Always Loving U

Always Loving U
Tantangan



"Santen, laki lo udah dateng nih." Teriak Ridwan dari ruang tamu.


"Duduk, Bang. Si santen lagi masak, katanya spesial buat Abang."


Dirga duduk di samping Ridwan. "Papi sama Mami mana kok tumben nggak kelihatan?" Tanyanya.


"Papi ada makan malam sama rekan bisnisnya, Mami otomatis nemenin. Baru berangkat sekitar lima belas menit yang lalu. Kenapa emang?"


"Nggak apa-apa, gue liat Kara dulu deh."


"Iya, Bang. Cek aja deh si santen lagi ngapain, dia bilangnya sih masak. Jaga-jaga kali aja dapur kebakaran soalnya dia mendadak pengen masak."


Dirga berlalu ke dapur, Kara terlihat sibuk dengan sutil dan wajan pink hadiah pernikahan dari Om nya.


Dirga berdiri di belakang Kara, menyandarkan dagunya di bahu Kara. "Sayangnya gue lagi masak apa sih? Dipanggil-panggil nggak nyaut."


"Ya ampun Dirga! Bikin kaget aja." Sutil di tangan Kara hampir melayang ke kepala yang mendadak bersandar di bahunya.


Dirga beranjak ke samping Kara, "masak apa?"


"Masak spesial buat suami lah. Tungguin di meja makan yah, gue ulang bikin sekali lagi deh yang ini rada gosong." Kara mengangkat telur dadarnya yang kehitaman.


"Gue temenin lo masak disini aja deh, biar makin semangat masaknya."


Kara mematikan kompor dan mendorong Dirga untuk pergi dari dapur. "Malu lah kalo diliatin gue jadi nervous, tunggu di meja makan aja yah A Dirga."


Dirga memperhatikan Kara dari meja makan. Sudah terhitung tiga kali istrinya menggoreng telur sejak dirinya duduk, tapi sampai saat ini belum satu pun yang tersaji.


"Tada!!! Telur dadar spesial buat My Dirgantara." Dengan apron pink yang masih menempel di badan, Kara meletakan hasil masakan perdananya di meja makan. Telur dadar yang terlihat mudah dibuat saat ia menonton tutorialnya di Youtube, bahkan maminya bisa membuat hidangan itu dalam dua menit saja. Tapi dirinya? Hampir satu jam berkutat di dapur baru bisa menyajikan telur dadar yang setidaknya cukup layak dimakan dari pada telur-telur yang ia goreng sebelumnya.


"Bentar yah gue panggil Ririd dulu, A." Ucapnya seraya melepas apron dan meletakkannya asal di kursi.


"Ririd, makan dulu!" Teriaknya.


"Samperin, Yang. Jangan teriak-teriak."


"Oke-oke gue... Eh aku maksudnya. Aku panggil Ririd dulu, A." Ucapnya sebelum pergi.


Dirga menahan tawa mendengar Kara yang bersusah payah mengubah panggilannya. "A? Berasa jadi Om Raka yang dipanggil Aa sama Tante Alya." Batinnya.


"HP mulu lo tuh, makan! Simpen dulu HP nya." Baru kembali ke meja makan Kara sudah menggerutu pada adiknya.


"Iya ini gue makan. Kenapa lo mendadak jadi kayak mami sih? Mentang-mentang mami nggak di rumah." Ucap Ridwan sambil duduk di seberang Dirga. Lelaki itu langsung mengambil piring dan mengisinya dengan semua lauk pauk yang tersedia kecuali satu masakan yang menurutnya tak menarik sama sekali. Telur dadar buatan Kara.


"Makan, Bang." Ucapnya pada Dirga.


"A Dirga biar aku yang ambilin." Kara mengambil alih centong yang sudah di pegang Dirga.


Uhuk...uhuk... Ridwan tersedak mendengar ucapan kakaknya yang mendadak pake aku kamu.


"Bang, itu beneran si santen kaleng bukan sih? Mendadak lemah lembut, so aku kamu pula. Barusan manggil Bang Dirga apa? Aa? Ya ampun! Jangan-jangan lagi ketempelan jin solehah nih." Ledek Ridwan.


"Lama-lama gue karetin bibir lo, Rid!" Kesal Kara.


"Udah jangan dianggap serius, Ridwan cuma bercanda. Mana nasinya sini, Aa udah nggak sabar mau nyobain masakan istri." Ucapnya kaku.


Kara jadi tersipu mendengarnya, ia jadi senyam senyum tak jelas sambil mengambilkan makanan untuk Dirga.


"Gue makan di ruang tamu aja deh." Ucap Ridwan, dia beranjak membawa piring dan gelasnya. " Makan bareng mereka gue berasa jadi obat nyamuk." Batinnya.


"Enak nggak, Yang?" Tanya Kara saat Dirga mulai memakan masakan perdananya.


"Enak." Jawabnya.


"Beneran?" Kara jadi penasaran dan ingin mencobanya. Jujur saat memasak tadi ia sama sekali tak mencicipi.


"Ya ampun!" Kara segera meraih gelas dan menandaskan isinya.


"Asin. Nggak enak. Jangan dimakan Yang." Kara mengambil piring Dirga.


"Sini, biar aku abisin." Kara masih masih tak memberikan piringnya.


"Aku ambilin yang baru aja yah, Yang? Pake lauk buatan Mami aja."


Tapi Dirga tak bergeming, ia mengambil kembali piringnya dan menghabiskannya.


