Always Loving U

Always Loving U
Top Five



"Siap, Ga. Kalo perlu kita datengin rumah wali kelas gue, kita bawa kaktus sama set loveware terbaru bisa kali yah biar nilai gue digedein dikit. Sama ditambah menu baru dari resto mommy juga cocok kayaknya."


"Ampun... Ampun sayang, jangan disentil mulu dong kening gue. Sakit tau!" Kara menahan tangan Dirga yang hendak menyentil keningnya.


"Abis punya istri idenya suka aneh-aneh. Udah belajar tapi masih aja kepikiran nyogok. Usaha kan udah, tinggal do'anya jangan sampe lupa. Minta ujiannya di lancarkan dan dimudahkan." Dirga beralih mengelus pipi Kara yang tampak nyaman menyandarkan kepala di bahunya.


"Do'a udah tiap waktu kali, Ga." Balas Kara. "Bukannya aneh, Ga. Gue kan orangnya preventif, selalu jaga-jaga gitu. Emang lo nggak pernah denger apa, mencegah lebih baik dari pada mengobati, makanya buat jaga-jaga nilai gue kurang yah nggak ada salahnya dong silahturahmi ke wali kelas."


Dirga semakin gemas mendengar jawaban Kara, istrinya itu benar-benar selalu saja memiliki alasan dan tak mau kalah.


"Gemes banget sih istri gue." Ditariknya Kara dalam pelukan. Mendekap erat kepala gadis itu di dadanya.


"Nggak bisa nafas, Ga."


"Ampun nggak?"


"Nggak!" Balas Kara.


"Ya udah gue giniin terus. Lo kan emang suka nemplok ke gue kan?" Dirga kian menyerukkan kepala Kara di pelukannya.


"Ampun... Ampun deh yang engap gue."


"Janji nggak main sogok lagi?"


"Iya iya janji, Ga. Ampun dah, tadi cuma bercanda kok."


Dirga melepaskan pelukannya, Kara menghirup udara dalam-dalam sambil menatap kesal pada suaminya.


"Kalo gue mati gimana coba?" Kara merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan.


"Kalo lo mati ya gue kawin lagi lah." Ledek Dirga.


"Dirga!!" Kara semakin cemberut.


"Bercanda sayang."


"Nggak asik banget bercandanya. Garing!" Ketus Kara. Dia bahkan memukul dada suaminya.


"Kalo garing sini gue basahin dah." Dirga menangkup wajah Kara dengan kedua tangannya, "jangan ngambek barusan cuma bercanda, sumpah deh. Gue cinta banget sama lo, Ra." Dirga semakin mendekatkan wajahnya pada Kara. Ibu jarinya mengusap lembut bibir mungil yang masih cemberut.


Kara hanya bisa diam saat Dirga mencium kilas bibirnya, "Semangat yah ujiannya besok." Ucap Dirga yang kemudian kembali menyatukan bibirnya lagi, menyecap manisnya bibir cerewet yang selalu ngoceh tiada henti.


"Manis. Udah basah sekarang bibirnya nggak garing lagi." Dirga mengusap bibir Kara setelah mengakhiri pemberian semangat. Dia sedikit tersenyum melihat ekspresi istrinya, benar-benar polos. Sejauh ini dia memang tak menyentuh Kara melebihi batas, hanya sekedar mencium kening dan mengelus wajah gadis itu sampai terlelap, sesuai dengan sayang-sayangan versi Kara.


"Tiap hari minta di kiss kiss sama disayang-sayang, sekalinya dikasih kiss beneran malah diem aja. Gemesin banget sih lo, Ra." Batin Dirga.


"Apaan sih dibasahinnya kayak gitu." Kara menyerukkan kembali kepalanya di dada Dirga.


"Terus maunya gimana? Gue ambilin minum gitu biar bibir lo basah?" Tanya Dirga.


"Hei, liat gue sini. Ngapa malah ngusek-ngusek di dada gue sih." Ledeknya karena setelah dicium, Kara tak berani menatapnya.


"Ra..." Panggil Dirga lirih, "hei kenapa sih sayangnya gue hm?"


"Malu..." Jawab Kara lirih.


"Lah kenapa mendadak malu, biasanya juga minta di kiss kiss duluan lo tuh."


