Always Loving U

Always Loving U
Ngidam dong!



Rumah Kara jadi lebih ramai karena tak lama setelah Sasa mengetahui kakak iparnya hamil, ia segera pulang dan memberi tahu kedua orangnya hingga kini Mami Jesi dan Mommy Miya sibuk di dapur. Sementara Dirga sedang disidang Papi mertuanya di dampingi oleh si Om sengklek yang berdalih nagih bonus, padahal pria yang sering meledek ponakannya itu hanya khawatir jika Rama akan memarahi menantunya habis-habisan.


“Kak, seneng banget kita bakal punya cucu. Udah nggak sabar pengen buru-buru baby gemoy launching.” Ucap Jesi sambil memotong aneka buah. Tak tanggung-tanggung ia membuat dua versi rujak, yang di cocol sama yang dibebek. Tak peduli malam-malam pun ia tetap semangat empat enam menumbuk aneka buah, katanya sih demi cucu takut ngiler.


“Kak, itu cilornya kasih pedes yang banyak. Biar seger.” Tak masuk akal memang, si mami meminta besannya membuat cilor gara-gara inget dulu dirinya pengen cilor aja susah banget pake dimarahin segala. Jadilah sekarang ia menyiapkan semua makanan yang sekiranya akan disukai Kara dan Dirga.


“Kalo kepedesan ntar Kara sakit perut, Jes?”


“Oh iya juga, kak. Dikit aja kalo gitu.”


Miya dan Jesi membawa semua hidangan yang mereka buat ke ruang keluarga. Disana ada Kara dan Sasa yang terus mengelus perut Kara.


“Kaleng, dia lagi ngapain yah di dalem?” tanya Sasa yang kini menempelkan telinganya di perut Kara.


“Mana gue tau, Cin. Lagi rebahan kali.” Jawab Kara asal, “lo geser, Cin. Gerah tau gue dari tadi lo nemplok mulu.”


“Ih kan Sasa sayang sama calon ponakan, Kaleng. Pelit amat!” Sasa cemberut dan menjauhkan tangannya, tapi matanya masih tertuju pada perut datar Kara. “Mom, Kaleng pelit nih masa Sasa mau elus-elus aja nggak boleh.” Adunya pada Miya.


“Bukan nggak boleh, kan dari tadi udah. Besok boleh elus lagi deh, sekarang dia lagi pengen dielus papi nya.” Ucap Kara.


“Pelit lah! Ntar Sasa bikin sendiri, Sasa bisa kok.”


“Bikin aja sono pake tepung, kasih air sama telor Cin.” Ledek Kara.


“Emang bisa, Kaleng?”


“Bisa lah ntar jadi cilor.” Jawab Kara asal karena melihat makanan itu di meja.


“Mi, Dirga lama banget sih? Mereka lagi bahas apa sih? Awas aja kalo sampe Dirga dimarahin! Kara nggak rela. Asli Mi, Kara sama Dirga tuh nggak sengaja. Padahal kayaknya Cuma dua kali nggak pake helm.” Jelas Kara.


“Udah nggak usah bahas begituan, ada Sasa. Nih mending makan aja, kamu pilih pengen makan apa? Kalo ada yang kamu pengen bilang ke kita. Nanti mami sama mommy bikinin. Yah kan, Kan?” ucap Jesi yang diangguki oleh Miya.


“Iya, sayang. Kalo mau apa-apa tinggal bilang aja jangan sungkan yah.” Miya mengelus sayang kepala menantunya.


“Iya, Mom. Tapi sekarang Kara nggak pengen apa-apa. Cuma pengen dielus-elus Dirga aja.” Jawabnya lirih.


“Mom, kalo Sasa pengen cilornya ini boleh?”


“Boleh, sayang.” Jawab Miya, “tapi jangan diabisin yah, sisain dikit kali aja kak Dirga mau. Mulai sekarang kalo Kak Lengkara atau Kak Dirga minta jajanan Sasa kasih yah, jangan pelit apalagi suruh bayar segala.” Ujar Miya, mengingat terakhir kali anak bungsunya membanggakan diri karena untung besar hasil menjual es krim sisa pada Dirga.


“Iya, Mom. Waktu itu kan Sasa nggak tau kalo yang pengen dede bayinya Kaleng.” Jawab Sasa. “maafin Ante yah, besok kalo Ante jajan kamu dibagi deh.” Sasa mengelus perut Kara.


