
Dirga masih memeluk Kara di tengah keramaian kantin, siswa siswi masih heboh mengelilingi mereka, terutama siswa perempuan yang terlihat begitu antusias sambil membayangkan diri mereka yang ada di posisi Kara saat ini. Sementara siswa laki-laki sudah mulai meninggalkan kantin dan masa bodoh dengan adegan yang membuat kaum hawa melehoy itu.
“Gila seratus persen iri gue. Nggak pernah gue ditembak kayak gitu.”
“Fix patah hati massal sih kalo kayak gini. Ketos kita udah punya pawang.”
“Tapi dari belum punya pawang aja dia cuma bisa dilihat nggak bisa digapai.”
“Udah-udah tenang aja, ketos sold out tapi kita masih punya Pratama Arhan.” Ucap Dila yang sibuk dengan kameranya. Dia menunjuk kursi tempat Tama duduk tadi, tapi lelaki tampan itu tak ada di sana.
“Kemana si ganteng?” tanyanya pada Selvia, gadis itu hanya menggeleng tak tau.
Dirga mengabaikan orang-orang di sekitarnya, fokusnya hanya pada Kara yang masih terbenam di pelukannya.
“Ra, lo belum jawab.” Bisiknya di telinga Kara. Gadis itu bukannya menjawab malah kian mengeratkan pelukannya.
“Hei... Jawab dulu.” Dirga menggapai tangan Kara yang melingkar di punggungnya, cukup sulit untuk di lepaskan namun pada akhirnya pelukan erat itu terlepas. Kara hanya menunduk, sekendar untuk menatap Dirga saat ini dia tak mampu. Terlalu malu, apalagi mereka dikerumuni teman-teman.
Dirga menunduk guna menyamakan tingginya dengan Kara, dia bahkan harus ekstra menunduk karena gadis itu terus melihat ke bawah.
“Lengkara, i still loving you from the past until now.” Ulang Dirga. “jawaban lo?” lanjutnya.
“I always loving you, My Dirgantara.”ucapnya lirih.
“Apa? Nggak kedengeran. One more, please.” Ledek Dirga.
Kara memukul tangan Dirga, “Malu ih.” Ucapnya yang kemudian kembali membenamkan kepala di dada Dirga.
Dirga langsung mengelus sayang rambut panjang Kara, “Katanya malu tapi malah nemplok lagi.” bisik Dirga.
“Bubar!!!” teriak seorang wanita dari belakang sana yang berhasil membuat moment uwuw itu berakhir. Kara langsung menjauh dari Dirga dan merapikan rambutnya dengan kikuk, sementara Dirga bersikap santai seperti tak terjadi apa-apa.
“Udah bel dari tadi kalian masih pada ngumpul di kantin!” suara bu Irma makin menggelegar memenuhi penjuru Kantin. “Masuk kelas sekarang juga atau ibu kasih hukuman kalian semua!” lanjutnya yang sembuat siswa-siswa langsung berhamburan meninggalkan kantin.
“Kalian berdua, tunggu!!” bu Irma menahan Kara dan Dirga yang hampir melewatinya begitu saja tanpa dosa.
“Dirga, kamu itu ketua OSIS malah...” guru olahraga yang merangkap sebagai guru BP itu memijit keningnya yang mendadak pusing, ia bahkan tak menyelesaikan kalimatnya.
“Saya kenapa bu?” tanya Dirga.
Bu Irma menghela nafas panjang. “Selvia sama Dila ke kelas aja duluan, tinggalin Kara.” Ucapnya pada dua sahabat Kara, keduanya langsung bergegas lebih dulu.
“Ra, kita duluan yah. Jangan lupa PJ nya ntar pulang sekolah.” Ucap Selvia sebelum pergi.
“PJ apaan, Sel? Puchase journal kah?” tanya Dila.
“Kelamaan jomblo nih kayak gini jadinya. PJ pajak jadian bege, bukan purchase journal. Lo kira kita lagi belajar akuntansi perusahaan dagang apa!” jelas Selvia.
“Kalian malah ngobrol di situ! masukke kelas Dila, Selvia... apa mau ibu hukum kalian bersihin toilet?” teriak bu Irma yang langsung membuat keduanya menghilang dari depan pintu kantin secepat kilat. Kadang bu Irma heran, murid-muridnya kalo disuruh lari pas pelajaran leletnya minta ampun, tapi giliran lari dari kejaran hukuman cepetnya pake banget.
“Ibu jangan teriak-teriak terus bu. Nanti cape.” Ucap Kara.
“Diem kamu, Lengkara! Ibu udah seneng banget kamu udah tobat datang terlambat eh malah...” lagi-lagi guru BP itu tak melanjutkan kalimatnya, hanya menghela nafas dalam berulang kali. “Kamu juga Dirga...”
“Udah lah, kalian berdua ikut ke ruangan ibu sekarang.” Bu Irma berjalan lebih dulu sementara Dirga dan Kara mengikutinya dari belakang.
