
“Makan dulu, Ra. Ntar lagi sayang-sayangannya.” Dirga berusaha melepaskan pelukan erat Kara.
“Udah nggak lapar, Ga. Efek meluk suami kali yah jadi mendadak kenyang.”
“Nggak usah so gombal, makan cepet gue suapin terus minum obatnya.”
“Tapi makannya barengan yah? Sepiring berdua gitu.” Pinta Kara.
“Buat lo semua aja, gue udah makan malam tadi.”
Kara langsung cemberut dan melepaskan pelukannya, “bisa-bisanya lo malah enak-enak makan pas gue kelaparan, Ga?”
“Lah siapa suruh pake acara mogok makan segala, udah makan aaa!” Dirga memberikan suapan pertamanya.
Meskipun manyun Kara tetap menerima suapan demi suapan yang diberikan Dirga. Sesekali suaminya itu mengelus sayang kepala Kara di sela-sela suapannya. Rama yang berdiri di depan pintu hanya tersenyum melihat keduanya, dia bersyukur setidaknya Dirga bisa dipercaya. Menantunya itu benar-benar hanya menyuapi putrinya dengan baik.
“Papi ngapain disitu? Ngintip yah?”
“Nggak, Papi cuma mau nganterin air nih!” Rama masuk dan menghampiri keduanya, dia meletakan gelas yang ia bawa di meja.
“Alesan pasti nih Papi, orang Dirga udah bawa airnya juga.” Kara menunjuk gelas berisi air putih yang masih penuh, belum ia minum sama sekali.
“Kata Mami kamu harus banyak minum air putih biar cepet sembuh.” Elak Rama, sejujurnya ia memang hanya beralasan supaya bisa melihat apa yang dilakukan pengantin baru itu.
“Papi tinggal dulu ada kerjaan, jangan lupa obatnya dua sendok, Ga.”
“Iya, Pi. Siap.” Jawab Dirga.
“Alesan aja Papi tuh, Ga. Pintunya tutup, Ga!” ucap Kara setelah Rama keluar.
“Udah biarin aja, kalo pintunya di tutup nanti Papi makin curiga. Makannya cepetan abisin terus minum obat.”
“Lo tuh udah gede masih aja minum paracetamol cair, Ra.” Dirga menggelengkan kepala melihat botol paracetamol rasa stroberi di nampan yang ia bawa.
“Abisnya itu doang yang manis, yang lain pait. Gue nggak suka.” Balas Kara.
Makan malam dan minum obat sudah selesai tapi Kara belum juga mau tidur, dia masih betah memeluk lengan Dirga dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki yang sudah menjadi suaminya.
“Udah setengah sembilan, tidur yah? Besok sekolah.”
“Belum ngantuk, Ga. Masih pengen kayak gini.” Kara semakin menyandarkan kepalanya dalam.
“Belum ngantuk tapi mata lo udah sayu gitu, tidur yah.” Dirga membelai sayang rambut panjang Kara.
“Makin betah gue kalo diginiin, berasa disayang banget. Jangan pulang yah, bobo disini aja.”
“Nggak bisa, ntar Papi marah kalo gue nginep disini. Gue temenin sampe lo tidur, yuk pindah!” Dirga memapah Kara ke ranjang dan menyelimuti gadis itu.
“Jangan pulang dulu kalo gue belum tidur yah, Ga.” Ucap Kara lirih.
“Iya, sayang. Merem gih gue nggak akan kemana-mana sampe lo tidur.” Dirga duduk di samping ranjang. Tangan kirinya di genggam Kara sementara tangan kanannya mengelus sayang wajah yang hampir tertidur. Tapi semakin di elus mata Kara justru kian terbuka.
“Kenapa?” tanya Dirga.
“Nggak apa-apa, nyaman aja. Ini pertama kalinya lo ngelus wajah gue pas mau tidur, tapi bikin gue inget sama maling mesum yang pegang-pegang wajah gue.” Jelas Kara.
“Bentar, Ga.” Kara hendak duduk namun Dirga menahannya supaya tetap berbaring.
“Mau kemana sih? Disuruh tidur juga!”