"Masakan kamu enak kok Yang, meskipun sedikit asin."


"Tapi itu asin banget." Balas Kara.


"Nggak apa-apa, namanya juga masih belajar." Dirga mengacak gemas rambut Kara.


"Ra, mana buku matematika nya? Katanya tadi ada PR dari Pak Sofyan, Kerjain PR dulu baru tidur."


"Ntar aja lah Ga, ngerjain PR nya. Kita sayang-sayangan aja dulu, mumpung Papi nggak di rumah. Ntar kalo Papi pulang baru deh kita mulai ngerjain PR nya biar sampe malem banget gitu, biar kamu nya disuruh nginep."


"PR dulu Yang, jangan males. Ayo kerjain PR dulu!"


"Sayang-sayangan dulu lah biar semangat."


"Kalo PR nggak beres, nggak ada sayang-sayangan!" Tegas Dirga, "mau ngerjain PR sekarang apa aku pulang aja nih?"


"Iya-iya ngerjain PR sekarang." Kara buru-buru bangkit dari rebahan.


"Jangan galak-galak dong, Yang. Nih buku matematikanya."


"Ya udah kerjain!"


"Katanya tadi mau dibantuin?"


"Ya kamu kerjain dulu sendiri nanti kalo ada yang nggak ngerti baru dibantuin."


Kara mengerjakan satu persatu soal matematikanya sambil menggerutu. Dia sama sekali tak kesulitan mengerjakan PR hanya saja untuk mata pelajaran itu ia membutuhkan waktu sedikit lebih lama.


"Katanya tadi di sekolah atur-atur aja gimana baiknya, eh pas diatur nggak mau. Punya suami kok plin plan." Gerutu Kara.


"Ngambek?" Dirga mengambil buku Kara dan menatap lekat istrinya yang cemberut.


"Jangan ngambek sayang, kan kalo PR nya udah selesai sayang-sayangannya bisa lebih lama. Ayo semangat satu lagi. Bentar lagi selesai nih."


"Sayang, Mami pulang. kamu lagi ngapain?" Ucap Jesi yang baru saja masuk ke kamar Kara, "eh ada mantu mami juga." Lanjutnya.


"Macul, Mi!" Jawab Kara asal, matanya melihat sekilas pada si Papi yang ada di samping Jesi.


"Tenang aja, Pi. Bentar lagi Dirga pulang kok, ini tinggal satu soal lagi. Nggak usah diusir." Ucap Kara tanpa melihat Rama. Sumpah dia sedang super kesal saat ini, pada Dirga yang tak mengikuti rencananya dan sang Papi yang sudah dipastikan akan mengusir suaminya sebentar lagi.


"Papi nggak ngomong apa-apa loh, Ra." Ucap Rama.


"Papi nggak ngomong juga Kara udah paham kok. Biasanya kan gitu." Kara menutup bukunya, "udah selesai."


"Cie dedek gemoy nya papi udah dinikahin tapi masih ngambekan aja." Rama mencubit kedua pipi Kara, "liat Mi anak kita ngambekannya kayak maminya."


"Apaan? nikah status doang! Nikah tapi kok pisah rumah. Mami sama Papi cobain deh pisah rumah juga biar adil, ketemunya siang doang." Gerutu Kara.


"Hust kamu itu kalo ngomong sembarangan, Mami sama Papi kok suruh pisah rumah, pisah ranjang aja nggak boleh. Suami istri harus sama-sama." Ucap Rama.


"Tapi Kara sama Dirga dipisahin. Katanya suami istri harus selalu sama-sama?"


"kalian kan masih se--"


"Tapi kan suami istri, Pi." Sela Kara, "pokoknya mulai sekarang kalo Dirga sama Kara nggak boleh tinggal bareng, Papi sama Mami juga pisah. Ya minimal pisah kamar deh biar ngerasain apa yang Kara rasain. Mami bobo sama Kara aja mulai malam ini." Ujar Kara,


"Eh nggak bisa begitu. Mami tidur sama papi, jangan aneh-aneh kamu." Balas Rama.


"Malam ini Dirga Papi kasih extra time deh boleh main disini sampe jam sepuluh." Lanjutnya.


"Kalo gitu Kara juga ngasih extra time buat Papi. Mami bobo sama Kara nya mulai besok."


Ck! Rama berdecak kesal, putrinya ini benar-benar ada saja idenya. Tak mau kalah sama sekali.


"Oke oke Papi bakal ijinin kalian tinggal bareng."


"Beneran, Pi? Wah Papi bener-bener terbaik." Kara senang bukan main mendengarnya.


"Finaly kita bisa sayang-sayangan sampe pagi, Ga." Lanjutnya berbisik pada Dirga.


"Tapi..."


"Tapi apa, Pi?"


"Kalo kamu bisa masuk tiga besar peringkat umum saat penilaian akhir semester nanti." Jawab Rama, "tidak menerima protes dalam bentuk apapun!" Lanjutnya.


"Papi! PHP nih. Di kelas aja Kara peringat tiga gimana bisa masuk tiga besar peringkat umum."


"Usaha dong!"


"Pi, Kara diwakilin Dirga aja yah? Kan Dirga suami Kara, dia udah langganan peringkat satu umum kok Pi." Tawar Kara.


"Nggak bisa, ini juga berlaku buat Dirga. Kalo kalian berdua nggak masuk tiga besar peringkat umum, nggak ada tinggal serumah!"