
“Kamu mau pindah sekolah?” tanya Rama dan Dirga hanya diam. Otaknya bekerja keras berusaha menemukan jalan keluar dari dua pilihan yang ditawarkan oleh calon mertuanya.
“Kalo kamu pilih pindah sekolah, setidaknya pilihlah sekolah yang di luar kota Bandung. Yogyakarta misalnya, toh Ardi dan Miya juga sering ke sana setiap dua minggu sekali untuk urusan bisnis.” Ucap Rama.
“Pi! Papi jangan keterlaluan dong! Masa Dirga di suruh pindah ke luar kota? Kalo Dirga pindah Kara juga mau ikut.” Sela Kara.
“Papi kan udah ngasih pilihan, Kara. Bukan papi yang nyuruh Dirga buat pindah.” Jawab Rama. "kalo pun pindah tentu harus ke luar kota, supaya kalian nggak sering ketemu. Percuma kalo pindahnya masih di Bandung, rumah aja hadap-hadapan kalian masih bisa ketemu terus."
Kara menatap Dirga yang masih menunduk sambil terdiam, lelaki itu menautkan kedua tangannya di bawah sana.
“Ga, lo beneran mau pilih pindah sekolah?”
“Mau ninggalin gue?”
“Pi jangan kayak gini lah... Papi tega mau misahin Kara sama Dirga?” Raut wajah Kara sudah berubah sendu “Mi, bilangin papi jangan kayak gini lah.” Kara beranjak pindah duduk ke samping Jesi, merengek manja pada tangan maminya yang hanya bisa memberikan elusan sayang di puncak kepalanya.
Tak mendapat respon sesuai dengan harapannya, Kara beralih menatap melas Ardi dan Miya bergantian. “Mommy sama daddy juga nggak setuju kan kalo Dirga pindah sekolah?”
“Kami akan mengikuti apa pun pilihan Dirga, sayang. Karena setiap pilihan ada sisi positif dan negatifnya masing-masing.” Jawab Miya.
“Dengan menikah kami selaku orang tua bisa sedikit tenang mengantisipasi sikap kalian yang akhir-akhir ini meresahkan. Menikah itu mudah, bahkan hanya dalam hitungan menit pun kalian bisa jadi suami istri. Tapi kehidupan setelah menikah itu tak selamanya indah. Bukannya mommy tak ingin kalian menikah tapi di usia kalian yang terhitung muda sangat rawan untuk berumah tangga, apalagi kalian masih sama-sama sekolah. Meskipun usia tak menjamin kedewasaan seseorang tapi tetap saja diusia kalian saat ini masih sama-masa mementingkan ego.” Jelasnya panjang lebar.
“Pindah sekolah juga alternatif yang cukup baik. Dengan berjauhan sementara masing-masing diantara kalian bisa merasakan bagaimana rasanya merindukan seseorang. Kalian berdua bisa sama-sama menggapai cita-cita masing-masing dan menikah saat sudah siap.” Sambung Ardi.
“Nggak mau, katanya rindu itu berat. Tiap hari ketemu Dirga aja masih kangen apalagi dipisahin jauh-jauh. Kara nggak mau!” ucap Kara dan beralih pindah duduk di dekat Dirga, bahkan Sasa yang tadi duduk diantara mereka saja diusir supaya dirinya benar-benar bisa berada di samping Dirga.
“Ga, lo jangan diem terus dong. Jawab!” ucap Kara seraya menggerakan lengan kiri Dirga.
Dirga menoleh ke samping, menatap Kara dengan wajah sendunya. “gue mesti jawab apa, Ra? Semua yang dibilang sama orang tua kita benar.”
“Jadi lo mau ninggalin gue dan pindah sekolah?” tanya Kara yang langsung melepaskan pegangannya di lengan Dirga. Tatapan kecewa jelas terlihat di wajah cantik Kara dengan mata yang sudah memerah. Dia benar-benar tak pernah menyangka jika jawaban Dirga tak sama dengan pilihannya.
“Ra, gue nggak akan pernah ninggalin lo sampe kapan pun.” Dirga meraih kedua tangan Kara dan menggenggamnya erat.
“Jadi pilihan lo apa? Kita nikah kan?”
“Gue pasti nikahin lo, Ra. Tapi nggak sekarang, minimal tunggu sampe kita lulus kuliah. Sekolah kurang dari setahun ditambah kuliah empat tahun nggak akan lama, Ra. Biarin gue jadi cowok yang layak buat nikahin lo, Ra. Seperti kata mommy nikah itu...”Dirga menghentikan ucapannya saat Kara melepaskan tangannya dengan kasar.
“Ternyata lo emang nggak cinta sama gue!” Kara beranjak dari duduknya. “sekarang gue tau kalo sampe detik ini pun cuma gue yang cinta, lo nggak!” Kara menarik kasar kalung pemberian Dirga tadi dan melemparkannya pada Dirga.
“Ra bukan kayak gitu, gue belum selesai ngomong. Kara!” Dirga ikut beranjak dari duduknya dan hendak mengejar Kara, tapi panggilan Rama membuatnya mengurungkan niat dan duduk kembali.
“Bi..biar Sasa aja yang nyusul Kaleng. Iya Sasa aja.” Ucap gugup gadis cerewet yang sudah sedikit mengantuk itu.
