Always Loving U

Always Loving U
Klaim



Kara duduk dibarisan paling depan bersama dengan Dila dan Selvia serta sabun batangan and the genk yang sekarang sudah gabung dengan skuad santen sachetan semenjak tau jika yang dijodohkan dengannya adalah kakak sepupu Dirgantara. Deva yang dulu sangat anti dengan Kara bahkan selalu mencari masalah kini jadi super perhatian dengan Kara. Tak jarang ia mampir ke rumah Kara ketika dia berkunjung ke rumah calon mertuanya.


“Ra, panas yah? Biar gue kipasin.” Deva mengarahkan kipas yang sedang ia gunakan pada Kara. Aula memang jadi sedikit panas karena banyaknya tamu yang hadir. Selain siswa, wali murid kelas dua belas beserta stake holder sekolah turut mengikuti acara perpisahan.


“Cie sekarang sabun batangan perhatian banget yah.” Ledek Selvia.


“Lo jangan mulai deh Sel. Kita kan udah damai. Yah kan, Ra?”


Sst! Kara meletakan telunjuknya di bibir seraya melihat pada Deva dan Selvia yang masing-masing duduk di sampingnya.


“Jangan berisik dong! Dengerin tuh My Dirgantara lagi ngomong di depan.” Kara kemudian menatap Dirga yang berdiri di podium, menyampaikan kata-kata perpisahan serta ucapan terima kasih untuk guru mewakili siswa kelas dua belas. Seperti biasa, mantan ketua OSIS itu berbicara dengan lancar dan penuh wibawa. Sampai detik ini bagi Kara lelaki yang sudah menjadi suaminya tetap nomor satu, dan dijamin selamanya akan seperti itu.


“Papa kamu keren, De. Ntar kalo kamu udah gede kamu mirip papa aja yah, jangan mirip mama. Soalnya mama kalo ke sekolah sering kesiangan.” Ucap Kara lirih seraya mengelus perutnya, “Eh mama sering kesiangan juga gara-gara papa kamu yang suka ninggalin mama.” Ralatnya kemudian.


Selesai memberikan sambutan Dirga tak kembali ke kursinya, lelaki itu malah duduk di samping Kara, menggeser Deva yang jadi mengalah pindah ke tempat duduk Dirga.


“Dede pengen deket papa katanya.” Bisik Kara.


Dirga tersenyum simpul dan mencubit gemas pipi Kara, ingin mengelus si dede tapi keadaan terlalu ramai takut mengundang perhatian. Tapi Kara tetap saja tak bisa dikondisikan, dia malah merapatkan tempat duduknya dengan kursi Dirga dan bersandar manja di bahu suaminya. Sepanjang acara Kara tak memperhatikan, dia malah ngantuk karena mendengar terlalu banyak sambutan dan berakhir tidur di bahu Dirga.


“Sayang bangun, aku mau ke depan dulu bentar.” Dirga mengguncang pelan lengan Kara supaya bangun. “Sama Dila dulu sebentar. Titip, Dil.” Ucapnya saat meninggalkan Kara yang setengah sadar.


“Bisa-bisanya berisik gini lo malah tidur, Ra!” ejek Tama yang melewatinya. Lelaki itu juga ikut naik ke podium bersama Dirga dan Deva sebagai tiga besar peraih nilai ujian tertinggi.


“Minum dulu gih biar seger. Lo nggak tidur semalaman apa gimana sih, Ra?” Dila memberikan botol air mineral.


Kara hanya menerimanya dan meletakkannya kembali di meja. “Tidur lah. Tapi ini udah siang, Dil. Jadwalnya gue tidur siang, semenjak ada dia gue jadi doyan tidur siang.” Kara mengelus perutnya. “Bagi kue aja, lapar.” Kara menunjuk cake cokelat dengan buah cery diatasnya.


“Nih dua, sekalian punya gue buat lo.” Dila memberikan dua potong sekaligus.


Selesai acara semua siswa kembali mengabadikan moment perpisahan mereka dengan berfoto ria. Dari mulai bersama bestie, teman sekelas, senior, adik kelas, guru hingga orang tua mereka. Kara duduk tak jauh dari stand foto ditemani mami Jesi dan mertuanya. Berbeda dengan siswa lain yang masih asik foto dengan berbagai pose, Kara memilih menghabiskan snack nya setelah tadi berfoto beberapa kali.


“Ra, kalo mami sama mommy pulang duluan nggak apa-apa yah? Kita masih ada urusan penting nih.” Ucap Jesi.


“Nggak apa-apa, Mi. Duluan aja, bentar lagi juga Dirga selesai foto-fotonya.” Jawab Kara, dia tersenyum saat Dirga yang dikelilingi adik kelasnya melambaikan tangan padanya. Kara memang membiarkan suaminya dikerumuni siswi-siswi yang minta foto, katanya buat kenang-kenangan sama kakak kelas idaman semua cewek.


