
Kara dan Dirga yang menyusul Sasa menghampiri Tama begitu bingung melihat gadis yang sudah langsung nyerocos dan menyodorkan tangan pada wanita yang datang bersama Tama.
“Abang, Sasa nungguin dari tadi.” Tama hanya menatap jengah gadis yang berdiri di hadapannya. “ini siapa bang? Mamanya yah? Tebak Sasa.
“Iya, cantik. Tante mamanya Tama.” Ucap Raya.
“Halo, Tante. Kenalin, Sasa.” Gadis imut itu mengulurkan tangannya pada Raya “calon mantu tante.” Lanjutnya.
“Wah calon mantu tante nambah nih.” Jawab Raya dengan tersenyum seraya menjabat tangan Sasa. Ibu satu anak itu sudah biasa tentunya menghadapi gadis-gadis yang selalu mengaku sebagai calon mantunya. Bahkan terakhir kali ada yang mengaku istrinya Tama. Dia hanya bisa tergelak dengan kelakuan anak-anak zaman sekarang. Ngakunya suka nggak tanggung-tanggung.
“Kok nambah sih? Emang abang udah punya calon ,Tan?” tanya Sasa. “Abang jangan macem-macem deh, ini anak kita gimana nasibnya kalo kita nggak jadi nikah?” lanjutnya pada Tama.
“Buset dah anak? Anak dari mana eh? Jangan suka ngarang lo!” Balas Tama.
“Sasa!” Gertak Dirga dengan lirikan matanya meminta adiknya untuk diam, tapi gadis itu tak menurut dia justru berdiri di dekat Tama dengan senyum-senyum tak jelas.
“Tau nih adek lo, Ga. Urus gih! Dari kemaren ngebuntutin gue mulu. Pusing!” ketusnya pada Dirga.
“Sasa nggak ngebuntut ih, orang jodoh. Kan jodoh pasti bertemu bang.” Timpal Sasa.
“Terserah lo deh, pusing gue.” Meladeni ocehan Sasa tentu tak akan ada ujungnya, Tama memilih pasrah saja. “Ra, sorry yah datangnya telat. Nunggu mama dulu tadi.” Lanjutnya pada Kara.
“Nggak apa-apa, Tam. Lagian kita juga masih disini, cuma anak-anak yang lain udah bubar baru aja. Tapi kelurga gue masih ada di dalem kok.” Jawab Kara.
“Malem, tante.” Sapanya pada Raya.
“Kenalin Lengkara, temen sekelasnya Tama.” Kara mengulurkan tangannya dan menyalami Raya.
“Wah kamu mirip banget sama Jesi, cantik. Wajah Jesi di borong semua nih.” Ucap Raya.
“Tante bisa aja. Tante cantik, pantesan anaknya ganteng.” Balas Kara yang langsung dihadiahi sikutan lengan oleh Dirga. “Tapi tetep lo yang paling ganteng buat gue. Paling segalanya.” Bisiknya di telinga Dirga setelah bersusah payah berjinjit menyamakan tinggi mereka.
“Gue ganteng turunan papa kali, Ra. Btw ini kadonya, semoga lo suka.” Tama memberikan paper bag berwarna pink pada Kara.
“Makasih.” Bukan Kara yang menerima, justru Dirga yang mengambilnya dari tangan Tama.
“Kaleng pasti suka deh. Itu Sasa yang milihin, jadi secara tidak langsung juga kado dari Sasa. Isinya tas itu, samaan kayak punya Sasa.” Ucap Sasa.
Karena gemas Tama mencubit pipi Sasa, “ya nggak usah dikasih tau isinya juga bocil!”
“Tangannya dikondisikan itu! Jangan sentuh-sentuh adek gue woy!” sergah Dirga.
“Adek lo ngeselin, sama kayak kakaknya.” Ketus Tama yang langsung melepaskan cubitannya dan mengibaskan tangannya pada baju yang ia kenakan, seolah menghapus jejak Sasa dari tangannya.
