
Ck! Dirga mengacak rambutnya sendiri. Antara khawatir akan keadaan Kara namun enggan pergi ke rumah gadis itu. Bisa makin besar kepala Lengkara kalo sampe dia nyusulin ke rumahnya, pikir Dirga.
“Ish tapi kalo dia beneran pergi kayak yang daddy omongin gimana?”
“Masa iya gue harus nungguin empat tahun kayak daddy nunggu mommy?”
“Astaga bisa stres beneran ini gue!” Dia makin menjambak rambutnya.
“Please, Ra. Keluar bentar aja biar gue tau kalo lo baik-baik aja.”
“Oke kita liat story kebucinan lo sama deretan cowok cantik itu.” Dirga mengambil ponselnya, untuk melihat story media sosial Kara, pasalnya gadis itu tak pernah absen update story. Lengkara itu, jajan cilok aja di update di medsos. Katanya harus rajin update supaya orang tau kalo kita masih hidup.
Semua medsos sudah Dirga periksa dari mulai instagram, facebook sampe WhatsApp tapi tak ada satu pun story terbaru dari Kara. WhatsApp nya saja terakhir dilihat siang tadi.
“Lo masih di rumah kan, Ra?”
“Atau jangan-jangan lo udah pergi beneran?” Dirga mondar-mandir sendiri di kamarnya.
“Gue mesti mastiin nih.” Ucapnya kemudian keluar kamar, masih mengenakan seragam sekolahnya padahal waktu sudah menunjukan jam setengah sembilan.
Buru-buru Dirga menuruni anak tangga, melewati kedua orang tuanya yang sedang bersantai di ruang keluarga.
“Kamu masih belum mandi juga?” ucap Miya yang melihat putranya masih mengenakan seragam sekolah.
“Mau kemana kamu malem-malem gini?” lanjutnya.
“Ke depan bentar, Mom.” Balasnya tanpa berhenti, namun tak berselang lama ia kembali ke ruang keluarga.
“Mom, paper bag yang di ruang tamu dipindahin kemana?” setidaknya ke rumah Kara harus ada alibi supaya tak turun harga diri.
“Meja makan.” Jawab Miya.
Dirga langsung melengos pergi ke dapur, mengambil bapia cokelat pemberian ibu Sinta dan membawanya ke rumah Lengkara.
“Bismillah dulu...” gumamnya lirih begitu melewati pagar rumah Kara, “kalo pun di lempar panci sama mami Jesi nggak apa-apa deh asal bisa lihat Kara. Bentar aja nggak apa-apa, biar gue tenang.”
Berhubung tadi sore sudah kena semprot setengah mam pus oleh calon mertuanya kini Dirga tak berani langsung masuk ke rumah itu meski pintu rumahnya bisa dipastikan belum dikunci. Dirga menekan bel yang terletak di samping pintu. Cukup satu kali pencet sudah terdengar suara mami Jesi dari dalam sana.
Jesi menatap heran pada Dirga yang berdiri di depan pintu dengan penampilan amburadulnya. “kamu...” ucapnya dengan sinis, jujur masih kesal lahir batin putri kesayangannya dibuat nangis kejer.
“Mi, Dirga pengen ketemu Kara. Dia belum tidur kan?”
“Mau ngapain ketemu Kara? Mau bikin dia nangis lagi?”
“Nggak, Mi. Dirga mau minta maaf, semuanya cuma salah paham Mi. Beneran deh Mi, biarin aku ketemu Kara yah.” Pinta Dirga penuh permohonan.
“Kara udah tidur, kamu pulang aja!”
“Tapi, Mi...”
“Tapi apa lagi? Mami kecewa sama kamu, Dirga.” Ucap mami Jesi.
“Nggak, Mi. Aku tau aku salah, aku minta maaf udah bikin mami kecewa, bikin Kara nangis juga. Maaf... tapi aku mohon, Mi.”
“Mami nggak bisa ngomong apa-apa lagi, Dirga. Kamu pulang aja.”
Dirga kembali ke rumahnya dengan wajah kusut melebihi pakaian yang belum disetrika. Berharap bertemu Kara justru di usir begitu saja oleh calon mertua yang selalu bersikap baik padanya.
Sementara itu Kara sedang tiduran di samping papinya, memeluk erat lengan pria yang selalu ada untuknya. Sejak pulang sekolah tadi ia memang tak kembali ke kamarnya, justru masuk ke kamar Rama dan Jesi. Kebiasaan yang tak pernah berubah sejak dulu, hanya berada di antara papi dan maminya yang bisa membuat perasaannya lebih tenang.
