Always Loving U

Always Loving U
Pelan-pelan



“Ra, boleh yah?” Dirga mengelus sayang punggung Kara yang tengah memeluknya erat.


“Emangnya mau apa?”


“Mau yang bagus buat kesehatan. Kata Mami kan sehari dua kali.”


Kara mengendurkan pelukannya dan menatap bingung wajah Dirga dibawah lampu tidur yang redup. “Susu?”


“Tadi pagi kan udah, Ga. Sekarang udah jam sepuluh, gue males kalo mesti ke bawah ngambil susu. Di kamar udah nggak ada stok susu, kan tadi pagi yang terakhir. Besok gue beli lebih banyak deh.”


“Ra...” panggil Dirga lirih, sumpah saat ini ia sudah diambang batas. Seminggu lebih tinggal sekamar dengan Kara benar-benar menguji iman. Istrinya selalu nemplok tanpa dosa tak peduli dirinya tersiksa setiap malam. Tidak tau saja Kara jika tiap malam saat dirinya terlelap Dirga selalu pergi ke toilet demi menidurkan si adik yang selalu bangun di jam tidur, semakin Kara tidur lelap dipelukannya maka si adik makin terjaga.


“Besok pagi aja, Yang. Besok aku ambilin dua kotak deh yang rasa stroberi. Sekarang tidur yah, ngantuk banget ini.” Kara mengecup kilas bibir Dirga kemudian kembali membenamkan diri dipelukan suaminya.


“Ra, tiap malam lo selalu gue sayang-sayang. Kapan sih gantian lo yang sayang-sayang gue hm?”


“Lah tiap malam juga kan lo selalu gue sayang-sayang. Nih gue sayang-sayang nih...” Kara mengelus punggung Dirga perlahan, persis seperti yang Dirga lakukan padanya setiap malam.


“Bobo yah My Dirgantara... besok gue kasih susu, dua.” Lanjutnya dengan suara pelan karena mulai terlelap ke alam mimpi.


Dirga mengela nafasnya dalam-dalam, “punya istri nggak peka banget di kodein.”


Dirga mengambil Dirdiran dan meletakannya di pelukan Kara, “temenin Mami lo bentar, gue mau ke toilet solo karir dulu.”


Pagi harinya Kara meraba kasur di sampingnya, mencari-cari suami dengan pelukan ternyamannya. “Sayang peluk, dingin banget ini.”


“Yang...” Kara mengerjapkan matanya, tak ada Dirga. Hanya ia sendiri di kamar. Kara berjalan ke balkon, biasanya Dirga selalu duduk di sana jika bangun lebih awal tapi tak ada juga. Saat ia keluar justru di sambut udara yang super dingin, lantai balkonnya basah pertanda semalam hujan.


“Mami, liat suami Kara nggak?” masih dengan penampilan acak kadulnya Kara menghampiri Jesi yang sedang sibuk di dapur.


“Dirga?” tanya Jesi tanpa mengalihkan perhatiannya dari wortel yang sedang ia potong.


“Iya lah, Mi. Emang Mami punya mantu selain Dirga?” ucap Kara dengan cemberut, ia membuka lemari es dan mencari susu kotak.


“Dirga di taman belakang, nemenin Papi ngopi. Hari ini dia bangun pagi banget padahal tadi ujan gede loh, Ra. Tapi subuh-subuh Dirga udah nonton TV.” Ucap Jesi yang kembali memotong wortel.


“Mi, Susu Kara yang rasa stroberi mana? Harusnya masih ada dua deh.” Kara mulai mengacak isi kulkas.


“Mami pake bikin pudding tadi. Tuh pudding nya ada, belum set. Mami pake stroberi fresh yang dipetik Papi sama Dirga.” Jesi menunjuk pudding warna pink dengan buah stroberi segar di dalamnya. “buat apa emang? Nggak usah cemberut nanti siang Mami belanja mingguan, Mami ganti.”


