
“Ngapain ngeliatin ke atas terus? udah nggak sabar ketemu Kara?” Ardi menyenggol bahu putranya yang berulang kali melihat ke atas dengan cemas.
“Nggak, Dad.” Jawab Dirga lirih tanpa melihat ke arah daddy nya. Sudah tak sabar bertemu Kara tentu saja, tapi ada hal lain yang lebih membuat dirinya was-was. Tama, lelaki itu sudah cukup lama pergi ke atas tapi sampai detik ini belum juga kembali. Tak habis pikir juga kenapa lelaki itu sampai datang ke acaranya pagi ini, ditambah lagi dengan Selvia dan Dila yang tak kalah heboh saat tiba tadi membuatnya berfikir jauh ke depan. Bagaimana jika pernikahannya sampai terdengar pihak sekolah? Bisa-bisa dia dan Kara dikeluarkan saat ini juga.
“Pindah ke sebelah sana!” Ardi beranjak dan menarik putranya yang tampak melamun.
“Malah bengong, Ayo! Acaranya sudah mau di mulai sebentar lagi. Kamu perlu memeriksa ulang data-data terlebih dulu. Sekaligus kasih tau mas kawinnya ke penghulu, kemarin mommy udah bilang mas kawinnya seratus dinar ditambah uang seratus juta. Kamu bilang tadi pagi mau pake uang kamu sendiri, jadi bilang ulang aja ke petugasnya.”
“Iya, Dad.”
“Jangan iya-iya aja, paham nggak? Kamu ini lagi mikirin apa sih? Nggak fokus banget keliatannya!”
“Nggak apa-apa kok, Dad.” Dirga berjalan mendahului daddy nya dan duduk di berhadapan dengan Rama yang sudah di dampingi petugas dari kantor urusan agama. Dia merasa cukup lega setelah melihat adiknya turun bersama dengan Tama. Meskipun tak suka Sasa dekat dengan Tama tapi setidaknya ia masih bisa bersyukur karena dengan adanya Sasa yang sedang mode jatuh cinta itu bisa menjauhkan Tama dari Kara.
“Bang kita berdiri di sini aja jangan jauh-jauh, supaya kalo Kak Dirga gaal ijab kabul kita bisa gantiin.” Ledek Sasa yang sudah berdiri tepat di belakang kursi Dirga.
“Kak, gimana rasanya deg degan nggak? Perlu liat teks ijab kabul yang udah Sasa download nggak nih?” Sasa bersiap mengambil HP di tasnya, namun karena satu tangannya memegang lengan Tama dia jadi kerepotan. Mau ngelepas tangan Tama takut kabur Tama nya.
“Pegangin, Bang!” Sasa melepas tasnya dan memberikannya pada Tama. Lelaki itu berdecak lirih namun tetap menuruti permintaan Sasa.
“Sasa!” Dirga menatapnya dengan tajam. “nggak usah aneh-aneh, duduk sana sama Kak Retha. Main sama Zein juga sana. Ntar Kakak kasih uang jajan kalo udah selesai acaranya.”
“Tau ribet banget lo punya adek, Ga!” sindir Tama.
“Udah tau ribet masih lo tempelin juga. Gue nggak suka yah lo deket-deket sama adek gue!”
“Siapa nempelin siapa?” Tama tak terima. “Gue juga ogah banget deket-deket sama adek lo yang bocil nggak jelas ini. Lo liat nih dia yang nempel mulu.”
“Dirga, kamu mau nikah apa mau terus ribut?” lerai Ardi, ia ikut malu juga karena putranya malah terlibat adu mulut dengan lelaki yang di gandeng putri bungsunya.
Ardi mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang dua ratus ribu rupiah, “jajan sana jangan ganggu kakak kamu dulu.” Ucapnya pada Sasa seraya memberikan uang damai.
Sasa tak menerima uang itu, dia hanya menatapnya enggan. “blackcard bisa kali, Dad.” Tawarnya.
“Ya udah nggak jadi. Biar nanti daddy hapus aja kamu dari kartu keluarga biar jadi gembel.”
“Eh jangan dong, Dad. Ya udah deh dua ratus ribu nggak apa-apa, lumayan buat beli kinderjoy sama Zein ntar. Ya kan Bang?” Sasa mengambil uang yang hampir Ardi masukan ke dalam saku.
“Yuk Bang kita pindah. Ntar Sasa tlaktir jajan deh, tapi jangan yang mahal-mahal yah.” Ucapnya seraya menarik Tama yang masih saja adu tatap dengan Dirga.