“Ngeselin-ngeselin ntar kangen.” Cibir Sasa.
“Sasa!”
“Apaan sih, Kak? Gertak-gertak mulu deh. Sasa nggak takut.” Jawab Sasa, “kan ada abang Tama.” Lanjutnya.
“Udah-udah jangan ribut, malu lah sama tante Raya.” Lerai Kara. “Tante, yuk Kara anter ke mami.” Kara mengandeng tangan Raya diikuti oleh Tama dari belakang. Sementara Dirga tak ikut serta, ia menarik Sasa keluar dan menceramahinya panjang lebar supaya tak dekat-dekat dengan Tama.
“Mami Jesi pasti seneng banget nih ketemu tante Raya.” Ucap Kara, “kata Tama, tante temen kuliahnya mami yah? Kalo gitu kenal dong sama tante Kara juga?”
“Alya?” jawab Raya.
“Iya tante Alya.” Ucap Kara.
“Kenal dong, dulu kita satu kelas.”
“Wah coba kalo tante Ale-ale juga kesini pasti rame nih, reuni kuliah. Sayangnya tante Ale-ale nggak datang, soalnya lagi nemenin om Karak tugas luar kota gantiin papi.”
“Nggak apa-apa. Salamnya aja buat Alya.”
“Oke nanti Kara sampein Tan. Lucu yah Tan, dulu tante sama mami sekelas eh sekarang anak-anaknya juga jadi temen sekelas.” Kara terus menggandeng tangan Raya hingga tiba di meja Jesi.
Jesi yang sedang heboh membahas kemajuan hubungan Kara dan Dirga tiba-tiba bungkam dan spontan berdiri saat mendapati Raya berada di hadapannya. Wanita yang pernah menjadi sahabat sekaligus menorehkan luka tak terlupakan itu tersenyum teduh padanya dengan tangan kiri yang digandeng oleh Kara.
“Mami lihat deh... Kara bawa siapa? Mami masih inget nggak?” Jesi masih terdiam dan menatap Raya.
“Mamanya Tama ini, Mi. Temen kuliah Mami. Kata Tante Raya, Kara mirip banget sama mami. Tante Raya juga kenal tante Ale-Ale, Mi. Mami sama tante Raya sekelas yah dulu?” cerocos Kara.
“Ya ampun Mami sampe nggak bisa ngomong. Pasti mami terkejut banget yah? Seneng banget yah?” lanjutnya.
“Tante duduk sini.” Kara manarik satu kursi dan mempersilahkan Raya untuk duduk.
“Hei, Jes. Lama banget kita nggak ketemu. Kamu apa kabar?” sapa Raya yang masih berdiri, mengabaikan Kara yang mempersilahkannya untuk duduk.
“Jas Jus...” Rama menarik tangan Jesi pelan hingga istrinya sadar dari keterkejutannya.
“Ah iya...” jawab Jesi sedikit gugup. “Duduk, Ray. Aku baik.” Lanjutnya pada Raya.
Jesi menghembuskan nafasnya kasar dan meniupkannya ke atas. Meski kini keningnya sudah tak berponi rata seperti saat muda dulu namun kebiasaannya meniup poni masih berlanjut hingga sekarang. Jesi sadar sekarang, kenapa setiap melihat Tama rasanya tak asing lagi dan mirip dengan seseorang, ternyata mirip Zidan. Sang mantan.
“Tan kalo yang ini papinya Kara, papi Ramadhan.” Kara seolah tak sadar dengan kecanggungan antara Jesi dan Raya, dia masih asik mengenalkan satu-persatu orang yang ada di meja itu.
“Yang itu Mommy Miya, terus Daddy Ardi. Calon mertua Kara, Tan.” Lanjutnya seraya menunjuk Miya dan Ardi secara bergantian.
