Always Loving U

Always Loving U
Yang penting sah!



“Papi jangan sedih, jangan nangis juga. Kara nggak akan kemana-mana kok, kalo pun pindah juga cuma ke depan rumah. Kalo nggak, Dirga yang pindah kesini juga nggak keberatan kok.” Ucap Kara yang melihat mata papi nya berkaca-kaca.


“Papi nggak nangis. “ elak Rama meski matanya sudah berair. “Papi dengan ikhlas akan menikahkan kamu dengan Dirga. Papi dan mami do’akan semoga kalian selalu bahagia, diberi kesabaran dalam menghadapi cobaan ke depan, dimudahkan rejeki dan diberi keturunan yang soleh dan solehan kelak jika sudah waktunya.”


“Pak penghulu kita bisa mulai sekarang.” Imbuhnya.


“Baik. Mau dinikahkan oleh Pak Rama atau diwakilkan?”


“Oleh saya saja langsung.” Jawab Rawa tegas. “Dirga, kamu sudah siap?”


“Siap, Pi.”


“Kita latihan dulu sekali.” Saran penghulu.


Dirga mengucap ijab kabul sesuai arahan dari penghulu dengan lancar. Sejak kepulangan Kara semalam ia memang benar-benar menghapal ijab kabul berulang kali hingga lancar.


“Baik kita bisa mulai sekarang yah. Silahkan pengantin laki-laki bisa menjabat tangan calon ayah mertua.”


Sesuai instruksi Dirga menjabat tangan Rama dengan tenang, meski dalam hatinya terdapat rasa tegang yang tak bisa diungkapkan.


“Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Dirgantara Rahardian bin Ardi Rahardian dengan putri saya, Lengkara Ayudhia dengan mas kawin uang sepuluh juta rupiah dibayar tunai.” Ucap Rama.


“Saya terima nikah dan kawinnya Lengkara Ayudhia binti Ramadhan Darmawan putri bapak untuk saya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Balas Dirga dengan lancar.


“Sah!!” teriak Sasa paling kencang, bahkan sebelum penghulu bertanya pada saksi.


“Belum ditanya, bocil! Udah main teriak sah aja lo!” cibir Tama.


“Tapi kalo kayak gitu udah sah, Bang. Sasa kan selain baca teks ijab kabul, liat referensi vidio di youtube juga.” Ucap Sasa.


“Bagaimana saksi, sah?” tanya penghulu pada Raka.


“Sah, Pak.” Jawab Raka yang langsung disambung dengan do’a. Semua orang yang ada di ruang kelurga itu nampak khusuk mengamini setiap do’a yang dilantunkan. Tak terkecuali si micin yang mendadak diam dan menengadahkan tangannya meski sebelumnya sempat heboh sendiri.


“Alhamdulillah acara ijab kabulnya berlangsung dengan lancar. Selanjutnya untuk pembacaan sighat ta’liq bisa dibaca dan dipahami berdua saja oleh pengantin, berhubung saya harus segera menuju ke tempat resepsi pernikahan selanjutnya.” Pamit penghulu.


“Kebetulan hari ini ada tiga pasang pengantin. Saya sengaja mengutamakan putri pak Rama dulu karena saya kira bakal cepat berhubung disini tidak pakai resepsi, tidak taunya justru molor lama banget. Ini keluarga pengantin yang lain sudah bolak balik nelpon terus.” penghulu memperlihatkan panggilan masuk di ponselnya.


Melihat itu Rama jadi tak enak hati, “mohon maaf sekali pak. Putri saya memang begitu susah dinasehatin suka banyak ngomong jadi ngabisin waktu.”


“Tidak apa-apa, Pak. Saya bisa maklum, mereka masih sangat muda.” Balas Penghulu.


“Saya pamit dulu yah. Saya do’akan kalian jadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Untuk buku nikah kalian nanti nyusul yah berhubung kalian nikahnya dadakan dan KTP Lengkara masih dalam proses jadi kemungkinan buku nikah bisa diambil dua atau tiga hari ke depan.” Jelasnya sebelum pergi.


“Tidak apa-apa, Pak. Yang penting udah sah.” Ucap Kara. “Ya kan My Dirgantara?” lanjutnya pada Dirga. “Eh My future husband... Eh my husband, sekarang kan udah jadi suami gue.” Ralatnya dengan cepat.


“Suami... pengen peluk.” Ucapnya manja.


“Ampun dasar bocah bucin kagak ada malu-malunya.” Sindir Raka.