"Tapi kan kening." Balas Kara. Dia sudah menjauhkan kepalanya dari dada Dirga, dengan perlahan ia menatap Dirga yang masih tersenyum padanya.


"Udah malem, tidur yah. Sini gue selimutin!"


"Dirga..." Panggil Kara dengan mata yang terpejam.


"Apa? Udah merem jangan kebanyakan ngomong. Gue juga mesti buru-buru pulang terus tidur supaya besok nggak kesiangan."


"Bibir gue berasa tebel deh." Kara malah menggigit bibir bawahnya, membuat Dirga menghela nafas dalam. Bibir Kara seolah meminta disentuh lebih lama lagi.


"Perasaan lo doang. Udah nggak usah digigit gitu. Tidur tidur..." Dirga mencium kening Kara supaya gadis itu lebih cepat terlelap.


"Gila! Nggak lagi-lagi gue, bibirnya bikin candu." Gumam Dirga saat sudah kembali ke rumahnya. Gara-gara mencium Kara sampai sekarang ia belum terlelap padahal jam dindingnya sudah menunjuk angka satu.


Meskipun semalaman kurang tidur tak membuat Dirga bangun kesiangan. Hari ini ia bahkan menjemput Kara lebih awal.


"Pi, Kara berangkat dulu. Inget yah Papi udah janji bakal ngijinin Kara sama Dirga tinggal bareng kalo Kara masuk tiga besar. Jangan ingkar yah, Pi." Setiap pagi empat bulan terakhir Kara selalu mengucapkannya sebelum berpamitan ke sekolah.


"Mam-"


"Iya Mami saksinya kan?" Sela Jesi yang sudah hapal betul kebiasaan putrinya.


"Sasa juga saksi, Kaleng." Si adik ipar yang sering nebeng sarapan tak mau kalah ikut-ikutan. Dia bahkan mendukung penuh Kara dan Dirga supaya bisa tinggal bersama. "Tapi Kaleng jangan lupa, setelah misi Kaleng selesai lanjut misi Sasa. Misi Sasa udah mandeg empat bulan nih." Lanjutnya.


"Santai bisa diatur, Cin!"


"Punya misi apa lo sama Sasa?" Tanya Dirga saat mereka dalam perjalanan menuju sekolah.


"Sama suami nggak boleh rahasia-rahasiaan, Ra." Jawab Dirga. "Awas aja yah kalo lo masih bantuin Sasa ngedeketin Tama! Gue nggak setuju." Lanjutnya.


Kara hanya diam dan berpura-pura menghapal rumus, bibirnya komat kamit asal-asalan. Habis mau di jawab ntar bohong dan bohong sama suami itu dosa, makanya mending diem. Aman.


"Ga, sayang-sayang dulu." Ucap Kara sebelum keluar, tapi kali ini gadis itu tak menyingkirkan poni di keningnya malah memanyunkan bibir mungilnya.


"Lah kok kening? Kirain mau kayak yang semalem." Ucapnya malu-malu.


"Dasar!" Dirga berdecak lirih kemudian mencium kilas bibir Kara, benar-benar hanya sekilas.


"Beda, Ga. Kalo yang semalem kan lidah lo--" Dirga langsung membungkam bibir Kara dengan tangannya. "Semangat ujiannya, kalo ujian kita udah selesai ntar gue kasih lagi." Ucap Dirga.


Penilaian akhir semester yang berlangsung selama lima hari akhirnya selesai. Jeda pembelajaran dua minggu setelah penilaian diisi dengan kegiatan class meeting.


Layaknya siswa lain, Kara dan teman-temannya tentu menikmati hari-hari tanpa belajar. Dua minggu itu benar-benar surganya anak sekolah. Bisa full mengekspresikan kemampuan yang ada pada diri mereka. Dari mulai olahraga hingga seni yang dikoodinir oleh kesiswaan.


"Besok pembagian rapor yah, gue berasa jedag jedug gini." Kara menatap pantulan wajahnya di kaca. Dia, Selvia dan Dila tengah berada di toilet saat ini. Ketiganya kompak mencuci tangan dan merapikan penampilan di depan kaca.


"Kenapa? Takut nggak masuk tiga besar terus gagal serumah sama Dirga?" Tanya Dila.


