
“Yang, sekali lagi boleh nggak?” Dirga menyeka kening basah Kara kemudian memohon dengan wajah melas, “dia bangun lagi. Masih pengen main di rumah baru katanya. Pegang deh!” dituntunnya tangan Kara guna menyentuh si adik yang kembali padahal mereka baru mengakhirinya beberapa menit lalu.
“Boleh yah, Yang?”
Kara menggigit bibir bawahnya, jujur badannya terasa lelah tapi tak dipungkiri ia menikmati permainan Dirga dan menginginkannya lagi. Pada akhirnya ia hanya mengangguk malu dan membiarkan Dirga melakukannya lagi.
Baru saja Dirga menyatukan bibir mereka, terdengar suara Mami Jesi yang memanggil putrinya.
“Sayang, kamu dimana? Udah siang kok nggak ke rumah, udah sarapan belum?”
Dirga mengabaikannya dan terus merasai bibir Kara, namun kian lama teriakan mertuanya semakin menjadi-jadi. “ah sial kenapa sampe lupa tak mengunci pintu utama.” Batinnya.
“Ga, Mami...” ucap Kara lirih.
“Iya, Yang. Biar aku aja yang temuin Mami bentar.” Balas Dirga. Ia menyelimuti Kara kemudian mengecup keningnya. “bentar, nanti kita lanjut.” Ucapnya setelah mengenakan baju dan meninggalkan kamar.
Sumpah demi apa pun kali ini kepalanya jadi mendadak pusing gara-gara kesenangannya terganggu. “ngapain sih Mami Jesi pake kesini segala? Nggak tau apa gue susah payah semaleman ngajarin Kara enak-enak.” Dirga jadi mengacak rambutnya sendiri.
Jika kalian kira proses unboxing semalam berjalan lancar tanpa hambatan jawabannya tentu tidak, benar-benar tidak mudah. Kara sangat polos, saat tangannya melepaskan satu persatu kancing piama tidur dan mulai menyentuh kedua bukit kembarnya saja langsung di tutup, katanya tidak sopan.
“Ga, ini pelecehan namanya!”
“Nggak ada suami yang melecehkan istrinya sendiri, Yang. Nikmatin aja deh ntar juga lo suka.” Sebelum bibir mungil itu kembali protes, Dirga membukamnya dengan bibirnya hingga bibir itu tak bisa lagi mengeluarkan kata-kata selain men de sah merdu di telinganya saat kedua tangan telatennya memberikan belaian di bukit yang puncaknya kian menjulang setiap kali di sentuh.
Setelah selesai menjamah kedua bukit tangannya semakin turun dan menyentuh seluruh lekuk tubuh Kara. Merasa sentuhan tangan saja tak cukup, sapuan bibir lembutnya ia hadiahkan hingga Kara semakin bergerak tak karuan dibuatnya.
Tadi malam Dirga benar-benar menyentuhnya penuh pengertian dan maklum menghadapi Kara yang begitu polos. Meski sudah dibuat men de sah berulang kali tapi tetap saja gadis itu menangis saat ia berusaha bertamu di rumah baru si adik. Bahkan kepalanya sampai dijambak beberapa kali setiap hentakan yang ia berikan maka berbalas dengan satu jambakan.
“Sakit, Ga. Please break dulu bentar!” pintanya saat si adik berusaha masuk. Sekali, dua kali percobaan Dirga memakluminya namun di percobaan ketiga ia sudah tak bisa menahannya hingga Kara menjerit di malam itu. Air matanya mengalir membasahi pipi.
“Sakit, Ga.” Rengeknya.
“Maaf yah, ntar nggak sakit kok. Kalo dikit dikit break malah lama sakitnya.”
“Sakit, pokoknya mau ke dokter, anterin!”
“What ke dokter? Oh My God, gini amat bini gue.” Batin Dirga.
“Nggak apa-apa sayang, nanti juga nggak sakit. Its ok baby!” ucapnya menenangkan.