“Oh iya yang di depan tadi yang sama Kara itu Dirga, calon suami Kara. Terus yang cerewet tadi itu calon adek ipar Kara, Tan.” Lanjutnya.
“Kara, ajak Tama makan dulu gih biarin mami sama mamanya Tama ngobrol dulu. Kalo kamu ngomong terus nggak selesei-selesei.” Sela Rama.
“Eh iya Kara sampe lupa kalo ada Tama juga. Ya udah kita makan dulu yuk, disini menunya enak-enak loh.” Kara mengajak Tama pergi dari sana.
“Tante, Kara tinggal dulu yah.” Pamitnya.
“Aku ke depan dulu yah, Ma.” Tama pun melakukan hal yang sama.
Setelah kepergian dua remaja itu, Rama juga ikut berdiri dari tempat duduknya. Dia juga memberi kode pada Ardi dan Miya supaya mengikutinya.
“Aku tinggal dulu, supaya kalian lebih leluasa. Jangan sampai karena masa lalu berdampak juga hubungan pertemanan anak kita. Mereka tidak tahu apa-apa.” Rama menepuk bahu Jesi sebelum beranjak pergi.
“Maaf kalo kedatangan saya mengganggu. Tadinya saya tidak mau kesini, tapi Tama terus memaksa.” Ucap Raya saat Rama melewatinya. “Maaf...” ulangnya lagi.
“Tak perlu minta maaf berulang kali. Semua orang pernah melakukan kesalahan dan kamu pun sudah menerima akibat dari perbuatanmu di masa lalu.” Balas Rama.
Menyisakan Jesi dan Raya suasana kian menjadi canggung. Keduanya hanya saling tatap dalam diam.
“Aku pulang aja kalo gitu.” Ucap Raya memecah kebisuan diantara mereka. “Aku yang salah, kamu boleh benci aku tapi jangan Tama. Dia nggak tau apa-apa, Jes. Nggak tega kalo sampe dia kehilangan teman seperti Kara dan Dirga. Juga gadis cerewet itu.” Raya menatap empat orang remaja yang duduk di satu meja, dengan Sasa yang terus menempel pada Tama.
Jesi ikut menoleh dan melihat anak-anak yang begitu asik di sana. “Nggak ada alesan buat aku ngebenci Tama, Ray. Sejak awal ketemu dia, aku udah mikir kalo dia mirip seseorang. Ternyata anak kamu.” Jesi berpindah duduk di samping Raya hingga dia bisa melihat jelas anak-anak meraka di depan sana.
“Maaf yah, Jes...”
“Nggak usah minta maaf terus, Ray. Aku udah maafin kamu dari dulu.”
“Tapi tadi kamu diem terus, aku kira kamu masih kesel. Secara maafin orang itu nggak mudah.” Ucap Raya.
“Tadi tuh aku cuma kaget aja tiba-tiba kamu muncul setelah sekian lama. Aku kira kita nggak bakal ketemu lagi.” Ujar Jesi, “memaafkan emang nggak mudah, tapi mendendam bikin hidup kita nggak lega. Jadi aku milih ikhlas buat maafin kamu sejak dulu. Semua juga udah dapat karmanya masing-masing. Seneng kok bisa ketemu kamu lagi, ya dulu cukup dijadikan pelajaran aja. Dan aku nggak bakal ngebenci Tama, Ray. Seperti kata Karam, anak-anak nggak salah apa-apa, mereka bahkan tak tau apa-apa soal masa lalu kita. Cukuplah mereka tau jika kita berteman, jangan rusak hubungan pertemanan mereka, aku nggak pernah ngelarang anak-anakku buat berteman dengan siapa pun, sekalipun sama anak kamu."
.
.
.
Elah si Jas Jus finaly bisa waras juga 😛😛
tinggalin jejak kalian biar aku makin semangat bestehhhh
like komen kopi sama bunga-bunganya boleh banget.