Always Loving U

Always Loving U
Estetik



"Dirga..." Panggil Kara lirih.


"Hm..." Balas pemuda itu tanpa menatap gadis yang baru saja ia gandeng.


"Semua yang lo lakuin tadi, lo sadar kan?"


"Ya sadar lah, lo kira gue gila apa hm?" Dirga melepaskan genggamannya dan mengacak gemas rambut Kara, ekspresi wajahnya saat ini begitu lucu. Semacam ada diposisi percaya dan tak percaya, lebih ke bingung sih.


"Gue takutnya lagi mimpi tau, Ga."


Dirga tersenyum gemas seraya menengok ke kiri dan kanan, memastikan lorong ruangan itu kosong.


"Lo nggak mimpi calon istri gue...." Dirga mencubit gemas pipi Kara dan mengecup kilas kening gadis itu.


Kara langsung gelagapan salah tingkah. "Kalo ada yang liat gimana?"


"Biarin aja. Supaya kita langsung gas KUA." Ledek Dirga. "Udah balik ke kelas sana." Lanjutnya.


"Anterin..." Rengek Kara.


"Jangan manja, biasanya aja lo ke kelas gue sendiri bisa. Kelas kita beda arah, lo kesana gue kesini." Dirga menunjuk arah kelasnya yang memang berlawanan dengan ruang kelas Kara.


"Mulai deh mode cueknya on lagi. Kan gue pengen dimanja, Ga. Nggak peka banget sih."


"Bukannya nggak peka, sekarang waktunya belajar! Belajar yang bener! Sana ke kelas."


"Nggak asih ah. Gimana kalo kita bolos aja, Ga? Toh udah dapet surat panggilan nih. Biar nggak nanggung gitu." Usul Kara sambil mengibaskan surat panggilan ke depan wajah Dirga. "Gue juga belum pernah bolos, penasaran rasanya bolos kayak apa yah?" Lanjutnya.


Pletak!


Kali ini bukan kecupan singkat yang mendarat di kening Kara, justru sentilan jari telunjuk Dirga yang berhasil membuat gadis itu seketika mengusap keningnya.


"Sakit ih... Belum juga mulai berumah tangga masa udah KDRT duluan." Protes Kara.


"Lagian disuruh balik ke kelas malah ngajakin bolos. Mau gue hukum bersihin toilet? Atau lari keliling lapang upacara sepuluh putaran?"


"Jangan disuruh lari, Ga. Gue udah cape lari-lari di hati lo selama ini, nggak usah disuruh lari keliling lapang lah. Ganti hukumannya, misal dihukum meluk ketos sejam gitu." Ucap Kara seraya tersenyum semanis mungkin.


"Waduuh... Sakit, Ga! KDRT mulu ih!" Protesnya penuh dramatisir saat Dirga kembali menyentil keningnya. Padahal tak keras sama sekali, tapi dasar Lengkara yang penuh drama.


"Jangan galak-galak dong sama calon istri. Tadi aja bikin melehoy, eh sekarang galak lagi." Lanjutnya sambil cemberut.


"Lo emang calon istri gue, Ra. Tapi perlu lo inget, calon suami lo ini ketos. Jangan sekali-kali ngajakin yang aneh-aneh, apalagi bolos. Meskipun ke calon istri, aturan sekolah tetap prioritas, kalo ngelanggar yah dihukum. Ngerti?" Jelas Dirga.


"Serius amat sih, Ga? Padahal gue cuma bercanda ngajakin bolosnya juga." Balas Kara.


"Nggak boleh bercandain aturan sekolah yah calon istri gue tersayang. Balik kelas yah, gue anterin deh." Dirga mengalah dari pada terus meladeni rengekan gadis itu, bisa-bisa mereka terus ngobrol di lorong hingga jam terakhir habis.


Lorong sekolah siang itu sepi, siswa-siswa benar-benar ada di kelasnya masing-masing. SMK Persada memang terkenal dengan kedisiplinan guru dan siswanya. Meski kadang ada siswa bandel yang kerap keluar kelas dan nongkrong di kantin tentu akan menjadi sasaran bu Irma dan guru piket yang selalu keliling sekolah di waktu tertentu.


"Masuk gih." Ucap Dirga begitu tiba di depan kelas Kara, "duduknya pindah, jangan sama Tama. Tuker aja, duduk sama Dila lagi." Imbuhnya dan Kara mengangguk patuh.


