
Hari itu pulang sekolah Kara benar-benar main di rumah Selvia sampai sore karena Dirga baru bisa menjemputnya jam empat. Perjalanan yang cukup jauh dari rumah Selvia ke rumahnya ditambah Kara yang ingin makan ini itu di jalan tadi membuat keduanya tiba di rumah saat matahari hampir tenggelam.
“Lengkara! Kamu bener-bener keterlaluan yah!” Teriak Jesi begitu putrinya turun dari motor, gadis itu berdiri di belakang Dirga dan memegang erat lengan lelaki itu.
“Tuh kan bener, Ga. Mami marah nih...” ucap Kara lirih.
"Tenang aja, ada gue." Balas Dirga santai sambil mengelus punggung tangan Kara yang memegang lengan kirinya.
Kara semakin bersembunyi dibalik tubuh tinggi Dirga saat maminya kian mendekat.
"Sini kamu anak nakal!" Mami Jesi menjewer telinga putrinya hingga gadis itu mengaduh heboh.
"Sakit mami... Ampun... Kara bisa jelasin semuanya." Seperti biasa selalu mengaduh penuh dramatisir padahal dijewernya juga pelan. "Kara tadinya nggak niat bohong, Mi. Sumpah deh tapi takut kena marah jadi kepaksa bohong deh." Imbuhnya.
"Keterlaluan kamu yah!"
"Mi, Kara nggak salah apa-apa. Aku yang salah, Mi." Tak tega melihat calon istrinya dijewer, Dirga menghampiri Mami Jesi dan mencoba melepaskan jeweran wanita itu. Namun Mami Jesi balas menatapnya tajam.
"Kamu juga!" Sentaknya yang malah meraih telinga Dirga dan menjewernya hingga keduanya masuk ke dalam rumah dengan kedua tangan mami Jesi yang menjewer putri dan calon mantunya. "Mami kesel sama kalian berdua!"
"Duduk!" Bentak Jesi. Keduanya reflek duduk di lantai karena sofa ruang tamu Kara sudah dipenuhi oleh Mommy Miya, Daddy Ardi, Papi Rama bahkan Om Karak pun hadir di sana. Ada Sasa juga yang sedang menganggu Ridwan bermain game online di sofa paling ujung.
"Mi, kenapa rame banget? Kok pada ngumpul di sini? Ada Om Karak juga, padahal ulang tahun Kara kan besok." Tanya Kara bingung. "Om tahun ini jangan ngasih kado kaktus lagi yah, tujuh belas tahun kadoin black card dong biar Kara nggak miskin lagi." Ledeknya yang di balas acungan jempol oleh Raka.
"Kara jangan pengalihan isu kamu yah. Nggak ngerasa salah kamu sama Mami?" Sela Jesi "Kamu juga Dirga! Bisa-bisanya!" Lanjutnya.
"Tadi aku ada tugas dari sekolah dulu, Mi. Makanya pulangnya kesorean, Kara udah aku suruh pulang duluan tapi nggak mau, malah main di rumah Selvia." Jawab Dirga yang mengira Mami Jesi marah karena anaknya pulang teramat telat.
"Mommy juga kecewa sama kamu, Dirga." Sambung Mommy Miya. "Daddy juga kecewa, iya kan?" Lanjutnya pada Ardi yang hanya menghela nafas panjang. Sejak siang tadi Ardi sudah ketularan Rama yang sebentar-sebentar menghela nafas panjang karena sikap istrinya.
"Sasa juga kecewa sama Kak Dirga, Mom." Si micin yang duduk di pojokan tak mau ketinggalan ikut nimbrung, bibirnya tersenyum sinis mengejek kakaknya meski tangannya terus aktif menyentuh layar ponsel Ridwan hingga anak lelaki itu pun menghela nafas panjang.
"Maaf karena udah bikin Mommy masuk ruang BK. Aku lepas kontrol." Jawab Dirga. "Mami juga jangan nyalahin Kara, semuanya salah aku." Lanjutnya pada Mami Jesi.
"Salah kalian berdua! Bisa-bisanya kalian baikan nggak bilang sama Mami?" Ucap Jesi. "Kara juga kenapa di telepon nggak ngangkat? Kesel mami sama kalian!"
"Kara kira Mami mau marah gara-gara Kara bohong, jadi sengaja nggak Kara jawab teleponnya." Jawab Kara. "Mami nggak marah sama kita?"
"Mami sama Mommy justru bangga banget sama kalian, Kaleng." Sasa yang sudah puas membuat Ridwan kesal beranjak bangun dari tempatnya dan ikut duduk lesehan dengan Kara dan Dirga di bawah.
"Terutama sama Kak Dirga, Mommy bangga banget." Sasa mengacungkan kedua jempolnya untuk Dirga.
"Sasa juga mau ngikutin kayak Kak Dirga ah. Mau nembak cowok, di vidioin biar di panggi guru BK dan bikin mommy sama daddy bangga." Lanjut gadis itu yang langsung dihadiahi sentilan kening oleh Dirga.
"Nggak boleh ditiru!" Ucap Dirga.
"Tapi kan Sasa juga pengen bikin Mommy sama Daddy bangga." Protes gadis itu.