“Jangan Sasa, biarin Kaleng nya sendiri dulu.” Cegah Jesi.
Dirga tak menghiraukan ocehan Sasa, saat ini yang ada di otaknya hanya Kara. Gadis itu pasti sedang menangis di kamarnya. “Pi, biarin aku nemuin Kara yah. Sebentar aja.” Pintanya pada Rama.
“Tidak perlu, kamu pulang dan istirahat saja. Sudah larut malam, percuma kalo menemui Kara sekarang tak akan ada hasilnya. Papi menghargai pilihan kamu, tidak usah khawatir belebihan soal Kara, dia pasti baik-baik saja. Sekarang dia pasti lagi nangis-nangis di kamarnya, tapi biarin aja. Biar nanti mami sama papi yang nasehatin dia. Besok pagi kamu boleh kesini lagi dan papi jamin calon istri kamu sudah nggak ngambek lagi.” Ujar Rama.
“Baik, Pi. Kalo gitu Dirga sama mommy dan daddy pamit. Maaf udah bikin Kara nangis di hari ulang tahunnya.”
“Tau ngeselin banget, calon istri ulang tahun kok dibikin nangis. Sasa jadi ikutan kesel. Sasa duluan lah. Kak Dirga nggak asik!” cibirnya sambil berlalu kelaur lebih dulu.
“Daddy tau ini pilihan yang berat. Ayo pulang, besok kesini lagi.” Ardi merangkul putranya dan membawanya keluar. “jadi mau pindah ke SMK mana? Ke tempat daddy sama mommy sekolah dulu?” Dirga hanya menggeleng tak tau.
Di rumah Kara setelah kepulangan keluarga Dirga menyisakan Rama dan Jesi yang masih berada di ruang tamu.
“Jas jus, sebelum tidur kasih pengertin dulu dedek gemoy kita. Kasihan dia kalo nangis-nangis semalaman, dia pasti mikirnya Dirga nggak cinta.” Ucap Rama setelah mengunci pintu rumah.
Jesi menutup mulutnya yang menguap, dari dengan santainya berlalu ke kamar. “Karam aja yang nasehatin Kara. Kan Karam biangnya yang bikin dia nangis, pake ngasih pilihan nikah apa pindah sekolah. Padahal udah bisa nebak pilihan Dirga pasti pindah sekolah, aturan tadi nikahin aja langsung nggak usah ngasih pilihan. Ribet banget. Ngeselin!”
“Jas Jus bukan gitu, apa kamu nggak mikir anak kita masih kecil udah main suruh nikah aja? Mereka masih sekolah sayang. Sama-sama belum dewasa.”
“Itu si Reret nikah pas masih sekolah aja nggak apa-apa. Malahan seneng tuh Kak Freya masih muda udah jadi nenek, mana cucunya lucu banget lagi.”
“Jadi kamu udah pengen jadi nenek?” Rama menatap heran istrinya yang berdiri di depan pintu kamar. “Kara sama Dirga masih anak-anak, kalo kamu pengen anak kecil yang lucu kayak Zein kita bikin aja adek buat Ridwan.” Lanjutnya.
“Nggak lucu, Karam. Bukannya aku pengen buru-buru jadi nenek juga, tapi seenggaknya jangan bikin anak kita sedih. Karam tau sendiri kan segila apa Kara ke Dirga? Baru aja mereka seneng bentar udah main pisahin aja.” Ketus Jesi.
“Siapa yang misahin? Semua demi kebaikan mereka. Kamu juga pasti tau ini yang terbaik untuk mereka, jadi ayo kita bujuk Kara bareng-bareng yah.”
“Karam bujuk aja sendiri. Aku mau tidur, aku tim Kara Dirga nikah bukan tim pindah sekolah!” Jesi menutup pintu kamarnya dengan keras dan menguncinya. “Malam ini Karam tidur di luar aja!” teriaknya dari dalam.
Rama otomatis menghela nafas panjang kalo sudah begini, dengan langkah pelan ia meninggalkan kamar menuju kamar putrinya. Seperti biasa pintunya dibiarkan terbuka, Rama bisa melihat Kara yang sedang terisak sambil memeluk bantal guling, sementara boneka jumbo warna pink yang biasa ia peluk bahkan di bawa ke ruang TV saat bersantai bersama sudah terlantar di lantai.
“Sayang, kamu lagi apa? Dengerin papi yah...” ucap Rama saat masuk ke kamar Kara, dia mengambil Dirdiran yang tergeletak di lantai dan meletakannya di dekat Kara.
“Kara benci papi. Papi jahat!” teriak Kara sambil melepar Dirdiran,tepat mengenai Rama yang sedang berdiri di samping ranjang. “Kara nggak mau ngomong sama papi!”
“Jangan ditaro sini lagi, Kara sebel!” ucap Kara saat papinya mencoba meletakan Dirdiran yang mengenainya kembali ke ranjang.
“Kara benci papi, benci Dirga, Kara benci semuanya.” Teriak Kara.
“Papi keluar!” usirnya.
“Bawa juga itu bonekanya Dirga. Kembaliin ke rumahnya, kalo nggak buang aja!”
Rama kembali menghela nafasnya panjang, dengan sabar ia mengambil boneka jumbo itu dan membawanya keluar. “bener-bener turunan Jas Jus, kalo ngambek susah banget di bujuknya.”