“Mau meriksa pintu balkon udah dikunci apa belum, takut ada maling lagi gue suka lupa. Meresahkan soalnya itu maling, mana sampe sekarang belum ketangkep juga.”
“Udah tidur aja, biar ntar gue periksa. Lagian sekarang gue jamin aman dah nggak akan ada maling lagi.”
“Yakin?”
“Yakinlah orang sekarang malingnya udah jadi suami lo. Dah tidur yah sayangnya gue...”
“Jadi?”
“Iya yang tengah malem masuk kamar lo terus ngelus wajah lo kayak gini tuh gue.” Jelas Dirga seraya membelai wajah Kara.
“Kok bisa?”
“Bisa lah orang kangen waktu itu seharian lo ngambek terus nyuekin gue. Puas?” Dirga mencubit kedua pipi istrinya.
“Dah sekarang tidur yah istri gue yang paling imut...”
“Kiss kiss dulu sebelum bobo.” Pinta Kara seraya menyingkirkan poninya.
Dirga mendekatkan wajahnya dan mencium kilas kening Kara, “Udah. Tidur yang nyenyak yah.” Dirga menaikan selimut gadis itu hingga ke leher.
“Iya, gue merem nih. Berati besok kita nggak usah mogok makan lagi, Ga. Cukup lo jadi maling lagi aja. Besok pintu balkon nggak gue kunci deh.”
“Tidur, nggak usah aneh-aneh.”
Tak butuh waktu lama, dibawah belaian sayang diwajahnya ditambah pengaruh obat Kara sudah terlelap dengan nafas teratur.
“Selamat tidur, sayang.” Dirga beranjak dari duduknya dan mengecup kening Kara untuk kedua kalinya sebelum pergi.
Selesai dengan semua persiapan sekolahnya, Kara turun ke bawah dan berpamitan pada Jesi. Karena masih terlalu pagi, Rama bahkan belum berada di meja makan. Jesi saja belum selesai menyiapkan sarapan untuk mereka.
“Mami, Kara mau ke rumah Dirga. Pengen nyiapin sarapan buat suami.” pamitnya setelah mencium tangan Jesi dengan buru-buru.
“Sayang, jangan buru-buru ini masih pagi banget.” Teriak Jesi yang diabaikan, putrinya hanya melambaikan tangan tanpa berbalik. “Ya ampun anak itu...”
“Pagi Mommy...” sapanya setelah main slonong dan masuk dapur, Miya sampai kaget karena tak biasanya pagi-pagi sekali Kara sudah datang. Biasanya anak itu datang tepat saat mereka sedang sarapan tapi kali ini lebih awal.
“Kara bantuin nyiapin sarapan, Mom.”
“Nggak usah repot-repot sayang. Kara tunggu di meja makan aja, bentar lagi Dirga turun kok.” Ucap Miya.
“Nggak repot kok Mom, Kara bantu nuang susu sama ngoles roti. Kalo masak kan Kara nggak bisa.” Jawabnya dengan menahan senyum malu.
“Nggak usah malu-malu gitu, Mommy tau kamu sama kayak Sasa nggak bisa masak. Nggak apa-apa, tunggu di meja makan aja.”
“Pecat aja, Mom. Menantu kok nggak bisa masak.” Ejek Sasa yang baru saja tiba di meja makan.
“Micin ih jahat!” ucap Kara “Sayang, micin nakal tuh!” adunya pada Dirga yang baru datang. Dirga hanya mengelus sayang kepala Kara kemudian duduk di tempatnya.
“Pake selai cokelat kan, Ga? Biar gue siapin.” Kara mengambil dua lembar roti tawar dan mengolesnya dengan selai cokelat kemudian meletakannya di piring Dirga, “Silahkan sarapannya My Dirgantara.”
“Silahkan sarapannya My Dirgantara.” Sasa menirukan ucapan Kara dengan nada mengejek. “Mom, Sasa mau sarapan di rumah Ririd aja. Nggak kuat disini Sasa bisa kena mental, Kaleng sama Kak Dirga pamer banget mentang-mentang udah nikah.”
“Hei mau kemana? Sarapan disini aja!” Kara menarik tangan Sasa.