“Siapa yang datang, Mi? Raka?” tebak papi Rama saat istrinya kembali ke kamar.
“Bukan. Dirga yang datang.” Jawab mami Jesi.
“Udah pulang lagi, mami usir. Mau minta maaf katanya.” Mami Jesi membelai sayang rambut panjang putrinya.
“Sejak kapan Dirga bisa minta maaf? Pasti di paksa sama Mommy Miya, makanya mau minta maaf. Pokoknya nggak Kara maafin. Sebel!”
“Iya iya mami tau Kara kesel sama Dirga, mami juga. Bisa-bisanya bikin anak mami nangis-nangis. Pokoknya nggak usah dimaafin, cowok kayak dia emang harus dikasih pelajaran. Cowok banyak diluar, buktiin kamu bisa dapat yang lebih dari Dirga, mami dukung seribu persen.”
Rama hanya bisa menggelengkan kepala, istrinya itu bukannya ngademin malah ngomporin.
“Siap laksanakan mamiku.” Balas Kara. Gadis itu kini sudah tak menangis lagi setelah mendapat pencerahan panjang lebar dari maminya. Tentu saja dengan kisah masa lalunya yang ditikung sahabat sendiri hingga berakhir bisa mendapatkan suami seperti papinya Lengkara saat ini.
“Sip. Bagus. Anak mami nggak boleh cengeng. Mami aja dulu yang ditikung sahabat sendiri biasa aja. Malahan bisa dapat papi kamu tuh. Kara pasti bisa lebih dari mami.”
Rama hanya bisa menghela nafas panjang. Biasa saja katanya? Padahal Rama tau betul bagaimana istrinya dulu nangis kejer hanya karena melihat mantan yang jalan bareng sahabatnya. Bisa-bisanya sekarang bilang biasa aja.
“Papi, dulu papi sama mantan papi gimana?” Kara balik menatap papinya.
“Papi kamu nggak punya mantan. Mami the first and only, Kara.” Ucap mami Jesi.
“Beneran, Pi?” dan Rama hanya mengangguk mengiyakan.
“Wih mami beruntung banget. Kara pernah mikir kalo Kara juga jadi satu-satunya buat Dirga, eh ternyata dia malah jalan sama sabun batangan. Kan kesel!”
“Udah nggak usah dibahas lagi. Kita tidur aja, katanya udah move on.” Sela papi Rama.
“Udah move on kok, Pi. Kara kan cuma ngeluarin unek-unek aja. Besok Kara bakal buktiin ke papi sama mami kalo Kara udah move on dari Dirga. Kalo perlu Kara cari pacar yang banyak, biar kalo ada satu yang bikin nangis seenggaknya masih ada cadangan.” Ucapnya sambil tergelak.
“Mami setuju! Kalo perlu tujuh, jadi sehari satu. Selang seling gitu dijadwal, Ra!” sambung mami Jesi lebih gila.
“Asiap mami.” Balas Kara.
Rama mencubit pipi istri dan putrinya bergantian. “nggak gitu juga caranya, jangan ngajarin yang nggak bener!” Ucapnya pada Jesi.
“Canda, Karam.” Balas mami Jesi.
“Tau nih papi Karam serius banget yah, Mi.” Timpal Kara.
Akhirnya Rama bisa bernafas lega melihat putrinya yang sudah mulai kembali ceria.
“Udah nggak sedih lagi kan? Sekarang balik ke kamar kamu sana, papi sama mami mau tidur.” ucap Rama.
“Nggak mau! Kara mau bobo di sini aja, sama papi mami.”gadis itu bergeser ke tengah ranjang dan menepuk sisi kanan kirinya, “Papi disini, sebelah sini mami.”
“Kara di pinggir, mami di tengah.” Ucap Rama seraya merebahkan diri di samping putrinya.
“Nggak mau. Kara mau di tengah.” Kara menarik maminya supaya segera merebahkan diri dan memeluknya erat-erat, “mami nya aku.” Ucapnya.
“Iya deh mami nya Kara.” Ucap Rama seraya menyelimuti kedua perempuan kesayangannya.
Berbeda dengan Kara yang terlelap di dekapan orang tuanya, Dirga justru masih menatap langit-langit kamarnya meski sudah lewat tengah malam.
“Kara... gila!! gue sampe nggak bisa tidur!”
.
.
.
Ah gila!!! seneng banget nulis dirdiran ketar ketir😂😂😂
jangan lupa tinggalin jejak kalian. like sama komen yang banyak biar kisah ini makin glow up😘😘😘