“Kak Lengkara, ini Kak Dirga nya kita balikin. Makasih yah, kita do’ain kakak langgeng terus sama Kak Dirga. Jangan lupa kalo nikah kita-kita diundang yah Kak.” Ucap salah satu siswi.


“Amiin. Tenang aja undangan nanti menyusul lah.” Jawab Kara ramah.


“Belum tau aja mereka yah Yang kalo kita udah mau punya anak.” Ucap Kara saat para siswa sudah membubarkan diri.


Dirga mengelus sayang kepala Kara, “udah yuk pulang. Udah lewat jadwal tidur siang kamu nih.” Ajak Dirga.


“Iya udah ngantuk banget dari tadi, dedenya pengen dielus-elus sama papa.”


“Dede apa mamanya?” ledek Dirga.


“Si dede, Pa...”


“Ya ampun gemes banget sih. Yuk pulang!” Dirga merangkul Kara dan membawanya keluar, ia memilih pulang lebih dulu meskipun teman-temannya masih asik ngumpul.


“Kita pulang aja, kamu nggak boleh kecapean. Kasihan si dede belum istirahat.”


“Ih nggak, Yang. Maksud aku tuh kamu nggak pengen ngumpul-ngumpul gitu? Kalo aku sih nggak apa-apa pulang duluan.”


“Nggak! Kalo aku nggak pulang ntar kamu nggak bisa tidur siang. Aku ngumpulnya sama kamu aja, sama dede juga. Sehat terus yah anak Papa.” Dirga mengelus perut Kara kemudian mereka berlalu meninggalkan sekolah.


“Yang, si micin ada di sekolah kita nih. Gimana mau puter balik?” tanya Kara setelah menerima telepon dari Sasa. Katanya gadis itu nyusul ke sekolah gara-gara Tama di telpon tak menjawab, pasalnya mereka sudah janjian mau nengok si dede setelah selesai acara perpisahan.


“Suruh pulang aja. Kasih tau ntar sore kita ajak dia liat si dede, tapi nggak udah ngajakin Tama!” jawab Dirga.


“Oke Yang.”


Di sekolah Sasa jadi manyun seraya memasukan ponselnya ke saku. Kara ditelpon sudah pulang dan Tama di telpon tak diangkat, di chat pun belum dibaca sampai saat ini, padahal Sasa mengabari jika dirinya sudah berada di sekolah. Sasa kan jadi bete dan plonga plongo sendiri di dekat pos satpam. Kini dia mulai risih dengan beberapa siswa yang menatapnya dengan intens.


“Ini pasti gara-gara baju Sasa yang kekecilan nih.” Sasa menurunkan roknya sedikit, tapi tetap saja rok yang sudah setelan solehot itu tak sampai menutupi lututnya. Saat ini ia mengenakan seragam sekolah dengan ukuran minim seperti saran Selvia saat bertemu di butik beberapa hari lalu.


Sungguh Sasa merasa tak nyaman dengan pakaian yang sebenarnya masih wajar-wajar saja namun bagi Sasa yang biasa mengenakan seragam setelan pabrik terasa begitu mini.


“Anak baru yah?” tanya seorang siswa yang menghampirinya.


“Bukan, Kak.” Jawab Sasa sopan, “Aku anak SMA Ganesha, mau nemuin abang aku.” Lanjutnya.


“Kak Justin!” Sasa berteriak sambil melambaikan tangannya saat melihat teman Dirga yang ia kenali.


Justin menghampiri Sasa, “siapa yah?” ucapnya sambil mengamati Sasa.


“Sasa, Kak. Adeknya kak Dirga, masa lupa.”


“Ya ampun Sasa. Lo beda banget sekarang.” Ucap Justin. “adeknya Dirga ini jangan digangguin.” Lanjutnya pada teman-temannya yang terus menyenggol tangannya minta di kenalkan.


“Iya sabar kek! Ntar gue kenalin.” Justin balas menyikut temannya.”kenalin nih temen-temen gue, Sa. Temen-temen kakak lo juga.” Lanjutnya.


Sasa tentu dengan ramah menyalami satu persatu dari mereka. Dia bahkan dengan mudahnya akrab dengan mereka, terlebih Justin yang memang dulu pernah ia sukai dan terang-tangan ia tembak namun tentu berujung ditolak.


“Sa, btw yang dulu masih berlaku nggak?”


“Yang mana Kak?” tanya Sasa.


“Itu yang lo bilang suka sama gue.”


“Lah kan dulu udah di tolak. Sakit tau kak hati Sasa dulu di tolak mentah-mentah.” Jawabnya sambil tertawa.


“Kalo gitu diulang deh sekarang, Sa. Gue nggak bakal nolak, gue daftar dah sekarang jadi cowok lo. Masih jomblo kan lo?”


“Dia punya gue!” Entah sejak kapan Tama sudah disana dan tiba-tiba menghampiri Sasa yang dikerumuni beberapa siswa.


“Abang...” ucap Sasa lirih.


Tama membuka jas yang ia kenakan dan mengikatkannya di tubuh Sasa untuk menutup rok kurang bahan itu. “Kita pulang sayang!”