
Di luar masih hujan deras saat Dirga menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Kara. Gadis yang kini menggunakan lengan kiri Dirga sebagai bantalan masih terengah dengan kening yang basah oleh keringat.
“Makasih yah, Yang. Love you.” Dirga mengusap kening basah Kara kemudian mengecupnya kilas.
Kara tak menjawab, dia hanya menyerukkan kepalanya di dada bidang Dirga yang tak kalah basah seperti dirinya. Tapi tak masalah, Kara menyukainya dan terlelap sambil memeluk suaminya.
“Bobo... cape banget yah? Maaf yah sayang, kebablasan.” Ucap Dirga yang kemudian ikut terlelap.
Tak ada niatan untuk mengambil mahkota Kara malam ini, ia hanya ingin merasakan susu murni yang baik untuk kesehatan namun berujung kebablasan hingga membuat istrinya menangis hingga merin tih bahkan menjerit dan berakhir dengan de sa han merdu yang membuatnya semakin gila berolahraga ranjang di tengah derasnya hujan.
Pagi harinya, hujan masih rintik-rintik membuatnya suasana terasa sejuk. Dirga sudah terbangun lebih dulu, namun ia tak beranjak kemana pun. Dia membenarkan selimut Kara yang sedikit turun, bahkan hanya melihat bahu mulus Kara di pagi hari saja sudah membuat si adik di bawah sana ikut terbangun.
“Ya ampun otak gue!” gumamnya sendiri.
“Lo cantik banget sih, Yang...” pujinya pada wajah yang masih terlelap dengan bibir sedikit terbuka. Dibelainya wajah ayu itu dengan penuh kasih sayang. Poni yang menutupi kening itu ia rapikan perlahan.
"My cute wife.” Gemas sendiri Dirga jadi mengecup kening Kara, dan mencubit pelan pipi kanannya.
Mmh... Kara sedikit terusik, bulu mata lentiknya perlahan terangkat hingga Dirga bisa menatap mata sayu Kara saat bangun tidur.
“Sorry, lo jadi kebangun.” Ucap Dirga lirih.
“Nggak apa-apa.”
“Masih ngantuk?” tanya Dirga, mengingat semalam mereka tidur sekitar jam satu.
“Nggak ngantuk, cuma rasanya lemes aja.” Meski sudah bangun Kara tak beranjak sedikit pun, ia masih setia memeluk Dirga dengan manja.
“Cape yah?”
“Hm..” jawabnya lirih.
“Liat sini dong, Yang! Katanya tiap bangun tidur pengen liat wajah gue. Ini ada di depan mata malah ngumpet mulu.” Ledek Dirga, “apa sekarang udah ganti sukanya liat badan te lan jang gue? Makanya ngusek-ngusek di dada terus yah?” lanjutnya yang dihadiahi pukulan kecil oleh Kara.
“Haduh jangan KDRT dong, Yang! Nanti kalo gue cidera gimana? Nggak bisa bikin lo ngeluarin suara merdu lagi. Nggak bisa enak-enak ntar.” Kara kembali memukul dada Dirga.
“Katanya cape kok mukulin suami terus sih.” Dirga mengusak gemas rambut Kara.
“Liat sini, Yang!” Dirga menunduk dan mengintip wajah Kara yang ternyata sudah memerah di pelukannya
“Malu...” Kara semakin menenggelamkan kepalanya di pelukan Dirga.
“Ya ampun gemes banget sih istri gue.”
“Nggak usah malu-malu gue udah liat semuanya. Lagian lo juga biasanya nggak tau malu, Ra. Mau sayang-sayangan lagi nggak? Biasanya kalo pagi minta disayang-sayang. Yuk sayang-sayangan lagi!”
“Nggak mau, badan gue rasanya remuk semua.” Tolak Kara, “sayang-sayanganya lo bikin cape, sakit juga.” Keluhnya.
“Sakit apa sakit hm?” tanya Dirga, “siapa yang semalem abis nangis malah minta terus-terus udahnya? Hm siapa yah?” ledeknya kemudian.
“Dirga ih ngeselin!” Kara cemberut.
“Bercanda sayang. Masih sakit nggak?”
“Dikit, tapi nggak apa-apa kok. Badan gue yang rasanya pegel-pegel semua.” Jawab Kara. “badan lo sakit nggak, Ga? Kok lo malah keliatan makin fresh sih? Gue lemes.”
Dirga hanya tersenyum. Bagaimana dirinya tak terlihat fresh? Orang semalam akhirnya ia bebas dari siksaan rutin dan berakhir bisa tidur nyenyak. Super nyenyak malahan karena si adik sudah merasakan rumah baru.