“Mau buat Dirga lah, Mi. Kan Mami yang bilang sendiri susu bagus buat kesehatan. Jadi tiap pagi Kara kasih Dirga susu kotak stroberi dua. Yang minggu lalu malah Kara kasih susu ultra mimi punya Zein. Tadi malem Dirga minta susu tapi nggak Kara kasih, udah ngantuk jadi males ngambil ke dapur, eh sekarang susunya malah di pake bikin pudding sama Mami.” Jelas Kara sambil cemberut.


“Kara mau ke Dirga lah.” Pamitnya.


Seketika Jesi memotong wortelnya asal, “jadi Dirga selama ini dikasih susu kotak? Astaga Lengkara! Dasar bocah!”


Jesi menggelengkan kepala, “tiap hari ngoceh sayang-sayangan sampe Karam pusing dikira bakal cepet punya cucu, malah ambyar. Malang banget dah nasib mantu gue, mesti di sidang nih Lengkara. Malu-maluin aja.”


Haduh! Jesi jadi malu sendiri kalo ingat setiap hari ia meledek Dirga perkara susu. Mana mantunya sering kali di panggil Rama untuk diperingatkan pula.


“Sayang, gue nyariin ih malah disini.” Kara duduk bersandar di bahu Dirga.


“Nemenin Papi, Ra.”


“Kamar aja yuk! Kita sayang-sayangan, abis ujan gini enak. Dingin.”


“Kara, kamu nggak malu apa suami jam segini udah mandi udah rapi, kamu nya masih acak-acakan kayak gitu. Malah ngajak ngamer lagi.” Sindir Rama.


“Suka-suka Kara lah, Pi. Mumpung libur. Yuk Yang!” Kara menarik Dirga supaya mengikutinya.


“Dirga, inget pesan Papi!”


“Iya, Pi.” Jawab Dirga sopan. Pesan mertuanya itu sudah terpatri permanen diotaknya, hampir tiap hari Rama mengingatkannya.


“Papi pesen apa emang Yang?” penasaran Kara.


“Nggak pesen apa-apa kok.” Jawab Dirga. Percuma, pesan Rama tak perlu di ketahui Kara toh mereka tak pernah praktek sama sekali. Kara mesti banyak belajar, dikasih kode aja nggak peka. Coba tebak kenapa pagi ini Dirga bangun lebih awal? Bukan karena ia kelewat rajin. Tapi gara-gara hujan yang mengguyur semalaman berefek pada adiknya yang kian sulit ditenangkan. Dari pada menerkam paksa Kara yang terlelap ia memilih menjauh dan menghabiskan waktu menatap televisi hingga subuh.


“Mandi gih, habis itu kita sarapan.” Lanjutnya.


“Nggak lah, Yang. Ntar aja, kita sarapan dulu. Gue udah laper banget.” Jawab Kara.


Sampai di meja makan lagi-lagi Dirga dihadiahi tatapan tajam Rama, “baru juga diingetin udah tancap gas aja.” Sindirnya.


Dirga hanya menanggapinya dengan wajah datar, lama-kelamaan dia sudah terbiasa jadi tersangka atas tindakan yang tak ia lakukan. Jika biasanya ucapan Kara yang ambigu maka pagi ini gara-gara rambut yang tak dikeringkan.


“Sarapan aja, Ga. Jangan dengerin Papi.” Jesi menepuk pelan pundak menantunya. “sabar yah, Kara mesti banyak diajarin. Maaf kemarin Mami ngeledek kamu terus. Padahal susu kotak.”


“Iya, tidak apa-apa Mi.” Jawab Dirga. “Akhirnya mertua gue waras juga.” Batin Dirga.


“Jas jus, kamu tuh! Gimana kalo mereka sampe kebobolan?” ucap Rama lirih, memastikan si manja yang sedang sibuk di belakang tak mendengar obrolan mereka.


“Dirga belum pernah nyentuh Kara, Pi.” Sela Dirga.


“Lah yang kemaren-kamaren, susu? Terus itu ngapa rambut jam segini udah basah aja kalo kalian nggak-“ Rama tak meneruskan kalimatnya.


“Udah lah, Karam. Kita tuh cuma salah paham sama obrolan Kara yang nggak pake saringan. Mulai sekarang kita nggak usah pusing-musing mikirin Kara hamil sebelum lulus, orang dia taunya cuma susu kotak.” Jelas Jesi.


