
“Mami ngapain? Jangan telpon Dirga, Mi. Hari ini dia jadwal presentasinya full. Aduh mami...sakit...” teriak Kara yang kini terbaring dia ranjang rumah sakit.
“Mami...” teriaknya lagi sambil menangis.
“Iya-iya sayang sebentar.” Jesi jadi bingung sendiri. Sebelum berangkat kuliah tadi Dirga sudah titip pesan jika ada apa-apa untuk segera dihubungi tapi putrinya malah melarangnya.
“Elus-elus, Mi. Perut Kara sakit banget ih! Mami malah mainan HP!”
“Ya ampun sayang kenapa kamu jadi marah-marah gini sih. Barusan Mami nelpon Papi bukan Dirga, nggak usah ngambek gitu.” Ucap Jesi bohong karena barusan ia memang menghubungi Dirga sekali tapi menantunya itu tak menjawab, jadilah dia menelpon Rama supaya tak panik sendiri di rumah sakit. Sebelum berangkat kuliah tadi tak ada tanda-tanda putrinya akan melahirkan tapi di tengah perjalanan tiba-tiba saja perutnya sakit.
“Elus-elus, Mi. Sakit banget ini.”
“Iya sayang. Sabar yah, dulu mami waktu mau ngelahirin kamu juga kayak gini. Jangan teriak marah-marah nanti tenaga kamu habis. Baru pembukaan tiga, masih harus nunggu. Yang sabar, berdo’a juga.” Ucap Jesi lirih sambil mengelus perut putrinya.
“Tapi sakit, Mi...”
Kara terus merubah posisi tidurnya, mencari kenyamanan yang setidaknya bisa mengurangi sedikit rasa sakitnya meski efeknya tak berpengaruh sama sekali. Rama, Ardi, Miya bahkan Sasa sudah berada di ruang VIP itu. Gadis kelas sebelas SMA itu bahkan masih mengenakan seragam putih abu, tanpa berganti baju ia ikut dengan mommy nya yang hendak menyusul Kara ke rumah sakit dengan membawa perlengkapan calon cucunya.
“Kaleng, sakit banget yah?” dengan wajah melas, Sasa menghampiri Kara yang hanya menjawab dengan anggukan.
“Dede kalo mau lahir sat set sat set dong jangan bikin Kaleng sakit.” Ucapnya seraya mengelus perut Kara.
“Lo apa-apa maunya sat set sat set aja, Cin. Duduk aja gih, makan. Lo baru pulang kan pasti belum makan.” Ucap Kara.
“Pi... gantian si dede pengen dielus-elus papi nih kayaknya, sakit banget.” Sejak tadi orang yang ada di ruangan bergantian mengelus perut Kara. dari mulai Jesi, Miya, Ardi dan kali ini sasarannya si Papi.
“Pengen dielus papanya kali Kaleng. Biar Sasa telpon Kak Dirga deh. Aneh banget anaknya mau brojol kok belum nongol.” Gerutu Sasa.
“Micin, jang.. aduh sakit banget.” Kara kembali terisak.
“Papi awas lah! Kayaknya dia nggak mau di elus papi, soalnya dulu papi suka marahin papanya.” Ucap Kara.
Ya ampun, Rama sudah ingin mencubit gemas putrinya. Disaat seperti ini masih saja mengungkit masa lalu, padahal kan selama ini dia jadi korban ngidam calon cucunya, Dirga paling sering minta buatkan rujak pada Rama.
“Sini mami yang elus aja, dia pasti mau kalo sama mami soalnya kan mami paling ngedukung hubungan kalian dulu.” Jesi menggeser posisi suaminya. “Tuh kan... enakan sekarang?” lanjutnya saat Kara tak lagi meringis kesakitan.
Sudah dua jam berlalu Jesi terus berada di samping Kara, kadang Kara meringis kesakitan hingga menangis, kadang pula bersikap biasa saja seiring dengan sakit yang hilang timbul bergantian.
“Kembaliannya buat abang aja.” Dengan buru-buru Dirga langsung berlari setelah membayar tanpa menunggu kembalian. Lelaki itu ke rumah sakit naik ojeg karena mobilnya terjebak macet akibat kecelakaan lalu lintas.
Brak! Dirga membuka pintu dengan keras hingga semua orang yang ada di ruangan itu menoleh padanya.
“Sayang...” ucapnya sambil terengah karena berjalan setengah berlari. Seketika dia membisu karena tak melihat Kara di sana, hanya ada anak perempuan seusia Sasa yang ditemani ibunya. “Maaf, sepertinya saya salah kamar.” Ucapnya lirih kemudian pergi.
“Ya ampun ini kamar VIP enam bukan sembilan.” Dirga mengacak rambutnya sendiri.
Beranjak beberapa kamar dari kamar sebelumnya, kali ini Dirga memastikan nomor kamar itu terlebih dulu. Ia bahkan membuka pintunya dengan perlahan.
“Sayang...” Dirga langsung menghampiri Kara, “tuh kan kata aku juga apa tadi? Aku nggak mau jauh-jauh takutnya kayak gini. Maaf yah baru aku baru dateng. Sakit banget yah...” Dirga mengusap peluh yang membasahi wajah Kara, perempuan itu hanya mengangguk dan memindahkan tangan Dirga ke perutnya.
“Iya, aku elus-elus.” Dirga bahkan mencium berulang kali perut Kara.
“Anak Papa jangan bikin mama sakit yah. Anak baik kalo udah mau lahir jangan lama-lama yah kasian mama udah kesakitan.” Ucapnya lirih.
Tak lama Kara kian merasakan sakitnya makin menjadi-jadi, Jesi pun memanggil dokter untuk kembali memeriksa pembukaan Kara.
