Always Loving U

Always Loving U
TamaCard



“Kirain Deva nggak bakal diundang.” ucap Dirga tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.


“Harus diundang dong, Ga.”


“Ya kirain gitu. Kalian berdua kan nggak akur.”


“Ya aslinya gue tuh kesel sama Deva. Abis dia nempel mulu sama lo, jadi mesti di undang supaya mata dia tuh melek kalo Ketos SMK Persada itu milik Lengkara.”


“Dasar tukang pamer!” ledek Dirga, “tapi bentar lagi calon suami lo nih bukan ketos lagi. Minggu depan udah pemilihan ketos baru, gue pensiun. Kata bu Dini kelas dua belas fokus persiapan ujian sekolah sama uji kompetensi keahlian aja.”


“Bagus dong, jadi kita punya banyak waktu buat sayang-sayangan, nggak rapat mulu. Berangkatnya juga nggak perlu pagi-pagi banget, bisa nyantai.”


“Belajar sayang, bukan sayang-sayangan. Otak lo nih isinya apa sih, Ra?” Dirga mengacak gemas puncak kepala Kara.


“Isinya Dirga, Dirga dan Dirga…” jawabnya enteng.


“Dasar!”


“Belajar yang bener, Ra. Emangnya nggak pengen diterima di universitas impian lo?”


“Nggak, buat gue diterima jadi mantu keluarga Rahardian lebih berharga.” jawab Kara dengan senyum mengembang.


“Gue lagi serius, Ra. Lo malah bercanda.” Dirga mencubit pipi Kara.


“Siapa juga yang bercanda, gue juga serius kok. Cita-cita gue kan jadi istrinya Dirgantara.”


“Ck! Bisa aja jawabnya calon istri.”


Dirga memberhentikan mobilnya di depan sekolah Sasa. Gadis yang rambutnya sepanjang rambut Kara itu langsung membuka pintu belakang dan duduk sambil cemberut. “Lama banget sih? Kak Dirga nih nyasar apa gimana? Masa dari sekolah kakak kesini sampe satu jam? Sasa sampe lumutan nunggunya nih.”


“Macet, Sa.” jawab Dirga.


“Mana coba lumutnya, Cin? Gue kok nggak liat.” sambung Kara seraya menoleh pada calon adik iparnya.


“Tau ah Kaleng ngeselin. Mentang-mentang udah jadian sama Kak Dirga jadi lupa sama Sasa.”


“Ya ampun calon adik ipar gue ngambek nih ceritanya?” ledek Kara. “tadi tuh beneran macet, Cin. Ada kecelakaan lalu lintas makanya lama sampe sini. Lagian gue nih nggak akan lupa sama lo, kita nih sayang sama lo. Kita mau jalan aja ngajak lo, masa dibilang lupa sih sama adek sendiri. Btw Ririd mana? Kenapa lo nunggu sendiri?”


“Ririd ada ekskul, Kaleng.” jawab Sasa, “pokoknya karena nunggu Kaleng sama Kak Dirga lama banget, Sasa mau bonekanya dua. Yang jumbo semua.” imbuhnya.


“Siap, Cin. Tenang aja sekarang calon kakak ipar lo lagi jadi sultan beneran, kan ada kartu sakti punya daddy.” Kara mengeluarkan black card itu dan memamerkannya.


“Sasa juga mau camilan.”


“Siap.”


“Mau baju baru juga buat ke ultah Kaleng ntar malem.”


“Siap.” jawab Kara.


“Sama sepatunya juga.”


“Boleh.” jawabnya lagi.


“Nggak sekalian sama mall nya lo borong, Sa?” sindir Dirga.


“Suka-suka Sasa lah, Kak. Atau mau Dirdiran Sasa sita selamanya?” ancam Sasa “kalo perlu Sasa gantung di balkon biar kepanasan, keujanan, kedinginan juga.” lanjutnya.


“Eh jangan! Kasihanilah anak kami, Cin.” ucap Kara penuh dramatisir.


“Makanya Kaleng sama Kak Dirga mesti nurutin apa pun mau Sasa hari ini.”


“Iya iya. Buruan turun tuan putri yang paling gurih sejagad raya, Sasa Raunari Nabillah.” ucap Kara saat mobil Dirga sudah terparkir dengan baik. Dia bahkan sampai membukakan pintu untuk Sasa.


“Nah gitu dong, ini baru Kaleng nya Sasa.” Sasa menggandeng lengan kiri Kara sementara Dirga mengalah berjalan di belakang keduanya.


"Kita kesana dulu Kaleng." Sasa berbelok ke toko marchandise K-Pop.