“Duduk!” ucap Bu Irma.
“Lengkara, kamu duduk sebelah sini.” Bu Irma menunjuk sofa di sampingnya. Kesal juga melihat pasangan baru yang sudah menggemparkan SMK Persada. So manis pada curi-curi pandang malu-malu sambil balas melempar senyum, sungguh ironis baginya yang seorang janda. Rasa-rasanya bu Irma juga pengen pesan tiket ke planet lain saja, tapi bukan mars. Mars terlalu dekat dengan bumi, mungkin pluto bisa jadi rekomendasi.
Kara menurut, dia berpindah tempat duduk sesuai perintah bu Irma. “Kenapa sih bu kita sampe di bawa ke sini? Salah apa coba?” ucapnya.
“Salah apa?” bu Irma mengulang ucapan Kara, “kalian ini...” ditatapnya Lengkara dan Dirga secara bergantian.
“Lihat ini!” bu Irma meletakan ponselnya dan memutar salah satu vidio. Jelas dalam vidio itu ada Kara dan Dirga yang menjadi pemeran utama. Adegan peluk-peluk berakhir kecupan di kening terekam jelas di sana.
“So sweet My Dirgantara.” Ucapnya lirih sambil melirik Dirga. Yang dilirik hanya menahan senyum.
“Apa? So weet kamu bilang?” ucap Bu Irma.
“Ya gimana lagi bu, emang gitu kenyataannya. Kara seneng banget tau bu, finaly....” Kara meletakan kedua tangannya di bawah dagu dan memutar ulang vidio itu. Melihat vidio itu rasa takutnya karena di bawa ke ruang BP/BK hilang seketika malah beralih jadi ungkapan kebahagian yang membuat Bu Irma makin frustasi.
“Malah diputar ulang!” bu Irma buru-buru mengambil ponselnya.
“Ih kok malah diambil bu. Kirim ke Kara yah vidionya bu.” Ucapnya polos.
“Astaga Lengkara!!” gemas bu Irma. Dia berulang kali menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
Sst... Dirga meletakan jari telunjuknya di bibir, meminta Kara untuk tak lagi berbicara. Gadis itu balas tersenyum sambil mengangguk.
“Bu, saya tau kalo saya salah. Tapi kami sama sekali tidak tau menahu soal vidio itu. Harusnya yang ibu panggil kesini itu yang nyebarin bu.” Ucap Dirga.
“Kamu itu ketua OSIS Dirga, bukannya ngasih contoh yang baik malah kayak gini. Gimana nanti kalo adik kelas kalian meniru hal seperti ini?”
“Kamu juga Kara! Mau-maunya di peluk-peluk di depan umum seperti itu. Nggak malu?”
“Aku nya baper bu. Kalo mau disalahin Dirga aja, aku nggak tau apa-apa bu. Aku korban.” Ucap Kara.”Coba kalo ibu ada diposisi aku, bu. Ya ampun melehoy bu. Lagian yang kayak gini tuh udah nggak aneh bu. Malahan ada yang jadian lebih wow dari ini bu, mereka mah ciuman bibir. Aku kening doang masa di bawa ke ruang BP/BK.” Lanjutnya.
“Ibu nggak mau denger pembelaan. Apa yang kalian lakukan itu sudah melanggar tata tertib sekolah.” Ucap bu Irma kemudian berlalu ke mejanya. Tak lama ia kembali dengan membawa dua buah surat dan memberikannya pada Dirga juga Kara.
“Kasih ke orang tua kalian. Ibu tunggu besok.” Ucapnya.
“Bu, set loveware terbaru plus kaktus dari toko tante aku mau?” seperti biasa jurus negosiasi keluar dari bibir mungil Kara.
“Tidak menerima sogokan apapun!” balas bu Irma, “kalian boleh kembali ke kelas sekarang!” imbuhnya.
Dirga hanya menggelangkan kepala melihat tingkah calon istrinya. Dia beranjak lebih dulu dan menarik tangan Kara yang masih terus berusaha bernegosiasi dengan bu Irma kemudian membawa gadis itu keluar.
“Kami permisi bu. Suratnya akan saya sampaikan.” Ucapnya sebelum pergi.
Setelah kedua muridnya pergi, bu Irma mengibas-ngibaskan telapak tangannya ke wajah. Ruangan Ber AC itu mendadak panas melihat Dirga yang menggandeng Kara keluar, ditambah dengan vidio mereka berdua tadi juga membuatnya ketar-ketir. Si al kan, dia jadi membayangkan seandainya guru matematika pujaannya melakukan hal yang sama seperti yang Dirga lakukan pada Kara.
“Bocah sekarang nggak ada akhlak, nggak tau apa gurunya jomblo gini.”
.
.
.
Save bu Irma ckckck. bu Irma kalo baca please pura-pura nggak tau aja yah🤭🤭🤭
JANGAN LUPA TEKAN VOTE NYA BUAT KARA DIRGA... UDAH HARI SENIN NIH