Always Loving U

Always Loving U
Penawaran



Sasa yang masih anteng duduk lesehan sambil menikmati makanan tersentak kaget mendengar teriakan papi nya Kara. Dia sampai setengah tak percaya jika pria itu bisa teriak kesal juga, padahal biasanya selalu sabar dan penuh pengertian. Sasa jadi ikut takut, ia menarik celana panjang papi Rama hingga pria yang sedang bertolak pinggang itu melirik ke arahnya.


“Pi, ini Sasa ikut bubar nggak?” tanya seraya mendongak menatap Rama.


“Nggak lah, Cin. Lo anak baik. Yuk ikut gue aja ke kamar.” Ajak Kara. “papi nggak asik, ada yang main malah diusir.” Ucapnya pada papi Rama.


Kara menarik Sasa supaya mengikutinya.


“Bentar, Kaleng. Sasa masih lapar nih.” Gadis berseragam olahraga itu mengambil beberapa potong kue sebelum beranjak masuk. “Sasa bawa ke kamar sama piringnya aja deh.” Ralatnya yang kembali meletakan kue yang ia ambil ke piring dan membawa serta piring itu bersamanya.


Rama hanya menghela nafas panjang, rasanya akhir-akhir ini semenjak tahun ajaran baru dimulai setiap hari seperti ujian, ujian kesabaran. Ternyata punya anak gadis makin tumbuh dewasa makin menguji kesabaran.


“Mi, Sasa mau ke kamar Kaleng.” Ucap Sasa saat melewati mami Jesi yang duduk di ruang tamu. Ucapan gadis yang seusia putra bungsunya itu tak jelas karena mulutnya penuh makanan.


“Sasa, kalo makan sambil duduk sayang.” Ucap Jesi.


“Iya nanti Sasa duduk di kamar Kaleng, mi. Ini skip dulu ngunyahnya, ntar lanjut disana.” Mami Jesi hanya memutar bola matanya, gadis itu memang selalu bisa saja menjawab apapun nasihatnya.


Mami Jesi mencoba kembali mengingat sosok teman baru Kara, wajahnya benar-benar tak asing tapi tetap saja dia belum bisa menemukan siapa orang yang mirip dengan lelaki bernama Pratama itu.


“Pi, tadi liat nggak wajah temen Kara yang baru?” tanyanya pada papi Rama yang baru saja duduk di sampingnya.


“Lihat lah, orang dia udah beberapa kali ke sini. Dua kali kalo nggak salah.” Jawab Rama. “kenapa emang? Mami mau jodohin dia sama Kara?” lanjutnya.


“Nggak lah, Pi. Kapok mami jodohin anak, nggak lagi-lagi deh. Itu Kara aja malah mewek-mewek gitu kemarin. Sekarang mami Cuma pengen Kara seneng aja, terserah mau sama siapa pun jodohnya nanti.” Jawab Mami Jesi. “Ya, walaupun sebenernya mami ngarep Dirga yang jadi mantu kita. Tapi mau gimana lagi Kara udah mutusin perjodohan.”


Papi Rama mengelus pundak istrinya, “Sudah kita tinggal jalanin aja skenario sang pencipta. Kalo emang mereka berjodoh ntar juga balik lagi.”


“Iya. Pi, temen Kara yang tadi kayak nggak asing buat mami. Kayak yang pernah ketemu gitu tapi dimana yah? Dia nggak kalah ganteng sama Dirga tapi nggak tau kenapa kalo liat dia kayak ngingetin ke seseorang, tapi mami lupa siapa orangnya. Diinget-inget dari tadi, nggak inget juga sampe sekarang.”


“Sama. Papi juga ngerasa wajah itu anak nggak asik. Tapi ya udah lah, nanti juga kita inget. Pokoknya selama nggak aneh-aneh dan nyakitin Kara, papi nggak akan ngelarang Kara berteman dengan siapa pun.” Ucap papi Rama dan istrinya hanya mengangguk setuju.


Di kamar Kara, Sasa sedang duduk bersila di ranjang sambil menghabiskan kue di piringnya.


“Kaleng, Sasa mau minum dong. Seret nih.” Pinta Sasa.


Kara yang sedang mengacak-ngacak lemari hanya menjawab tanpa menoleh, “Ambil sendiri Cin ke dapur. Kalo udah nggak kuat lo ke kamar mandi aja, minum air kran.”


“Hih! ntar Sasa cacingan minum air kran. Bentar deh Sasa mau ambil minum dulu.” Sasa berlalu meninggalkan kamar.


Sampai ia kembali masuk ke kamar, Kara masih berdiri di depan lemari sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Kaleng sebenernya nyari apaan sih? Dari tadi nggak selesei-selesei. Banyak yang perlu Kaleng jelasin ke Sasa.” Tanya gadis yang duduk di ranjang sambil meminum jus botolan rasa jambu biji.


“Bentar, gue lagi nyari baju. Jeans sama sweater dari kakak lo, mau di balikin!” jawab Kara. “tapi gue taro mana yah? Kok nggak ada di lemari?” gumamnya seraya mengingat sweater pink pemberian Dirga saat mereka jalan-jalan ke Mall sepulang sekolah.


“Kok dibalikin sih, Kaleng?” Sasa tak lagi duduk, ia beranjak mengikuti Kara kesana kemari.