“Duduk, Bang!” ucapnya seraya menepuk sofa di sampingnya, “Tas Sasa, Bang.” Lanjutnya.
Saking kesalnya Tama melempar kasar tas yang ia belikan itu ke pangkuan Sasa tanpa bicara sepatah kata pun.
“Jangan lempar-lempar dong, Bang. Rusak ntar tas Sasa. Pasti keselnya gara-gara kita duduknya jauhan disini? Abang jadi nggak bisa belajar caranya ijab kabul. Tenang aja Bang, ntar kalo kita nikah semisal Abang nggak bisa ijab kabul biar Sasa aja. Sasa bisa kok, semalem udah baca-baca teks nya.”
“Oke oke Sasa diem.” Sasa meletakan jarinya di bibir dan menariknya ke sisi seolah sedang mengunci mulut.
“Nah, gitu dong. Berasa adem kuping gue.” Ucap Tama yang kali ini hanya dibalas dengan anggukan kepala di sertai senyum manis Sasa.
“Ya ampun tambah manis aja ini bocah kalo diem.” Batin Tama yang buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain bertepatan dengan Kara yang menuruni tangga dengan diapit oleh Miya dan Jesi, di belakangnya ada Selvia dan Dila yang senyam senyum nggak jelas.
Semua orang di ruang keluarga menatap ke arah Kara tanpa terkecuali, gadis itu terlihat anggun dan lebih dewasa dengan kebaya putih modern serta siger yang menghiasi kepalanya. Kara tersenyum ceria dengan sebelah tangan yang ia lambaikan layaknya model yang baru saja memenangkan perlombaan.
“Bentar, Mi.” Kara meminta berhenti sejenak saat tida di depan Raka yang hadir bersama Alya.
“Om Karak, awas yah kalo sekarang ngado misting lagi!” ucapnya pada Raka.
“Tenang aja, kali ini Om nggak ngasih kamu misting. Ya Kan sayang?” ucapnya pada Alya.
“Tante nggak tau Om kamu ngasih hadiah apa, yang jelas tante punya hadiah sendiri buat Kara.” Balas Alya.
“Syukur deh seengaknya kalo hadiah dari tante Ale Ale suka bener, mahal lagi. Kara di kado kaktusnya dari toko tante nggak nolak deh. Dari pada Om Karak dari dulu ngasihnya misting terus kalo nggak botol. Itu pun dari kantor papi, yang gratisan tuh.” Sindir Kara.
Rama yang sedari tadi sudah siap menikahkan putrinya jadi beranjak dari duduknya dan menghampiri Kara yang entah sedang membahas apa dengan Raka, tak ada habisnya. “Bentar Pak, saya sered dulu pengantinnya. Tau sendiri kan anak saya itu kalo udah ngomong nggak selesai-selesai.”
“Mau nikah sama Dirga apa terus ngoceh-ngoceh disini?”
“Nikah lah, Pi. Nggak sabaran banget papi nih!” balas Kara, dia menaikan sedikit roknya sebelum beranjak supaya bisa berjalan lebih cepat.
“Om Karak awas aja kalo ngado misting, Kara pecat jadi Om.” Ucapnya sebelum beranjak.
Raka hanya tersenyum, “Dasar santen sachetan!” batinnya.
“Santen sachetan kesayangannya Om, semangat yah nikahnya. Tenang aja Om nggak ngado misting lagi kok, udah Om siapin set wajan sama sutilnya buat kamu. Bisa dipake bikin sarapan buat suami kamu.”ucapnya cukup keras hingga terdengar oleh Kara.
“Om Karak!” Gadis anggun itu sudah melepas alas kaki namun karena baju yang dikenakannya ia kesulitan untuk mengambilnya guna dilempar pada Raka.
“Mau ngapain lagi? Jangan aneh-aneh!” Rama menarik putrinya supaya kembali berdiri tegak dan membantunya mengenakan alas kaki.
“Tapi Om Karak ngeselin, Pi. Masa Kara nikah mau di kado wajah sama sutil, pasti gratisan tuh dari kantor papi.” Protes Kara, “Punya Om kok nggak modal banget.”
“Om kamu cuma bercanda nggak usah di dengerin.” Ucap Rama.
“Tapi gue nggak bercanda, Wan. Udah gue siapin set wajan sama sutil yang warna pink sesuai sama warna kesukaan si santen.” Ledek Raka yang memang gemar sekali menggoda keponakannya yang super manja itu.
“Tuh kan Pi...”
“Ka, lo kalo nggak diem lama-lama ini sepatu gue yang melayang ke pala lo.” Kesal Rama karena adik iparnya itu tak mau kalah terus meledek putrinya.