“Sudah pembukaan sempurna yah. Sepertinya si dede nungguin ayah nya yah? Tadi sebelum papanya datang pembukaannya lama sekali. Kita pindah ke ruang bersalin sekarang yah bunda.” Ucap Dokter setelah memeriksa.
“Mama dok, nanti aku dipanggilnya mama bukan bunda.” Ditengah sakitnya Kara masih sempat-sempatnya protes.
“Iya-iya sayang, nanti dipanggilnya mama.” Jawab Dirga karena dokternya hanya tersenyum ramah.
Di depan ruang bersalin enam orang mondar mandir di sana. Dari mulai Rama, Jesi, Miya, dan Ardi sungguh harap harap cemas menanti kelahiran cucu pertama mereka. Hal yang sama juga di lakukan oleh Sasa dan Tama. Pemuda itu menyusul ke rumah sakit sesuai instruksi Sasa, menyambut calon ponakan katanya.
“Alhamdulillah sayang, anak kita udah lahir.” Dirga berulang kali mengecup sayang kening Kara dan memeluknya. Melihat perjuangan Kara melahirkan anaknya benar-benar membuat Dirga terenyuh, andai sakitnya bisa dibagi, Dirga ikhlas menanggungnya dari pada melihat Kara kesakitan seorang diri.
“Maaf udah bikin kamu kesakitan ngelahirin anak aku.” Ucapnya lirih.
Kara menatap lekat mata Dirga yang berkaca-kaca, “anak kita sayang.” Jawabnya lirih.
“Iya, anak kita. Makasih sayang.” Dirga kembali mengecup kening Kara.
“Mama nya terus yang di cium. Ini anaknya nggak pengen dicium juga?” ledek dokter seraya menghampiri keduanya sambil menggendong bayi mungil di tangannya. “Selamat yah anak kalian laki-laki, tampan seperti ayahnya.”
Kini seluruh anggota keluarga berdiri di sekeliling ranjang Kara. Mama muda itu sudah kembali di bawa ke ruang perawatan. Bayi mungil dengan berat 3,8 Kg dan tinggi 51 Cm itu menjadi perhatian semua orang. Diantara semuanya, Sasa paling antusias dan tak mau jauh-jauh dari ponakan barunya.
“Hai dede... ini ante Sasa yang suka ngasih jajan. Inget kan?” ucap Sasa. “Ya ampun kamu gemoy banget sih.” Sasa menyentuh pipi si dede dengan pelan.
“Udah sana gih duduk jangan disentuh-sentuh mulu, Sa. Dedenya mau bobo itu.” Ucap Dirga.
“Pelit banget sih, Kak Dirga.” gerutu Sasa sambil manyun, “katanya mau bobo, nggak boleh dipegaging mulu, lah itu ngapa malah di gendong sama kakak.” Protes Sasa.
“Lah kan gue bapaknya. Bebas dong.” Jawab Dirga. Meski masih kaku tapi semenjak mengadzani putranya tadi ia ingin selalu memeluk buah hatinya.
“Pelit banget, besok Sasa bikin lah sama Bang Tama. Yah Bang kita bikin yang banyak.” Ucap Sasa.
“Oke siap sayang.” Jawab Tama seraya mengusak gemas rambut Sasa.
“Canda papa Dirga. Udah melotot aja.” Lanjutnya sambil tergelak pada Dirga yang menatapnya tajam.
“Yang...” panggil Kara lirih, Dirga segera menoleh dan meletakkan putranya di samping Kara.
“Gemoy banget anak kita, Yang. Namanya siapa yah, Yang? Kamu udah siapin nama kan? Sesuai kesepakatan kita, kalo cowok kamu yang kasih nama.” Ucap Kara.
“Nggak apa-apa Yang kalo kamu yang mau kasih nama. Kamu yang kesakitan, kamu lebih berhak.” Jawab Dirga.
“Papanya aja yang ngasih nama. Kan bibitnya dari kamu.”
“Bibit apaan kaleng?” sambung Sasa.
“Tolong kondisikan yah itu bibir.” Timpal Tama. “bibit cabe sayang. Kita makan aja yuk, abang lapar dari pulang kuliah tadi belum makan.” Tama mengamankan di bocil ke luar.
“Bentar, Bang. Sasa mau tau nama si dede dulu. Kali aja kak Dirga butuh saran gitu, Sasa juga udah nyiapin nama loh. Kombinasi dari nama-nama boy band kesayangan kita, Kaleng.” Ucap Sasa. “Muhammad Suga Alfarizqi misalnya.” Lanjutnya.
“Nggak! Nggak! Enak aja.” Tolak Dirga.
“Anak papa namanya Graziano Argantara.” Ucap Dirga, “dipanggilnya Ziano.” Lanjutnya seraya mengelus pipi bulat putranya.
“Hei Ziano, anak mama.” Ucap Kara.
“Sasa, Sasa juga mau ikutan manggil dong. Kakak awas lah!” Sasa mendorong Dirga supaya menjauh.
“Hei Razia, ini ante Sasa.” Panggilnya gemas. “Dede Razia, Razia, Razia...”
“Ziano, Sasa. Bukan Razia! Lo kira anak gue PKL nakal apa di Razia Razia.” Protes Kara.
“Lah kan namanya Graziano, Kaleng. Jadi nggak apa-apa Sasa panggil Razia, kan masih bagian dari namanya. Dari pada Kaleng, manggil Sasa jadi micin! Kan jauh banget.” Jawabnya tak mau kalah.
.
.
.
Bagi vote sama hadiahnya dong buat dede Razia😘😘