"Iya apa lagi My Lengkara..." Balas Dirga.


"Love you." Ucapnya kemudian langsung masuk ke kelas tanpa menunggu jawaban Dirga.


"Dasar alay. Tapi gue suka." Dirga menahan senyum dan berlalu menuju kelasnya. "Love you too Lengkara Ayudhia." Batinnya.


Masuk ke dalam kelas Kara langsung dihadiahi teriakan meledek dari teman-temannya.


"Cie...cie..."


"PJ nya dong, Ra!"


"Tenang aja ntar semuanya gue bagi tumbler loveware." Tanpa malu-malu lagi Kara menanggapi ledekan teman sekelasnya seraya berjalan menuju kursinya. Dilihatnya tak ada Tama di mejanya.


"Yah masa tumbler sih, Ra." Protes salah satu siswi yang baru saja dilewatinya.


"Apa dong? Ya udah ganti misting loveware aja gimana? Atau tempat sayur loveware gitu? Mama kalian pasti seneng banget deh kalo dibagi produk loveware gratis." Pokoknya Kara mau ngasih PJ yang nggak usah modal, kalo produk loveware kan bisa gratis nyomot di perusahaan papi nya. Kara kan tipe-tipe sultan miskin yang uang jajannya aja harian, no kartu-kartu.


"Ogah, Ra. Ntar malah kena amuk kalo tutupnya ilang."


"Lengkara, cepetan duduk ke meja kamu. Malah pada ngebahas PJ. Sejak kapan jadian dikenakan pajak? terus berapa persen tarifnya?" Celotehan siswa siswi baru usai setelah guru yang berada di depan sana membentak mereka semua. Bisa-bisanya diskusi soal pajak jadian saat pelajaran administrasi pajak, mana dalam pelajaran itu tak ada bahasan terkait pajak jadian.


"Yah ibu nggak asih lah."


"Sudah-sudah! Fokus ke soal latihan. Kerjakan sekarang! Waktunya sebentar lagi habis." Ucap bu guru di depan sana.


Saat semua sibuk mengerjakan soal latihan, Kara juga ikut membuka buku LKS nya. Tapi tak mengerjakannya, ia justru melakukan wawancara dadakan pada Dila terkait Tama.


"Tama kemana, Dil?" Tanyanya sambil mencorat coret buku LKS dengan pensil, menggambar hati banyak-banyak. Lope lope lope.... still loving you from the past until now, tulisnya di lembar jawaban LKS.


"Nggak tau, Ra. Tadi pas gue sibuk ngevidioin lo, dia udah nggak ada. Tadi gue live IG loh pas lo di tembak Dirga. Gue juga post ke grup kelas loh. Tapi..."


"Tapi apaan?"


"Tapi gue salah grup, malah gue post digrup yang ada wali kelas kita nya. Udah gue tarik lagi sih, tapi kayaknya guru udah liat deh." Ucap Dila.


"Eh gila lo yah, Dil. Pantes aja bu Irma bisa tau. Nih gue dapet surat panggilan ortu."


"Ya jangan salahin gue juga, Ra. Kalo pun nggak liat dari postingan gue, pasti guru-guru juga bakal tau deh. Orang bu kantin kita selalu on medsos 24/7, nonstop Ra. Udah ngalahin lampe tumpah." Balas Dila. "Pokoknya jangan lupa PJ, Selpot udah pesen tempat buat makan sama anak-anak ntar." Imbuhnya.


"Elah udah main pesen tempat aja, gue nggak ada duit tau." Ucap Kara. "Mau bayar pake buruh cuci piring di tempat makan?"


"Lo yang cuci piring, gue mah ogah." Balas Dila. "lagian nggak bayar juga gue jamin nggak bakal disuruh cuci piring, Ra. Orang selpot pesennya di cafe punya mommy nya Dirga. Itu loh yang biasa kita makan tapi nggak pernah boleh bayar." lanjutnya.


"Eh bentar-bentar gue belum selesai." Dila meletakan pulpennya saat ketua kelas mengambil buku LKS nya.


"Bentar woy! Itu jawaban gue..." Kara hanya bisa pasrah saat LKS miliknya juga diambil, bisa di pastikan besok ia akan dipanggil ke ruang guru karena jawabannya yang super estetik. Ya, soal menghitung pajak penghasilan Pph 21 yang diisi dengan deretan gambar hati serta tulisan bucinnya.