"Lucu lucu banget. Sasa mau ini Kaleng." Sasa mengambil tumbler dengan foto tampan Jimin BTS di sana. "Kaleng mau yang mana? Yang gambar Jeon Jungkook juga lucu nih. Ada yang versi Dirdiran juga." Lanjutnya seraya berbalik dan menunjukan beberapa tumbler di tangannya.


"Kaleng ih!" Sasa mengerucutkan bibirnya kesal.


"Iya iya micinku sayang. Sini mana yang lucu tadi?" Kara menjauh dari Dirga dan menghampiri Sasa.


"Kak Dirga bisa nggak sih jangan ganggu Kaleng dulu, please biarin sehari ini Kaleng bareng Sasa." Solotnya pada Dirga.


"Ya udah buruan dah lo pilih terus beli boneka, beli ini itu terus pulang. Gue juga pengen jalan sama calon istri gue."


"Udah jangan dengerin Kak Dirga. Ayo pilih tadi mau yang mana?" Kara melerai keduanya.


"Ra..." Panggil Dirga lirih.


"Bentar aja, sayang. Kalo lo marah-marah makin lama ntar micin milihnya." Ucap Kara.


"Tau jadi kakak nggak mau banget ngalah sama adeknya." Cibir Sasa.


"Kaleng, Sasa mau yang ini yah?" Sasa menunjukkan dua tumbler yang dipilihnya tadi. " Yang ini buat Kaleng." Lanjutnya.


"Kak, dari pada Kak Dirga cuma diem mending ambil troli deh. Bantuin bawa belanjaan kita." Ucapnya pada Dirga.


Dirga menghela nafas dalam kemudian pergi ke dekat meja kasir untuk mengambil troli, mengikuti adik dan calon istrinya mengambil aneka barang.


"Udah nih?" Tanya Dirga saat Sasa dan Kara tak lagi mengambil barang apa pun.


Sasa melihat troli yang di dorong Dirga sudah penuh. "Udah kak. Bayar yah, Sasa sama Kaleng nunggu di food court sebelah."


"Yuk, Kaleng!" Ajaknya yang langsung menarik Kara tanpa menunggu persetujuan Dirga.


Setelah membayar Dirga membawa dua kantong kresek besar memasuki area food court, adik dan kekasihnya itu tengah asik menikmati boba dan kentang goreng.


"Nih belanjaan lo. Abis ini pulang yah? Giliran gue jalan sama Kara." Dirga meletakan bawaannya di dekat kursi Sasa.


"Ntar bonekanya gue beliin. Lo pulang aja, gue pengen berduaan. Ntar gue tambahin duit jajan lo deh."


"No, nggak mau! Sasa mau milih sendiri. Yuk Kaleng kita lanjut!" Ajaknya "Sasa mau nyari bonekanya sekarang."


"Kira-kira dong, Sa. Kakak lo baru duduk belum makan masa udah mau lanjut lagi? Gue laper." Protes Dirga. "Lo duluan aja, ke toko boneka yang di lantai tiga. Waktu itu gue beli Dirdiran di sana. Ntar gue sama Kara nyusul."


"Iya udah Sasa duluan, jangan lama-lama makannya." Ucap Sasa sebelum pergi.


Sasa terus menggerutu selama berjalan ke lantai tiga. "Dulu aja so banget bilang nggak suka sama Kaleng, sekarang Sasa pengen jalan sama Kaleng aja susah banget." Sasa menengok ke arah food court dari eskalator yang ia naiki, "Alay banget kak Dirga! Makan aja minta disuapin."


"Hm coba Sasa punya pacar, pasti nggak ngenes kayak gini deh." Gadis itu menghela nafas panjang sambil mengamati lingkungan di sekitarnya. Dari eskalator ia bisa melihat banyak pasangan yang berjalan sambil berpegangan tangan.


Baru sampai di lantai dua dan hendak menaiki eskalator menuju lantai tiga, Sasa mengurungkan niatnya saat melihat lelaki jangkung dengan hoodie putih masuk ke dalam toko parfum.


"Emang kalo jodoh nggak kemana. Kemaren nggak ketemu di mimpi taunya ketemu sekarang. Allah is the best, mas crush i am coming." Sasa sedikit berlari dan masuk ke dalam toko.


"831, hai hola haloo..." Sasa berdiri di samping Tama yang sedang memilih parfum. Gadis itu melambaikan tangan dengan senyum cerah.


Ck! Tama berdecak lirih dan meletakan botol parfum yang sedang ia pegang. "Lo lagi."


"Jodoh, Bang. Abang lagi apa? Mau beli parfum? Biar Sasa bantu pilihin deh." Sasa mengambil botol sampel parfum secara random dan mencium wanginya.