“Hayo lagi ngomongin Kara yah?” seru Kara yang datang dengan membawa secangkir teh dan meletakannya di depan Dirga. “Gue bikinin teh herbal biar kuat.” Lanjutnya.


Rama langsung memicingkan matanya, “teh herbal? Biar kuat?”


“Iya, Papi mau? Biar kuat juga. Itu loh teh celup sariharum yang plus jahe kunyit. Biar nambah imun pas pergantian musim gini. Udah musim ujan takut My Dirgantara kena flu.” Jelas Kara.


“Oh biar kuat imun. Kamu itu kalo ngomong yang jelas. Kebiasaan bikin orang mikir keras.” Ucap Rama.


“Lah emang Papi mikir apaan?” tanya Kara, “suapin Yang, pake sop aja tapi daun bawangnya awasin.” Lanjutnya pada Dirga.


Seharian Kara dan Dirga tak pergi kemana-mana karena cuaca yang mendung dan bentar-bentar hujan. Kara menghabiskan waktu menonton drama korea sementara Dirga menemani Ridwan bermain game online.


“Mi, liburan kan tinggal seminggu lagi yah, seminggu ini kan udah bobo di sini jadi seminggu lagi Kara mau bobo di rumah Dirga yah? Tapi kalo siang Kara kesini, kan mommy Miya masih di Jogja. Jadi kalo lapar Kara pulang dulu. Boleh yah?” pamit Kara yang sudah membawa serta Dirdiran di pelukannya.


“Iya sana, terserah kalian aja.” Jawab Jesi.


“Susu kotaknya udah dibawa belum, Ra?” ledek Rama, kali ini ia tak lagi memperingatkan menantunya.


“Oh iya, Kara hampir lupa. Untung diingetin sama Papi.” Jawab Kara, “Ga, pegang dulu anak kita. Gue mau ambil susu.” Lanjutnya seraya memberikan Dirdiran pada Dirga.


Rama tergelak melihatnya, boneka dianggap anak. Kara benar-benar polos, tak jauh beda dengan maminya dulu. “Sia-sia khawatir terlalu jauh selama ini.” Batin Rama.


“Pake payung nih, takut cucu Papi ntar sakit keujanan.” Ledek Rama sambil memberikan payung, padahal hanya gerimis kecil malam itu.


“Eh iya juga, makasih Pi.” Rama kian tergelak saat Kara mengiyakan ledekannya. “kamu yang sabar!” lanjutnya pada Dirga dengan setengah mengejek.


Dirga hanya berdecak lirih sambil membuka payung, dia kemudian merangkul Kara dan membawa gadis itu ke rumahnya. “Kemaren diancem mulu jangan sampe hamil, sekarang pas udah tau anaknya polos malah diledek terus. Gini amat punya mertua.” Batin Dirga.


Saat keduanya tiba di rumah Dirga, hujan mengguyur dengan begitu deras dibarengi dengan petir sesekali.


“Deres banget ujannya, Yang.” Kara yang sudah bermanja-manja di pelukan Dirga beranjak bangkit.


“Hm iya. Udah peluk aja sini, mau kemana sih?”


“Mau manasin susu dulu, Yang. Ujan gini susu anget lebih enak. Mumpung masih jam setengah sembilan, jangan sampe kayak semalem deh gue nya udah ngantuk lo minta susu. Kan males.” Keluh Kara.


“Nggak usah, Ra. Udah peluk aja gini, gue nggak mau susu Ra. Gue maunya lo!”


“Tapi kata Mam-“ Dirga membungkam bibir Kara dengan telapak tangannya. Diusapnya bibir mungil Kara, “Gue cuma mau lo, Ra!” lanjutnya seraya menyatukan bibir mereka.


“Nafas, yang...” ucap Dirga saat menjeda ciumannya.


“Hm...”


“Yang, boleh kan?” tanya Dirga seraya membuka kancing piama tidur Kara, gadis dengan nafas terengah itu hanya bisa mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.


"Mmh pelan-pelan, Yang...”