Setelah berpusing-pusing mencari akhirnya sweater oversize pink itu ketemu, menggantung indah di balik pintu kamar. Pantas saja dari tadi tak terlihat. Kara segera mengambilnya dan melipatnya dengan rapi. Ia kemudian mengambil paper bag berwana mint dan memasukan sweater berserta celana jeans nya ke dalam sana.


“Gue titip yah, kasihin ke kakak lo. Tapi maaf sweaternya belum sempet gue cuci.” Ucap Kara.


“Sama ini juga, Cin. Jaket Dirga.” Dimasukan pula jaket hitam yang ia terima saat insiden gagal uwuw kala berangkat sekolah beberapa hari lalu.


Kara mengangguk mantap. “Iya, Cin.”


“Tapi kenapa? Kaleng cinta kan sama Kak Dirga? Kenapa sih Sasa nggak di rumah sehari semalem aja kalian bubaran? Sasa maunya Kaleng jadi kakak ipar Sasa. Nggak mau yang lain.”


Kara mencubit kedua pipi cabi Sasa, “penyedap masakan nggak usah sedih gitu. Gue tetep jadi kakak lo kok, meskipun nggak jadi istri Dirga. Lo paling tau, secinta apa gue sama kakak lo. Bocil kayak lo nggak akan paham kalo gue jelasin juga. Udah jangan cemberut gitu.”


“Tapi kak Dirga itu cinta sama Kaleng. Dia cuma belum nyadar aja, Kaleng.” Ucap Sasa. “Eh tapi tadi kan kakak udah ngakuin kalo Kaleng calon istrinya. Jadi udahan yah, Kaleng jangan marah sama kak Dirga. Kaleng nggak kasihan lihat kak Dirga tadi kayak orang sakit?” tanya Sasa.


“Tadi tuh pasti Cuma buat manasin Tama aja. Udah lah nggak usah dibahas lagi, Cin.” Kara beralih mengambil si Dirdiran, boneka jumbo pemberian Dirga. “Balikin ini sekalian, kalo nggak buat lo aja nggak apa-apa. Dulu kan lo pengen banget boneka ini kan?” Kara memeluk Dirdiran sebentar sebelum memberikannya pada Sasa.


“Papi sama mami udah cerai, kamu ikut tante micin yah.” Ucapnya seraya memberikan benda itu pada Sasa.


“Kaleng...” Sasa hanya menatap sendu pada Kara.


“Udah jangan kayak gitu wajahnya, nggak tega gue liatnya. Gue ini kan baru calon kakak ipar lo, Cin. Belum jadi kakak ipar beneran. Lagian walaupun perjodohan gue sama Dirga batal, lo tetep bisa main ke sini kok. nggak ada yang berubah antara lo sama gue, lo keluarga buat gue Cin.” Kara memeluk gadis yang hampir menangis di hadapannya.


“Tapi Sasa maunya Kaleng sama Kak Dirga.” Ucap Sasa terisak, “Kak Dirga itu cinta banget sama Kaleng.”


“Tapi dia nggak pernah bilang cinta sama gue, Cin. Kata kakak lo, jatuh cinta sama gue tuh kayak arti dari nama gue, Lengkara banget. Mustahil.” Jawab Kara.


“Kalo Kak Dirga bisa ngaku cinta sama Kaleng gimana?” tanya Sasa, “nggak jadi batal yah Kaleng!”


Kara hanya tersenyum kecut, baginya lebih percaya kalo kucing hobi beredam dari pada percaya Dirga mencintainya.


“Oke, karena Kaleng cuma diem jadi Sasa anggap setuju aja.” Sasa mengambil paper bag dan boneka jumbo kemudian membawanya keluar, “Sasa pulang dulu.” Pamitnya.


“Cin, gue nggak bilang setuju yah.” Teriak Kara tapi gadis yang menggendong si Dirdiran di belakang dan menenteng paper bag itu tak menghiraukannya.


“Punya kakak pinter-pinter be go urusan beginian. Susahnya bilang cinta apa sih? Bilang I lope lope kamu aja susah bener!” gerutu Sasa. “Apa perlu dirukiyah dulu? Ngeselin!” batinnya.


Tiba di rumah, Sasa langsung menuju kamar kakaknya.


"Kak Dirga!" teriaknya begitu masuk kamar dan langsung melemparkan si Dirdiran, tepat mengenai punggung Dirga yang sedang berdiri menatap kamar Kara dari kejauhan.


"Kakak apa susahnya sih bilang cinta ke Kaleng? mau nunggu Kaleng direbut orang?" cerocos Sasa.


"Gue lagi pusing, Sa. Lo nggak usah cari masalah. balik ke kamar lo sekarang." balas Dirga tak kalah keras, menyaingi suara Sasa yang berteriak.


"Kak!"


"Balik ke kamar lo!" usir Dirga.


Mommy Miya yang kebetulan melewati kamar Dirga menghampiri Sasa yang matanya sudah memerah menahan tangis.


"Kak Dirga galak, mom. Sasa di bentak!" adunya.


"Udah biarin aja. Kakak kamu lagi nggak waras dari kemarin. kita tinggalin aja, yuk ikut mommy." ajak mommy Miya.


"Dirga, kamu mandi! jangan marah-marah terus. Apa perlu mommy mandiin?"