“Biar fresh kita mandi dulu, gue siapin airnya yah.” Ucap Dirga kemudian beranjak turun dari tempat tidur dan mengenakan celana yang semalam ia lempar secara asal.
Kara reflek menutup matanya dengan telapak tangan, “Dirga! Lo porno ih.” Teriaknya.
Dirga hanya menggelengkan kepala melihat tingkah menggemaskan istrinya, “Dasar!”
“Lama banget sih jalannya.” Tak tega melihat Kara yang kesulitan berjalan membuat Dirga membopong istrinya yang menggunakan selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya.
“Mau sekalian gue bantu mandi nggak, Yang?”
“Nggak! Mesum ih pagi-pagi.” Balas Kara.
“Mesum sama istri sendiri dapat pahala, Yang.”
“Ya udah mandi sendiri kalo gitu. Gue mandi di kamar Sasa aja.” Ucap Dirga. Kara mengangguk dan menutup pintu kamar mandi.
Sebelum meninggalkan kamar, Dirga melihat ranjangnya yang berantakan. Noda merah sisa pertempuran semalam terlihat jelas di sprei putih miliknya.
“Sekalian gue cuci aja deh.” Dirga mengambil spreinya sebelum pergi.
Di dalam kamar mandi Kara masih berendam di bath up sambil memaikan busa putih yang menutupi genangan air. Gadis itu tersipu malu sendiri, sesekali ia mengelengkan kepala mengingat olahraganya bersama Dirga semalaman. Mengingat bagaimana lelaki yang didaulat sebagai jodohnya sejak dalam kandungan oleh sang Mami menyentuhnya dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.
Saat Kara masih terhanyut mengingat kenangan manis semalam, ketukan pintu membuatnya kembali tersadar.
“Sayang, lo mandi apa tidur? Udah sejam nggak keluar-kelaur. Gue masuk yah?”
“Sejam? Perasaan gue baru mulai mandi deh.” batin Kara. “Iya ini udah mau selesai, Yang. Jangan masuk!” Teriaknya kemudian.
Kara meraih handuk dan mengenakannya. Tak lupa rambut basahnya ia bungkus menggunakan handuk kecil.
“Ga, jangan liat sini gue mau keluar. Nggak pake baju nih.” Ucapnya sebelum keluar, ia membuka sedikit pintu kamar mandi untuk melihat apakah Dirga masih di kamar atau tidak.
“Oh nggak ada. Aman lah.” Kara keluar dan menatap tubuhnya di cermin lebar lemari Dirga.
“Ya ampun kenapa badan gue jadi bermotif gini?” Kara menyentuh beberapa jejak karya Dirga “Pantesan semalam geli banget. Banyak gini, tapi enak sih.” Ucapnya seraya tergelak sendiri.
Kara berjalan pelan keluar kamar mencari keberadaan suaminya. Perut laparnya otomatis berjalan ke ruang makan mengikuti sumber aroma lezat yang menghuar.
“Yang, masak apa? Biar gue aja.” Kara menghampiri Dirga yang sedang memindahkan sup iga ke dalam wadah.
“Sayangnya gue hari ini duduk aja, biar gue yang ngelayanin lo. Masih cape kan?”
“Makan dulu, udah gue angetin.” Dirga memberikan suapan pertamanya untuk Kara.
“Lo yang masak? Wanginya enak banget.”
“Nggak, ini pesen dari resto Mami tadi. Gue mana bisa masak.”
Selesai makan Dirga mencuci piring dan gelas yang mereka gunakan. Kara benar-benar jadi penonton yang baik.
“Baik banget suami gue, jadi makin sayang.” Kara memeluk Dirga yang sedang mencuci piring dari belakang. Dia bersandar manja di punggung lebar Dirga. “Nyaman.” Gumannya.
“Jangan mancing-mancing deh, Ra. Kalo dia bangun lo mesti tanggung jawab.”
“Kenapa mesti gue yang tanggung jawab sih?”
Dirga tak menyelesaikan cuciannya piringnya, ia justru mencuci tangan dan berbalik kemudian mencubit pipi Kara yang menatapnya tanpa dosa meskipun sudah dipolosin semalaman.
“Ya karena kalo dia bangun mesti masuk rumah supaya bisa tidur lagi, Yang.”
“Lah kan sekarang kita udah di rumah Yang.” Balas Kara.
“Rumah punya lo, Ra. Bukan rumah gue.”
“Oh pengen ke rumah Papi? Ya udah ayo.” Jawab Kara enteng sambil tersenyum tanpa dosa.
“Ya ampun lo bener-bener nggak bisa dikodein, Ra. Gas aja langsung lah kita reka ulang yang semalem.” Dirga membopong Kara dan membawanya ke kamar tamu yang paling dekat dengan dapur.