadi lama dan typo terus. you know lah keparud? 😅😅 orang sunda pasti tau deh.


.


.


.


“Kaleng mana Kak?” tanya Sasa disela-sela vidio call nya.


“Tidur. Vidio call sama siapa lo?”


“Ntar lagi Bang. Ada Kak Dirga.” Sasa buru-buru mematikan panggilannya sebelum Dirga melihat.


“Tama yah?” tebak Dirga. Sasa tak menjawab, ia malah mengambil jajanan dan memakannya.


“Lo jangan deket-deket sama Tama, Sa. Dia ceweknya banyak, gue nggak mau lo mewek-mewek ntar! Susah banget dibilangin dari dulu.” Ucap Dirga, “ini si Deva kemana? Udah pulang?”


Sasa meletakan jajanannya, ia hampir tersedak karena buru-buru mau ngomong. “pelan-pelan ngapa Sa!” Dirga memberikan air minum pada Sasa.


“Makasih Kak.” Jawab Sasa setelah meneguk air, “Kakak tau nggak ternyata yang dijodohin sama Kak Deva itu adiknya Karet. Kak Shaka, bukan kakak. Wah bakalan rame sih ini, Kak Shaka kan udah punya pacar yang seksi itu loh.” Jelas Sasa yang sedari tadi mendengarkan obrolan kakeknya dengan Deva.


“Tapi Sasa tim kak Deva sih. Sasa dukung Kak Deva buat jadi istrinya Kak Shaka. Dari pada pacarnya Kak Shaka yang sekarang, seksi cantik iya tapi jutek, nggak friend sama Sasa. Tadi Sasa udah bilang kalo Sasa bakal bantuin Kak Deva, Sasa juga mau ajak Kaleng buat bantu. Sekarang Kak Deva nya dibawa kakek buat nemuin Kak Sakha. Kakak juga bantuin yah. Ternyata aslinya kak Deva tuh baik loh, dia ganggu Kakak sama Kaleng karena ngira yang dijodohin sama dia tuh kakak.”


Sore hari mereka baru beranjak pulang dari rumah Kakek, sepanjang jalan Sasa menceritakan soal perjodohan Deva. Meskipun ia kesal karena Dirga tak membiarkannya main ke rumah Tama.


“Wah gila berati di sabun salah sasaran dong malah ngira laki gue jodohnya.”


“Ya gitu deh Kak. Salah kakek juga sih nggak pernah bilang kalo yang dijodohin itu Kak Shaka. Sasa aja jadi bengek tadi dengernya. Mana kak Deva udah nangis-nangis.”


“Yang, mau kemana?” tanya Kara saat Dirga tiba-tiba menepikan mobilnya dan keluar.


“Beli rujak bentar, enek nih. Makan rujak kayaknya seger.” Dirga menunjuk tukang rujak bebek di seberang jalan. “kamu mau nggak?” tanyanya pada Kara yang hanya dibalas gelengan kepala.


“Kak, Sasa mau.” Ucap Sasa dari belakang, “yang pedes.” Imbuhnya.


“Lo apa sih yang nggak mau, Sa!” sindir Dirga namun ia tetap kembali dengan membawa beberapa bungkus rujak. Satu bungkus ia berikan pada Sasa, satu ia makan dan sisa dua bungkus lagi ia berikan pada Kara.


“Banyak banget sih Yang belinya?”


“Buat di rumah.” Jawabnya singkat.


Mereka bertiga tiba di rumah jam delapan malam karena Dirga yang mendadak mengajak keduanya jalan-jalan, sekalian makan malam di luar. Sasa tentu turun dari mobil dengan sekantong kresek jajanan hasil malak kakaknya sendiri, Kara pun tak kalah. Kedua tangannya penuh membawa aneka buah, suaminya mendadak membeli banyak buah. Rujak bebek yang tadi katanya buat di rumah saja sudah habis dimakan. Kata Dirga beli buahnya saja supaya bisa bikin rujak sendiri di rumah.


“Kalian ini dari mana saja kenapa jam segini baru pulang? Papi nungguin, udah uring-uringan dari tadi.” Cerocos Jesi, “Kalian abis belanja bulanan?” lanjutnya melihat barang bawaan anak, menantu dan Sasa.


“Kita beli buah banyak banget, Mi. Nih liat.” Sasa yang menjawab, “tadi kita beli rujak di jalan enak banget. Kak Dirga aja sampe nambah.” Jelasnya.


“Dirga, ini udah jam delapan lebih, kamu mau muntah-muntah lagi nggak?” tanya Jesi dengan raut wajah sumringah, jika tebakan Raka benar maka ia akan punya cucu.


“Tadi enek Mi, tapi sekarang udah nggak. Ternyata rujak bikin aku nggak muntah-muntah lagi, makanya aku beli banyak buah nih. Kenapa emang, Mi?”


“Nggak apa-apa. Sayang kamu udah dapet belum bulan ini?” lanjutnya pada Kara.


“Udah belum yah, Yang? Lupa aku.” Si istri malah balik tanya pada Dirga.


“Ya udah lupa nggak apa-apa, bagus malah. Sini-sini masuk! Biar belanjaannya mami yang bawa, kamu jangan bawa yang berat-berat.” Jesi mengambil kantong belanjaan di tangan Kara.


“Wih ada Om Karak lagi, abis nebeng makan yah Om?” ledek Kara, “Eh ada Om Aldi juga. Papi sakit?” tanyanya karena melihat Rama yang memijit kening.


“Siap-siap Wan, double bonus.” Ledek Raka.


“Bonus apaan Om? Kara mau juga dong.” Kara langsung menghampiri Om nya.


“Iya ntar gampang kita bagi dua lah. Kalo lo hamil beneran!”


“Ha-mil?” Kara jadi bingung, ia menatap Dirga yang sama-sama bungkam saat ini.


“Udah cepetan periksa, Di.” Ucap Rama pada Aldi. Pria itu langsung memeriksa Dirga, yang belum apa-apa sudah mendapat tatapan tajam dari mertuanya.


“Sayang kamu ikut mami.” Jesi mengajak Kara ke dapur, memberikan tespek pada anak gadisnya.


“Tapi Mi...” Ragu-ragu Kara menerima tespek dari maminya. Meskipun ia yakin dirinya tak hamil karena Dirga selalu memakai helm, kecuali kalo stoknya sedang habis sih.


“Udah pake aja, nanti kasih ke Mami.”


Tak lama Jesi kembali bersama Kara. Dua wanita beda generasi itu tersenyum ceria. Jesi bahkan berulang kali mengecup kening putrinya. Sementara Kara terus mengusap perutnya dengan tatapan bahagia.


“Gimana hasilnya, aqua gelas? Dari yang gue liat sih tercium bau-bau double bonus.” Tanya Raka.


“Karam, kita mau punya cucu. Liat nih garisnya jelas banget.” Jesi menunjukan tespek yang ia bawa.


Rama langsung menjambak rambutnya sendiri, pusing. Dia beralih menatap sekilas Dirga yang sudah memeluk Kara. tangannya terus mengusap perut Kara, ditambah dengan Sasa juga yang join mengelus calon keponakannya.


“Ya ampun Sasa udah mau jadi Ante aja. Baik-baik yah di dalem, nanti ante kenalin sama Om ganteng.”


“Wan, jangan lupa double bonus!” belum puas Raka terus menganggu kakak iparnya.


“Om, jangan lupa bagi dua.” Sambung Kara.


“Kalian bener-bener!” Rama men de sah frustasi. “Dirga, nanti kamu temui Papi di ruang kerja!”