"Sasa mau nembak dia tapi udah di tolak, ntar coba lagi deh. Eh tapi Sasa nggak satu sekolahan sama dia jadi nggak bisa dipanggil sama guru BK dong." Sasa mengangguk sendiri memahami kesulitannya dalam rangka membanggakan kedua orang tua, namun bukan Sasa namanya jika tak punya solusi instan.
Ridwan hanya bergidig ngeri mendengar ocehan Sasa. Sementara Ardi memilih keluar dan berpindah mengobrol di taman belakang saja bersama Rama dan Raka dari pada terlalu lama di ruang tamu malah membuat mereka bertiga menghela nafas panjang berjamaah.
Siang tadi Ardi langsung bergegas pulang saat Miya mengabarinya terkait ada hal mendesak di rumah yang harus segera di selesaikan. Begitu pun dengan Rama yang siang itu baru saja menyelesaikan rapat langsung bergegas pulang saat Jesi menelponnya sambil menangis, tak tanggung-tanggung ia pun mengajak adik iparnya yang memang sekantor.
Betapa syok nya mereka saat sampai di rumah tenyata Miya dan Jesi sedang menonton vidio alay Kara dan Dirga. Kedua wanita itu kadang menangis haru kemudian tersenyum dan tertawa terbahak sambil berpelukan. Jika bukan karena dilarang Ardi dan Rama sudah bisa dipastikan ide syukuran gila-gilaan yang mengalahkan resepsi pernikahan itu pasti terlaksana. Tidak mudah tentunya membujuk kedua wanita itu untuk menggagalkan rencana mereka, untung saja ulang tahun Kara sudah dekat hingga mereka setuju untuk mengadakan syukuran sekaligus perayaan sweet seventeen Lengkara.
Sama halnya dengan Jesi, Rama juga senang melihat putrinya bahagia. Hanya saja ia lumayan was-was dengan interaksi keduanya. Meskipun hanya ciuman kening tetap saja membuat Rama tak tenang. Apalagi melihat vidio kedua yang dikirim bu Irma, rekaman CCTV sekolah dimana lagi-lagi Dirga mencium kening Kara di lorong sekolah yang sepi. Ditambah lagi kemarin dia juga memergoki Kara dan Dirga di teras rumah, makin membuat Rama ketar ketir dan menjambak rambutnya sendiri.
"Ngapa lo, Wan?" Tanya Raka.
"Pusing, anak perawan gue disosor mulu!"
"Lah kening doang, Wan."
"Kening doang lo bilang? Kalo sampe kebablasan gimana? Dulu gue tenang-tenang aja soalnya Dirga cuek ke Kara meskipun Kara nya cari perhatian terus, lah sekarang? Lo liat sendiri kan itu bocah nyosor mulu."
"Tenang aja, Bang. Anak gue tau batas kali." Sambung Ardi.
"Kalo lo masih pusing tinggal kawinin aja itu bocah dua. Beres kan?" timpal Raka dengan entengnya.
"Gila lo, Ka! Anak gue masih sekolah main suruh kawin aja."
Obrolan mereka berakhir saat Jesi memanggil semuanya untuk makan malam. Selama makan malam Rama terus memperhatikan anak dan calon mantunya saling melempar senyum malu-malu dan membuatnya kembali menghela nafas panjang.
"Kara besok ultahnya di cafe mommy aja, boleh undang semua temen-temen sekolah kamu. Sama besok kasir voucher makan gratis ke bu Irma supaya di bagiin ke guru-guru. Siangnya acara makan-makan guru kalian, malemnya acara ultah sama temen-temen kalian." Ujar Mommy Miya.
"Set loveware jangan lupa kirim ke cafe kak Miya besok yah, Karam." Sambung Jesi.
Rama hanya mengangguk setuju, mau bagaimana lagi kalo ibu ratu sudah mengeluarkan perintah tak bisa dibantah dari pada nggak dapat jatah.
"Mau sekalian bagi-bagi kaktus nggak, aqua gelas? Ntar gue minta my baby ngirim kaktus ke cafe Miya." Tawar Raka.
"Wah boleh banget itu, Om Karak. Guru-guru Kara yang perempuan pada suka kaktus mini yang dari toko tante Ale-ale." Timpal Kara.
"Oke besok Om kirim. Itung-itung sovenir hari jadian kalian." Balas Raka.
"Kalo gitu daddy juga nggak mau kalah." Ardi mengeluarkan dompetnya dan mengambil black card kemudian memberikannya pada Kara. "Calon mantu daddy bebas beli apapun. Spesial ulang tahun Kara, bebas pake black card daddy dua puluh empat jam."
Kara langsung menerima black card itu dengan senyum merekah, "Wah Kara jadi sultan sekarang." Ucapnya seraya memamerkan black card milik Ardi.
"Daddy, Sasa juga mau pinjem black card daddy dong." Rengek Sasa yang sudah tak lagi duduk di tempatnya, gadis itu berdiri di samping Kara dan ikut memandangi benda sultan itu.
"Bocil jajan kinder joy aja, jangan pengen pake black card segala. Ntar gue kasih gocap dah buat lo, Cin." Ledek Kara.
"Jomplang bener dah, Kaleng dipinjemin black card masa Sasa cuma mau dikasih lima puluh ribu doang." Sasa makin cemberut merasa terdzalimi. Didalam hatinya makin tertanam kuat niat untuk mengukir prestasi sama seperti Kakaknya, supaya membanggakan mommy Miya dan kali aja dapat black card juga.