"Enteng amat itu bibir ngomong jodoh." Tama melengos keluar, Sasa tentu mengikutinya.


"Kan setiap kata adalah do'a bang. Biar kita jodoh hehe..." Sasa tertawa, "Sasa nggak keberatan jadi jodohnya abang. Seratus persen ikhlas." Lanjutnya.


"Gue yang keberatan!" Balas Tama seraya masuk ke toko tas.


"Tapi Sasa nggak berat, Bang. Coba aja gendong, pasti kuat deh."


"Hih nggak konek banget dah ngomong sama bocil kayak lo."


"Makanya jadian dulu bang biar konek." Balas Sasa, "831 bang Tama." Lanjutnya.


"1234 bocil!" Balas Tama asal.


"Apaan 1234 bang? Jawabannya kan cuma yes or no."


"1234 yah angka lah, pusing gue ngomong sama lo. Yang itu bagus nggak?" Tama menunjuk tas kecil berwarna hitam di etalase.


"Bagus. Mau buat kado ultah Kaleng yah?" Tebak Sasa.


"Iya." Jawab Tama irit.


"Tapi Kaleng nggak suka tas kayak gitu, sukanya yang gendong. Mini-mini lucu."


"Ya udah lo pilihin yang kira-kira Kara suka!"


"Siap Bang. Bentar yah, abang duduk aja disana ntar tinggal bayar."


Sasa keliling kesana kemari melihat-lihat aneka tas dalam etalase.


"Sasa mau lihat yang itu, itu, sama itu mba." Dia menunjuk tiga tas sekaligus dan meminta pelayan mengambilkannya.


Setelah merasa pilihannya sudah oke, Sasa membawa tiga tas tadi ke kasir. "Eh yang ini nggak jadi deh mba, dua aja."


"Bang bayar, udah oke nih Kaleng pasti suka."


Tama menghampiri meja kasir, "kok dua?"


"Kan yang satu buat Sasa."


"Nggak, enak aja. Satu aja mba." Ucap Tama pada kasir, tak sulit menentukan mana yang disukai Kara karena kedua tas tersebut sama.


"Tega nggak beliin Sasa? Padahal Sasa udah cape-cape milihin." Ucapnya dengan raut wajah melas.


"Ya udah bayar dua duanya mba." Ucap Tama, tak tau kenapa tapi melihat gadis ceria itu dengan wajah melas membuatnya tak tega.


"Nah gitu dong sama jodoh sendiri jangan pelit. Masa jodoh orang lain dibeliin, Sasa nggak." Sasa langsung kembali ke mode cerianya.


"Kalo kayak gini kan enak, nggak apa-apa Sasa nggak dipinjemin black card daddy tapi kan ada Tama card." Ucap Sasa. "Emang rejekinya anak soleha. Abis ini ke lantai tiga yah bang, Sasa mau boneka."


"Ngelunjak yah jadi bocah! Nggak mau, abis ini gue mau balik."


"Jangan pulang dulu lah, Bang. Sasa seorang diri di sini, mana nggak bawa apa-apa. Seengaknya anterin Sasa pulang lah."


"Ya udah ayo! Ngerepotin banget dah jadi bocah." Gerutu Tama yang berjalan cepat ke parkiran diikuti oleh Sasa.


"Nanti sebelum sampe rumah beli jajan dulu yah, Bang?"


"Jajan mulu kayak anak TK!"


Kesal-kesal Tama tetap menuruti keinginan Sasa, mereka berhenti beberapa kali di pinggir jalan. Baru kali ini Tama tak bisa menolak keinginan seorang gadis, tak mengenal dekat bahkan tak menyukai kakaknya tapi berada di samping Sasa membuatnya nyaman.


Tama melirik sekilas Sasa yang sedang memakan takoyaki dengan bibir yang blepotan saus. "Manisnya..." Batin Tama.


"Kenapa bang ngeliatin Sasa? Mau?" Sasa menyodorkan satu takoyaki.


"Nggak, buat lo aja sono abisin." Balas Tama.


Sasa kembali fokus pada makanannya sambil terus ngoceh, Tama sampe heran bisa-bisanya Sasa tak tersedak saat berbicara dengan mulut terisi makanan.


"Gue anterin sampe sini aja. Lo jalan dikit ke dalem, males gue kalo nganter sampe depan rumah ntar ketemu Dirga."


"Oke, Bang. Makasih buat semuanya. Ntar malem kita ketemu lagi di ultah Kaleng yah."


"Ogah gue ketemu lo lagi." Jawab Tama "tiap ketemu malak mulu!"