"Usaha udah maksimal, Ra. Tinggal nunggu hasil aja, kalo lo nggak masuk tiga besar juga sebenernya nggak masalah, Dirga tetep suami lo dan rumah kalian juga deketan. Bisa lah nyuri-nyuri waktu bersama." Timpal Selvia.


"Enteng banget lo berdua kalo ngomong, belum ngalamin jadi suami istri tapi misah rumah sih. Nggak bisa sayang-sayangan sampe pagi." Keluh Kara.


"Iya dah beda yang udah punya suami mah. Suka pusing yah Ra kalo nggak ngasih service. Tapi salut gue, Dirga kuat loh satu semester pisah rumah sama lo." Ucap Selvia.


"Dia kan nyervis gue tiap malem sebelum pulang. Pokoknya dia nggak pulang kalo gue belum tidur."


"Wih mantap lah. Hebat juga lo berdua main sayang-sayangan tiap malem tapi ke sekolah nggak pernah telat. Salut gue sama lo, Ra." Selvia mengacungkan dua jempolnya untuk Kara.


"Gue bilang juga apa, Sel. Lengkara yang sekarang tuh suhunya sayang-sayangan." Timpal Dila, "ntar kalo kita berdua udah nikah kasih tips supaya kuat sayang-sayangan tiap malem yah Ra." Lanjutnya.


"Bisa diatur. Yuk lah pulang, suami gue udah nunggu di parkiran." Ucap Kara.


Esok harinya Kara tengah mondar mandir di halaman rumah menunggu Rama pulang dari sekolahnya. Spesial semester ini sang Papi yang mengambil rapor Kara padahal biasanya mami Jesi yang selalu pergi.


"Duduk, Ra! Dari tadi mondar mandir mulu." Dirga menarik Kara supaya duduk di sampingnya.


"Nggak bisa, Ga. Gue penasaran sama peringkat kita." Jawab Kara, "nah tuh akhirnya Papi sampe juga." Kara berlari menghampiri mobil Rama. "Pi, gimana hasilnya?"


"Mantu Daddy ini nggak sabaran banget sih? Masuk dulu yuk!" Ucap Ardi yang keluar lebih dulu, mertuanya itu memang berangkat bersama Rama.


"Gimana hasilnya?" Tanya Kara ketika mereka semua sudah berkumpul di ruang keluarga.


"Sabar dong sayang." Ucap Miya yang juga berada di sana. Lengkap dengan Jesi, Sasa dan Ridwan juga.


"Tau nggak sabaran banget jadi orang." Sindir Ridwan.


"Ih bocil diem dah. Main HP aja sono lo!" Balas Kara, "Pi gimana? Kara udah jedag jedug ini." Rengeknya.


"Peringkat satu umum." Ucap Rama.


"Serius, Pi? Kara peringkat satu? Yes, akhirnya kita tinggal bareng Yang." Serunya pada Dirga.


Ck! Rama berdecak lirih. "Papi belum selesai bicara, Ra! Peringkat satu umumnya Dirga. Kalo kamu..." Rama tak menggantung kalimatnya.


"Kara peringkat berapa, Pi?" Mata Kara sudah berkaca-kaca, pikirannya sudah bisa menerka kemungkinan dirinya yang gagal masuk tiga besar peringkat umum.


"Dedek gemoy kesayangan Papi dapat peringkat lima. Top Five, selamat yah sayang, Papi bangga sama kamu."


Kara langsung kehilangan semangat mendengarnya, dia beralih menatap Dirga dan memukul bahu lelaki itu berulang dengan asal.


"Gue bilang juga apa, coba kemaren kita silahturahmi ke wali kelas nggak bakal kayak gini jadinya!"


"Papi pasti seneng kan, Kara sama Dirga nggak bisa tinggal bareng." lanjutnya sambil terisak dan pergi ke kamarnya.


"Lengkara, Papi belum selesai bicara!"


"Kara!!"


.


.


.


tebak-tebakan gaes, kaleng sama Bang Dirga bisa serumah nggak?


gimana nih kalo kalian diposisi Kaleng, bakal ngamuk juga kagak? wkwkwkkwk😛


satu lagi gaes, aku punya cerpen baru tentang ririd. cek deh profil aku, ramein komennya yah.