Makanan yang dihidangan Jesi dan Miya berakhir di perut Sasa karena si bumil tak menginginkannya sama sekali. Sasa sudah menguap berulang kali setelah kenyang, ia tiduran di pangkuan mommy nya. Hal yang sama juga dialami Kara, tapi dia tak tetap mencoba terjaga menunggu Dirga keluar dari ruang kerja papi nya. Jesi tak tega melihat Kara yang menahan kantuk, tapi untuk menyusul Dirga saat ini ia tak berani, Rama sedang dalam mode serius.


“Bobo di kamar yah biar mami temenin.” Bujuk Jesi, Kara hanya menggelengkan kepala.


“Kalian belum tidur?” Jesi langsung berbalik mendengar suara suaminya.


“Gimana mau tidur kalo nih anak nungguin bapaknya?” ucap Jesi galak. “Dirga bawa Kara ke kamar, dia udah ngantuk banget.” Lanjutnya.


“Laki lo abis ceramah panjang lebar. Gue aja sampe cape dengernya.” Ucap Raka.


“Padahal kalo sampe lima menit lagi nggak keluar mau aku hukum suruh tidur di luar rumah loh.” Ucap Jesi, “Sama Karak juga sekalian ntar aku bilang ke Alya. Biar adil!” lanjutnya.


“Lah kok gue jadi kebawa-bawa mau dihukum? Harusnya lo makasih sama gue karena disini demi membela mantu lo. Ya nggak, Ga?” ucapnya pada Dirga tapi pemuda itu hanya mengangguk dan berlalu menggendong Kara ke kamar. Dirga tak mau berlama-lama di ruang keluarga, selain Kara yang sudah ngantuk berat sepertinya kali ini gantian mami Jesi yang akan menceramahi mertua dan Om nya itu panjang kali lebar karena setelah ia sampai di lantai dua pun masih bisa mendengar ibu dari istrinya itu ngoceh-ngoceh tanpa rem. Persis seperti gadis yang ada di gendongannya.


“Kamu pasti dimarahin papi yah, Yang?” tanya Kara padahal matanya sudah setengah terpenjam.


“Nggak.” Jawab Dirga seraya mengelus perut Kara.


“Bohong!”


“Nggak bohong sayang. Papi nggak seperti yang kamu pikir.” Jawab Dirga. “Bobo yah.” Dirga mengecup kening Kara, “kamu juga bobo yah, sehat-sehat yah sayangnya papa.” Dirga juga mengecup perut data Kara. Dia jadi tergelak sendiri mendengar ucapannya.


Dirga memeluk erat Kara, matanya belum ingin terpejam saat ini. Dua jam lebih di ruangan mertunya yang ia kira akan beruah jadi ruang sidang dengan dirinya sebagai tersangka ternyata tidak seburuk itu.


“Pi, maaf karena bikin Kara hamil sebelum lulus.” Adalah kata pertama yang diucapkan Dirga tadi. Ia kira Rama akan memarahinya habis-habisan karena melanggar janji tapi pria empat puluh enam tahun itu hanya menasehatinya dengan bijaksana, karena segala yang sudah tejadi tak akan bisa berubah meski marah. Rama bahkan memijit leher belakang Dirga selama muntah-muntah di ruangannya tadi, dia juga memberikan banyak nasehat mengadapi bumil. Tak bisa dipungkiri jika mertuanya juga bahagia akan menjadi kakek, hanya saja sifat Kara yang manja dan kekanakkan membuatnya khawatir.


Dirga menyingkirkan beberapa sulur rambut yang menutupi wajah Kara hingga ia bisa menatap penuh wajah terlelap itu.


“Si tukang ngambek udah mau jadi Mama aja.” ucapnya lirih.


Esok harinya saat sarapan Jesi kembali menawarkan aneka makanan, takutnya Kara ngidam gitu. Tapi lagi-lagi gadis itu hanya menggeleng, dia memakan sarapannya seperti biasa hanya porsinya saja yang lebih banyak.


“Nggak rame nih.” Keluh Jesi. “Kamu ngidam dong, sayang.” Lanjutnya pada Kara.


Ck! Rama berdecak lirih seraya melirik Jesi.


“Apaan sih, Karam!”


“Kamu nih nggak usah aneh-aneh orang nggak kepengen malah disuruh ngidam. Ntar giliran ngidam beneran malah repot, nyarinya susah.”