“Awas aja kalo masih sakit, gue aduin ke Papi! Katanya janji bakal bahagiain gue, nggak bikin gue nangis. Ini malah disakitin! Sakit banget tau!”
Dirga mencium kilas bibir Kara yang masih ngoceh-ngoceh. Ia tak habis pikir kenapa disaat seperti ini istrinya masih bisa ngoceh-ngoceh sambil cemberut tapi baginya hal ini justru membuat Kara terlihat semakin menggemaskan. Di lu matnya habis bibir tukang protes itu dengan disusul gerakan pelan di bawah sana hingga akhirnya Kara ikut hanyut dan hanya bisa meracau tak jelas.
“Reka adegan baru satu kali udah ada aja gangguannya.” Dirga mencari mami Jesi yang ternyata sedang menaiki tangga, sepertinya hendak ke kamar mereka.
“Mi...” panggilnya, membuat Jesi berbalik dan menghampirinya.
“Kara mana? Mami bawain sarapan tuh.” Jesi menunjuk beberapa kotak makan yang ia letakan di meja. “kemaren kan bilangnya mau nginep disini tapi makan tetep di rumah. Udah siang Mami tungguin nggak datang-datang, jadi Mami anterin kesini.” Jelasnya sambil mengedarkan mata mencari sosok Kara.
“Tadi kita mau ke rumah Mami tapi hujan jadi sarapan disini.”
“Oh gitu... Kara nya mana sekarang?”
“Kara yah?” Dirga menjeda kalimatnya, mencari alasan yang ia rasa masuk akal.
“Kara tidur lagi, Mi. Semalem kita gadang nonton Drama sampe jam satu. Abis sarapan tadi dia tidur lagi.”
“Ya ampun itu anak! Mentang-mentang mertua nggak ada berasa bebas Cuma makan tidur makan tidur. Biar Mami bangunin udah siang masih aja merem, kebiasaan gadang nonton drama nggak tobat-tobat padahal udah punya suami.” Cerocos Jesi. “jangan-jangan kamu juga disuruh ikut nonton drama?” lanjutnya.
“Iya, Mi.” Jawab Dirga sambil menggaruk tekuknya yang tak gatal.
“Bener-bener itu bocah. Biar Mami bangunin.” Jesi meninggalkan Dirga dan menaiki tangga menuju kamar menantunya.
“Jangan, Mi. Biarin aja mumpung libur, nanti kalo udah masuk sekolah akan Dirga larang gadang nonton drama supaya bagunnya tidak telat.” Dirga buru-buru menyusul Jesi, bisa gawat kalo mertuanya masuk kamar. Kara tak ada di sana dan ranjangnya belum ia pasang sprei lagi.
“Ya udah, kalo gitu Mami pulang aja. Nanti malem makan di rumah Mami yah, rasanya sepi nggak ada Kara.”
“Iya, Mi.”
Tak mau ada gangguan lagi, setelah mengantar Mami Jesi hingga teras Dirga mengunci pintu rumahnya. “Aman lah.”
“Yang Mami udah pulang, kita lan-“ Dirga menghela nafas dalam karena saat ia kembali Kara sudah terlelap sambil memeluk bantal guling.
“Malah tidur...”
Sore harinya, Dirga sedang mengeringkan rambut panjang Kara menggunakan hair dryer.
“Apa?”
“Iya gue ngeringin rambut sendiri juga bisa, lo nggak perlu repot gini.” Ulang Kara.
“Bilang apa barusan? Gue? Lo?”
“Iya aku maksudnya, Yang. Aku...” ralat Kara.
Dirga membelai sayang kepala Kara, “nggak apa-apa. Biar aku aja, kali aja kamu masih cape. Biar tenaganya cepet pulih terus kita bisa reka ulang lagi ntar malem.”
Kara berbalik dan mencubit lengan suaminya, “Reka ulang aja terus, dasar mesum! Kan barusan udah Yang.”
“Lah kamu aja kalo minta sayang-sayangan nggak cukup satu kali Yang.” Balas Dirga, “coba bayangin gimana aku nahan satu smester tiap malam kamu minta di sayang-sayang, jadi wajar dong kalo sekarang giliran aku yang minta disayang-sayang. Dirapel gitu lah.” Lanjutnya dengan menaikan satu alis penuh maksud.