“Males ah, Sasa kesel sama Kaleng. Kaleng sekarang cuek ke Sasa, perhatiannya sama kak Dirga doang. Mentang-mentang udah nikah pada lupa sama Sasa.” Jawabnya manyun.
“Kata siapa gue lupa sama lo, Cin. Udah duduk sini gue bikinin roti buat lo juga.” Ucap Kara, dia juga mendekatkan bibirnya ke telinga Sasa dan membisikan sesuatu hingga gadis dengan bandana pink yang semula cemberut jadi tersenyum semangat.
“Beneran, Kaleng? Awas yah kalo bohong.”
“Iya beneran lah. Udah sarapan dulu!”
Selesai sarapan mereka berpamitan untuk berangkat sekolah. Kara dan Dirga pergi dengan mobil baru Kara, sementara Sasa seperti biasa nebeng pada Ridwan.
“Besok kita naik motor aja, Ra. Bawa mobil nggak bisa cepet, pagi-pagi macet.” Ucap Dirga.
“Nggak mau, takut ujan ntar suami gue sakit lagi.”
“Nggak bakal sayang, kan bisa neduh. Udah yuk turun, piket gerbang dulu gue.”
“Ga...”
“Apa?”
“Lemes...”
Dirga yang sudah membuka pintu mobil tak jadi turun, ia menutupnya kembali. Buru-buru dia menempelkan tangannya di kening Kara “lo masih sakit, Ra?” tanyanya panik “Tapi udah nggak panas.”
“Ih nggak peka deh My Dirgantara... lemes belum disayang-sayang.”
“Dasar nakal!” Dirga menyentil kening Kara kemudian mengecup bekasnya kilat, “udah. Jangan minta nambah ini di sekolah.”
“Nggak minta nambah, cuma mau gantian aja.” Buru-buru Kara mencium pipi Dirga dan berlalu keluar dari mobil lebih dulu.
“Dasar Kara.” cibir Dirga kemudian menyusul istrinya.
“Nakal! Lain kali nggak boleh gitu yah!?”
“Emang kenapa, Ga? Kan biar semangat sekolahnya.”
“Pokoknya nggak boleh. Bahaya!” jawab Dirga seraya mengacak gemas rambut istrinya. "Ke kelas sana lanjut ke lapang upacara, gue di gerbang dulu sampe bel." lanjutnya pada Kara yang justru tetap menempel di tangan kirinya.
"Ntar lah, mau nyamperin sabun batangan dulu. liat tuh dia segitunya ngeliatin gue." tak sabar, Kara menarik Dirga supaya mengikutinya.
"Hei, Dev! makasih loh kadonya gue suka banget. Berkat kado dari lo, sekarang gue udah jadi istrinya My Dirgantara."
Deva hanya diam dan fokus melihat tangan Kara yang digandeng Dirga.
"Sampe nggak bisa berkata-kata kan lo? kaget yah gue sama Dirga nggak putus?" ejek Kara, "kaget lah yah, masa nggak sih." lanjutnya menjawab sendiri.
"Udah kan? ke kelas sana!"
"Iya ini mau otw. Ntar istirahat, main ke kelas yah?"
"Iya." Jawab Dirga.
"Makin gila aja itu anak ngaku-ngaku jadi istri lo, Ga." ucap Deva setelah Kara berlalu "Ke sebelah sana yuk! Bu Irma udah nunggu dari tadi." Deva meraih tangan Dirga yang langsung ditepis pelan oleh Dirga.
"Gue udah punya Kara, Dev. Lo harus tau batas, gue nggak mau Kara salah paham gara-gara ini. Lo tau betul dia anaknya gimana? childish."
"Iya gue tau dia kayak bocah banget, ngerepotin plus ngeselin pasti. Makanya dia nggak cocok buat lo, Ga."
"Terus yang menurut lo cocok sama gue siapa? lo gitu?" tanya Dirga.
"Lengkara emang childish, ngeselin, ngerepotin tapi dia spesial buat gue. Nggak kayak seseorang yang so baik di depan tapi nyebar fitnah di belakang. Gue harap lo ngerti maksud gue dan jangan ganggu Kara lagi. Atau gue bener-bener nggak akan pernah ngomong sama lo lagi meski kita satu organisasi!"