“Heh aqua gelas mini! Santen sachetan! Lo kagak ada jaim-jaimnya dikit jadi penganten, malah minta peluk! Malu masih banyak orang tuh.”


“Iya, Kaleng. Kan udah Sasa kasih tau urutannya semalem sebelum Kaleng pulang. Kok bisa lupa sih.” Sambung Sasa yang auto menghampiri setiap ada keramaian. Pokoknya rame dikit dia langsung nyambung. Tak lupa Tama pun ikut ia sered, parahnya laki-laki itu pasrah dari pada adu mulut dengan bocil yang tak ada habisnya.


“Perlu Sasa contohin nggak? Bang, ulurin tangannya sini kita salaman.” Ucapnya pada Tama.


Dirga menepis tangan Tama yang hampir di raih adiknya, “jangan manfaatin adek gue lo!”


“Adek lo yang mulai, gue cuma nurutin doang dari pada rusuh.” Balas Tama.


“Malah pada ribut kalian itu. Sasa duduk lagi sana.” Ucap Miya menengahi, dengan cemberut putri bungsunya itu kembali ke tempatnya.


“Sayang, kamu belum salim sama suami kamu.” Ucap Jesi.


“Dirga, ulurin tangan kamu!” imbuh Miya.


Sedikit kaku Dirga mengulurkan tangannya yang disambut tangan Kara dengan cepat. Gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu mencium punggung tangan Dirga dengan takjim.


“Malu...” ucap Kara lirih saat melepas jabatan tangan Dirga.


Kedua tangan Dirga reflek menangkup wajah Kara dan mengecup singkat kening gadis itu yang langsung dihadiahi sorakan dari kedua sahabatnya serta Sasa yang tak kalah heboh.


“Malu ih...” Kara bahkan tak berani mengangkat wajahnya setelah kecupan singkat itu. Rasanya nano-nano, jauh berbeda dengan kiss kiss yang biasa ia dapatkan dari hasil nyuri-nyuri. Kali ini lebih jeda jedug nggak jelas.


“Biasanya aja nggak tau malu.” Ledek Dirga seraya merangkul bahu Kara, gadis itu justru balas memeluknya dengan erat.


“Ra, lo demam? Badan lo panas.”


Belum sempat Kara menjawab si adik iparnya sudah kembali menghampiri.


“Kaleng... finaly, Sasa beneran jadi adiknya Kaleng. Pengen peluk, Kak Dirga minggir bentar lah.” Sasa menarik paksa Kara, “peluk-peluk kak Dirga nya ntar malem aja Kaleng. Sekarang peluk Sasa dulu.” Lanjutnya.


Dirga membiarkan istrinya dikuasai oleh adik dan sahabatnya, mereka terlihat asik sendiri melakukan foto dengan aneka pose. Bukan diabaikan oleh Kara, tapi jujur mengimbangi kehebohan tiga gadis itu membuat Dirga geleng kepala hingga ia memilih duduk sendiri setelah selesai melakukan beberapa pemotretan. Baik itu yang hanya berdua saja maupun bersama keluarga besar mereka.


“Selamat yah, gue titip Lengkara.” Ucap Tama yang tiba-tiba duduk di sebelahnya. Sudah tentu berkat usaha kerasnya ia bisa lepas dari jeratan si gurih Sasa.


“Nggak pake titip segala kali, dia milik gue.” Balas Dirga tanpa melihat lawan bicaranya. “Gue peringatin lo jangan deket-deket istri gue lagi meskipun kalian sekelas.” Ucap Dirga penuh penekanan pada kata istri.


“Iya deh yang udah punya istri.” Balas Tama, “tapi gimana yah kalo satu sekolah tau kalian udah nikah? Auto drop out kayaknya.”


“Lo jangan macem-macemnya yah, Tam!”


“Gue cuma bercanda, lagian nggak ada untungnya buat gue kalo bocorin status kalian.” Ledek Tama. “Asli gue ikut bahagia buat lo sama Kara. satu pesan gue buat lo...”


“Apaan? Jangan so akrab deh pake mau ngasih pesen segala.”


“Lo jangan sampe telat ngangkat!” Tama menepuk pundak Dirga seraya beranjak dari duduknya, “Kalian masih sekolah, nggak lucu kalo cebong lo tumbuh sebelum kalian lulus sekolah.” Lanjutnya kemudian berlalu begitu saja.


“Dasar gila!” cibir Dirga.