“Udah ah kita ke rumah Papi sekarang, mereka pasti udah nungguin buat makan malam. Kalo lama-lama disini ntar malah keburu reka ulang lagi.” elak Kara.
“Yang, pokoknya ntar lagi!”
“Lah kok maksa.” Ledek Kara.
“Mami, Kara pulang... “teriaknya begitu masuk, “heh nggak ada siapa-siapa? Pasti pada di ruang makan nih.”
“Ih kok udah pada makan duluan sih nggak nungguin Kara.” protesnya seraya duduk di sebelah Ridwan.
“Nungguin lo lama, cacing di perut gue keburu mati. Tadi pagi aja gue sama Papi sampe kelaparan nggak makan nungguin lo, taunya yang ditungguin malah enak-enakan tidur.” Jawab Ridwan.
“Elah lo nggak tau aja Rid gue kecapean semaleman. Sekarang aja gue masih cape nih.” Keluh Kara.
“Bodo amat lah. Pi, aku ke kamar.” Pamitnya berlalu pergi.
“Punya adek nggak ada sopan-sopannya deh heran.” Gerutu Kara. “Yang, pengen pake sop iga terus kasih sambel dikit.” Lanjutnya pada Dirga.
“Kamu itu nggak belajar dari Mami, Kara! harusnya kamu yang ngambilin Dirga makan, ini malah kebalik.” Ucap Rama.
“Nggak apa-apa, Pi. Aku udah biasa kok.” Balas Dirga.
“Tuh kata Dirga juga nggak apa-apa, Pi. Lagian aku masih cape tau, Pi. Semalem aku tidur jam satu kayaknya kalo nggak salah, itu juga ketiduran.”
“Cape? Emangnya kamu cape ngapain? Bebenah di rumah Dirga? Tadi aja mami kesana katanya kamu lagi tidur.” Ucap Rama.
“Makanya jangan kebanyakan gadang nonton drama kamu tuh. Kasihan juga mantu mami jadi harus ikutan begadang nemenin kamu.” Sambung Jesi.
“Drama apaan sih, Mi? Kara nggak nonton drama apa pun. Semenjak nikah Kara udah jarang nonton drama."
"Tadi kata Dirga kalian gadang nonton drama." Ucap Jesi.
"Yang..." Ucap Dirga lirih, mengisyaratkan Kara supaya mengiyakan saja ucapan maminya, "semalem kan yang drama perang itu..." Lanjutnya.
"Drama perang apaan! Bohong Dirga tuh, Mi."
"Semalam kan kamu yang merangin aku di kasur"
"Sampe cape tau Pi Kara nya. Sakit juga ini badan Kara, pegel-pegel." Lanjutnya.
"Perang di kasur? Paling juga kamu jatuh sendiri terus nyalahin Dirga kan? Kamu kan kalo tidur motah, nggak bisa diem." Ucap Rama.
"Itu kan dulu Pi, waktu Kara masih SD. Sekarang udah gede nggak pernah jatuh dari kasur lagi."
"Sayang, kamu jelasin deh. Papi nggak percayaan banget sama aku."
Dirga tentu hanya diam dan memilih menyuapkan nasi ke mulut Kara. Menjelaskan? No, itu namanya bunuh diri. Bisa kena ceramah semalaman kalo ketahuan.
"Udah makan aja abisin jangan kebanyakan ngomong. Kamu tuh kalo ngomong suka ambigu." Rama berlalu meninggalkan meja makan. Ia tak mau cape-cape mikir jauh seperti yang sudah-sudah.
Dirga menghembuskan nafasnya lega melihat mertuanya yang tak menggubris ocehan Kara. Rasanya tak sia-sia kepolosan Kara yang suka ngomong ambigu terbongkar kemarin. "Yes, aman."
.
.
.
Ya ampun Karam malah nggak percaya, dia nggak tau anaknya udah dipolosin woy🤦🤦